Mysterious Man

Mysterious Man
Melvin Sakit



"Melvin, kau kenapa? Apa punggungmu sakit?" Suara rintihan dari mulut Melvin seketika tidak terdengar lagi.


Melvin terdiam beberapa detik kemudian dia membalik tubuhnya miring ke kanan secara perlahan dengan wajah tenang. Tidak terdengar rintihan sama sekali dari mulut Melvin.


"Haus." Hanya kata itu yang terdengar dari mulut Melvin.


Sheryn bahkan mengerutkan keningnya karena merasa heran. Dia mulai berpikir, mungkinkah yang dia dengar tadi bukan dari mulut Melvin? Atau dia berhalusinasi tadi?


"Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan mengambil air untukmu."


Melvin mengangguk patuh. Dia terus menatap ke arah Sheryn yang sedang berjalan hingga tubuhnya tidak terlihat lagi. Setelah itu Sheryn menghilang, dia kembali meringis menahan sakit di punggungnya. Karena cahaya di kamar Melvin redup, Sheryn tidak melihat kalau Melvin mengeluarkan keringat dingin.


Ketika Sheryn kembali lagi dengan membawa air minum untuk Melvin, dia menyalakan lampunya. Sheryn memang sengaja mematikan lampu kamar Melvin agar tidur Melvin nyenyak dan membuka sedikit pintu kamarnya agar cahaya dari luar kamar Melvin masuk jadi tidak terlalu gelap.


"Kenapa kau berkeringat?"


Sheryn terkejut ketika melihat wajahnya Melvin nampak basah. Dia kemudian meletakkan air minum di atas nakas lalu menyeka keringat yang ada di dahi Melvin dengan wajah cemas.


Dengan wajah bodohnya, Melvin menjawab, "Panas."


Sheryn mengeryit. Udara di kamar itu tidak panas, justru cenderung dingin. Melvin bahkan tidak mengenakan pakaian tebal dan selimut. Hanya baju tipis yang melekat di tubuhnya. Bagaimana bisa di merasa kepanasan di saat Sheryn saja merasa dingin.


"Bangun sebentar."


Sheryn membantu Melvin untuk bangun dari tidurnya lalu memberikan air minum pada Melvin. Dengan sekali teguk Melvin menghabiskan air minum itu dan memberikan kembali gelasnya pada Sheryn.


"Apa kau ingin berganti pakaian?" Sheryn bertanya dengan lembut setelah dia meletakkan gelas di atas nakas.


Melvin menggeleng dengan pelan. Matanya terus menatap ke arah depan dengan bodoh. "Baiklah. Tidurlah kembali."


Melvin mengangguk lalu berbaring miring ke sisi kanan. Sheryn kembali mematikan lampu kamar Melvin dan kembali tidur di bawah.


*******


Esok paginya, Sheryn terbangun lebih dulu. Dia melihat Melvin masih tertidur dengan wajah damai. Saat sedang tidur seperti itu, wajahnya terlihat sangat tampan dan terlihat normal seperti pria dewasa pada umumnya, tidak nampak lagi wajah bodoh yang biasa dia tunjukkan padanya.


Setelah memandangi wajah Melvin sebentar, Sheryn bangun, berjalan keluar lalu menutup pintu kamar Melvin dengan hati-hati agar tidak membangunkan Melvin. Dia kemudian berjalan ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya lalu pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk Melvin.


Meskipun keadan Melvin belum pulih, Sheryn tetap harus bekerja. Dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya dan ijin terus menerus. Dia harus bekerja untuk menadapatkan uang.


Selain untuk bertahan hidup, Sheryn juga masih memiliki utang kepada atasannya. Mekipun atasannya bilang untuk tidak perlu mengembalikannya, tetapi Sheryn tetap tidak enak hati. Dia tidak mau berhutang dengan seseorang, meskipun hanya sedikit.


Setelah selesai memasak, Sheryn membawakan sarapan ke kamar Melvin dan menyuruh makan, tidak lupa dia menyiapkan obat untuk Melvin sebelum dia berlalu ke kamar mandi untuk mandi. Ketika Melvin selesai sarapan, Sheryn juga sudah selesai mandi. Dia sedang bersiap-siap di kamarnya.


"Melvin, maaf aku tidak bisa menjagamu hari ini. Aku harus pergi berkerja," ucap Sheryn kepada Melvin ketika dia sudah berada di kamarnya, "kau tidak boleh pergi ke mana-mana. Jangan pernah keluar rumah lagi seperti waktu itu, meskipun aku pulang terlambat. Apapun yang terjadi kau harus tetap di rumah. Apa kau mengerti?"


Melvin menatap bingung pada Sheryn sebentar lalu mengangguk seperti anak penurut.


Sheryn tersenyum lalu mengangkat tangannya mengusap kepala Melvin dengan lembut. "Anak pintar."


Sheryn memperlakukannya seperti anak kecil dan Melvin tidak menyukainya. Dia menangkap tangan Sheryn dan menatapnya dengan sorot mata dingin.


Ada apa dengannya? Kenapa dia terlihat marah? Ada dia tidak suka aku menyentuh kepalanya?


Mereka terdiam beberapa saat kemudian Melvin menarik tangan Sheryn dengan kuat hingga tubuh Sheryn maju dan wajahnya mengarah kepada Melvin dan detik kemudian bibir mereka menempel. Sheryn mengerjapkan mata beberapa kali hingga kesadaran kembali lalu buru-buru menjauhkan tubuhnya dari Melvin.


"Aku bukan anak kecil," ucap Melvin.


Sheryn terlihat salah tingkah. Meskipun hanya sekedar menempel, tetapi sukses membuat jantungnya berdetak kencang dan wajahnya memerah.


Untuk menghilangkan kecanggunan di antara mereka berdua, Sheryn buru-buru berpamitan pada Melvin. Sebenarnya hanya Sheryn saja yang merasalan canggung. Melvin terlihat biasa saja dan kembali bodoh setelah Sheryn meminta maaf padanya, seolah tidak ada yang terjadi dengannya barusan.


Sore harinya, Sheryn pulang lebih awal dengan diantar oleh atasannya. Biasanya jika menggunakan bis, dia akan sampai pukul 6 petang di rumahnya.


"Manager Zahn, terima kasih karena sudah mengantarku. Maaf sudah merepotkanmu."


Manager Zahn tersenyum. "Tidak merepotkan. Aku justru senang bisa mengantarmu," kata Manager Zahn, "Sheryn, jika diluar kantor, panggil saja namaku. Kau dan aku hanya berbeda berapa tahun. Anggap saja kita temannya jika sudah diluar jam kantor."


Sudah berkali-kali Zahn mengingatkan Sheryn untuk tidak bersikap formal padanya. Terlebih panggilan Sheryn padanya seperti membuat jarak diantara mereka berdua.


"Baiklah Zahn. Maaf sudah membuatmu tidak nyaman."


"Tidak apa-apa. Aku pulang dulu."


Setelah kepergian atasannya, Sheryn berbalik dan membuka pintu. "Melvin, apa yang kau lakukan di sini?" Sheryn terkejut ketika melihat Melvin berdiri di dekat pintu, tepat di samping jendela.


"Menunggu kamu."


Sheryn melongo. Dia selalu saja muncul tiba-tiba dan mengagetkannya. "Baiklah, ayo masuk ke dalam. Aku membelikanmu makanan kesukaanmu." Sheryn sengaja membelikan nasi ayam Hainan untuk Melvin.


Belakangan ini Melvin sudah sering menjawab pertanyaannya. Dia juga mengucapkan kata lebih banyak dari sebelumnya. Sheryn sempat berpikir, mungkinkah Melvin yang dulu memang orang yang tidak bicara dan cenderung pendiam. Meskipun otaknya bermasalah hingga dia menjadi idiot dan memiliki IQ rendah seperti anak kecil, tetapi seharusnya dia tidak pendiam dan tertutup seperti Melvin yang sekarang.


Sheryn melangkah masuk lebih dulu, sebelum Melvin menyusul Sheryn, dia menoleh ke jendela dan menatap ke luar rumah. Wajahnya tidak menampilkan ekpresi apa-apa, hanya sorot matanya saja terasa lebih dingin.


Selesai makan, Sheryn membawa Melvin duduk di sofa untuk mengecek luka di punggungnya. Memarnya pada punggung berubah menjadi ungu-kehitaman dan itu membuat Sheryn kembali merasa bersalah.


Beruntung cidera yang dialami oleh Melvin tidak terlalu serius, meskipun sebenarnya cideranya juga tidak bisa dikatakan ringan. Sheryn pasti akan merasa sangat bersalah pada Melvin tidak bisa memaafkan dirinya sendiri kalau sampai terjadi hal serius terhadap Melvin,


Setelah terdiam beberapa saat Sheryn meminta untuk Melvin membuka bajunya agar dia dengan mudah mengoleskan obat di punggungnya. Melvin terlihat masih merintih saat dia menggerakkan tubuhnya ketika membuka bajunya.


Sheryn sedikit curiga terhadap Melvin, saat di depannya, dia terlihat baik-baik saja dan tidak mengeluh sama sekali, tetapi kemarin malam dia beberapa kali merintih menahan sakit dipunggungnya.


Mungkinkah Melvin sengaja menahan sakitnya agar dia tidak cemas? Tapi bagaimana bisa dia melakukan itu, sementara saat ini Melvin hanyalah orang yang memiliki IQ di bawah rata-rata dan juga memiliki perilakunya seperti orang bodoh dan idiot.


"Melvin, apa kau sudah meminum obatmu?" Sheryn bertanya sambil mengoleskan obat dipunggung Melvin.


Melvin mengangguk sebagai jawaban. "Melvin, maaf karena harus membawamu pulang ke rumah. Coba saja aku memiliki cukup uang. Aku pasti akan tetap membiarkanmu di rawat sementara di rumah sakit."


Hatinya perih ketika mengingat kalau dia tidak bisa memberikan pengobatan yang terbaik untuk Melvin karena kendala biaya. Sebenarnya awalnya Dokter menyarankan agar Melvin dirawat selama 3 hari di rumah sakit, tetapi saat Sheryn mengatakan kalau tidak memiliki uang untuk membayar rumah sakit, dokter menginjinkan Melvin pulang.


Kondisi Melvin masih bisa di rawat di rumah dengan mengkonsumsi obat, itulah sebabnya dokter memperbolehkan dia pulang. Memar pada punggung Melvin cukup lebar dan memanjang, jadi saat tidur Melvin harus tidur menyamping untuk menghindari luka di punggungnya tertekan.


"Maaf Melvin. Aku sungguh minta maaf."


Melvin membalikkan tubuhnya ke belakang ketika terdengar suara Sheryn yang bergetar dan ternyata saat dia sudah berhadapan dengan Sheryn, dia melihat ada bekas air mata di pipinya.


Melvin mendongak sambil mengusap bekas air mata Sheryn. "Kamu tidak salah. Jangan menangis. Ini tidak sakit."


Perasaanya terenyuh melihat sikap Melvin yang begitu peduli padanya, bahkan berusaha terlihat baik-baik saja di depannya.


Melvin kemudian berdiri dan memeluk Sheryn. Samar-samar Sheryn seperti mendengar takkan kubiarkan ada yang menyakitimu, tapi dia tidak begitu yakin karena suaranya sangat rendah.


Atau mungkin dia hanya salah dengar? Tidak mungkin Melvin yang mengatakan hal itu mengingat kondisinya tidak seperti pria pada umumnya.


Bersambung.....