
Melvin memasuki apartemennya dengan langkah pelan. Dia berjalan menuju kamar Sheryn untuk menemui kekasihnya. Saat tidak menemukan keberadaan Sheryn, Melvin keluar lagi dan mencari Sheryn ke ruangan lain. Ketika hidungnya mencium aroma masakan, langkah kakinya diarahkan ke dapur.
Sheryn nampak sedang berdiri membelakanginya seraya memotong sesuatu. Karena terlalu fokus pada dengan kegiatannya, Sheryn bahkan tidak menyadari kehadiran Melvin di sana. Melvin membuka kancing lengan kemejanya lalu menggulungnya sampi siku kemudian berjalan ke arah Sheryn dengan langkah sangat pelan dan hati-hati.
"Kau sedang masak apa, Sayang?" tanya Melvin seraya memeluk Sheryn dari belakang.
Sheryn tersenyum lalu menoleh le belakang sejenak. "Aku sedang memasak nasi goreng Yangchow untukmu."
Mendengar itu Melvin tersenyum. "Bagaimana kau bisa tahu kalau aku sedang ingin makan nasi goreng itu?"
Sheryn menoleh sedikit ke belakang. "Aku hanya tiba-tiba terpikirkan ingin memasak nasi goreng itu untukmu."
"Kau tidak lupa kalau aku alergi kacang polong, kan?"
Sheryn menghentikan kegiatannya lalu membalik tubuhnya ke belakang. Wajah bersalah nampak terlihat di wajahnya. "Maafkan aku, Melvin. Saat itu, aku sungguh tidak tahu kalah itu kau."
Melvin menarik tangannya dari pinggang Sheryn lalu mengusap lembut pucuk kepala Sheryn penuh kasih sayang. "Tidak apa-apa, Sayang. Sudah kubilang, aku rela melakukan apapun yang kau suruh, meskipun itu akan menyakitiku. Bagiku, kau lebih penting dari apapun."
Sheryn langsung memeluk Melvin dan menempelkan wajahnya di dada kekasihnya. "Terima kasih karena sudah mencintaiku, Melvin. Aku tidak pernah menyangka kalau aku akan mendapatkan pria sepertimu. Aku sangat beruntung."
Melvin tersenyum. "Aku yang beruntung karena bisa memilikimu. Setelah masalahku selesai, kau mau, kan langsung menikah denganku?"
Sheryn mengangguk dalam dekapan Melvin. "Iyaa, aku mau."
Selesai memasak, Sheryn membawa makan ke meja makan. Di sana sudah ada Melvin yang duduk dengan manis. Setelah selesai mandi, dia memang sengaja menunggu di meja makan atas permintaan Sheryn.
"Kau tadi berbelanja di mana, Sayang?" tanya Melvin sebelum menyendokkan nasi ke dalam mulutnya.
"Di bawah. Apa kau tahu, tadi tas belanjaanku putus dan isinya berhamburan keluar semua. Beruntung ada yang menolongku tadi dan memberikanku tas belanja yang baru, jika tidak, aku akan kerepotan untuk membawanya."
"Pria atau wanita yang membantumu?"
"Pria," jawab Sheryn seraya meletakkan air putih di depan Melvin.
Melvin meletakkan kembali sendok dan garpunya setelah mendengar ucapan Sheryn. "Jangan suka menerima bantuan dari orang lain yang tidak dikenal. Aku tidak suka kau berhutang budi dengan orang lain, terlebih lagi dengan seorang pria." Wajah Melvin terlihat sangat tidak suka ketika mendengar ada pria yang menolong Sheryn.
"Iyaaa, Sayang. Aku mengerti."
Selesai makan, mereka mengobrol di ruang keluarga seraya menonton televisi dan duduk berdampingan. Sheryn terlihat menyandarkan tubuhnya di dada kanan kekasihny seraya menatap ke depan, sementara Melvin nampak melingkarkan tangan kanannya di perut Sheryn
"Melvin, selama tinggal di sini, bolehkah aku mencari pekerjaan? Aku bosan berdiam diri saja."
"Kalau kau bosan, kau bisa melakukan apapun yang kau mau. Misal berbelanja, jalan-jalan, atau apapun itu. Kau belum mengenal kota ini. Aku tidak bisa melepasmu untuk sementara waktu."
Wajah Sheryn berubah cemberut. "Kalau begitu, ijinkan aku untuk kuliah saja."
Tidak ada salahnya jika dia kuliah lagi. Dia bisa melanjutkan ke jenjang selanjutnya, dari pada dia harus berdiam diri saja di rumah.
"Tidak boleh. Kau tidak boleh kuliah lagi."
Sheryn seketika bangun dan memutar tubuhnya ke hadapan Melvin. "Kenapa?"
"Aku tidak mau kau bertemu dengan banyak pria jika kau kuliah. Kau bisa saja berubah pikiran dan tidak mau menikah denganku nanti," jawab Melvin lembut.
Dengan wajah kesal, Sheryn memukul paha Melvin keras. "Jangan bicara omong kosong!"
"Sakiiit, Sayaang." Melvin berpura-pura meringis menahan sakit, "lihatlah dirimu. Belum kuliah saja kau sudah tidak peduli denganku."
"Melvin, aku serius. Jangan bercanda terus."
"Aku juga serius, Sayang." Melvin menarik tangan Sheryn dengan lembut hingga tubuhnya kembali bersandar di dadanya, "aku tidak mengijinkanmu untuk kuliah lagi."
Sheryn hanya diam sebagai bentuk kekesalannya pada Melvin. "Lebih baik kau bekerja."
Sheryn kembali bangun dan bertanya dengan raut wajah bahagia. "Benarkah aku boleh bekerja?"
"Yaaa," jawab Melvin, "Tapi kau hanya boleh bekerja di perusahaanku."
Lebih baik membiarkan Sheryn bekerja di perusahaannya agar lebih mudah mengawasinya. Setidaknya, Sheryn masih berada dalam jangkauannya.
Senyum bahagia di wajah Sheryn seketika luntur setelah mnedengar penuturan Melvin. "Kenapa wajahmu seperti itu? Kau tidak suka bekerja di perusahaanku?" tanya Melvin ketika melihat wajah Sheryn yang nampak kecewa.
"Bukan sepertu itu, tapi aku merasa tidak nyaman satu kantor denganmu. Orang lain akan bergosip nanti."
"Kalau kau tidak mau bekerja di perusahaanku, maka lupakan saja untuk bisa bekerja di tempat lain. Tidak akan ada yang berani mempekerjakanmu jika aku sudah memberikan perintah pada mereka."
"Baiklah, tapi aku memiliki syarat."
Melvin melirik pada Sheryn dengan wajah penasaran. "Apa?"
"Aku minta hubungan kita di rahasiakan dari siapapun. Aku tidak mau orang lain tahu mengenai hubungan kita. Kita akan berpura-pura tidak saling mengenal kalau di kantor. Bagaimana?"
"Aku tidak mau!" tolak Melvin dengan tegas.
"Hanya di kantor saja kita pura-pura tidak mengenal. Aku takut mereka akan bergosip yang tidak-tidak tentangku."
"Kalau begitu aku akan memberitahu semua orang kalau kau adalah calon istriku. Mereka tidak mungkin berani berbicara apa-apa tentangmu."
Sheryn segera melambaikan tangan tanda tidak setuju. "Jangan. Aku belum siap, Melvin."
Melvin menegakkan punggungnya lalu menatap tidak suka pada Sheryn. "Kau sengaja menutupi hubungan kita karena kau masih ingin berdekatan dengan pria lain?"
Pikiran macam apa itu? Kenapa dia bisa berpikir ke arah sana? Mana mungkin aku bisa berpaling darinya?
"Tidak. Mana mungkin aku memiliki pikiran seperti itu. Menjadi kekasihmu adalah kebahagian terbesarku. Mana mungkin aku menyia-nyiakanmu. Aku bahkan sangat menderita setelah kau meninggalkanku dulu. Aku tidak mau berpisah denganmu lagi, Melvin." Sheryn kemudian menyadarkan kepalanya di bahu Melvin lalu mengapit lengannya dengan mesra untuk membujuknya, "aku hanya ingin bekerja dengan tenang."
Melvin hanya diam, tidak mengeluarkan suara apapun. "Hanya untuk sementara saja. Tidak akan lama, oke?" bujuk Sheryn.
Melvin masih dia dengan wajah dinginnnya. "Aku mohon, Melvin."
Karena Melvin belum juga meresponnya, Sheryn menjauhkan kepalanya dari Melvin lalu duduk di pangkuannya. "Apa kau marah denganku?"
"Tidak. Apa kau begitu malu mengakuiku sebagai kekasihmu?" Melvin menatap Sheryn dengan wajah dinginnya.
"Aku tidak malu, Melvin. Kau salah paham." Sheryn menghela napas. "Maafkan aku kalau sudah menyinggungmu," sesal Sheryn dengan wajah bersalah.
Melvin menatap Sheryn dalam waktu lama kemudian berkata, "Aku tidak akan bilang pada karyawanku tentang hubungan kita, tetapi jika ada yang bertanya, aku akan mengatakan yang sebenarnya. Aku tidak mau pura-pura tidak mengenalmu karena itu sama saja aku tidak mengakuimu."
Sheryn mengangkat kepalanya setelah menunduk. "Baiklah. Aku minta jangan berikan aku perlakuan khusus di kantor. Perlakukan aku seperti karyawanmu yang lain."
"Tidak bisa. Kau calon istriku. Mana mungkin aku memperlakukanmu sama seperti me...."
Sheryn lebih dulu membungkam mulut Melvin dengan bibirnya. Dia hanya menempelkan bibir mereka berdua selama beberapa detik lalu melepasnya.
"Aku mohon, Melvin."
"Kau sudah pintar merayu ya?" Melvin melingkarkan tangannya di pinggang Sheryn seraya menatap Sheryn dengan lekat.
Sheryn tersenyum tipis. "Jadi kau setuju?"
Melvin berpikir sejenak. "Akan aku coba, tapi aku tidak berjanji."
"Baiklah. Jadi kapan aku bisa bekerja?"
"Lusa. Aku akan mencarikanmu posisi yang sesuai untukmu."
"Aku ingin kau bersikap objektif. Jangan memberikanku jabatan tinggi hanya karena aku kekasihmu."
"Iyaa Sayang," jawab Melvin lembut, "aku sudah menuruti semua keinginanmu jadi sekarang berikan aku hadiah."
"Hadiah?" tanya Sheryn.
"Yaa. Kau harus memberikanku hadiah."
Karena suasana hatinya sedang senang, Sheryn tidak mau berdebat lagi. "Baiklah. Tutup matamu."
Melvin langsung tersenyum lebar mendengar pemintaan Sheryn. "Baiklah."
Saat Melvin sudah memejamkan matanya, Sheryn mendekatkan wajahnya pada Melvin lalu berbisik. "Terima kasih, Sayaang. Aku mencintaimu."
Selesai mengatakan itu, Sheryn lalu berlari kecil ke arah kamarnya sebelum Melvin membuka matanya. Dia yakin Melvin akan marah karena dia sudah berani mengerjainya.
"Sheryn tunggu!" Melvin berdiri lalu menyusul ke kamar Sheryn, tetapi ternyata sudah di kunci lebih dulu dari dalam olehnya.
"Sheryn, kau sudah berani mengerjaiku ya? Lihat saja nanti. Aku tidak akan melepaskanmu setelah kau resmi menjadi istriku."
Bersambung....