Mysterious Man

Mysterious Man
Hari Pertama Bekerja



Selesai berbicara dengan Stein, Melvin langsung naik ke apartemennya. Melvin perlahan melangkahkan kakinya menuju kamar Sheryn, tapi saat dia akan melewati ruang tengah, ternyata sudah ada Sheryn di sana, berdiri dengan cemas di dekat jendela.


“Kenapa kau belum tidur?”


Mendengar suara Melvin, Sheryn langsung menghampirinya. “Aku sedang menunggumu pulang. Kau dari mana saja?” Sheryn menatap Melvin dengan cemas.


Tanpa berkata-kata, Melvin langsung memeluk tubuh Sheryn. “Ada apa?” tanya Sheryn dengan wajah heran.


“Tidak apa-apa. Aku hanya merindukanmu saja.” Melvin mengurai pelukanya lalu mengajak Sheryn untuk duduk di sofa.


“Sheryn, apa kau keberatan kalau aku menaruh pengawal wanita untuk mengikutimu?”


Alis Sheryn saling bertautan. “Kenapa tiba-tiba? Apa terjadi sesuatu?”


“Tidak. Hanya untuk berjaga-jaga saja. Aku tidak bisa mengawasimu terus jadi akan lebih baik kalau ada yang mengawasimu.”


Sheryn nampak termenung sebetar sebelum menjawab. “Kalau kau kurang nyaman, mereka bisa mengawasimu dari kejauhan,” sambung Melvin ketika melihat Sheryn masih terdiam.


“Baiklah. Tidak masalah.” Sheryn memutuskan untuk menerimanya karena tidak mau menambah beban pikiran Melvin.


Melvin tersenyum senang mendengar itu. “Tidurlah. Ini sudah malam.”


“Baiklah.” Sheryn berdiri, “kau tidak tidur?” tanya Sheryn ketika melihat Melvin belum beranjak dari duduk.


Melvin mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Sheryn. “Nanti Sayang. Masih ada yang harus aku cek masalah pekerjaan.”


Sheryn kembali duduk di samping Melvin. “Kalau begitu aku akan di sini, menunggu sampai kau selesai.” Sheryn lalu meletakkan kepalanya di bahu Melvin.


Melvin menoleh sedikit ke kanan lalu kembali berkata, “Kau tidur saja duluan, Sayang.”


Sheryn menggeleng, tapi kepala tetap bersandar di bahu Melvin. “Tidak, aku ingin menemanimu di sini.”


Melvin tersenyum lalu mencium pucuk kepala Sheryn. “Baiklah.”


Melvin kembali mengecek isi email di ponselnya. Tanpa terasa sudah satu jam Melvin berkutat dengan ponselnya. Ketika dia menoleh, Sheryn terlihat sudah terlelap di bahunya. Melvin kemudian meletakkan ponselnya di meja lalu dengan hati-hati mengangkat tubuh Sheryn menuju kamarnya.


Setelah meletakkan tubuh Sheryn di atas tempat tidur, Melvin menarik selimut untuk menutupi tubuh Sheryn kemudian mencium keningnya lalu keluar dari kamarnya.


******


Pagi ini, Sheryn nampak bangun lebih awal dari biasanya. Pukul 6 pagi, dia sudah selesai mandi dan sedang duduk di depan meja rias kamarnya. Belum selesai berhias, kamarnya sudah diketuk oleh seseorang. “Kau sudah mandi?” Melvin berjalan masuk ke dalam setelah membuka pintu kamar Sheryn.


Tanpa menoleh, Sheryn menjawab, “Iyaa.”


Melihat Sheryn nampak sibuk berhias, Melvin kemudian berdiri di belakangnya. Melvin masih mengenakan pakaian rumah dan belum berganti pakaian. Rambutnya pun masih setengah kering.


“Jangan berdandan terlalu cantik, Sayang. Aku tidak suka kalau pria lain mengagumi kecantikanmu.”


Sheryn mendengus. “Jadi kau lebih suka kalau aku terlihat jelek?”


Melvin meletakkan kedua bahunya lalu membungkuk, mensejajarkan wajah mereka berdua dan menatap Sheryn lewat pantulan cermin di depannya. “Kau tidak pernah terlihat jelek, Sayang. Wanitaku selalu terlihat cantik setiap saat. Bahkan saat tidur pun terlihat lebih cantik.”


Sheryn lalu memutar tubuhnya. “Mulutmu manis sekali.” Sheryn lalu berdiri, “Keluarlah, aku akan berganti pakaian.”


Melvin berdiri tegak seraya tersenyum tipis. “Baiklah, aku akan berganti pakaian juga.”


Tepat pukul 6 pagi, mereka mulai berangkat ke kantor bersama. Awalnya Sheryn menoleh untuk satu mobil dengan Melvin karena takut ada yang melihatnya, tapi Melvin memaksa Sheryn, akhirnya dia setuju karena Melvin tidak memperbolehkannya untuk bekerja jika tidak berangkat dan pulang bersamanya. Jadilah saat ini, dia sedang berada di dalam mobil bersama dengan kekasihnya yang sedang melaju menuju kantor Melvin.


Setibanya di kantor, Sheryn turun lebih dulu dari mobil Melvin. Setelah itu, Melvin mengikutinya dari belakang berjalan masuk ke dalam kantor. Saat Sheryn akan menggunakan lift biasa, Melvin langsung menarik tangan Sheryn berjalan ke arah lift khusus untuk para petinggi di perusaahn Melvin.


“Melvin, kenapa kau menarikku di depan banyak orang,” protes Sheryn dengan wajah kesal, “apa kau tidak melihat mereka langsung menatap ke arah kita semua tadi?”


Sebelum berangkat, Sheryn sudah beberapa kali memperingatkan Melvin untuk tidak dekat-dekat dengannya, tetapi Melvin nampak tidak peduli sama sekali dengan peringatan Sheryn.


“Aku tidak peduli, Sayang. Aku akan memecat siapa saja yang berani membicarakan kita berdua,” jawab Melvin dengan wajah acuh tak acuh.


Sheryn hanya bisa menghela napas panjang melihat sikap Melvin. Setibanya di lantai paling atas, sudah ada Xena di sana. Saat melihat bosnya datang, Xena langsung menyapanya dengan sopan. Seperti biasa, Melvin hanya mengangguk seraya berjalan masuk bersama dengan Sheryn dan diikuti oleh Stein di belakang mereka berdua.


Baru saja masuk ruangannya, Melvin sudah memberikan perintah pada asistennya. “Stein, panggil Riani kemari.”


“Baik, Tuan Muda.”


Setelah kepergian Stein, Melvin langsung menarik Sheryn untuk duduk di sofanya. “Ingat Sayang, selama bekerja di sini kau tidak boleh terlalu dekat dengan pria lain,” ucap Melvin seraya menatap Sheryn dari samping.


Sheryn memutar bola matanya dengan wajah malas. Ini sudah yang ketiga kalinya, Melvin berkata seperti itu padanya pagi ini. “Iyaa.”


“Aku akan memecat siapa saja yang berani mendekatimu,” ucap Melvin lagi. Dia terlihat tidak puas dengan jawaban dari Sheryn sehingga dia berbicara lagi.


“Melvin, semenjak kapan kau jadi tidak profesional begini? Bagaimana bisa mau mencampuradukkan masalah pribadi dengan urusan kantor?” protes Sheryn.


“Ini bukan sekedar urusan pribadi. Ini berhubungan denganmu. Bukankah sudah sering aku bilang, kau adalah milikku, Sheryn. Aku tidak suka kau terlalu akrab dengan pria lain jadi jika kau tidak mau membuat orang lain kehilangan pekerjaan, lebih baik kau jauhi mereka lebih dulu.”


“Kenapa begitu?”


“Kau yang melarangku untuk mengungkapkan hubungan kita. Jika saja orang dikantor ini tahu kau adalah calon istriku, tidak akan ada yang berani mendekatimu. Karena kau yang memintaku untuk menyembunyikannya, jadi kau juga yang harus menjauhi pria di kantor ini.”


Melvin sepertinya masih kesal dengan permintaan Sheryn yang memintanya untuk menyembunyikan hubungan mereka berdua.


Sheryn hanya menghela napas panjang dengan wajah tidak berdaya mendengar permintaan kekasihnya. Melvin ternyata bisa bersikap seperti anak-anak yang takut mainannya direbut oleh orang lain. “Terserah kau saja, Melvin.”


“Tok.tok.tok.” Terdengar suara ketika pintu.


“Masuk,” sahut Melvin.


“Permisi, Tuan Anderson.” Terlihat seseorang menyapa dengan penuh hormat pada Melvin. “Saya Riani, dari divisi pemasaran.”


“Pindah kemari,” ucap Melvin seraya melayangkan tatapan tajam pada Sheryn. Melvin nampak mengabaikan perkataan Riani itu.


Sheryn kemudian memberikan kode pada Melvin kalau ada orang lain di ruangan itu yang sedang berbicara dengannnya. “Sheryn, aku bilang pindah kemari.”


Manager Riani nampak menatap Sheryn dan Melvin secara bergantian dengan wajah bingung. “Sheryn?” Melvin kembali memanggil Sheryn ketika melihatnya belum juga beranjak dari tempat duduknya.


“Baiklah.” Dengan berat hati, Sheryn kembali pindah ke tempat duduknya yang semula.


Manager Riani hanya diam seraya menatap dua orang yang sedang duduk bersebelahan itu dengan wajah bingung.


“Jangan membuatku marah, Sayang. Aku tidak suka kau menghindariku saat berada di kantor,” bisik Melvin tanpa didengar oleh Riani.


“Iyaa,” jawab Sheryn dengan suara sangat pelan.


Melvin lalu mengangkat kepalanya menatap ke arah manager Riani. “Namanya Sheryn, mulai sekarang dia akan menjadi asistenmu. Jangan memberikan pekerjaan berat padanya dan pastikan bawahanmu yang lain tidak ada yang berani menyuruhnya ataupun mengerjainya,” ucap Melvin dengan wajah tegasnya.


“Stein, pasti sudah menjelaskan padamu mengenai siapa Sheryn sebenarnya bukan?”


“Sudah,Tuan,” jawab Maneger Riani seraya mengangguk.


“Calon istriku ini tidak mau ada yang tahu mengenai identitasnya jadi aku menitipkannya padamu. Jaga dia baik-baik, jangan sampai ada yang berani mengganggunya. Apa kau mengerti?”


Sheryn memejamkan matanya dengan wajah frustasi saat mendengar pemintaan konyol Melvin. Melvin seperti sedang menitipkan anaknya di tempat penitipan anak.


“Saya mengerti, Tuan Anderson.”


“Bagus, sekarang kau bisa membawanya.”


Melvin berdiri diikuti oleh Sheryn. “Selamat bekerja, Sayang,” ucap Melvin seraya tersenyum pada Sheryn.


Sheryn tidak menjawab. Dia melayangkan tatapan tajam pada Melvin karena kesal padanya.


“Kalau begtu, saya permisi, Tuan Anderson,” ucap Manager Riani.


****


“Stein, segera ke ruanganku,” perintah Melvin lewat sambungan telpon.


Tidak lama berselang, Stein masuk ke dalam ruangan Melvin. “Ada apa, Tuan Muda?”


Melvin meletakkan ponselya di atas meja lalu menatap pada asistennya. “Dia sedang apa?”


Stein nampak berpikir sejenak, kemudian berkata, “Nona, Sheryn masih bekerja di ruangannya, Tuan Muda.”


Melvin kemudian berdiri. "Antarkan aku ke ruangannya. Aku ingin melihatnya."


"Baik, Tuan Muda."


Stein mengikuti langkah Melvin masuk ke dalam lift. "Di lantai berapa dia berada?"


"Lantai 40, Tuan Muda," jawab Stein seraya memencet angka yang ada di dinding lift.


"Stein, sambungkan CCTV yang ada di ruangan Sheryn ke ponselku," perintah Melvin lagi.


Dia sengaja meminta itu agar lebih mudah mengawasi Sheryn. Dia juga bisa melihatnya kapan saja dia merindukannya.


"Baik, Tuan Muda."


Ketika pintu lift terbuka, Stein berjalan lebih dulu untuk menunjukkan jalannya. Sepanjang jalan menuju ruangan Sheryn banyak sekali karyawan yang nampak terkejut melihat kedatangan CEO mereka di lantai mereka. Melvin memang jarang menampakkan diri di hadapan semua karyawannya, terlebih lagi pergi ke lantai lain selain, lantai di mana ruangannya berada.


Beberapa asisten manager dan manager yang mengetahui kalau ada Melvin di sana, terlihat langsung menghampiri Melvin. "Aku hanya ingin berkeliling. Kalian tidak perlu mengikutiku."


"Baik."


Perlahan mereka semua mundur dan kembali ke tempatnya masing-masing. Tiba di depan ruangan divisi pemasaran, Stein langsung membuka pintunya. Semua yang ada di dalam seketika menoleh dan saat melihat Melvin yang masuk, mereka semua langsung berdiri, termasuk Sheryn.


"Kalian bisa kembali bekerja, aku hanya ingin melihat-lihat," ucap Melvin dengan wajah datarnya.


Sheryn yang melihat kedatangan Melvin nampak sangat terkejut. "Tuan Anderson," sapa Riani seraya menghampirinya.


"Kau juga boleh bekerja."


Riani mengangguk lalu kembali ke mejanya. Melvin nampak memandang ke arah Sheryn yang terlihat sedang menunduk. Dengan senyum tipisnya, dia berjalan menghampiri Sheryn. "Bagaimana hari pertamamu bekerja? Apa kau mengalami kesulitan?" Melvin bertanya pada Sheryn seraya berdiri di depan mejanya.


Pertanyaan Melvin tentu saja langsung membuat seisi ruanga saling melirik dengan tatapan heran sekaligus menyelidik. "Tidak, Tuan Anderson. Semuanya berjalan dengan baik," jawab Sheryn dengan sopan.


Melvin mengerutkan keninganya saat mendengar panggilan Sheryn padanya. "Kau memanggilku apa tadi?"


"Tuan Anderson," ulang Sheryn seraya menundukkan pandangannya ke bawah.


Wajah Melvin nampak tidak senang mendengar panggilan baru Sheryn.


"Tuan Muda, sebentar lagi kita akan ada meeting di luar," sela Stein sebelum Melvin kembali membuka suaranya. Dia tahu kalau tuan mudanya sudah mulai marah.


Melvin kemudian menoleh ke pada Stein. "Baiklah. Ayo pergi."


Setelah keluar dari ruangannya, Melvin mengirimkan pesan pada Sheryn.


Bersambung...