Mysterious Man

Mysterious Man
Festival



Selesai bermain ice skating, Sheryn mengajak Melvin untuk berkeliling kembali di mall tersebut selama kurang lebih setengah jam. Karena sudah sore, Sheryn akhirnya menyudahi kegiatannya untuk berkeliling.


"Melvin bagaimana kalau kita makan dulu, setelah itu aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Ada festival budaya yang akan diadakan malam nanti. Aku suda lama tidak melihatnya, apa kau mau ke sana?" tawar Sheryn.


Melvin mengangguk dengan bodoh. "Kalau begitu, ayo kita makan lebih dulu."


Sheryn dan Melvin berjalan berdampingan ke arah lift. Setelah pintu terbuka, Sheryn menekan tombol dan lift pun tertutup, turun satu lantai dan lift kembali terbuka. Terlihat banyak sekali pengunjung yang sedang mengantri untuk masuk ke dalam lift, perlahan mereka berdua pun mundur ke belakang saat orang-orang itu menyerbu masuk ke dalan lift dengan tergesa-gesa.


Melihat lift mulai penuh dan semakin sesak karena salah satu penumpang membawa troli masuk ke dalam, Melvin membalikkan tubuhnya menghadap Sheryn, menyudutkannya ke pojok dan mengurung Sheryn dengan kedua tangannya yang bertumpu di tembok lift. Dia menjaga Sheryn agar tidak terhimpit orang lain.


"Melvin... Ini...." Sheryn mendongakkan kepalanya menatap ke arah Melvin yang saat ini sedang menunduk dan menatap ke arahnya.


"Apa?" Tidak ada wajah bodoh lagi. Hanya wajah datar, tanpa ekpresi yang ditunjukkan oleh Melvin saat ini.


"Tidak jadi."


Sheryn menurunkan kembali pandangannya hingga wajahnya sejajar dengan dada bidang Melvin. Jantungnya berdebar kencang dan wajahnya memerah. Jarak mereka sangat dekat bahkan tubuh mereka nyaris menempel. Sedari tadi, Sheryn bahkan bisa mencium aroma tubuh Melvin menyeruak masuk ke dalam rongga hidungnya.


Melvin terus menunduk seraya menatap wajah Sheryn yang terlihat menegang. Sheryn tidak berani bergerak dan hanya bisa bernapas dengan pelan. Setelah pintu lift terbuka, orang-orang perlahan keluar dan menyisakan mereka berdua yang masih dalam posisi saling berhadapan.


"Melvin, liftnya sudah kosong," ucap Sheryn dengan suara rendah.


Melvin menoleh ke belakang lalu menatap Sheryn sebentar, setelah itu, baru menjauhkan tubuhnya dari Sheryn. Wajahnya terlihat acuh tak acuh dan kembali bodoh setelahnya.


"Ayo keluar," ucap Sheryn.


Dia berjalan dengan langkah kaki cepat mendahului Melvin. Dia harus menetralkan debaran jantungnya lebih dulu. Berada di jarak sedekat itu dengan Melvin membuatnya tidak berdaya. Setelah mereka selesai makan, sesuai janjinya pada Melvin, Sheryn akan mengajaknya ke festival budaya yang ada tengah kota.


Mereka tiba di tempat tujuan saat hari sudah gelap. Festival itu memang diadakan saat malam hari. Sheryn langsung mengajak Melvin untuk turun ke jalan karena festival budaya itu diadakan di jalan raya.


Festival itu menampilkan beberapa orang berpakaian budaya asli negara itu disertai dengan parade dan pemain yang memainkan alat musik tradisional. Suasananya sangat meriah dan ramai oleh wisatawan dan warga lokal yang sengaja datang untuk melihat perayaan tahunan itu.


Festival ini berupa parade kendaraan yang diarak ke berbagai penjuru kota. Salah satu daya tarik dari festival ini adalah arak-arakan kendaraan hias dengan tinggi 7 m berbentuk seperti naga terbang, hiasannya berupa lentera berukuran besar dengan karakter prajurit, iblis, dewa, hingga makhluk mitologi.


Festival itu merupakan festival lampion terbesar yang ada di negara tersebut. Selama festival ada banyak parade dan penari bahkan banyak juga kendaraan hias tradisional warna-warni berbentuk unik yang melewati jalan-jalan besar. Setidaknya 20 pelampung lampion besar diarak sepanjang jalan selama parade malam itu.


"Melvin, lihat itu, sangat indah, bukan?" tunjuk Sheryn pada lampion besar berbentuk naga yang sedang di arak ke arah mereka berdua.


Melvin menoleh sebentar kemudian mengangguk dengan bodoh. "Melvin, ayo berfoto." Sheryn menarik lengan Melvin ke arahnya sehingga bahu mereka saling menempel, "Melvin tersenyum," ucap Sheryn lagi sebelum dia menekan tombol di layar ponselnya.


Sheryn melihat hasil fotonya setelah beberapa kali mengambil gambar mereka. "Melvin, hasilnya bagus, lihatlah." Sheryn menunjukkan hasil fotonya pada Melvin.


"Ya, bagus."


"Melvin, ayo berfoto lagi, tapi kali ini kau harus tersenyum lebar dan lebih dekat lagi denganku agar foto di belakangnya terlihat semua."


Melvin mengangguk dengan bodoh. Saat lampion berbetuk naga berhenti tepat di depan mereka, Sheryn meminta salah satu wanita di dekatnya untuk memotret mereka berdua. Jepretan pertama, Melvin berdiri di belakang Sheryn seraya tersenyum ke arah kamera.


"Ayo, lagi."


Sheryn buru-buru menjauhkan wajahnya dari Melvin yang terlihat menampilkan wajah acuh tak acuh, seolah tidak terjadi apapun. "Satu kali lagi, ya?" teriak Wanita yang sedang mengarahkan kemera ponsel pada Melvin dan Sheryn.


Sheryn mengangguk. "Melvin, lebih baik kita berdiri berdampingan saja." Sheryn takut kalau kejadian tadi akan terulang lagi.


Melvin terlihat acuh tak acuh seraya merapatkan tubuhnya dengan Sheryn. Saat wanita itu akan mengambil foto mereka berdua, dengan gerakan cepat, Melvin membalik tubuh Sheryn ke arahnya dan langsung mengangkat dagu Sheryn dan mencium bibirnya dan di saat bersamaan Sheryn langsung membelalakkan matanya dengan wajah terkejut ketika bibirnya mereka saling menempel.


Wanita yang memotret itu hanya bisa mengulas senyum tipis saat dia melihat pemandangn di depannya. Dia terlihat sedikit malu sekaligus iri melihat ke romantisan pasangan yang ada di depannya.


"Melvin, kenapa kau menciumku di depan umum? tanya Sheryn seraya menjauhkan tubuhnya dari Melvin dengan wajah memerah.


Dia sebenarnya ingin marah karena Melvin melakukannya di depan umum sehingga membuat mereka menjadi pusat perhatian, tetapi saat melihat wajah polos dan bodoh Melvin, Sheryn hanya bisa menghela napas panjang lalu berjalan ke arah wanita yang memotret mereka berdua.


"Terima kasih," ucap Sheryn pada wanita itu.


Wanita itu mengangguk seraya tersenyum. "Kekasihmu sangat tampan dan romantis. Aku iri padamu." Setelah mengatakan itu, wanita itu pergi meninggalkan Sheryn yang terlihat hanya tersenyum canggung sebagai respon dari perkataan wanita itu.


Sheryn termenung sejenak, setelah itu, dia menghampiri Melvin. "Ayo, Melvin, kita ke sana."


Sheryn menunjuk ke arah pinggir jalan di mana tidak terlalu banyak orang. Dia merasa sesak karena di sepanjang jalan kanan dan kiri dipenuhi oleh banyak orang yang sedang menikmati parade yang lewat di depan mereka.


"Melvin, kau tunggu di sini. Aku akan membeli minum sebentar," ucap Sheryn seraya menunjuk ke arah kedai yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Ya," jawab Melvin dengan wajah bodohnya.


Sheryn menoleh ke kanan kiri sejenak sebelum meninggalkan Melvin. Saat dia sedang berjalan, dia merasa seperti sedang diikuti oleh seseorang, tapi ketika dia menoleh ke belakang, tidak ada satu orang pun yang mencurigakan. Dengan langkah cepat, Sheryn membelah kerumunan orang menuju kedai yang menjual minuman.


Sheryn terpaksa antri karena ramainya orang yang ingin membeli minum. Setelah membeli minuman, Sheryn bergegas kembali dan ketika dia tiba di tempat Melvin menunggunya tadi, dia dibuat terkejut.


"Melvin." Sheryn menjatuhkan kedua minuman dingin yang dia pegang saat melihat tidak ada Melvin di sana. Wajahnya terlihat menegang dan pucat pasi.


Sheryn langsung mengedarkan pandangannya ke sekitar dengan cepat, tapi dia tidak menangkap sosok Melvin di mana pun. Sheryn melangkah dan mulai mencari Melvin di sepanjang jalan yang mereka lalui tadi. Sheryn berjalan ke sana-kemari mencari Melvin dengan wajah yang sangat cemas.


Pikiran negatif pun mulai muncul di benaknya. "Melvin, kau di mana?"


"Melvin."


Sheryn beberapa kali meneriakkan namanya, tetapi karena di sana sangat ramai terlebih ada suara musik tradiosional serta bunyi gong sehingga suara Sheryn tidak terdengar begitu jelas. Dia sudah mencari selama 15 menit, tetapi dia belum juga menemukan keberadaan Melvin. Dia sudah mulai putus asa dan matanya terlihat mulai berkaca-kaca.


"Melvin!" teriak Sheryn dengan suara bergetar.


Tidak juga menemukan keberadaan Melvin, Sheryn kembali melangkah seraya mengedarkan pandangannya ke sekitar. Sheryn akhirnya memutuskan untuk menyebrang melewati arak-arak yang ada di depannya. Setelah mencarinya selama 5 menit dan tidak menemukannya juga, Sheryn akhinya berhenti.


"Melvin, kau di mana?" Matanya sudah berair dan raut putus asa terlihat jelas di wajahnya.


Bersambung...