
"Aku tidak keberatan sama sekali kalau kau ingin tidur bersamaku."
Sheryn menjauhkan sedikit tubuhnya dari Melvin. "Jangan bicara yang tidak-tidak. Aku akan tidur di kamarku sendiri." Sheryn meraih kartu yang ada di tangan kanan Melvin kemudian berjalan keluar dengan wajah memerah.
Setelah pintu tertutup, Melvin menyungging senyum tipis di wajahnya. Dia kemudian melepaskan kacamata hitamnya serta kumis tipis yang melekat di atas bibir atasnya. Wajah tampan Melvin langsung terlihat jelas setelah kumis dan kacamata hitamnya terlepas.
Sheryn, andai saja aku tidak sedang menyamar, aku tidak akan membiarkanmu keluar dari kamar ini.
Di kamar yang bersebrangan dengan kamar Melvin, ada Sheryn yang baru saja selesai membersikan tubuhnya. Sheryn mandi dengan cepat karena sudah larut malam. Dia berjalan ke arah koper dan mengganti pakaianya dengan baju tidur longgar berbahan satin dengan celana tidur pendek.
Ketika dia akan berbaring, Seketika Sheryn teringat akan sesuatu. Ponselnya tertinggal di kamar Melvin. Sheryn meletakkan di atas meja saat menunggu Melvin mandi. Sheryn bergegas keluar dari kamarnya lalu memencet bel kamar Melvin. Setelah memencet sampai 5 kali, Melvin akhirnya membuka pintunya. Sheryn memicingkan mata saat melihat wajah panik dan terkejut Melvin.
"Ada apa?" Melvin berusaha untuk terlihat tenang meskipun napasnya tidak beraturan.
"Maaf, ponselku tertinggal di dalam," ucap Sheryn dengan wajah tidak enak.
"Aku kira kau berubah pikiran dan ingin tidur denganku," Melvin menyingkir dari pintu untuk memberikan jalan pada Sheryn agar dia bisa masuk kembali ke kamarnya.
Sheryn hanya mendengkus dan melewati Melvin menuju meja untuk mengambil ponselnya yang tertinggal. Saat Sheryn akan berbalik, ternyata ada Melvin di belakangnya. "Ada apa?"
Melvn tidak langsung menjawabnya, melainkan dia menatap wajah Sheryn beberapa saat. "Tidak apa-apa. Kembalilah ke kamarmu."
Sheryn mengerutkan keningnya melihat sikap aneh Melvin. "Apa yang ingin kau katakan padaku?" Pandangan mata Sheryn mengikuti langkah Melvin yang sedang menuju tempat tidur.
"Kembalilah ke kamarmu jika tidak ingin tidur di sini bersamaku." Wajah Melvin terlihat datar dan tanpa ekspresi.
"Baiklah. Aku akan kembali ke kamarku."
Setelah kepergian Sheryn, Melvin berjalan menuju lemari pakaian dan membuka lemarinya. "Keluarlah."
Beberapa detik kemudian, seorang wanita keluar dari dalam lemari seraya menggerutu. "Kenapa aku harus sembunyi darinya? Memangnya dia tidak boleh melihatku di sini?" ujar wanita berkulit putih dan bertubuh tinggi itu dengan wajah kesal.
Dengan wajah acuh tak acuh, Melvin berjalan menuju sofa single di dekat dinding kaca, meninggalkan wanita itu. "Aku tidak mau dia berpikir macam-macam terhadapku. Aku bahkan belum bisa mendapatkan hatinya," jawab Melvin tanpa menoleh pada wanita itu.
"Tapi aku ini adikmu. Mana mungkin dia akan cemburu padaku," ujar wanita itu seraya menatap kesal pada Melvin.
"Sudahlah. Kembali ke kamarmu. Jangan mendatangiku tiba-tiba." Melvin menghampiri wanita itu dan memegang lengannya lalu membawanya ke arah pintu.
Wanita berparas campuran itu seketika menoleh pada Melvin dengan senyum menggoda seraya mengapit lengan Melvin dengan mesra. "Kak, mungkinkah aku ini bukan adikmu? Kenapa jantungku selalu berdebar kencang jika berada di dekatmu?" Wanita itu tersenyum seraya menyandarkan kepalanya di lengan Melvin, setelah itu berjalan beriringan ke arah pintu.
"Kau memang adikku." Melvin berdiri di dekat pintu lalu mendorong kepala wanita itu dengan lembut menjauh dari lengannya.
Wanita itu kembali tersenyum menggoda seraya menatap Melvin. "Tapi kenapa wajah kita tidak mirip? Mungkin saja kita memang tidak bersaudara."
Melvin melepaskan pegangan wanita itu dengan wajah malas. "Jangan berpikir yang tidak-tidak. Cepat kembali ke kamarmu."
Melvin tidak menggubrisnya. "Kak, kapan kau akan pulang? Kak Alan sudah ada di negara H. Sudah lama kita tidak berkumpul," ujar wanita itu seraya memegang handle pintu untuk menahannya agar tidak tertutup.
"Kau pulang saja duluan. Aku akan pulang lusa. Ada sedikit masalah yang harus aku urus di sini."
"Baiklah. Apa kau yakin tidak mau mengenalkanku pada wanita yang kau sukai itu?" Wanita itu kembali bertanya sebelum benar-benar pergi.
"Cepat keluar." Melvin membalik tubuh wanita itu ke arah luar lalu mendorongnya dengan pelan keluar dari kamarnya.
*******
Pagi harinya, setelah sarapan di kamar berdua, Melvin mengantarkan Sheryn ke bandara. Dia menyuruh Sheryn untuk segera kembali ke negara C. Awalnya Sheryn tidak mau pulang karena dia ingin ikut ke negara H untuk menjemput Melvin, tetapi dilarang oleh Melvin.
Akhirnya, Sheryn pulang ke negara C bersama dengan 2 orang pengawal yang mengikutinya diam-diam tanpa sepengetahuannya. Sheryn memang tidak pernah tahu kalau selama ini, dia selalu diikuti oleh pengawal yang ditugaskan oleh Melvin untuk menjaganya.
Sudah seminggu berlalu dan tuan Anderson belum juga memberikan kabar padanya, kapan dia akan pulang membawa Melvin. Selama di negara H, Sheryn hanya berkomunikasi dengan Stein. Entah kenapa, setiap keluar negeri, ponsel tuan Anderson tidak pernah aktif. Selama seminggu itu, Sheryn menunggu kedatangan tuan Anderson dan Melvin dengan perasaan cemas.
"Selamat malam, Nona," sapa Bibi Lin ketika melihat Sheryn baru saja memasuki mansion setelah bekerja seharian di kantor.
Dengan wajah lesu, Sheryn menjawab sapaan bibi Lin. "Malam, Bibi Lin."
Sheryn berhenti sejenak untuk bertanya pada bibi Lin mengenai kepulangan Melvin. "Apa Elvin dan Stein belum pulang juga?"
"Belum, Nona."
Wajah Sheryn kembali terlihat lesu. "Baiklah, aku akan naik ke atas. Tidak perlu menyiapkan makan malam. Aku sudah makan di kantor tadi," ucap Sheryn sebelum dia melangkah menuju lift.
"Baik, Nona."
Setelah berbicara dengan bibi Lin, Sheryn naik ke atas menuju kamarnya. Setibanya di kamar, Sheryn duduk termenung di tepi ranjangnya. Dia merasakan ada sesuatu yang hilang selama seminggu ini, tetapi dia tidak tahu itu apa.
Karena merasa kesepian tinggal di mansion sebesar itu sendirian, selama seminggu ini, dia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit. Sebenarnya tidak sendirian karena di sana ada bibi Lin, beberapa pelayan lainnya serta pengawal yang berjaga di sekitar mansion Melvin, tapi tetap saja dia tidak memiliki teman mengobrol.
Setelah termenung beberapa saat, Sheryn akhir masuk kamar mandi dan keluar setelah selesai membersihkan tubuhnya. Baru saja dia akan meraih pakaiannya yang ada di lemari, ponselnya berbunyi. Dengan cepat Sheryn mengambil celana tidur pendek dan baju tidur tanpa lengan bertali pundak lalu memakai dengan tergesa-gesa.
Selesai berpakaian, Sheryn meraih ponselnya dan melihat ada pesan dari Tuan Anderson yang mengatakan kalau dirinya memiliki kejutan untuknya. Di tengah kebingungannya, kamar Sheryn diketuk oleh seseorang. Sheryn melepaskan handuk dari kepalanya lalu menyisir rambutnya dengan jari tangannya seraya berhajalan ke arah pintu.
Saat dia membuka pintunya, ada sesuatu yang mengejutkan pandangan matanya. Seorang pria berdiri di depan pintu kamarnya dengan wajah bodohnya. "Sheryn." Pria itu menyapa dengan wajah bodohnya untuk menyadarkan Sheryn dari keterkejutannya.
"Melvin, kau ke mana saja? Aku sangat merindukanmu," ucap Sheryn setelah menghambur ke pelukan Melvin.
Bersambung....