
Saat sedang mengeluarkan asap putih dari hidungnya, bel apartemennya berbunyi. Alan nampak mengabaikan suara yang bel tersebut dan sibuk dengan pikirannya. Bel tersebut sempat behenti sejenak, tetapi kembali terdengar setelah beberapa saat.
Karena merasa terganggu dengan suara bel yang terus berbunyi, Alan akhirnya berjalan ke arah pintu lalu membukanya. Saat melihat siapa yang datang, wajah Alan berubah menjadi dingin.
“Sayang, kenapa kau tidak mengangkat telpon dariku?”
Veronica berjalan di belakang Alan yang terlihat langsung meninggalkannya dan mengabaikan pertanyaannya. Alan berdiri tepat di depan dinding kaca apartemennya. Mengabaikan keberadaam Veronica di sana dan terus menghisap rokok yang ada di tangan kanannya.
“Alan, kenapa kau sulit sekali dihubungi? Apa terjadi sesuatu?” Veronica akhirnya kembali berbicara karena tidak mendapatkan respon apapun dari Alan setelah beberapa detik.
“Pergilah. Aku sedang tidak ingin diganggu.”
Melihat sikap dingin Alan padanya, Veronica melangkah dan berdiri di belakang Alan lalu memeluknya dari belalakng. “Aku merindukanmu, Alan.” Suaranya dibuat semenggoda mungkin agar Alan tidak lagi mengabaikannya.
Sikap Alan yang tiba-tiba berubah padanya membuat Veronica gelisah. Dia mulai meraba dada bidang Alan yang masih tertutup kemeja hitam. “Bagaimana kalau malam ini kita bersenang-senang?”
Alan bergeming. Matanya masih menatap lurus ke arah luar dengan wajah datar. Dia membiarkan tangan Veronica yang mulai membuka kancing bajunya. “Alan, aku dengar Xena mengundurkan diri dari kantor Melvin. Apa kau sudah putus dengannya?”
Ketika nama Xena disebut, tatapan Alan berubah menjadi semakin dingin. “Apa kau tahu sesuatu tentang Xena? Dia tiba-tiba menghilang dan tidak bisa dihubungi.” Akhirnya Alan membuka suaranya kembali setelah mendiamkannya sedari tadi.
Veronica melepaskan kemeja Alan setelah semua kancingnya terbuka. “Tidak. Untuk apa kau memikirkannya lagi? Bukankah kau bilang padaku kalau dia hanya kau manfaatkan saja? Sekarang dia sudah pergi, ada aku yang akan menggantikannya. Kita bisa lebih bebas sekarang.”
Veronica membalik tubuh Alan, meletakkan kedua tangannya di dada polos Alan, menelusuri dada bidangnya dan membelainya dengan lembut. Dia sengaja ingin memancing gairah Alan agar mau menyentuhnya, tapi nampaknya usahanya gagal. Alan terlihat diam saja dengan wajah dinginnya.
Akhirnya Veronica mengalungkan tangannya ke leher Alan lalu menciumnya dengan liar. Alan nampak diam dan tidak membalas ciumannya. Matanya bahkan terlihat sangat tajam saat Veronica melu-mat bibirnya dengan penuh nap-su. Veronica sebenarnya menyadari kalau ada yang aneh pada Alan, tapi dia buru-butu menepis pikirannya dan memilih terus memagut bibir Alan.
Tangannya mulai bergerak ke bawah dan saat dia akan menyentuh sesuatu di bawah sana. Alan buru-buru menangkap tangan Veronica dengan mata berkilat kemudian dia menjauhkan wajanya dari Veronica, meraih dagunya lalu menatapya dengan tajam serta senyuman mengejek.
“Baru tidak aku sentuh beberapa hari saja kau sudah mulai gatal?”
Perkataan menohok Alan sukses membuat Veronica membeku. “Veronica, mulai sekarang jangan pernah berani menyentuh tubuhku lagi. Aku tidak sudi lagi melakukannya denganmu. Enyahlah dari hadapanku dan jangan pernah temui aku lagi.”
Mata Veronica langsung membelalak mendengar peringatan dari Alan. Selama ini, Alan belum pernah menolaknya. Dia justru terlihat menikmati setiap kali mereka melakukannya. Alan bahkan bisa sampai berkali-kali melakukannya dan baru berhenti setelah dia merasa lelah.
“Alan, ada apa denganmu? Apa salahku? Apa Xena yang sudah mempengaruhimu?”
Mata Alan kembali berkilat. “Dengarkan aku baik-baik. Wanita yang aku cinta hanyalah Xena. Dari dulu sampai sekarang, hanya dia yang ada di hatiku. Kau hanya kujadikan boneka yang bisa aku mainkan kapan saja aku mau. Kau tidak berarti apa-apa bagiku, selain sebagai pelampiasan nap-suku.”
Veronica sangat marah mendengar itu, dia nampak mengertakkan giginya. “Alan, bagaimana bisa kau mengatakan itu setelah kau renggut semuanya dariku? Kau memang brengsek! Setelah mengambil kesucianku dan menikmati tubuhku, sekarang kau membuangku seenaknya saja setelah kau bosan? Kau pikir kau bisa mempermainkanku begitu saja?"
“Plaaaak.” Veronica menampar pipi kanan Alan dengan keras. Dia terlihat sangat marah setelah mendengar kata-katanya.
Alan menggerakkan rahangnya beberapa kali dengan sorot mata tajam kemudian mencibir dengan senyuman mengejek.
"Veronica, kau jangan lupa? Kau yang sendiri yang datang dan menyerahkan tubuhmu secara suka rela padaku. Aku tidak pernah memaksamu. Sekarang aku sudah tidak mengingingkanmu lagi. Aku tahu kau mendekatiku karena memiliki maksud tersembunyi."
Veronica memang sengaja beralih pada Alan saat tahu kalau Alan yang menguasai semua kekayaan keluarga Louris setelah Melvin amnesia dan berubah menjadi bodoh dan saat Melvin kembali lagi dan menduduki posisi semula, dia kembali mengejar Melvin, tapi ternyata Melvin tidak menginginkannya lagi jadi dia memutuskan untuk bersama dengan Alan lagi.
Tangan Veronica mengepal dan menatap Alan dengan tatapan berapi-api. "Alan, dulu kau pernah berjanji menikahiku, tapi sekarang kau bilang aku hanya pelampiasan nap-sumu saja. Bagaimana mungkin kau bersikap begini setelah semua yang sudah aku lakukan untukmu? Kau sudah mendapatkan semuanya, Alan!"
Alan tersenyum sinis kemudian menyeringai. "Veronica, kau terlalu percaya diri. Aku tidak pernah berminat untuk menikah dengan wanita murahan sepertimu. Kau bahkan dengan mudahnya memberikan tubuhmu padaku di saat kau masih menjadi tunangan Melvin. Bagaimana mungkin aku mau menikah dengan wanita sepertimu? Mungkin saja kau sudah tidur dengan pria lain, selain aku."
"Plaaak." Veronica kembali menampar Alan, "jaga bicaramu. Aku bukan wanita seperti itu. Aku hanya tidur denganmu, Alan. Kalaupun nanti aku hamil, itu adalah anakmu."
Setelah mengatakan itu, Alan maju dengan tatapan mengerikan. "Ini terakhir kalinya aku membiarkanmu menamparku, lain kali, aku akan mematahkan tanganmu kalau kau berani melakukannya lagi."
"Alan, kenapa kau jadi berubah? Apa ja-lang itu yang sudah merubahmu? Apa yang sudah dia berikan padamu sehingga kau mencampakkan aku seperti ini? Apa jangan-jangan ja-lang itu sudah tidur denganmu?"
Wajah Alan berubah menjadi gelap mendengar Xena dihina, tangannya terangkat dan mencengram kuat rahang Veronica hingga dia meringis.
"Jangan pernah berani kau mengatakannya ja-lang. Dialah yang akan aku nikahi dan hanya dia yang pantas menjadi ibu dari anakku. Lebih baik, kau jauhi aku. Aku tidak sudi lagi melihatmu, apalagi sampai menyentuhmu. Pergilah sebelum kesabaranku habis."
*******
Setelah selesai mengucapkan janji suci pernikahan, acara dilanjutkan dengan resepsi pernikahan. Tamu yang hadir adalah tamu pilihan. Pesta tersebut hanya dihadiri oleh orang-orang yang sangat penting. Melvin sengaja mengadakan pesta tertutup karena ingin menjadikan momen pernikahannya menjadi pernikahan yang sakral.
Dia berencana untuk mengumumkan berita pernikahannya sehari setelah pesta pernikahan berlangsung. Selain tamu pilihan, hadir juga keluarga dari ibu Melvin. Karena Ayah Melvin adalah anak tunggal jadi tidak ada keluarga yang hadir.
Melvin terlihat menuruni altar dan menghampiri seseorang. “Bibi Jean, kenalkan ini istriku, Sheryn. Maaf karena aku belum sempat mengenalkannya secara langsung padamu.”
Melvin memperkenalkan Sheryn pada adik ibunya. Adik ibunya memang tinggal di luar negeri karena mengikuti suaminya. Itu sebabnya mereka jarang sekali bertemu. Karena Melvin secara tiba-tiba mengubah rencana pernikahannya, maka dari itu, dia tidak sempat membawa Sheryn untuk menemui bibinya lebih dulu. Padahal, rencana awalnya dia akan membawa Sheryn untuk menemui keluarga dari pihak ibunya sebelum mereka menikah.
“Cantik sekali. Pantas saja kau sangat tergila-gila padanya.”
“Bibi Jean, terlalu memuji. Masih banyak wanita yang lebih cantik dariku,” balas Sheryn dengan wajah malu.
“Ini adalah adik sepupuku, namanya Lauren.”
Melvin mengarahkan tangannya pada wanita muda yang berwajah campuran.
“Kakak ipar, senang bertemu denganmu. Selamat atas pernikahan kalian,” ucap Lauren dengan senyum manisnya.
“Terima kasih, Lauren.”
Selesai berbincang sebentar dengan keluarga ibunya, Melvin mengajak istrinya untuk menemui ibu tiri serta adiknya. “Ibu, kenalkan ini istriku, namanya Sheryn.”
Ibu Alan terlihat menatap dengan cermat wajah Sheryn kemudian tersenyum. “Semoga kalian bisa hidup bahagia,” ucap Marylin.
“Terima kasih, Ibu.”
Ini pertama kalinya ibu Alan bertemu dengan Sheryn. Selama ini, dia hanya mendengar namanya dari mulut Emily. Dia dan Emliy bahkan tidak menyangka kalau malam ini adalah pesta penikahan Melvin. Melvin sengaja menyuruh pengawalnya untuk menjemput ibu Alan dan Emily secara khusus untuk menghadiri pesta pernikahannya tanpa memberitahukan apapun.
Melvin hanya menelpon ibu Alan dan Emily dan mengatakan untuk mempersipakan diri untuk menghadiri sebuah acara penting. Melvin sengaja tidak mengundang Alan dan melakukan pernikahan diam-diam tanpa sepengatahuannya karena takut kalau Alan akan mengacaukan pesta pernikahannya.
“Kau tega sekali, Kak. Mengundang kami, tapi tidak memberitahukan pada kami mengenai pesta pernikahanmu ini.” Emily nampak memasang wajah cemberutnya.
“Maafkan aku. Aku hanya ingin memberikan kejutan pada kalian.”
“Lalu kenapa kau tidak mengundang kak Alan?”
Pertanyaan itu juga sejak tadi ada di pikiran ibu Alan saat mengetahui kalau dia sedang menghadiri pesta pernikahan Melvin dan Sheryn.
“Alan sangat sibuk. Aku sudah berusaha menghubunginya, tapi tidak bisa,” bohong Melvin. Dia tidak mungkin mengatakan yang sesungguhnya pada mereka berdua.
"Bersambug...