
Melvin mulai menyendokkan makanan ke dalam mulutnya. "Kalau begitu, kau tidak bisa pulang dari sini malam ini," ucap Melvin dengan wajah acuh tak acuh.
Saat melihat tubuh Sheryn yang begitu kurus, Melvin merasa sedih. Dia menduga kalau Sheryn tidak makan dengan benar selama ini. Apalagi dia bekerja di dua tempat sekaligus dalam sehari
"Baiklah, tapi setelah ini, kau harus membiarkan aku pulang."
"Ya."
Sheryn menarik napas sebelum mulai memakan makanan yang ada di depannya. Dia ingin segera pulang, maka dari itu, dia makan dengan cepat dan menghabiskan dua kotak makanan yang diberikan oleh Melvin tadi. Beruntung isinya hanya sandwich dan spaghetti sehingga Sheryn masih bisa menghabiskannya.
Setelah menghabiskan makanannya, Sheryn tinggal menunggu Melvin selesai makan. Saat dia melihat Melvin tidak memakan kacang polong yang ada di nasi goreng itu, dahi mengerut secara tidak sadar. Ingatannya kembali pada Melvin.
"Kenapa Anda tidak memakan kacang polongnya?" tanya Sheryn ketika melihat Melvin menyingkirkan kacang polong di pinggir piringnya.
Melvin memgangkat kepalanya dan berkata, "Aku tidak suka."
"Kacang polong juga baik untuk tubuh. Jangan suka pilih-pilih makanan," ucap Sheryn dengan ketus.
Dia sudah sudah payah memasak, tetapi pria itu justru tidak memakan semua masakannya. Sheryn jadi kesal jika mengingatnya.
Melvin terdiam sejenak, kemudia berkata, "Baiklah. Aku akan memakannya."
Dengan wajah ragu, Melvin menyendokkan nasi goreng beserta kacang polong ke dalam mulutnya. Melvin nampak memperlihatkan wajah tidak suka ketika dia mulai mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya
Sheryn terus memperhatikan ekspresi wajah Melvin. Suapan demi suapan masuk ke dalam mulut Melvin dengan susah payah, hingga tiba-tiba dia merasakan panas dan gatal di sekujur tubuhnya. Melvin mulai menggaruk dan ruam-ruam merah mulai muncul di tubuhnya.
Merasa ada yang aneh, Sheryn kemudian berjalan mendekati Melvin. "Ada apa denganmu? Kenapa kulitmu memerah semua?" Sheryn memeriksa kedua tangan Melvin dan sekitar leher Melvin dengan wajah panik.
"Aku hanya alergi," jawab Melvin sambil meminum air putih.
"Apa kau alergi udang?" tebak Sheryn.
"Tidak."
Mata Sheryn membesar saat dia memikirkan sesuatu. "Apa kau alergi kacang-kacangan?"
"Yaa." Dari balik kacamata hitamnya Melvin terus menatap pada Sheryn. Melihat Sheryn mengkhawatirkannya, membuatnya merasa senang.
"Apa kau sudah gila? Kenapa kau memakannya kalau kau alergi?" ujar Sheryn dengan suara tinggi.
Ingatan Sheryn kembali pada saat pertama kali membuatkan nasi goreng Singapore untuk Melvin. Saat itu, Melvin memakan kacang polongnya secara tidak sengaja dan saat itu langsung menimbulkan reaksi alergi. Mulai dari situ, Sheryn tidak pernah memasukkan kacang polong lagi setiap dia membuat nasi goreng Singapore untuk Melvin.
"Kau yang menyuruhku untuk tidak pilih-pilih makanan," jawab Melvin enteng sambil terus menatap wajah Sheryn.
"Itu karena aku tidak tahu kalau kau alergi. Apa kau juga akan meminum racun jika aku suruh?" Sheryn nampak begitu kesal pada Melvin saat melihat tanggapan santai darinya.
"Jika itu yang kau inginkan, maka akan kulakukan."
Sheryn yang sedari tadi memeriksa tangan Melvin seketika terdiam dan menatap ke arah Melvin.
Gilaa ... Dia pasti sudah gila ....
Jawaban konyol dari Melvin sukses membuat Sheryn terkejut. Setelah terdiam beberapa saat, Sheryn akhirnya berkata, "Di mana obat alergimu?"
"Ada di kamarku," jawab Melvin tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Sheryn.
"Di mana kamarmu? Biar aku ambilkan."
"Di lantai 2. Kamar kedua sebelah kanan yang dekat dengan pintu lift."
"Baiklah. Kau tunggu di sini."
Dia lupa menanyakn pada Melvin di mana dia menyimpan obatnya. Sheryn kemudian berjalan menuju nakas yang ada di samping tempat tidur lalu membungkuk membuka lacinya. Dia membuka satu persatu hingga di mendapati sebuah foto tertutup oleh buku sehingga hanya menampilkan setengah dari foto.
Foto wanita ini seperti .....
Saat dia akan mengambil foto tersebut, dari arah belakang ada tangan yang mencegahnya. "Obatnya tidak ada di situ."
Sheryn menoleh ke belakang dan melihat Melvin sedang berada di belakangnya dengan tangan yang ada di kedua sisi tubuhnya sambil memegang kedua tangan Sheryn. Jika dilihat dari beberapa sisi. Melvin seperti sedang memeluk Sheryn dari belakang.
"Maaf, aku tidak tahu."
Posisi mereka yang sangat dekat membuat Sheryn gugup. "Obatnya ada di laci paling bawah." Tubuh Sheryn meremang ketika Melvin berbicara di dekat telinganya.
"I-iya."
Melihat Sheryn nampak gugup dan wajah Sheryn yang memerah, Melvin kemudian menjauhkan dirinya dari Sheryn lalu berdiri tegak.
Tidak ingin berlama-lama, Sheryn lalu membuka laci bawah dan mengambil obat dari laci itu lalu memberikannya pada Melvin. "Ini minumlah."
"Tolong bukakan obatnya dan ambil air untukku. Tanganku terasa kebas karena alergi ini." Melvin berpura-pura sakit dan sengaja memanfaatkan rasa bersalah Sheryn padanya untuk mendapatkan perhatiannya.
Sheryn menghela napas kemudian menunduk ke arah nakas dan menuangkan air ke dalam gelas lalu memberikan pada Melvin. "Ini minumlah."
Melvin meraih gelas dan meminum obatnya. Setelah itu dia menunduk dan mendekatkan wajahnya pada Sheryn. Semakin dekat hingga Sheryn bisa merasakan hembusan napas Melvin menerpa wajahnya. Saat bibir mereka akan menempel, Sheryn langsung menutup matanya secata spontan.
Melihat itu Melvin tersenyum lalu wajahnya berbelok ke arah telinga Sheryn lalu berbisik. "Terima kasih."
Melvin kemudian menjauhkan tubuhnya dari Sheryn lalu berdiri tegak sambil memasukkan kedua tangannya dalam saku.
Sheryn membuka matanya setelah mendengar bisikan Melvin. Lagi-lagi dia tidak berdaya dihadapan pria itu. Bagaimana bisa diam saja saat pria di depannya itu mendekati wajahnya.
"Aku akan mengantarkanmu pulang," ucap Melvin setelah melihat Sheryn terdiam.
Sheryn tidak menjawab, melainkan langsung keluar dari kamar Melvin menuju lift. Melvin hanya tersenyum tipis saat melihat wajah merah Sheryn.
Selama dalam perjalanan, mereka berdua hanya diam. Stein nampak melirik sekilas pada dua orang yang sedang duduk di belakang. Sheryn sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Ada sesuatu yang mengaggunya. Foto yang dia lihat tadi mirip dengannya, meskipun dia hanya melihatnya setengah saja, tetapi Sheryn sangat yakin kalau foto itu adalah dirinya.
Kalau itu memang fotonya, bagaimana bisa foto itu ada di sana? Dari mana pria itu mendapatkannya?
"Sudah sampai, Nona." Ucapan Stein membuyarkan lamunan Sheryn.
Saat Sheryn melihat di sekitarnya, dia merasa terkejut saat melihat dia sudah tiba di depan gang kecil menuju rumah sewanya. Sheryn tidak pernah bilang di mana alamat rumahnya, jadi bagaimana bisa mereka tahu di mana dia tinggal.
"Dari mana kau tahu aku tinggal di sini?" tanya Sheryn pada Stein.
"Aku tahu semua tentangmu, Nona."
Jawaba Stein membuat Sheryn lagi-lagi membuatnya terkejut. "Turunlah. Sudah malam," ucap Melvin.
Meskipun merasa heran, Sheryn memilih untuk tidak bertanya lagi. "Terima kasih, sudah mengantarku." Sheryn kemudian membuka pintu mobil lalu turun.
Sebelum Sheryn menutup pintunya, Melvin berkata, "Sheryn, apa kau tidak berniat untuk pindah dari sini?"
"Meskipun aku ingin, tapi aku tidak bisa." Sheryn lalu menutup pintunya.
Aku akan membawamu pindah dari sini, Sheryn. Secepatnya.
Bersambung