Mysterious Man

Mysterious Man
Ungkapan



Tom dan Miranda terlihat baru tiba di tempat pesta ulang tahun pernikahan orang tua Jessica. Mereka masuk ke dalam gedung dengan sedikit tergesa-gesa,


"Kita benar-benar terlambat" ucap Miranda resah.


Tom menyentuh tangan istrinya dan menahannya untuk tidak berjalan terlalu cepat,


"Terlambat sedikit tidak apa-apa, jangan terlalu terburu-buru, kau bisa terjatuh" ujar Tom pada istrinya.


Miranda pun hanya dapat menghela nafasnya dan mengurangi kecepatan berjalannya.


Pandangan wanita paruh baya itu terarah pada Julie dan Arthur Klinton yang terlihat sedang berada di atas panggung. Namun, seketika pandangannya pun terarah pada Jessica yang tengah berjalan turun dari panggung dengan wajah yang terlihat sedih bercampur kesal.


Miranda pun terdiam sejenak dan menatap Tom,


"Kau duluan saja ke meja, aku akan ke kamar mandi sebentar" ucapnya.


Tom pun mengangguk pelan dan membiarkan istrinya pergi..


Miranda berjalan cepat mengikuti Jessica yang berjalan kearah kamar mandi. Wanita paruh baya itu pun menyusul masuk dan melihat Jessica yang tengah menangis di wastafel.


Miranda berdiri di belakang Jessica dan menepuk pundaknya pelan. Jessica yang terkejut seketika menatap kearah cermin dan melihat Miranda yang berdiri di belakangnya dengan tatapan prihatin,


"Ada apa?? Apa kau menangis??" tanyanya lembut.


Jessica tidak bisa menahan air matanya dan langsung memeluk Miranda,


"Bibi hiks.." rintihnya dengan tubuh yang bergetar.


Miranda sedikit terkejut namun langsung balas memeluk tubuh wanita itu untuk menenangkannya. Jika wanita ini menangis padanya, tidak lain dan tidak bukan pasti alasannya karena Jack, pikir Miranda dalam hatinya.


Ia pun hanya dapat menghela nafasnya pelan dan kembali menenangkan wanita itu.




Saat ini Sherly tengah duduk di meja bersama kedua orang tuanya sambil menikmati makanan mereka.



Sejak tadi ia mengarahkan pandangannya ke sekitar untuk mencari kakaknya. Tadi dia melihat Jessica turun dari panggung dan sampai sekarang belum juga kembali.



Sherly pun mengelap bibirnya dengan lap dan berdiri dari duduknya,



"Ibu, ayah, aku akan ke kamar mandi sebentar" izinnya pada kedua orang tuanya.



Julie dan Arthur tersenyum dan mengangguk pelan. Sherly pun dengan segera beranjak untuk mencari sang kakak.



Saat gadis itu tengah mengarahkan pandangannya ke sekitar, tiba-tiba ia melihat Justin yang tengah berdiri di sisi meja panjang di sudut ruangan sambil meneguk minumannya.



Pria itu tengah menatap ke satu titik dimana Jack dan Alice tengah duduk dan menikmati makan malam mereka.



Sherly menghela nafasnya pelan dan menghampiri pria itu,



"Hai Justin" sapanya yang membuat Justin langsung mengarahkan pandangan padanya.



Justin terdiam sejenak dan tersenyum pelan pada Sherly,



"Hai" balasnya singkat.



Sherly menatap kearah Jack dan Alice dengan dingin lalu kembali menatap Justin,



"Tidak usah menatap kearah sana.. Itu akan mengganggu suasana hatimu" ucapnya sinis.



Justin meneguk kembali minumannya dan tersenyum pelan,



"Kau benar" jawabnya pelan.



Sherly terdiam sejenak dan kembali menatap Justin yang terlihat tidak bersemangat,



"Apa kau bisa melupakannya?? Dia bukanlah gadis yang pantas untuk di perjuangkan. Dia saja tidak tau malu datang kemari bersama mantan kekasih dari kakak sahabatnya" ucapnya tajam.



"Dia bahkan masih punya muka setelah merebut kekasih orang lain" lanjutnya uang membuat Justin seketika menatapnya dengan tidak suka.



"Alice tidak seperti itu.. Dia tidak merebut siapapun" tegas Justin.



Sherly seketika menatap kearahnya dengan perasaan tidak suka. Mengapa sudah seperti ini pun Justin masih membela gadis itu?? Apa pria ini masih mencintai Alice?? pikirnya resah.



"Aku tau gadis seperti apa Alice.. Dia tidak mungkin melakukan hal seperti itu" ucap Justin lagi.



Ia pun kembali meneguk habis minumannya dan berdiri tegak,



"Aku sedang belajar untuk mengikhlaskannya.." ujarnya dalam.




"Bukankah.. cinta itu tidak harus memiliki?? Walaupun rasanya sangat sakit.. Tetapi, aku akan tetap bahagia asalkan dia bahagia" lanjut Justin sambil menatap kearah Alice dengan tatapan dalamnya yang membuat Sherly seketika cemburu.



"Lagipula.. Jodoh itu sudah diatur oleh Tuhan.. Kita tidak tau akan berakhir dengan siapa. Bisa saja... Suatu saat aku bisa bersama dengannya atau.. bisa saja di kehidupan yang lain, aku bisa bersama dengannya" ucapnya dalam.



"Selagi mereka belum menikah.. Bukankah masih ada kesempatan untukku??" tanyanya pada Sherly dengan senyuman mirisnya.



Sedangkan Sherly yang mendengar hal itu hanya dapat merasakan sakit di dalam hatinya. Apakah cinta Justin begitu dalam untuk Alice?? rintihnya dalam hati.



Apakah ia bisa menghilangkan bayangan gadis itu dari hati Justin?? pikirnya lagi.



"Justin.. Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu??" tanyanya tiba-tiba.



Justin terdiam sejenak menatap Sherly dan mengangguk pelan. Sherly menghela nafasnya dalam dan kembali menatap Justin,



"Jika.. Misalkan ada gadis lain yang menyukaimu.. Apa.. Apa dia bisa mendapatkan kesempatan atau.. dia harus menyerah karena kau masih memikirkan Alice dan tidak membuka hatimu untuk orang lain??" tanyanya dalam.



Justin seketika terdiam dan memalingkan wajahnya dari Sherly. Pria itu menunduk pelan dan kembali menatap kearah Alice yang terlihat sedang tersenyum saat Jack membisikkan sesuatu padanya,



"Sejujurnya.. Alice adalah satu-satunya gadis yang pernah aku sukai" jawab Justin yang membuat Sherly cukup terkejut.



"Sebelum bertemu dengannya.. Tidak ada satu pun gadis yang membuat hatiku bergetar dan merasakan perasaan yang orang lain sebut dengan jatuh cinta, selain dirinya.." lanjutnya terdiam sejenak.



"Jadi.. Untuk saat ini.. Mungkin tidak akan ada gadis yang bisa menggantikan Alice di hatiku. Aku butuh waktu untuk menyembuhkan luka di hatiku saat ini. Dan, aku tidak tau sampai kapan aku bisa pulih dan bisa kembali merasakan jatuh cinta pada gadis lain" ucapnya lagi lirih.



Sherly merasakan sakit di hatinya saat mendengar ucapan Justin. Sedalam itukah cinta pria itu untuk Alice?? lirihnya dalam hati.



Apakah ada kesempatan untuknya agar bisa memiliki pria itu?? Pria yang ia sukai sejak pertama ia bertemu dengannya.



Namun sayangnya, Sherly tidak pernah berani dan tidak pernah bisa mengungkapkan perasaannya pada pria itu. Saat ia mulai dekat dengan Alice, saat itulah ia pertama kali bisa berbicara sedekat itu dengan Justin, bahkan berteman dengannya.



Namun sayang.. ia tidak pernah bisa menggapainya karena di mata dan hati Justin hanya ada Alice..



Bahkan, setelah penampilannya berubah seperti ini pun, ia masih tidak bisa menyingkirkan Alice dari hati Justin.



Ternyata.. patah hati itu jauh lebih menyakitkan..


Bahkan ia merasa telah di tolak walaupun ia belum mengungkapkan perasaannya pada Justin.



"Justin.." panggil Sherly pada pria itu.



Justin mengarahkan pandangannya pada Sherly yang tengah menatapnya dalam.



Sherly menahan nafasnya dan dengan tiba-tiba ia mencium pipi Justin dengan cepat.



CUP!!



Justin yang terkejut seketika terbelalak dan menatap Sherly yang masih menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.



Tidak ada seorang pun yang memperhatikan mereka karena pandangan orang-orang tengah tertuju pada Tuan dan Nyonya Klinton yang tengah berdansa di lantai dansa. Sedangkan posisi mereka berada disudut ruangan dekat meja panjang yang menaruh berbagai cemilan dan minuman.



"Justin.. Aku... Aku menyukaimu" ucapnya yang membuat Justin terkejut seketika.



Bersambung..



Halo, jangan lupa dukung cerita ini dengan kasih like, komen, vote dan hadiahnya ya 😊


Dukungan kalian sangat berarti bagi author 🥺



Dan, boleh juga di ramein ya kolom komentarnya..


Author suka banget baca komen dari pembaca tentang cerita ini 🙏😁



Oh iya, kalai baca novel jangan lupa waktu ya, apalagi sholat 5 waktunya 😁👍



Sedang malas lanjut cerita ini, jadi mohon maklum kalo updatenya putus-putus 🥲