Mysterious Man

Mysterious Man
Rasa Sakit



"Malam ini aku akan tidur di kamarmu lagi untuk menjagamu."


Sheryn melepaskan pelukan Melvin lalu menatap Melvin yang mengangguk dengan bodoh. "Iyaaa."


Sheryn merasa khawatir kalau Melvin tengah malam membutuhkan sesuatu sama seperti kemarin malam, maka dari itu dia kembali tidur di kamar Melvin.


"Aku akan ganti baju dulu. Kamu tunggu saja di kamar." Selesai bicara, Sheryn berjalan ke kamarnya dan selesai berganti pakaian dia segera ke kamar Melvin.


Ketika kembali ke kamar Melvin, Sheryn mengerutkan kening ketika melihat Melvin berdiri dengan bodoh di dekat pintu.


"Kenapa kamu belum tidur?"


Saat ditanya seperti itu, Melvin berjalan ke arah tempat tidur lalu berbaring miring ke arah kanan bawah di mana letak kasur tipis yang akan ditiduri oleh Sheryn berada.


Apa dia sedang menungguku?


"Melvin, kalau kau merasakan sakit, katakan saja padaku, jangan diam saja."


Melvin tidak menjawab dan hanya menatap Sheryn yang kini sudah duduk di lantai tepat di hadapannya. "Tidurlah, sudah malam."


"Iyaaa." Melvin memejamkan matanya dengan patuh.


Tengah malam, Melvin terbangun lagi, tapi kali ini terdengar suara rintihan dari mulutnya. Ketika dia menggerakkan tubuhnya untuk bangun, dia meringis menahan sakit lalu menatap ke arah Sheryn yang tertidur di bawah.


Tangannya terangkat ke arah belakang menuju punggungnya. Dia masih merasakan sakit di punggungnya. Meskipun dia sudah diberikan obat penghilang rasa sakit, tetapi karena orang tersebut memukulnya dengan keras. Dia masih merasakan sakit luar biasa kalau efek obatnya sudah hilang.


Beberapa hari ini, dia merasakan tubuhnya panas-dingin akibat luka memar di punggungnya itu. Dia merasa sakitnya menjalar ke seluruh tubuh. Melvin mencoba meraba punggungnya dengan hati-hati. Sakitnya akan lebih terasa jika dia banyak bergerak.


Melvin kemudian turun ke bawah dan berbaring di samping Sheryn, memandangi wajahnya dari dekat. Beruntung kasur lantainya lebar sehingga masih ada tempat tersisa untuk Melvin berbaring.


Entah apa yang ada di pikiran Melvin, dia terus memandangi wajah Sheryn untuk waktu yang lama hingga tangannya terulur mengusap lembut pipi Sheryn. Mungkin karena merasa sangat lelah, Sheryn bahkan tidak merasakan sentuhan lembut pada pipinya.


Saat terbangun di pagi hari, Sheryn mendapati Melvin sudah ada di depannya meringkuk dengan menekuk kedua lututnya yang terlihat menahan dingin. "Melvin, bangun. Kenapa kau tidur di bawah?"


Melvin membuka matanya, mengerjap beberapa kali hingga wajah Sheryn terlihat jelas. "Kenapa kau tidur di sini?" Sheryn kembali bertanya ketika melihat wajah linglung Melvin.


Sheryn nampak sangat khawatir dan cemas. Bagaimana pun punggungnya masih cidera. Dia tidak boleh tidur di lantai yang keras. Apalagi hanya menggunakan alas tipis. Dia takut Melvin bertambah sakit. Lantai sangat dingin, jadi dia khawatir dengan keadaan Melvin.


"Cepat bangun, kau bisa sakit kalau tidur di bawah seperti ini. Kau belum sembuh, cideramu bertambah parah jika begini. Jangan ulangi lagi atau aku akan marah padamu." Sheryn membantu Melvin untuk bangun sambil mengomel.


Melihat itu, Melvin tersenyum. Senyum yang sangat manis sampai membuat Sheryn tertegun sesaat karena melihat wajah Melvin bertambah tampan dengan senyumnya itu.


"Jangan menampilkan wajah seperti itu. Jangan pikir aku tidak bisa marah padamu. Kalau kau tidak menurut, aku akan memarahimu."


Sheryn berpura-pura marah untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah serta menetralisir debaran jantungnya setelah melihat senyum Melvin tadi. Tidak lama setelah itu, dia bangun dari tidurnya lalu membantu Melvin untuk bangun juga.


"Berbaringlah di atas. Aku akan memasak untukmu."


Sheryn berangkat kerja setelah memastikan Melvin sarapan dan berbaring di sofa panjang sambil menonton televisi. Sheryn memang melarang Melvin untuk banyak bergerak agar dia lebih cepat pulih.


Sore harinya, Sheryn pulang bersama dengan Zahn. Saat dia membuka pintu, dia melihat Melvin berdiri di dekat sofa. "Melvin, kenapa kau di sini?"


Melvin tidak menjawab, melainkan berjalan masuk ke dalam setelah melirik pada Zahn yang berdiri di belakang Sheryn. "Zahn, silahkan masuk." Setelah mempersilahkan Zahn masuk, Sheryn menyusul Melvin ke dalam.


"Melvin, ayo kita makan."


Melvin melangkah ke meja makan dengan wajah bodohnya. Sementara Sheryn pergi keluar dan kembali datang bersama dengan Zahn. Ternyata, Sheryn mengajak Zahn untuk makan bersama.


Sebelum pulang ke rumah, Sheryn mampir lebih dulu untuk membeli makanan dan tidak sengaja bertemu dengan atasannya. Pada akhirnya, Zahn yang membayar semua makan yang dia beli, bahkan Zahn menambahkan lagi beberapa makanan untuk dibawa pulang oleh Sheryn.


Ketika Zahn duduk, tatapannya bertemu dengan Melvin. Zahn tersenyum ramah pada Melvin sambil menyapanya dengan sopan. Melvin tidak merespon. Dia hanya duduk diam dengan wajah tenang, tapi ada tatapan berbeda dari mata Melvin. Zahn merasa kalau Melvin seperti tidak suka padanya. Meskipun hanya sekilas, tapi Zahn bisa menangkap tatapan permusuhan dari Melvin.


"Zahn, ada apa?" Sheryn merasa heran ketika melihat Zahn nampak diam seperti sedang berpikir keras.


Zahn tersadar dari lamunannya, kemudian menoleh pada Sheryn. "Tidak apa-apa."


"Kalau begitu mari makan."


Malam itu justru Melvin makan lebih sedikit dari biasanya. Dia bahkan tidak mengeluarkan suara sedikit pun saat Sheryn bertanya padanya kenapa dia makan hanya sedikit. Sheryn juga merasakan keanehan pada Melvin. Tubuhnya seperti memancarkan aura dingin dan sorot matanya menajam.


Selesai makan, mereka bertiga duduk di ruang tamu. Melvin dan Sheryn duduk di sofa panjang, sementara Zahn di sofa single. Saat Sheryn sedang mengobrol dengan Zahn, Melvin tiba-tiba berkata, "Sheryn, sakit."


Melihat Melvin menunjuk punggungnya dengan wajah mengiba, Sheryn langsung panik. "Apa sakit sekali?" tanya Sheryn bertanya sambil mendekatkan wajahnya pada Melvin.


Melvin mengangguk. "Lebih baik kau antar Kakakmu ke kamarnya. Kasihan kalau dia terlalu lama duduk." Zahn memberikan saran sebelum Sheryn membuka mulutnya.


"Ayo Melvin, kita ke kamar." Sheryn sudah berdiri dan berniat untuk membantu bangun, tetapi ditolak oleh Melvin.


"Tidak. Aku tidak mau."


Sheryn kembali duduk dengan dahi berkerut. "Kenapa?"


Melvin tidak menjawab, melainkan meletakkan kepalanya di bahu Sheryn lalu memejamkan matanya.


Sheryn dan Zahn terlihat bingung. Meskipun begitu, Sheryn hanya diam. "Apa luka kakakmu belum sembuh?" tanya Zahn sambil mengamati wajah Melvin.


"Belum, tapi sudah lebih baik."


"Sheryn, kalau kau membutuhkan sesuatu atau bantuanku, jangan sungkan untuk menghubungi aku. Sebisa mungkin aku akan membantumu."


Sheryn tersenyum canggung mendengar itu. Meskipun dia membutuhkan bantuan Zahn, dia terlalu malu untuk mengatakannya. Bagaimana pun dia sudah banyak dibantu olehnya. "Iyaaa. Untuk saat ini aku tidak membutuhkan sesuatu."


"Lebih baik lusa bawa lagi kakakmu ke dokter agar dia lebih cepat pulih. Aku akan mengantarmu," tawar Zahn.


Sheryn terdiam sesaat. Dia sebenarnya juga ingin membawa Melvin ke dokter lagi, hanya saja dia tidak memikiki uang untuk Melvin berobat. Uangnya hanya cukup untuk hidup sehari-hari.


"Sheryn, masalah biaya, kau bisa memakai uangku dulu. Jangan terlalu dipikirkan. Kau bisa mengembalikannya saat kau memiliki uang lebih. Yang terpenting adalah kesembuhan Kakakmu," lanjut Zahn lagi seolah tahu apa yang sedang dipikirkan Sheryn.


Sebenarnya dia bisa saja memberikan uang itu secara cuma-cuma. Hanya saja dia takut Sheryn akan tersinggung dan berpikiran yang tidak-tidak padanya. Dia tahu bagaimana pribadi Sheryn, dia tidak suka diberikan sesuatu secara cuma-cuma, terlebih masalah sensitif seperti uang.


Sheryn terlihat masih diam, setelah berpikir beberapa saat, Sheryn kemudian berkata, "Baiklah, potong saja langsung dari gajiku nanti."


Demi kesembuhan Melvin, Sheryn rela menebalkan wajahnya untuk sekali lagi meminjam uang pada Zahn.


"Jangan terburu-buru. Kita bicarakan lagi nanti jika kau sudah memiliki uang."


Setelah mengobrol selama setengah jam, Zahn berpamitan pulang. "Sheryn, kalau begitu aku permisi pulang," ucap Zahn sambil berdiri. "Tak perlu mengantarku," lanjut Zahn lagi.


Karena kepala Melvin juga masih di bahunya, Sheryn tidak bisa bangun jadi dia hanya bisa mengangguk. "Baiklah. Hati-hati."


Setelah Zahn pergi, Sheryn menoleh ke kanan. "Melvin, apa kau tidur?" Sheryn bertanya dengan suara sangat pelan karena takut Melvin benar tertidur. Selama dia mengobrol dengan Zahn, Melvin tidak bergerak sama sekali. Mungkin benar kalau dia memang tertidur.


"Melvin." Tidak ada gerakan juga dari Melvin.


Sheryn menghela napas dan menyandarkan kepalanya juga. Dia mengira kalau Melvin benar tertidur jadi dia memilih untuk membiarkannya tidur beberapa saat.


Saat menyadari ada pergerakan di bahunya, dengan cepat Sheryn membuka mata lalu menoleh ke samping dan di saat yang bersamaan Melvin juga mendongak ke arah Sheryn dan bibir mereka tidak sengaja bertemu. Mata Sheryn mengerjap beberapa kali dengan wajah linglung merasakan bibirnya bersentuhan dengan bibir Melvin.


Mereka terdiam selama 2 detik setelah itu Sheryn langsung menarik wajahnya dari Melvin. Dadanya berdebar kencang dan wajahnya merona merah, apalagi saat melihat tatapan lekat Melvin tadi, seketika membuat Sheryn salah tingkah.


"Melvin, lebih baik kau pindah ke kamarmu. Punggungmu bisa sakit kalau terlalu lama duduk." Kali ini Sheryn tidak berani menoleh lagi ke samping. Dia sedang berusaha menetralkan perasaannya yang tidak menentu setelah insiden tidak disengaja tadi.


Dengan geraka pelan, Melvin mengangkat kepalanya, menjauh dari bahu Sheryn. Dia terlihat tenang, tidak ada emosi apapun dari sorot matanya dan itu membuat Sheryn heran. Bagaimana bisa Melvin bersikap begitu tenang seolah sebelumnya tidak terjadi apa-apa di antara mereka berdua.


Apa di sini hanya dia yang merasa dadanya berdebar kencang?


Mungkinkah Melvin berpikir kalau hal itu, merupakan hal biasa, seperti ciuman kakak terhadap adiknya? Apa Melvin sungguh menganggap mereka berdua bersaudara. Sewaktu kecil, mungkin kecupan bibir seperti itu salah satu bentuk untuk menunjukkan kasih sayang dengan saudara sedarah, tapi mereka bukanlah saudara.


Saat Sheryn sedang sibuk dengan pikirannya, Melvin meraih tangannya. "Tidur." Melvin kemudian menarik Sheryn masuk ke dalam.


Bersambung...