
Selesai makan, Sheryn pergi ke ruangan kerja ayahnya untuk mengambil dokumen yang dia bawa dari kantor. Tadinya dia akan mempelajari dokumen tersebut di ruangan kerja ayahnya, tetapi tidak jadi karena dia ingin menjaga Melvin di kamarnya.
Dia merasa tidak tenang meninggalkan Melvin sendirian setelah apa yang terjadi dengannya. Sebelumnya, Sheryn sudah berniat untuk memanggil dokter untuk datang ke rumahnya, tetapi ditolak oleh Melvin. Akhirnya, Sheryn menyuruhnya untuk beristirahat di kamarnya.
Sheryn sengaja meminta Melvin untuk berbaring di tempat tidur setelah menyelimutinya dengan selimut tebal karena tubuh Melvin nampak masih menggigil meskipun dia sudah mandi air hangat.
Saat Sheryn akan turun dari tempat tidur, Melvin menahan tangannya. "Dingin," ucap Melvin dengan suara bergetar.
"Tunggu sebentar. Aku sudah menghidupkan penghangat ruangannya."
Sheryn kembali merapihkan selimut Melvin agar dia merasa lebih hangat. "Sheryn." Melvin menepuk tempat tidur di sebelahnya.
"Kau ingin ditemani tidur?" tanya Sheryn.
Melvin mengangguk. Dia menyingkap selimut agar Sheryn berbaring di sebelahnya. Sheryn berpikir sejenak sebelum menyetujui permintaan Melvin.
"Baiklah. Aku akan menemanimu tidur."
Dia terpaksa menunda untuk mengecek dokumen perusahaannya. Baru saja Sheryn berbaring di tempat tidur, Melvin secara tiba-tiba menarik tubuh Sheryn ke dalam pelukannya. "Melvin, kita tidak ...."
Melvin langsung memotong ucapan Sheryn. "Dingin."
Sheryn yang tadinya ingin melepaskan diri dari Melvin seketika menghentikan gerakannya. Dia bisa merasakan kalau tubuh Melvin masih gemetar. Dalam benak Sheryn, mungkin dia memang sangat kedinginan. Berada di luar dalam waktu yang lama sudah pasti kedinginan. Masih bagus tidak terjadi hal serius padanya.
"Baiklah, tidurlah. Aku akan menemanimu di sini." Sheryn terpaksa mengalah.
Melvin hanya dia dan mempererat pelukannya sambil memejamkan matanya. Berada dalam pelukan Melvin membuat jantung Sheryn berdegup kencang. Wajahnya pun seketika memerah. Ada gelenyar aneh saat tubuh mereka saling bersentuhan tanpa ada jarak sedikitpun.
Ini pertama kalinya dia berada dalam pelukan Melvin dalam waktu yang cukup lama. Setelah beberapa saat, Sheryn mencoba memanggilnya. "Melvin."
Tidak ada jawaban darinya. Sheryn kembali memanggilnya, tetap sama. Hanya ada keheningan dalam kamar itu. Sheryn kemudian mendongakkan kepalanya. Sepertinnya, Melvin sudah tertidur. Dengan gerakan pelan, Sheryn melepaskan diri dari Melvin dan turun dari tempat tidur untuk mengambil dokument yang dia letakkan dia atas nakas setelah itu kembali naik kw tempat tidur dan duduk di samping Melvin.
Dia memperhatikan sejenak wajah lelap Melvin. Melihatnya yang nampak kelelahan, Sheryn jadi berpikir jangan-jangan ibu tirinya sudah menyiksa Melvin dalam waktu lama. Seketikan dia, turun kembali dari tempat tidur lalu berjalan keluar kamar.
Dia ingin melihat rekaman CCTV dari pagi setelah dia pergi ke kantor. Dia kemudian meminta rekaman CCTV pada orang yang bertugas mengatur ke amanan di rumahnya. Setelah mendapatkan rekamannya, Sheryn kembali ke kamar Melvin dan menyalakan rekaman CCTV di laptopnya.
Matanya membulat dan ekspresi marah terpancar jelas di wajahnya saat melihat rekaman CCTV dari awal sampai akhir. Dalam rekaman itu, sebelum menyuruh Melvin untuk membersihkan kolam, dia menyuruh Melvin untuk mengepel semua area rumah tanpa bantuan dari siappun.
Bahkan dalam rekaman itu, ibu tirinya beberapa kali menghardik Melvin. Ibu tirinya juga terlihat sengaja menendang ember berisi air ke arah Melvin sehingga membuat semua lantai basah dan menyuruhnya untuk membersihkannya kembali dengan cepat menggunakan tangan dan kain tanpa bantuan alat pel.
Setelah mengepel semua ruangan di rumah itu, ibu tiri Sheryn kemudian menyuruhnya untuk membersihkan kolam ikan. Dalam rekaman itu, Melvin terlihat tidak berdaya sama sekali. Dia melakukan semua perintah ibu tirinya tanpa mengeluh sama sekali.
Tanpa sadar, air mata Sheryn kembali mengalir di pipinya. Saat sedang memandang wajah Melvin, ponsel Sheryn tiba-tiba berbunyi. Dia langsung mengangkatnya setelah tahu siapa yang menelpon.
"Halo, Paman. Bagaimana? Apakah akun bank milikku sudah bisa aku gunakan?" tanya Sheryn penasaran.
Dia sudah tidak memiliki uang. Belum lagi dia harus membayar untuk biaya renovasi kamarnya. Dia memang meminta asisten ayahnya untuk mengurus akun bank miliknya yang sudah dibekukan oleh ayahnya setelah kepergiannya keluar negeri.
Semenjak ayahnya menikah ibu tirinya, Sheryn menjadi lebih waspada. Ayahnya saja bisa direbut dari ibunya kandungnya, apalagi hal lain yang memiliki nilai tinggi. Wajar saja kalau Sheryn bersikap waspada karena dia tahu alasan ibu tirinya merebut ayahnya dari ibunya, tidak lain karena harta.
"Berapa lama lagi aku harus menunggu?" Setelah mendengar jawaban dari sebrang, Claire lalu berkata, "Baiklah. Terima kasih, Paman." Sheryn memutuskan sambungan telponnya, kemudian meraih dokumen yang ada di pangkuannya.
Setelah berkutat selama lebih dari dua jam lamanya, Sheryn terlihat tertidur di samping Melvin dengan posisi setengah duduk dengan tubuh yang bersandar pada tumpukan bantal. Pada pukul 7 malam, Melvin terbangun. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali ketika melihat disekitarnya terasa gelap.
Tangan kanannya terangkat, meraba sesuatu dan ketika menemukannya, dia memencet tombol tersebut. Lampu seketika menyala. Dia menoleh pada Sheryn yang masih tertidur. Melvin kemudian bangun dari tidurnya lalu dengan hati-hati dia menopang tubuh Sheryn dengan tangan kirinya, menyingkirkan dua bantal lalu kembali meletakkan kepala Sheryn di atas bantal dengan posisi badan lurus.
Setelah membenai poisisi tidur Sheryn, Melvin memandang wajah Sheryn dari dekat. Tatapannya dalam, tetapi tidak bisa ditebak makna dari tatapan tersebut. Perlahan wajahnya mendekat lalu mengecup singkat kening Sheryn dan mengelus pipinya dengan lembut, kemudian Melvin menjauhkan wajahnya dari Sheryn dan tatapannya berubah menjadi bodoh seperti biasanya.
*******
"Bibi Sha, aku tidak mau kejadian seperti kemarin terulang lagi. Laporkan padaku kalau bibi Ruth mengganggu Melvin lagi."
Sebelum berangkat ke kantor, Sheryn menemui bibi Sha dan beberapa pelayan lainnya. Bibi Sha adalah kepala pelayan di rumah itu, itulah sebabnya dia menitipkan Melvin padanya.
"Baik, Nona," jawab Bibi Sha sambil membungkuk sejenak.
"Jangan biarkan Melvin ke bawah atau bertemu dengan bibi Ruth. Kalian tidak perlu takut padanya. Cukup beritahu aku kalau dia memerintahkan sesuatu pada kalian yang berhubungan dengan Melvin. Apa kalian mengerti?" tanya Sheryn sambil memandang pelayan di depannya satu-persatu.
"Mengerti, Nona," jawab mereka serempak.
"Kalian boleh pergi."
Sheryn kembali ke kamar Melvin setelah berbicara dengan para pelayan.
"Melvin, aku akan berangkat ke kantor sekarang. Di luar ada Bibi Sha yang akan menjagamu. Jika kau memerlukan sesuatu, cukup panggil bibi Sha."
Melvin mengangguk dengan wajah bodohnya. "Aku akan pulang cepat hari ini," lanjut Sheryn lagi.
Selesai berpamitan dengan Melvin, dia turun ke bawah dan tidak sengaja bertemu dengan Harry. "Sheryn, bagaimana kalau kau kita berangkat bersama?" tawar Harry.
Laura langsung bergelayut manja pada suaminya. "Sayang, kenapa kau mengajaknya? Aku tidak suka kalau ada wanita lain yang ikut di mobil kita." Laura melayangkan tatapan tidak suka pada Sheryn sambil berbicara dengan suaminya.
"Aku juga tidak suka satu mobil denganmu." Setelah mengatakan hal itu, Sheryn berjalan lebih dulu dengan wajah acuh tak acuh.
Laura mengepalkan tangannya sambil menatap penih kebencian ke arah Sheryn. "Harry lihat Sheryn, sepertinya dia masih menaruh dendam padaku karena aku yang menjadi istrimu," adu Laura dengan manja.
"Laura, hentikan sikap kekanak-kanakkanmu. Aku tahu kau yang selalu mencari masalah dengannya. Jangan melakukan hal yang tidak perlu. Mulai sekarang jaga sikapmu."
Harry berjalan lebih dulu setelah melepaskan tangan Laura yang berada di lengannya.
Melihat suaminya lebih membela Sheryn dari pada dirinya, api kemarahan membakar hatinya. "Aku akan menyingkirkanmu kalau kau berani merebut Harry dariku."
Bersambung...