
Melvin menatap Sheryn dengan lekat. "Karena kau adalah calon istriku."
Pikiran Sheryn seketika kosong. "Haaaah?" Sheryn mengerjapkan matanya beberapa kali karena tidak mengerti maksud dari perkataan Melvin.
"Lupakan saja kalau kau tidak mendengarnya."
"Aku bukan calon istrimu," ucap Sheryn setelah dia sadar dari keterkejutannya.
Melvin menanggapi santai sanggahan dari Sheryn. "Memang bukan untuk sekarang, tapi nanti kau akan menjadi calon istriku... Tidak... tidak, bukan lagi calon, tapi akan menjadi istriku."
Dari awal kau yang mengatakan pada orang lain kalau aku adalah calon suamimu, jadi tugasku sekarang adalah mewujudkan perkataanmu.
Senyum misterius tercetak di wajah tampan Melvin yang tertutup separuh oleh kaca mata hitamnya.
Melvin mengabaikan Sheryn dan beralih menatap asistennya. "Stein, tinggalkan beberapa pengawal di sini untuk berjaga di ruangan Harry. Atur mereka agar bisa bergantian menjaganya selama 24 jam. Jangan sampai ada celah bagi orang lain untuk masuk ke dalam ruangan Harry."
"Baik, Tuan Muda," ucap Stein sambil membungkuk sejenak.
"Ayoo pulang." Melvin menarik tangan Sheryn tanpa menunggu persetujuannya.
Kaki Sheryn melangkah ke depan karena tarikan dari Melvin. "Tapi Harry...." Sheryn menoleh ke belakang, menatap ke arah ruangan ICU
"Dia akan baik-baik saja. Dia akan dipindahkan ke tempat yang aman. Aku akan menjelaskannya nanti setelah kita tiba di mansionku."
Setibanya di mansion, Melvin langsung membawa Sheryn menuju kamar yang akan di tempati Sheryn. Kamar yang berada tepat di samping kamarnya.
"Ini kamarmu. Mulai sekarang kau akan menempati kamar ini."
Sheryn mengikuti langkah Melvin dari belakang dan berhenti tepat di belakangnya. "Aku belum setuju untuk tinggal di sini," ucap Sheryn dengan suara pelan.
Melvin berbalik dan menatap Sheryn dengan wajah dingin. "Jangan keras kepala, Sheryn. Sudah aku bilang, terlalu berbahaya untukmu tinggal sendirian. Kau pikir mereka akan diam saja setelah mereka mengetahui kalau kau yang meminta Harry untuk menyelidiki kematian ayahmu? Apa kau sebodoh itu sehingga tidak bisa berpikir dengan baik?"
Sheryn terdiam sambil menunduk. "Kau jangan naif Sheryn. Harry saja yang memiliki kekuasaan di kota ini, berani mereka lenyapkan, apalagi kau," ucap Melvin penuh penekanan.
Sheryn mengankat kepalanya menatap berani pada Melvin. "Aku tahu, tapi aku tidak bisa percaya pada siapapun saat ini, termasuk kau. Aku baru mengenalmu. Aku bahkan tidak tahu identitasmu yang sebenarnya. Bagaimana bisa aku percaya padamu?"
Tubuh Melvin mengeluarkan aura dingin mendengar Sheryn tidak mempercayainya. "Sheryn, kalau aku berniat jahat padamu dan Harry, aku pasti tidak akan membantumu untuk melindunginya. Tidak sulit bagiku untuk melenyapkannya tanpa meninggalkan jejak. Dengan kekuasaanku, tidak ada yang tidak bisa aku lalukan sesuai keinginanku. Kau bisa bertanya pada Direktur Rumah Sakit mengenai diriku jika kau tidak percaya denganku."
Sheyn bungkam dan nampak berpikir. "Sheryn, aku bisa membantumu menyelidiki kematian ayahmu, melindungi Harry bahkan merebut harta yang diambil oleh saudra tiri dan ibu tirimu."
Mata Sheryn membelalak. "Dari mana kau tahu mengenai harta yang dikuasai ibu tiri dan saudara tiriku?"
Melvin berjalan maju dan berhenti tepat dihadapan Sheryn. "Aku mengetahui semua tentangmu, termasuk hubunganmu dengan Harry di masa lalu."
Sheryn tercengang. "Kau menyelidiki aku?"
Melvin berbalik dan berjalan ke arah jendela lalu membuka tirainya. "Ya," jawab Melvin singkat, "di dunia ini tidak ada yang tidak bisa aku ketahui, Sheryn. Aku bisa melakukan apapun yang aku inginkan."
Mendengar itu, Sheryn nampak antusias. "Benarkah kau bisa melakukan apapun?"
Sheryn berjalan maju mendekati Melvin dan berdiri di belakangnya saat melihat Melvin mengangguk. "Apa kau bisa mencari seseorang yang hilang?"
Melvin berbalik dan menatap Sheryn. "Tentu saja. Itu hal mudah bagiku."
Sheryn langsung tersenyum. "Kalau begitu bisakah kau mencari keberadaan seseorang untukku? Aku akan membayar berapa pun yang kau inginkan, tapi untuk saat ini aku belum memiliki uang. Katakan saja berapa yang kau inginkan. Aku akan mengumpulkannya dan memberikannya jika nanti sudah terkumpul."
Melvin menatap Sheryn dengan seksama sebelum menjawab. "Kau ingin mencari siapa?"
"Seorang pria."
Wajah Melvin berubah menjadi dingin mendengar jawaban dari Sheryn. "Baiklah, tapi aku tidak mau uang sebagai bayarannya," ucap Melvin dengan wajah datar.
"Lalu apa yang kau inginkan?"
"Kau," jawab Melvin dengan tegas.
"Aku?" tanya Sheryn dengan wajah terkejut.
"Jadilah kekasihku, maka aku akan mencari pria tersebut."
"Aku tidak bisa," tolak Sheryn dengan cepat.
Sheryn terdiam beberapa saat setelah itu berkata, "Karena aku sudah mencintai pria lain."
Ekrepresi Melvin menjadi suram dan udara sekitar menjadi semakin dingin. Dia sudah menduga kalau Sheryn masih mencintai Harry. "Jika kau ingin aku menemukan pria itu, caranya hanya satu, menjadi kekasihku, jika tidak, lupakan saja."
Wajah Sheryn seketika panik. "Kenapa kau ingin aku menjadi kekasihmu? Aku rasa banyak wanita di luar sana yang menyukaimu. Kau kaya dan tampan tidak mungkin ada yang menolakmu."
Meskipun Sheryn tidak pernah melihat seluruh wajah orang yang ada di hadapannya itu, tapi dia bisa menebak kalau wajah pria itu sangat tampan.
"Kau ingin tahu jawabannya?"
"Ya," jawab Sheryn cepat.
Melvin menunduk dan menatap wajah Sheryn dari dekat. "Karena aku menyukaimu."
Sheryn terperangah mendengar jawaban pria di depannya. "Tapi bagaimana bisa?"
"Tidak butuh alasan untuk menyukai seseorang, Sheryn."
Sheryn mengerutkan keningnya. Dia meneliti wajah Melvin dengan seksama. Sepasang matanya menatap lurus pada Melvin seolah menembus kaca mata hitamnya dan membaca pikirannya.
Setelah berpikir sejenak, Sheryn berkata dengan lantang. "Baiklah, aku setuju denganmu, tapi aku ingin yang lain, selain mencari pria itu."
"Apa?" tanya Melvin cepat.
"Bantu aku membalas dendam dan melindungi Harry."
Melvin tidak berpikir lagi dan langsung menyetujuinya. "Aku setuju. Jadi mulai sekarang kau akan tinggal di sini bersamaku."
Sheryn menghela napas panjang. Terlihat sekali kalau dia terpaksa menyetujuinya. "Baiklah."
Melvin langsung tersenyum tipis. "Kalau begitu, sekarang katakan padaku, siapa pria yang ingin kau cari?"
"Namanya Melvin."
Api kemarahan yang semula membakar hati Melvin, seketika lenyap setelah mendengar namanya disebut oleh Sheryn.
Sheryn mengarahkan ponselnya pada Melvin. "Dan ini fotonya. Aku tidak memiliki informasi apapun tentangnya selain nama dan fotonya."
Perasaan bahagia bergejolak di dalam hatinya saat mengetahui kalau Sheryn belum melupakannya dan masih mencarinya. Dia pikir Sheryn sudah tidak ingin melihatnya lagi karena dia bilang membencinya.
"Apa kau bisa mencarinya hanya berbekal nama dan fotonya?" tanya Sheryn ketika melihat Melvin nampak diam saja dengan wajah tak terbaca.
Setelah mengendalikan perasaan bahagianya, Melvin berkata, "Tentu saja. Kalau aku tidak salah, dia adalah pria yang kau bawa ke sini, bukan?"
Sheryn kembali terkejut. "Dari mana kau tahu?"
"Sudah aku bilang, aku mengetahui semua tentangmu, termasuk pria idiot ini."
Kemarahan Sheryn langsung terpancing saat mendengar pria di depannya menghina Melvin. Sheryn mengepalkan tangannya lalu menatap tajam pada Melvin. "Dia tidak idiot! Jangan pernah berani mengatakan itu lagi!"
Melihat reaksi Sheryn, Melvin tersenyum tipis. "Kenapa kau marah? Yang aku katakan memang benar, selain idiot dia juga tidak berguna. Untuk apa kau mencarinya? Lebih baik kau lupakan saja pria bodoh dan tidak berguna itu. Lebi ...."
"Plaaaak." Sheryn menampar wajah Melvin dengan keras sampai membuat kaca mata hitamnya hampir terlepas dari wajahnya.
"Sudah aku bilang jangan berani menghinanya. Tamparan itu untuk membayar hinaanmu padanya," ucap Sheryn berapi-api.
Melvin tidak marah, dia justu tersenyum sambil menatap lekat mata Sheryn.
Aku merasa lega setelah mendapatkan tamparan darimu, Sheryn. Setidaknya, tamparan ini bisa mengurangi rasa bersalahku karena sudah meninggakanmu dulu..
"Kau menamparku karena aku menghina pria bodoh itu? Jangan bilang pria idiot itu adalah pria yang kau cintai?" ujar Melvin dengan nada mengejek.
Tanpa diduga, Sheryn justru menjawab dengan jawaban yang tidak pernah diduga oleh Melvin.
"Yaa, dia memang pria yang aku cintai. Dia pria yang baik, tidak sepertimu, yang mudah merendahkan kekurangan orang lain. Dia berkali-kali lipat lebih baik darimu."
Bersambung....