Mysterious Man

Mysterious Man
Sindiran



Pagi ini Miranda dan Tom tengah bersiap dan duduk di meja makan untuk sarapan bersama. Terlihat Jack baru saja turun dari lantai atas dan berjalan kearah meja makan.


Malam tadi, Jack memang menginap di rumah atas permintaan sang ibu yang memaksanya. Jack juga memang sudah lama tidak pulang dan akhirnya menyetujui permintaan ibunya untuk tidur di rumah.


Pria itu menghampiri meja makan dan duduk di salah satu kursi dengan santai. Miranda menatap sang putra dan tersenyum lembut,


"Bukankah seperti ini jauh lebih menyenangkan?? Kau tidur di rumah dan sarapan setiap pagi bersama kami" ujarnya sedikit menyindir Jack yang memang telah memilih tinggal sendiri di apartemen.


Pria itu tidak menanggapi ucapan sang ibu dan memilih untuk segera meneguk minumannya,


"Mungkin Jack ingin lebih mandiri, makanya dia memilih untuk tinggal sendiri" ujar sang ayah membela.


Miranda pun mendelik mendengar ucapan sang suami yang membela Jack,


"Mandiri.. atau ingin bebas agar bisa membawa kekasihnya sesuka hati??" tanyanya sinis.


Seketika Jack pun berhenti memakan makanannya dan menatap sang ibu dengan tidak suka,


"Aku bukan pria yang seperti itu bu.. Kekasihku juga bukan perempuan murahan!" balas Jack tajam.


Miranda mendelik tajam dan hendak membalas kembali perkataan Jack, namun dengan segera Tom menyela pembicaraan mereka,


"Bisakah kalian tenang di meja makan ini?? Jangan membuat selera makanku berkurang!" ucap Tom tegas.


Miranda pun akhirnya hanya dapat menghela nafasnya dan terdiam sejenak. Ia mudah sekali terbawa emosi jika membicarakan tentang putri Patrick itu.


Dia tidak boleh berseteru dengan Jack hari ini. Ia harus bisa mengajak Jack makan malam hari ini untuk menjebaknya bersama Jessica, pikirnya dalam hati.


Miranda pun berdehem sejenak dan meneguk minumannya. Ia kembali menatap Jack yang tengah fokus memakan makanannya dengan ekspresi yang berubah,


"Maaf.. Ibu selalu membuat pembicaraan kita berakhir dengan perdebatan" ucapnya pelan pada Jack.


Jack terdiam sejenak dan kembali menatap sang ibu dengan datar,


"Aku tidak pernah menganggap serius perdebatan kita, ibu tidak perlu khawatir" balas Jack.


Miranda pun menghela nafasnya dan tersenyum pelan. Wanita paruh baya itu memakan makanannya sambil melirik kembali pada Jack,


"Ekhem.. Malam ini, ibu ingin mengajakmu makan malam bersama, hanya kita saja, ibu, ayah dan kau" ujarnya dengan sedikit penekanan.


Jack menatap Miranda dan terdiam sejenak,


"Akan ku usahakan" balasnya yang membuat Miranda kembali terlihat kesal.


"Apa maksudmu?? Tentu saja kau harus mengusahakannya. Kita sudah lama tidak memiliki waktu bersama. Jadi, bagaimana pun juga kau harus menyempatkan waktumu!" lanjutnya tegas.


Jack meneguk minumannya dan berdiri dari duduknya,


"Baiklah, kalau begitu aku berangkat dulu" jawabnya.


Setelah itu Jack pun bergegas berangkat ke kantor..


Miranda menghela nafasnya kasar melihat kepergian Jack,


"Lihat! Bukankah sikapnya jadi tidak sopan setelah memiliki hubungan dengan gadis itu?? Ia memang membawa pengaruh buruk pada Jack! Seharusnya kau jangan membiarkan Jack terus berhubungan dengan gadis itu!!" kesalnya pada sang suami.


Tom meneguk minumannya dan menanggapi ucapan sang istri dengan santai,


"Jack sudah dewasa, dia tau mana yang terbaik untuknya" ujarnya santai.


"Lagipula Jack mencintai gadis itu dan terlihat bahagia. Bukankah seharusnya kau senang jika putramu senang??" tanyanya.


Miranda terdiam dan mendelik mendengar ucapan sang suami,


"Tapi aku tidak suka dengan hubungan mereka! Aku hanya ingin Jack bersama dengan Jessica.. Bukankah kau juga seharusnya mendukung mereka untuk kembali bersama?? Kau tau kan bagaimana perjuangan dan cinta Jessica selama merawat Jack saat ia koma??" tanyanya tidak ingin kalah.


Tom menghela nafasnya dan terlihat tidak ingin berdebat dengan sang istri,


"Aku tau.. Tapi, jika Jack tidak mencintai Jessica bagaimana?? Apakah harus memaksanya?? Bukankah kau mengerti bagaimana rasanya harus terpaksa bersama seseorang yang tidak kau cintai??" tanyanya balik penuh arti.


Seketika Miranda pun terdiam membeku mendengar pertanyaan Tom. Ia mencengkram sendoknya dengan kuat dan menghela nafasnya. Dengan segera Miranda pun meneguk minumannya dan berdiri,


"Aku sudah selesai.. Aku akan keluar untuk berbelanja" ucapnya tanpa menatap Tom.


Wanita paruh baya itu pun berjalan meninggalkan meja makan dalam diam. Ia terdiam sejenak di tempatnya dan kembali menatap Tom,


"Jangan lupa makan malam kita hari ini!" ucapnya lalu berjalan pergi meninggalkan rumah.


Tom terdiam di kursinya dan menatap makanannya dengan tidak selera. Ia pun berdiri dari kursinya dan memutuskan untuk pergi ke kantor.




Hari ini Alice tengah mengerjakan pekerjaannya di ruangan Jack. Pria itu memberikannya tugas untuk mengecek beberapa laporan yang belum sempat ia kerjakan karena ada meeting pagi ini.



Awalnya Alice akan membawa laporan itu ke ruangannya, namun Jack memintanya untuk mengerjakannya di ruangannya karena laporan yang harus di periksa itu termasuk laporan yang penting.



Pria itu memintanya untuk berada di ruangannya agar setelah ia selesai meeting, laporan itu sudah berada di mejanya dan Jack bisa dengan mudah mengoreksinya kembali.



Alice terlihat fokus dan mengecek laporan di meja Jack dengan teliti. Lalu, tiba-tiba pintu ruangan pun terbuka tanpa ada ketukan terlebih dahulu.



CKLEK!!




"Apa yang kau lakukan disini??" tanyanya tajam.



Alice membungkuk sedikit pada Miranda dan terlihat sedikit gugup,



"Aku.. Ditugaskan oleh Tuan Jack untuk memeriksa beberapa laporan" jawabnya pelan.



Miranda seketika menggertakkan giginya dan berjalan mendekati Alice dengan tatapan tajamnya,



"Kau! Jangan pikir karena sekarang kau adalah kekasih putraku, kau bisa seenaknya masuk ke ruangan ini dan duduk di kursinya!!" bentaknya cukup keras.



Alice kembali menunduk dan mencoba tenang,



"Maaf jika aku lancang.. Tetapi, tadi Tuan Jack yang memintaku untuk.." ucapnya terputus saat Miranda kembali membentaknya.



"CUKUP!!!" ucapnya keras.



"Aku tidak memintamu untuk menjawab!!" lanjutnya tajam.



Ia pun mendelik pada Alice dengan tatapan sinis nya,



"Anak dan ayah sama saja! Tidak punya sopan santun dan suka seenaknya!" sindir Miranda tajam.



Seketika Alice pun mengangkat wajahnya dan menatap Miranda dengan sedikit tidak suka,



"Maaf Nyonya jika sikapku kurang sopan. Tetapi.. Ini tidak ada hubungannya dengan ayahku" ucap Alice tidak suka.



Bagaimanapun tidak seharusnya Miranda menyindir ayahnya seperti itu. Walaupun Alice tidak dekat dan tidak terlalu menyukai orang tuanya, tetapi ia tidak suka jika ada orang lain yang menyindirnya. Apalagi Miranda tidak mengenal orang tuanya.. Ia tidak berhak berbicara seperti itu, pikir Alice tersinggung.



Miranda tersenyum sinis dan menatap rendah pada Alice,



"Kenapa?? Apa kau tersinggung?? Sifat ayah dan anak memang tidak jauh berbeda!!" sindirnya lagi.



Alice mengepalkan tangannya dan menatap berani pada Miranda,



"Maaf Nyonya jika aku lancang.. Tetapi, bukankah tidak seharusnya ada berbicara seperti itu seakan anda mengetahui sifat ayahku??" ujarnya berani.



"Anda bahkan tidak mengenalnya bukan??" tanya Alice lagi yang membuat Miranda terdiam seketika.



Bersambung..



Halo, jangan lupa dukung cerita ini dengan kasih like, komen, vote dan hadiahnya ya 😊


Dukungan kalian sangat berarti bagi author 🥺



Dan, boleh juga di ramein ya kolom komentarnya..


Author suka banget baca komen dari pembaca tentang cerita ini 🙏😁



Oh iya, kalai baca novel jangan lupa waktu ya, apalagi sholat 5 waktunya 😁👍