
Pagi harinya saat Sheryn akan berangkat kerja, dia menuju kamar Melvin untuk membangunkannya. Sebelum berangkat, dia sudah menyiapkan semua kebutuhan serta makanan untuk Melvin sampai sore hari.
Saat dia mendekati ranjang Melvin, terlihat dia masih tertidur dengan selimut yang menutup hampir seluruh tubuhnya yang tersisa hanya wajahnya saja. Sheryn nampak mengerutkan keningnya saat melihat wajah Melvin yang memerah.
Dia kemudian mengangkat kepalanya lalu memegang dahi Melvin dan ternyata dia sedang demam. Karena kulitnya yang putih sehingga wajahnya terlihat sangat merah ketika dia mengalami panas tinggi.
Sheryn kemudian membangunkan Melvin dengan wajah cemas. "Melvin bangun." Sheryn mengusap lembut wajah Melvin.
Perlahan Melvin membuka matanya. "Kau demam, aku akan mengompresmu."
Melvin hanya diam, bulu matanya bergerak ke atas dengan pelan dan tatapan matanya sendu. Dengan langkah cepat Sheryn berjalan ke luar kamar Melvin lalu kembali membawa baskom hangat dan handuk kecil untuk mengompresnya.
Selama Sheryn mengompresnya, Melvin nampak memejamkan matanya. Panas Melvin baru turun setengah jam kemudian. Sheryn lalu meminta Melvin untuk bangun dari tidurnya lalu bersandar di kepala tempat tidur.
"Makanlah." Dengan hati-hati Sheryn menyuapi Melvin hingga makanannya habis. Selesai makan, Sheryn memberikan obat pada Melvin.
Ketika Sheryn berdiri, Melvin memengang tangan Sheryn. Dia mengira kalau Sheryn akan meninggalkannya. "Aku hanya ingin ke dapur sebentar. Aku akan kembali lagi ke sini nanti."
Setelah mendengar itu, Melvin seketika melepaskan genggaman tangannya. Sorot matanya lansung berubah dan kembali bodoh seperti biasanya.
Sheryn meletakkan piring dan baskom yang dia bawa tadi di dapur, setelah itu dia mengubungi pihak kantornya untuk meminta ijin tidak masuk hari ini. Beruntung atasannya sangat baik sehingga dia diberi ijin kembali oleh atasanya.
Saat dia akan kembali ke kamar Melvin, dia seketika teringat dengan ibu panti. Dia harus mengabari orang panti agar mereka tidak panik sama seperti waktu Melvin menghilang. Dia juga ingin memberitahukan pada ibu panti kalau Melvin tidak akan kembali lagi ke sana.
Dia kemudian menghubungi panti dan berbicara dengan ibu panti. Cukup lama mereka berbicara di telpon. Ketika selesai Sheryn nampak terkejut. Ternyata Melvin sudah hilang dari 3 hari yang lalu yaitu jari di mana Sheryn membawanya kembali ke panti saat dia mengamuk.
Kejadian itu sama dengan kejadian saat Melvin hilang pertama kali. Setelah Sheryn mengantarnya kembali ke panti, siang harinya Melvin sudah tidak ada. Ternyata kemarin ada orang panti tidak sengaja melihat orang yang mirip dengan Melvin sedang berjalan dalam kondisi hujan lebat.
Karena posisi mereka sedang bersebrangan, jadi orang itu tidak bisa langsung menyusul Melvin. Dia harus memutar kendaraannya sejauh 100 meter agar bisa ke jalan di mana Melvin berada. Saat orang berhasil memutar, ternyata orang itu kehilangan Melvin. Karena ada perempatan di sana dan dia tidak tahu ke arah mana Melvin berjalan.
Apa mungkin Melvin pergi dari panti di hari yang sama saat aku mengantarkannya kembali ke sana? Jadi dia sungguh mencari rumah ini dengan berjalan kaki? Itukah sebabnya Melvin tiba di rumahnya setelah 3 hari dia mengantarkannya kembali ke panti?
Seketika Sheryn merasa terenyuh sekaligus merasa sangat bersalah. Bagaimana bisa dia begitu tega dengan pria yang hilang ingatan dan yang memiliki IQ di bawah rata-rata? Padahal yang diinginkan Melvin hanya tinggal bersamanya, kenapa dia tidak mengerti kalau yang dibutukan Melvin adalah dirinya?
Tanpa sadar, bulir air mata jatuh ke wajah cantik Sheryn. Rasa bersalah yang begitu besar membuat dadanya terasa sesak, apalagi saat membayangkan bagaimana dia itu menempuh perjalanan jauh hanya untuk kembali ke rumahnya. Pantas saja Melvin sampai demam. Dia menempuh perjalanan sangat jauh dalam keadaan hujan lebat.
Sheryn kemudian melangkah masuk ke kamar Melvin. Dia melihat Melvin nampak sudah tertidur. Mungkin karena pengaruh obat sehingga membuatnya mengantuk dan tertidur pulas.
Sheryn duduk di tepi ranjang lalu meraih tangannya. "Maafkan aku Melvin. Mulai sekarang aku akan merawatmu sampai sembuh. Apapun yang terjadi aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi."
*********
Ketika Melvin bangun, dia tidak melihat Sheryn di kamarnya. Dia bangun lalu berjalan keluar kamarnya. Ada sedikit kepanikan dalam sorot matanya. Saat dia melihat Sheryn sedang berada di dapur, senyuman bodoh terbit di wajah tampannya. Dia mengira kalau Sheryn meninggalkannya.
Sheryn yang sedang memasak sesuatu, seketika menoleh ke belakang saat merasa ada yang memperhatikannya. "Kau sudah bangun?"
Sheryn kemudian mengulurkan tangannya lalu menampilkan ke dahi Melvin. "Demammu sudah turun." Sheryn terlihat lega setelah keadaan Melvin sudah membaik.
Dengan tenang, Melvin menatap Sheryn dengan wajah bodohnya. "Apa kau lapar?"
Melvin sudah tertidur selama 3 jam. Ketika dia bangun, waktu sudah menujukkan pukul 10 pagi.
Melvin mengangguk sambil menjawab. "Iya."
"Baiklah, ayo kita makan." Sheryn mengajak Melvin untuk duduk di meja makan. "Tunggu di sini, aku akan menyiapkan makanannya."
Sheryn berjalan menuju dapur. Dia baru saja membuatkan Melvin bubur ayam. Sebenarnya dia sudah memasak menu lain, tapi karena melihat Melvin sedang sakit, Sheryn berinisiatif membuatkan bubur untuknya.
Selesai makan, Sheryn melihat ada sedikit sisa makanan di bibir Melvin. Dia bangun dari duduknya, meraih tisu di atas meja lalu mencondongkan tubuhnya ke depan, ke arah Melvin hingga menyisakan sedikit jarak antara mereka setelah itu menyeka sudut bibir Melvin.
Sheryn bahkan tidak menyadari kalau Melvin sedang menatap dalam matanya. Tanpa diduga, Melvin mengangkat tangannya dan mengusap bibir Sheryn mengikuti cara Sheryn mengusap bibirnya. Hanya bedanya Melvin mengunakan tangannya langsung sementara Sheryn menggunakan tisu.
Sheryn tertegun sesaat. Ada desiran aneh ketika Melvin mengusap bibirnya. Matanya terangkat ke atas sehingga mata mereka saling bertemu dan saling menatap selama beberapa detik.
"Aku akan membereskan meja makan. Pindahlah ke ruang televisi."
Buru-buru Sheryn menarik tubuhnya menjauh dari Melvin. Akhir-akhir ini dia merasakan perasaan aneh jika berdekatan terlalu dekat dengan Melvin. Saat dia sedang membereskan piring di atas meja, dia melihat Melvin berdiri lalu berbalik pergi dengan wajah bodohnya.
Selesai mencuci piring. Sheryn menatap ke arah ruang televisi dan melihat Melvin sedang duduk menonton televisi. Tatapannya tertuju pada film kartun animasi. Itu adalah nontonan untuk anak-anak. Sheryn terkadang lupa kalau hanya fisik Melvin saja yang seperti orang dewasa, tetapi tingkahnya seperti anak kecil.
Sore harinya, Sheryn mengajak Melvin untuk pergi ke salah satu mall yang dekat dengan rumahnya. Dia menaiki bis bersama dengan Melvin. Beberapa orang terlihat terus menatap ke arah mereka, bahkan ada yang berbisik dan mencibir mengenai kondisi Melvin yang seperti orang idiot. Ada juga yang menyayangkan wajah tampannya yang tidak sesuai dengan kondisinya.
"Orang-orang ini, bagaimana bisa memiliki lidah yang sangat tajam?"
Sheryn berusaha menahan amarahnya. Sebenarnya dia ingin menegur orang yang membicarakan Melvin, tetapi dia tidak mau mencari keributan di depan umum. Akhirnya dia memutuskan untuk diam. Setibanya di mall, Sheryn langsung menuju toko pakaian untuk membelikan pakaian untuk Melvin. Melvin tidak memiliki pakaian lagi di rumahnya. Semua pakaiannya ada di panti.
Selesai membeli pakaian, Sheryn mengajak Melvin untuk ke taman kota yang tidak jauh dari mall karena sore itu cuacanya nampak cerah. Setibanya di taman, mereka bedua duduk di salah satu kursi panjang yang dekat dengan air mancur.
Suasana di taman kota sore itu ramai, banyak orang yang sedang menemani anak-anak mereka bermain di taman tersebut. Ada juga muda-mudi yang sedang duduk sambil mengobrol. Tiba-tiba tatapan Melvin tertuju toko yang ice cream yang berada di sebrang taman tersebut.
"Apa kau mau ice cream?" Sheryn bertanya pada Melvin setelah dia mengikuti ke mana arah tatapan Melvin tertuju.
Melvin menoleh dan mengangguk. "Mau."
"Baiklah. Kau tunggu di sini. Aku akan membelikanmu." Sheryn berdiri, "jangan ke mana-mana," lanjut Sheryn memperingatkan sebelum dia pergi.
Bersambung....