Mysterious Man

Mysterious Man
Mulai Curiga



Matanya sudah berair dan raut putus asa terlihat jelas di wajahnya. "Melvin, kau di mana?"


Cairan bening yang menggenang di pelupuk mata Sheryn sudah hampir tumpah saat dia tidak sengaja melihat bayangan seseorang mirip Melvin di sebrang jalan. Sheryn bergegas ke melangkah ke depan, melewati barisan parade festival budaya itu. Setelah berhasil menyebrang, Sheryn kembali menyapu sekitarnya dengan pandangan matanya. Dia tidak lagi melihat sosok yang mirip dengan Melvin.


Dari kejauhan ada pria yang terlihat sedang berdiri di antara kerumunan banyak orang seraya memperhatikan Sheryn dengan seksama. Pria itu adalah Melvin. Dia tidak menghilang, melainkan sedari tadi dia mengawasi Sheryn dari kejauhan.


Diantara kerumunan orang, Melvin terus menatap ke arah Sheryn yang terlihat sedang mencari-cari dirinya. Tiba saat pandangan mata mereka bertemu. Melvin tersenyum pada Sheryn dan saat itu juga Sheryn terlihat membelah kerumanan orang dan kembali melintasi parade untuk mendatanginya.


Sheryn berjalan dengan cepat dan tidak pernah melepaskan pandangan matanya dari Melvin, takut tiba-tiba Melvin menghilang lagi kalau dia mengalihkan pandagannya ke tempat lain. Saat mereka semakin dekat, Sheryn berlari ke arah Melvin dan langsung memeluknya dengan erat.


"Kau ke mana saja? Aku mencarimu sedari tadi. Aku pikir kau akan menghilang lagi sama seperti dulu."


Melvin tersenyum dan tidak mengatakan apapun, tapi tangannya bergerak di belakang tubuh Sheryn dan ikut membalas pelukannya. Setelah beberapa saat, Melvin akhirnya bersuara. "Aku tidak ke mana-mana. Dari tadi aku di sini. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi, Sheryn," ucap Melvin.


Aku percaya, di manapun aku berada, kau pasti bisa menemukan aku, bagitupun sebaliknya. Tidak peduli di manapun kau berada, aku pasti bisa menemukanmu.


"Melvin, lebih baik kita pulang. Di sini banyak orang dan terlalu ramai. Malam juga sudah larut," ucap Sheryn seraya melepaskan pelukannya.


Melvin mengangguk dengan wajah bodohnya. "Ayo, pegang tanganku."


Sheryn mengulurkan tangannya dan langsung diraih oleh Melvin. Mereka berjalan menuju pinggir jalanan yang sepi. Sheryn lalu menghubungi Stein untuk menjemputnya. Selesai menelpon, Sheryn kembali mengajak Melvin untuk berialan ke ujung jalan, di mana jalannan itu tidak dilalui oleh rombongan parade.


Saat sedang berjalan, Melvin tidak sengaja menabrak seorang pria bertubuh besar dan berwajah garang. "Apa kau buta?" Pria itu mendorong Melvin hingga terjatuh dengan wajah marah.


Tiba-tiba orang yang ada di sekitar mereka bergerak maju ke arah pria itu dan seketika itu juga Melvin menggerakan telunjuk dan jari tengahnya ke belakang, memberikan kode pada mereka untuk mundur. Yaa... Orang-orang yang berada di sekitar Melvin adalah pengawalnya yang sedang menyamar menjadi orang biasa.


"Tuan, apa yang kau lakukan? Kenapa kau mendorongnya?" Sheryn mendekati Melvin seraya berjongkok dan membantunya untuk berdiri.


"Gadis kecil, kekasihmu ini menabrakku lebih dulu. Jalan saja tidak benar. Apa matanya itu hanya pajangan saja?" Ketika melihat wajah pria itu dengan seksama, Sheryn baru menyadari kalau pria di depannya itu sedang mabuk.


"Kami minta maaf." Karena tidak ingin membuat masalah menjadi panjang, Sheryn akhirnya memegang lengan Melvin lalu mengajaknya pergi. "Melvin, ayo, pergi."


Saat mereka berdua berbalik, pria bertubuh besar itu meraih bahu Melvin dan mencengkramnya dengan kuat. "Hei, kau tidak bisa pergi begitu setelah menabrakku. Permintaan maaf saja belum cukup." Pria itu tersenyum jahat, "Nona, bagaimana kalau kau menemaniku malam ini?"


Sheryn berbalik dan hendak berbicara, tapi sebelum itu, Melvin memegang tangan pria itu yang ada di bahunya kemudian berbalik dan memutar pergelangan tangannya dengan cepat hingga tangan pria itu berbunyi. Bunyi retakan dan tulang bergesar.


"Aaawww." Pria itu meringis, menahan sakit, "lepaskan aku. Jika tidak, aku akan meremukkan...."


Sebelum pria itu menyelesaikan ucapannya, kembali terdengar suara retakan tulang, tapi kali ini, suara itu berasal dari jemari tangan pria itu. "lepaskan tanganku, tanganku bisa patah." Pria itu mengaduh dan kembali meringis.


Sheryn yang melihat itu segera memegang lengan Melvin dan membujuknya. "Melvin, berhenti. Jangan diteruskan lagi. Ayo pergi."


Melvin menoleh sejenak pada Sheryn dan perlahan melepaskan tangan pria itu. "Kau... beraninya...."


Melvin kembali menoleh pada pria itu dengan mata berkilat dan pria itu langsung merasa takut. Dia memutuskan untuk segera pergi dari saja seraya memegang pergelangan tangannya yang terasa sakit.


"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Sheryn dengan wajah cemas.


Setibanya di mansion, Sheryn masuk ke dalam kamar Melvin, sementara Melvin masuk ke dalam kamar Sheryn. Mereka berdua sama-sama membersihkan tubuh mereka di kamar mandi yang berbeda.


Setelah mengenakan pakaian, Sheryn berjalan ke arah kamarnya untuk menemui Melvin. "Melvin, kenapa kau tidak mengeringkan rambutmu?" Sheryn menghampiri Melvin yang sedang duduk di atas tempat tidur setelah mengambil handuk kering dari dalam lemari.


Melvin hanya menampilkan wajah bodohnya. "Lihat, bajumu jadi basah." Melvin masih diam.


"Aku bantu keringkan, ya?" Sheryn berdiri di depan Melvin yang sedang duduk di tepi ranjang lalu meletakkan handuk di atas kepala Melvin dan mulai menggosoknya dengan lembut.


Melvin hanya mendongakkan kepalanya ke atas, menatap Sheryn terus-menerus dengan tatapan dalam, tapi Sheryn tidak menyadarinya karena dia sedang fokus mengeringkan rambut Melvin. Setelah menggosok rambut Melvin selama beberapa menit, Sheryn akhirnya menjauhkan handuk itu dari kepalanya.


"Sudah selesai." Sheryn tersenyum lalu menunduk ke bawah. Mereka bertatapan selama beberapa detik.


"Terima kasih." Melvin berdiri, mencium pucuk kepala Sheryn kemudian berlalu dari hadapan Sheryn yang nampak masih tertegun karena tindakannya tadi.


"Sheryn, lapar."


Sheryn menoleh dan saat melihat wajah bodoh Melvin, pikiran yang sempat terlintas dibenaknya seketika sirna.


"Baiklah, ayo turun. Aku akan membuatkan makanan untukmu."


Sheryn berjalan mengikuti langkah Melvin keluar dari kamarnya. Dari belakang, Sheryn menyipitkan matanya ke arah Melvin seraya berpikir dengan keras. Ada sesuatu yang aneh pada Melvin yang sekarang. Dia terlihat sangat berbeda dengan Melvin yang dulu.


"Melvin, bagaimana kalau besok kita ke rumah sakit? Kita harus memeriksa keadaanmu. Mungkin saja kau terluka akibat terjatuh tadi," tawar Sheryn seraya berjalan ke arah dapur.


Melvin menoleh. "Tidak mau." Dia kembali berjalan dan duduk di meja yang terhubung dengan dapur.


"Kau harus menuruti perkataanku. Oke?" ujar Sheryn seraya menatap Melvin dengan wajah serius, "jika tidak, aku tidak mau bicara denganmu lagi."


Melvin berpikir sejenak lalu mengangguk pada akhirnya. Selesai makan makan malam, mereka kembali ke kamar untuk beristirahat, tapi belum lama Melvin masuk ke kamar, dia kembali keluar dan berjalan ke arah ruangan kerja. Di sana sudah ada Stein yang menunggunya.


"Apa mereka sudah membereskan pria tadi?" tanya Melvin dengan wajah dinginnya.


"Sudah, Tuan Muda."


Melvin mengambil ponsel di lacinya kemudian memeriksa isi ponselnya. "Sepertinya, Sheryn mulai curiga padaku. Dia mengajakku untuk ke rumah sakit." Melvin meletakkan ponselnya di atas meja, "Aku tidak bisa lagi menjadi Melvin idiot. Aku harus segera mengungkapkan jati diriku. tapi sebelum itu, lakukan sesuatu untukku terlebih dahulu."


"Apa yang harus saya lakukan, Tuan Muda?"


"Kemari." Stein melangkah maju ketika Melvin menggerakkan jemari tangannya ke arahnya.


Melvin terlihat berbisik. "Lakukan dengan baik," ucap Melvin setelah dia selesai berbisik.


"Baik, Tuan Muda."


Bersambung....