Mysterious Man

Mysterious Man
Perdebatan



"Begini saja." Aric memajukan tubuhnya lalu menatap Sheryn dengan wajah serius. "Aku akan memberikan suaraku untukmu pada rapat pemegang saham nanti. Asalkan kau mau menemaniku minum malam ini, berdua saja. Bagaimana?"


Melvin yang sedari tadi hanya duduk diam tiba-tiba memunculkan aura dingin dari tubuhnya saat mendengar persyaratan dari Aric.


"Ayo pulang." Sebelum Sheryn sempat bereaksi, Melvin sudah menarik Sheryn pergi dari sana.


"Mevin, tunggu dulu. Kita tidak bisa pulang. Aku harus bernegosiasi dengannya."


Sheryn berusaha untuk menghentikan langkah kakinya, tetapi tidak bisa karena tenaga Melvin lebih besar. Dia tidak bisa melihat ekspresi wajah Melvin dari belakang. Yang pasti, dia merasakan aura dingin yang membuatnya bergidik.


"Melvin, berhenti." Saat melewati pintu keluar ballroom, Sheryn mulai panik. Dia masih membutuhkan setidaknya 38% hak suara dari pemegang saham agar dia bisa menang melawan Laura. Jika Aric mau membantunya, setidaknya dia 28% lagi yang harus dia cari.


"Melvin, aku bilang berhenti!"


Melvin tersentak saat mendengar Sheryn berteriak dan menghempaskan tangannya dengan kuat. Ini pertama kalinya Sheryn marah padanya.


Melvin berbalik dengan tubuh kaku. Wajah bodoh dan idiot yang biasa dia tunjukkan seketika hilang dan tergantikan dengan ekspresi kecewa dan sorot mata dingin.


"Aku tidak mau pulang. Kalau kau mau pulang. Kau bisa pulang sendiri. Aku akan meminta supir untuk menjemputmu. Aku harus mendapatkan suara Aric. Aku tidak akan membiarkan Laura menang."


Dengan langkah cepat, Sheryn kembali masuk ke dalam pesta meninggalkan Melvin yang mematung sambil menatap kepergiannya. Dia terus menatap hingga tubuh Sheryn menghilang dari pandangannya.


Mata kelam Melvin nampak begitu menakutkan. Ekpresinya semakin suram dan nampak sepercik amarah dalam sorot matanya.


Di dalam ruangan pesta, Sheryn kembali menghampri Aric setelah menelpon supir untuk menjemput Melvin. "Maaf, Tuan Aric. Ada sedikit masalah tadi."


Aric tersenyum senang karena Sheryn ternyata kembali lagi padanya. Dia pikir Sheryn sudah pulang dan tidak berniat untuk melanjutkan kesepakatan yang diajukan olehnya.


"Tidak masalah. Aku bisa mengerti."


"Jadi bagaimana?"


Sebelum Sheryn sempat menjawab, seseirang datang dari arah belakang. "Sheryn, apa yang kau lakukan di sini?"


Harry bertanya dengan wajah heran ketika melihat Sheryn sedang bersama dengan Aric. Harry tentu saja tahu kalau Aric menyukai Sheryn. Ketika menjalin hubungan dengannya, beberapa kali Aric berusaha mendekati Sheryn.


Sheryn dan Aric menoleh bersamaan. "Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan Tuan Aric."


"Tuan Harry ... Kau tidak menyapaku?" Terdengar nada mengejek dari mulut Aric.


Harry kemudian menoleh pada Aric dengan wajah mengeras. "Tuan Aric, jauhi Sheryn. Jangan berani-berani kau mendekatinya."


Aric terkekeh dengan wajah mengejek. "Tuan Harry, Sheryn bukanlah kekasihmu lagi. Kau tidak berhak mengatakan itu."


Sheryn menghela napas kasar. Dua pria ini membuatnya muak. Bagaimana bisa dia terjebak dengan dua pria yang dia benci. "Harry, jangan ikut campur. Ini tidak ada urusannya denganmu," ucap Sheryn dengan tegas.


Kalau saja dia tidak membutuhkan Aric, dia juga tidak akan mau berurusan dengannya.


Harry terlihat kesal. "Sheryn, jika yang kau inginkan hanya suara, aku bisa memberikan suaraku untukmu dalam rapat nanti. Tidak perlu melibatkan dirimu dengan pria brengsek seperti dia."


Aric tertawa ketika mendengar perkataan Harry. "Menikahi kakaknya dan tidak ingin melepas adiknya. Tidak ada yang lebih brengsek darimu, Tuan Harry."


Kata-kata tajam dari Aric memancing amarah Harry. Dengan gerakan cepat Harry mencengkran kemeja Aric dan memperingatkannya. "Aric, aku peringatkan kau. Jauhi Sheryn. Dia tidak seperti wanita yang biasa kau tiduri."


Aric memegang kedua tangan Harry kemudian melepaskannya. "Harry, jangan kau pikir aku takut denganmu. Lebih baik kau urusi saja istrimu. Dia akan marah jika tahu kalau masih menyimpan rasa pada mantan kekasihmu."


"Harry, pergilah dari sini. Aku ada urusan dengan Tuan Aric. Lebih baik kau pergi. Jangan mengganggu kami." Perdebatan ini harus segera diakhiri, jika tidak, akan ada menimbulkan masalah baru lagi nanti.


"Kau dengar itu? Jangan mengganggu kami. Pergilah." Aric mengibaskan telapak tangannya ke arah Harry untuk mengusirnya.


Dengan tatapan kesal dan kecewa, Harry berkata, "Sheryn, aku bisa memberikan suaraku untukmu. Kau tidak perlu meminta bantuannya."


Memang jika dipikir-pikir, Harry memiliki saham lebih banyak dari pada Aric. Hanya saja syarat dari Harry, Sheryn tidak bisa menerimanya.


Aric tidak bisa menyembunyikan tawa mengejeknya setelah mendengar ucapan Harry. "Tuan Harry, sepertinya kau lupa. Yang sedang ingin Sheryn lawan adalah Laura. Istrimu. Jika kau membatu Sheryn, kau tidak takut istrimu akan marah?"


Yang dikatakan oleh Aric memang ada benarnya, tapi siapa peduli. Laura sudah lebih dulu memulai perang dengannya. Jika Harry tidak mengajukan syarat untuk kembali padanya. Sheryn pasti sudah meminta bantuannya dari awal.


"Harry, sedang apa kau di sini? Aku mencarimu dari tadi." Laura datang dari arah belakang mengampiri suaminya.


"Laura, tepat sekali kau datang. Suamimu ini sedang ...."


Harry langsung memotong ucapan Aric sebelum dia sempat menyelesaikannya. "Jangan dengarkan dia. Ada apa kau mencariku?" tanya Harry sambil berbalik pada istrinya.


"Tuan Aska ini berbicara denganmu."


"Baiklah. Ayo temui dia." Harry harus segera membawa Laura pergi sebelum Aric memberitahukan mengenai niatnya untuk membantu Sheryn pada rapat pemegang saham nanti.


Sebelum berlalu, Laura menatap ke arah Sheryn dengan wajah heran. "Di mana pria bodohmu itu? Biasanya dia selalu menempel padamu?"


Melihat Sheryn hanya diam, kemudian dia melirik pada Arick sejenak lalu berkata, "jadi kau sudah berpaling dari pria idiot itu?"


Jika saja di sana tidak ada orang. Sheryn pasti sudah menampar Laura agar tidak menghina Melvin lagi. "Lebih baik kau bawa suami dari sini. Pergilah," ucap Sheryn dengan ketus dan wajah acuh tak acuh. Sheryn hanya bisa menahan amarahnya yang sudah dipancing oleh Laura tadi.


"Jadi bagaimana?" Aric kembali bertanya pada Sheryn mengenai tawarannya.


"Aku setuju, tapi aku punya syarat."


"Apa?"


"Tempatnya aku yang pilih."


Arick berpikir sejenak lalu mengangguk setuju. "Baiklah."


Sheryn akhirnya mengajak Aric pergi ke bar & night club yang ada di hotel tempat acara Laura dan Harry digelar demi keamanannya. Terlalu bahaya baginya jika pergi terlalu jauh dari lokasi pesta, apalagi dia hanya sendirian.


"Aku akan menandatangi perjanjian ini jika kau mampu menghabiskan semua botol minum ini." Aric menunjuk 3 botol minuman yang sudah di pesannya tadi.


Mata Sheryn membesar. Dia sangat mudah mabuk. Tingkat toleransinya terhadap alkohol sangat rendah. Jika dia paksakan untuk menghabiskannya, maka dipastikan dia akan pingsan sebelum mendapatkan kesepatan itu, tapi dia tidak punya pilihan lain. Apapun yang terjadi, dia harus mendapatkan suara Aric.


"Baiklah. Tapi kau harus berjanji setelah aku menghabiskan semuanya. Kau harus menandatangi perjanjian ini."


"Tentu saja, Nona Sheryn." Senyum misterius terbit di wajah Aric.


Bersambung...