
Melvin menutup dokumen yang ada di mejanya setelah melihat Stein masuk. Dia sengaja memanggil Stein ke ruangannya untuk membicarakah hal penting. “Stein, bagaimana dengan Xena?”
Ketika Stein menjemputnya tadi pagi, Melvin belum sempat membicarakan hal itu dengan asistennya karena ada Sheryn. Melvin hanya tidak ingin melibatkan Sheryn dalam masalahnya, maka dari itu, dia berusaha menyembunyikan dari Sheryn mengenai apa yang dia kerjakan dengan Xena.
“Pesawatnya sudah berangkat pukul 6 tadi pagi, Tuan Muda. Semua pengawal juga sudah berada di dalam pesawat tersebut,” jawab Stein cepat.
Melvin mengangguk puas. “Bagus. Pastikan mereka sudah ada di bandara menjemput Xena sebelum dia tiba di sana.”
“Baik, Tuan Muda,” jawab Stein seraya mengangguk, “Tuan Muda, semalam Nona Xena menginap di apartemen Tuan muda Alan dan pulang ketika pagi hari.” Stein lalu maju dan membisikkan sesuatu pada Melvin.
Bulu mata Melvin langsung terangkat dan matanya terlihat menajam, tapi detik kemudian dia menghela napas berat setelah Stein selesai berbisik. “Cinta membuatnya bodoh.” Melvin mengusap wajahnya dengan kasar, “ini salahku karena melibatkan dirinya dalam pertarunganku dan Alan.”
Saat Melvin kembali setelah pulih dari ingatannya, Xena menemui Melvin diam-diam. Dia menceritakan semua hal yang dia tahu selama dia menghilang serta rencana jahat Alan. Saat itulah, Xena menawarkan diri untuk membantu Melvin.
Xena dan Melvin memang mengetahui kalau dari dulu, Alan menyukai Xena. Sebab itu, Xena menawarkan diri untuk membatu Melvin dengan berpura-pura menjadi kekasih Alan. Xena ingin membantu pria yang dicintainya itu setelah tahu kalau Cheryl Wu menghianati Melvin.
Kesempatan itu dipergunakan oleh Xena untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya dari Alan. Alan yang tidak mengetahui rencana Xena dan Melvin, justru Alan menyuruh Xena untuk memata-matai Melvin.
Xena tidak pernah menyangka kalau keputusannnya itu membuatnya terjebak dengan permainannya sendiri. Dia jatuh cinta pada pria yang tidak seharusnya dia cintai.
“Ini bukan salahmu, Tuan Muda,” ucap Stein, “ini di luar kendali kita. Itu adalah pilihan Nona Xena sendiri. Kau sudah berusaha mencegahnya waktu itu. Dia sendiri yang memaksa untuk membantumu.”
Meskipun benar adanya, tapi Melvin tetap merasa bersalah. Jika saja dia tidak membiarkan Xena terlibat, pasti semuanya tidak akan terjadi. Melvin terlihat memijit pangkal hidungnya dengan mata terpejam.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang? Alan mungkin mencintai Xena, tapi kalau dia tahu Xena menghianatinya, bisakah dia memaafkan Xena?”
“Tuan Muda Alan, sudah mengerahkan banyak orang untuk mencari Nona Xena. Saya tidak tahu apakah alasan dia mencari Nona Xena karena sudah mengetahui tentang penghianatannya atau untuk alasan lain.”
Mata Melvin terbuka perlahan. Dia menjauhkan punggungnya dari sandaran kursi kerjanya lalu duduk dengan tegak. “Jika alasan dia sudah tahu kalau Xena mata-mataku, dia tidak mungkin tinggal diam saja. Aku yakin dia pasti akan mencari Xena dengan segala cara.” Mata Melvin terlihat nampak serius, “perketat pengawalan Xena. Jangan sampai dia terlacak oleh Alan.”
“Baik, Tuan Muda.”
“Jam berapa meeting bagian pemasaran di mulai?” tanya Melvin mengalihkan pembicaraan.
“Setengah jam lagi, Tuan Muda.”
Melvin mengangguk. “Baiklah. Katakan pada mereka, aku akan ikut dalam meeting itu.”
“Tapi, Tuan Muda, Anda akan bertemu dengan kandidat skretaris yang akan menggantikan Nona Xena sebentar lagi.”
Melvin berpikir sejenak.
“Suruh bagian HRD untuk membawanya ke sini sekarang. Aku akan melihatnya sebentar dan panggilan juga Sheryn ke sini.”
“Baik, Tuan Muda.” Stein keluar lalu menutup pintu.
****
“Siapa namamu?” Melvin menatap datar wanita yang sedang berdiri di depan mejanya.
“Nama saya Rose, Tuan Anderson,” jawab Wanita itu seraya tersenyum.
Melvin nampak memandang wajah Rose dengan seksama dengan wajah datarnya. “Aku tidak suka ada wanita yang berpakaian minim di kantorku, terlebih lagi yang menjadi sekretarisku. Aku tidak butuh wajah cantik dan penampilan seksi. Yang aku butuhkan adalah kecakapannya dalam bekerja."
Dari arah belakang, pintu terbuka dan terlihat Sheryn dan Stein memasuki ruangan Melvin. Saat melihat ada wanita seksi di ruangan Melvin, secara tidak sadar, Sheryn langsung memicingkan matanya ke arah wanita itu.
"Permisi, Tuan Anderson, Stein bilang Anda memanggil saya." Sheryn berdiri tepat di samping Rose.
"Iyaa, Sayang. Aku memang memanggilmu," jawab Melvin seraya menatap Sheryn penuh cinta.
Rose seketika langsung menoleh ke sebelah kiri menatap Sheryn dengan wajah terkejut. Menurut informasi di luar, Melvin belum memiliki kekasih, maka dari itu, dia masuk ke sana berniat untuk mendekati Melvin. Mungkin saja, Melvin akan tertarik dengannya.
Melvin kemudian menoleh pada Rose. "Kau boleh pergi." Melvin terlihat memberikan kode pada asistennya untuk mengurus masalah Rose.
Setelah kepergian Stein dan Rose, Melvin meminta Sheryn untuk mendekat. "Kemarilah."
Karena dia ruangan itu sudah tidak ada orang, Sheryn melangkah dan berhenti tepat di samping meja Melvin. "Siapa wanita itu?"
Melvin tidak menjawab. Dia justru berdiri dari kursinya lalu secara tiba-tiba mengangkat tubuh Sheryn dan mendudukkannya di atas meja tepat di depan kursinya. "Dia kandidat yang akan menggantikan Xena," jawab Melvin seraya berdiri di hadapan Sheryn.
"Memangnya Xena ke mana?"
"Dia mengundurkan diri."
Pantas saja saat dia melewati meja sekretaris, tidak ada Xena di sana. "Semua pria sama saja suka dengan wanita berpakaian minim dan seksi," gumam Sheryn dengan suara sangat pelan.
Melvin tersenyum tipis mendengar itu. "Aku mendengarnya, Sayang." Melvin membungkuk lalu mengurung tubuh Sheryn dengan kedua tangan yang dia tumpukan di tepi meja, "aku tidak akan menerimanya jika kau tidak suka dengannya," ucap Melvin seraya menatap kekasihnya dari jarak dekat, "aku akan menyuruh Stein untuk mencari kandidat lain."
Dengan berani, Sheryn menatap mata hitam Melvin. "Kau tidak perlu melakukan itu. Kalau dia memang memenuhi kualifikasi sebagai sekeretrismu, cukup minta ubah penampilannya saja."
Melvin menatap Sheryn dengan seksama lalu berkata, "apa kau tidak takut aku tergoda dengannya?"
"Tentu saja takut, tapi semua kembali padamu. Jika sampai kau tergoda olehnya, aku tidak memiliki pilihan lain, selain aku melepasmu. Kau berhak memilih wanita terbaik yang akan mendampingimu," jawab Sheryn seraya mengalihkan pandangannya ke samping.
Memiliki kekasih seperti Melvin, tentu saja dia tahu apa resikonya. Akan ada banyak wanita yang mendekati kekasihnya dan berusaha untuk mendapatkannya.
Melvin tersenyum, meraih dagu Sheryn lalu memutarnya agar bisa bertatapan dengannya lalu mengecup singkat bibir kekasihnya. "Aku hanya mencintaimu," ucapnya kemudiannya.
Sheryn menunduk dengan wajah malu. "Kau tidak lupa, kan kalau nanti malam kita akan menghadiri sebuah pesta?"
"Iyaa, aku ingat. Pukul berapa kita akan pergi?"
"Pukul 7 malam."
"Baiklah. Aku harus pergi. Sebentar lagi akan ada meeting di departemenku."
Melvin menjauhkan tubuhnya dari Sheryn lalu menegakkan punggungnya. "Kita pergi bersama. Aku juga akan ikut dalam meeting itu."
"Tapi...."
"Sudah aku bilang, aku tidak suka kau menghindariku saat di kantor. Cepat atau lambat mereka semua juga akan tahu mengenai hubungan kita dan aku tidak peduli dengan tanggapan orang lain."
Melvin kemudian menarik tangan Sheryn untuk keluar dari ruangannya.
Bersambung..