
"Kau memang benar-benar telah berubah.." ucap Patrick dengan rasa kecewa yang membuat Miranda langsung membeku di tempatnya.
Wanita paruh bayu itu seketika merasakan sakit di hatinya. Dengan cepat ia pun membalikkan tubuhnya menghadap Patrick dengan senyuman sinisnya,
"Apa kau bilang?? Aku telah berubah??" tanyanya sinis sambil melangkah mendekati Patrick dengan tatapan penuh kebenciannya.
"Apa kau tidak berkaca pada dirimu sendiri Tuan Patrick yang terhormat??" lanjutnya dengan penuh penekanan.
"Jangan berbicara seolah-olah kau manusia paling benar!!" ujarnya sinis.
"Seharusnya kau berkata seperti itu pada dirimu sendiri!!" lanjutnya keras.
Patrick terlihat mencoba bersabar dan menatap Miranda dengan serius,
"Kalau begitu.. aku akan bertanya padamu sekarang..." ucapnya terhenti sejenak.
"Apa yang telah berubah dari diriku?? Apa yang telah aku lakukan hingga kau begitu membenciku seperti saat ini??" tanyanya menuntut.
Miranda terdiam mendengar pertanyaan Patrick. Ia terlihat menahan amarahnya sambil mengepalkan tangannya dengan kuat. Bisa-bisanya pria di depannya ini tidak menyadari kesalahan apa yang telah ia perbuat di masa lalu, pikirnya marah.
"Berhenti berlagak tidak tau!! Kau yang telah membuatku menjadi seperti ini!!" balasnya keras.
"Aku telah bersumpah pada diriku sendiri, bahwa aku tidak akan pernah sudi kembali bertemu denganmu!! Jadi.. jangan pernah mengganggu hidupku!! Bawa putrimu jauh-jauh dari anakku karena sampai mati pun aku tidak akan pernah mau merestuinya!!" teriaknya dengan nafas yang memburu menahan amarah.
Patrick menggertakkan giginya kuat dan menatap Miranda dengan serius. Ia pun tersenyum pelan dan menatap Miranda dengan kecewa,
"Baiklah.. Jika itu yang kau inginkan.." balasnya pelan.
"Tapi asal kau tau.. Aku sama sekali tidak mengetahui dimana letak kesalahanku padamu.." lanjutnya sambil menatap Miranda dalam.
"Bukankah seharusnya aku yang menuntut penjelasan padamu saat ini??" tanyanya.
"Kau melanggar janji yang kita buat di masa lalu.. Kau tidak pernah membalas suratku dan.. kau malah menikahi pria lain disaat hubungan kita belum berakhir" lanjut Patrick yang membuat Miranda langsung menatapnya.
DEG!
Wanita paruh baya itu terlihat mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Patrick. Surat?? surat apa yang di maksud pria ini?? pikirnya. Apa pria ini sedang mengada-ngada??
"Kau tau.. di hari pernikahanmu saat itu.. aku datang ke rumahmu dan begitu terkejut melihatmu berada di altar dengan pria lain!" ujar Patrick lagi yang membuat Miranda membeku dengan jantung yang berdebar.
"Saat itu aku mencemaskan mu karena aku berpikir kau sedang sakit atau terjadi sesuatu padamu karena kau tidak pernah membalas suratku berkali-kali! Tapi.. sayangnya.. yang aku lihat saat itu adalah.. seseorang yang aku cintai telah menikah dengan pria lain tanpa sepengetahuanku" lanjutnya sambil menatap dalam pada Miranda.
"Kau tau apa yang aku rasakan saat itu??" tanyanya pada Miranda yang terlihat masih menatap Patrick dengan tatapan terkejutnya.
"Aku merasa.. duniaku hancur.." lanjutnya dalam.
DEG!
Seketika Miranda merasa hatinya seperti di hantam sebuah batu yang besar dan membuatnya merasa begitu sesak. Tidak!! Tidak!! Pria ini pasti berbohong, pikirnya menampik dalam hati.
Jika benar Patrick mengirimnya surat saat itu, seharusnya ia sudah membacanya. Tetapi nyatanya, ia tidak pernah mendapatkan surat dari pria itu satu pun.
"Kau pembohong!!" sanggah Miranda dengan kilatan kebencian di matanya.
Seketika Patrick pun menatap wanita itu dengan tidak percaya. Mengapa ia tidak mempercayai ucapannya?? pikir Patrick tidak mengerti.
"Untuk apa aku berbohong?? Aku sudah mengatakan yang sejujurnya padamu, terserah kau mau percaya atau tidak" balas Patrick.
"Jika.. aku mengikuti egoku, mungkin aku juga akan membencimu dan berharap tidak ingin bertemu kembali denganmu karena luka yang telah kau berikan padaku di masa lalu.. Tapi, kita telah dewasa.. Hal yang terjadi di masa lalu bisa memberikanku sebuah pelajaran yang berarti. Dan.. aku juga akhirnya bisa bertemu dengan seseorang yang telah mengubah hidupku sampai saat ini.. begitu juga denganmu.." lanjutnya dalam.
"Mungkin, kita memang tidak di takdirkan bersama. Mungkin juga ada kesalahpahaman di masa lalu.. Yang jelas, aku sudah mengatakan semuanya padamu. Tidak ada gunanya lagi untuk mengungkit semua itu. Kita telah dewasa, dan kita telah bahagia dengan kehidupan masing-masing.." ucap Patrick terhenti sejenak.
Miranda terlihat terdiam dengan matanya yang sudah berkaca-kaca. Ia perlahan mengangkat wajahnya dan menatap Patrick dengan tajam,
"Pembohong!" ujarnya tajam.
"Aku tidak pernah menerima satu pun surat darimu! Jadi, berhenti mengada-ngada hanya untuk membuatku membiarkan Jack bersama putrimu itu!" lanjutnya pedas.
Ia pun selangkah mendekati Patrick dan menatapnya tajam,
"Dan, asal kau tau.. pernikahan yang aku jalani bukanlah pernikahan yang membuatku bahagia! Karena dirimu.. hari pernikahan yang aku impikan menjadi hari pernikahan yang paling menyedihkan dalam hidupku!!" teriaknya meluapkan segala sakit di hatinya.
"Aku membencimu!! Sangat-sangat membencimu!!" lanjutnya dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.
DEG!!
Patrick terlihat terkejut dan hanya terdiam menatap Miranda. Ia dapat melihat kesakitan wanita itu dari sorot matanya. Hatinya tiba-tiba merasa iba dan penasaran dengan apa yang sebenarnya sudah terjadi di masa lalu. Mengapa Miranda tidak pernah menerima satu pun surat darinya?? pikirnya tidak mengerti.
"Jadi.. Kumohon.. Menjauhkan dari hidupku.. Bawa anakmu pergi dan jangan biarkan ia bertemu kembali dengan putraku" ucap Miranda dengan sorot mata yang berlinang air mata dan penuh permohonan.
Patrick pun seketika terdiam dan tidak tau apa yang harus ia lakukan. Pria itu pun menunduk dan menghela nafasnya pelan. Ia menatap Miranda dan tersenyum getir,
"Baiklah.. Jika itu yang kau inginkan" balasnya pelan.
Patrick pun perlahan melangkah mundur sambil terus menatap Miranda yang masih tersedu. Pria itu pun kembali menghela nafasnya dan menatap Miranda dalam,
"Aku akan membawa Alice pergi.." lanjutnya.
"Dan, kuharap setelah itu.. kau akan bahagia dengan hidupmu" ucapnya lagi dalam.
Setelah itu Patrick pun membalikkan tubuhnya dan berlalu pergi meninggalkan Miranda.
Seketika Miranda pun terduduk di lantai dan menangis sejadinya. Ia menutup wajahnya dengan tubuh yang bergetar.
Ada rasa sakit di hatinya setelah mengatakan semua isi hatinya pada pria yang pernah berada di dalam hatinya itu. Wanita itu menyentuh dadanya dan kembali tersedu.
Pria itu..
Pria itu akan pergi menjauh dari hidupnya bersama dengan putrinya mulai saat ini..
Bukankah..
Bukankah seharusnya ia merasa lega dan bahagia sekarang??
Tapi..
Tapi mengapa rasanya.. hatinya menjadi semakin sakit?? rintih Miranda dalam hatinya.
Bersambung..
Halo, jangan lupa dukung cerita ini dengan kasih like, komen, vote dan hadiahnya ya 😊
Dukungan kalian sangat berarti bagi author 🥺
Dan, boleh juga di ramein ya kolom komentarnya..
Author suka banget baca komen dari pembaca tentang cerita ini 🙏😁
Oh iya, kalai baca novel jangan lupa waktu ya, apalagi sholat 5 waktunya 😁👍