
Sheryn membawa Melvin untuk masuk ke dalam kamar mandi dan menyuruhnya untuk duduk di bawah shower tanpa menghidupkan airnya. Dia mengambil handuk kecil lalu menyeka wajah Melvin yang terlihat kotor.
Tubuh Melvin terus bergetar dan menggigil karena kedinginan. Detak jantung dan pernapasannya lebih cepat dari biasanya. Wajahnya pun nampak sangat pucat. Beberapa bagian tubuhnya menjadi kaku dan mati rasa karena terlalu lama berada di luar.
Cuaca saat ini memang sangat dingin karena di negaranya masih musim dingin. Meskipun salju sudah tidak pernah turun lagi, tetap saja suhu diluar masih sangat dingin. Bahkan ketika berbicara ada uap putih yang keluar dari dalam mulut yang menandakan kalau suhu di luar masih rendah.
Sheryn merasa sangat khawatir dengan Melvin. Bahkan orang normal saja tidak akan kuat berada diluar dalam keadaan suhu dingin seperti saat ini hanya dengan memakai baju tipis, terlebih lagi berada di dalam kolam ikan dalam waktu yang lama.
Apa ibunya ingin membuat Melvin terkena Hipotermia dan ma-ti kedinginginan diluar? Bagaimana bisa dia menyiksa Melvin seperti itu?
"Maafkan aku Melvin. Ini semua salahku karena tidak mengawasimu dengan benar."
Hari ini dia disibukkan dengan urusan kantor sehingga dia belum sempat untuk menghubungi pelayan di rumahnya untuk menanyakan mengenai keadaan Melvin.
Melvin tersenyum, tatapan matanya melembut dan tidak bodoh seperti biasanya. "Aku tidak apa-apa." Melvin memegang tangan Sheryn yang sedang membersihkan wajahnya dengan handuk bersih yang sudah dibasahi dengan air hangat oleh Sheryn.
Ketika tangan Melvin menyentuh tangan Sheryn, terasa sangat dingin dan bergetar. Rasa nyeri kembali menyebar ke seluruh dadanya saat membayangkan bagaimana Melvin menahan dingin di luar tanpa mengenakan baju hangat dan tidak mengeluh sedikitpun, apalagi setelah melihat ada beberapa luka goresan di jemari dan telapak tangannya. Mungkin terkena bebatuan tajam saat membersihkan kolam tadi.
"Apa kau sudah makan?"
Melvin menggeleng. Sheryn terkejut. "Kau belum makan siang? Terakhir kali makan tadi pagi?" tanya Sheryn dengan mata yang membesar.
"Iyaaa," jawab Melvin dengan wajah bodohnya.
Darahnya seolah mendidih. Amarah Sheryn kembali naik setelah mendengar jawaban Melvin. Bagaimana bisa ibu tirinya dengan tega menyuruh Melvin membersihkan kolam tanpa memberinya makan terlebih dahulu, padahal sudah menjelang sore hari.
Menyuruh Melvin menguras dan membersihkan kolam dalam cuaca dingin dan kondisi perut kosong. Apa dia masih bisa disebut sebagai manusia? Bagaimana bisa ada orang sekejam itu di dunia ini? Apa hatinya terbuat dari batu? Bagaimana bisa dia melakukan itu pada orang yang memiliki kekurangan seperti Melvin?
Membayangkan perlakuan ibu tirinya pada Melvin hari ini membuat matanya memanas dan hatinya terasa perih. Sheryn menatap ke atas sejenak, mencegah air matanya jatuh di pelupuk matanya. Setelah beberapa detik, dia kembali menatap Melvin. "Kalau begitu mandilah dengan air hangat, baru nanti kita makan bersama."
Sheryn keluar dari kamar dari kamar mandi, membiarkan Melvin membersihkan tubuhnya setelah dia selesai mengisi bath up dengan air hangat. Sambil menunggu Melvin mandi, Sheryn menyiapkan pakaian Melvin, setelah itu dia kembali turun ke bawah untuk menemui ibu tirinya.
Saat melihat ibu tirinya sedang bersantai di ruang keluarga, Sheryn berjalan ke arah dapur mengambil sesuatu lalu berjalan ke arah ruang keluarga menghampiri ibu tirinya.
"Sheryn...! Apa kau sudah gila??" Ibu tiri Sheryn terlihat terkejut sekaligus marah setelah Sheryn menyiramnya dengan air dingin sehingga membuatnya sekujur tubuhnya basah.
"Aku baru menyirammu dengan sedikit air dingin, kau sudah mengatakan aku gila? Bagaimana dengan dirimu? Menyuruh Melvin membersihkan kolam dalam cuaca yang sangat dingin tanpa memberikannya makan, ingin aku sebut apa? Iblis?"
Sheryn terlihat sangat marah. Dia sudah tidak bisa mentoleransi lagi sikap ibu tirinya yang keterlaluan. Selama ini, dia tidak pernah berlaku kurang ajar pada ibu tirinya, meskipun dia tidak menyukainya, tapi hari ini, ibunya sungguh sudah melewati batas. Dia tidak bisa diam saja.
Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu pada Melvin. Ini bukanlah hal sepele. Dia bisa membuat Melvin celaka dengan membiarkannya berada di luar ruangan dengan cuaca yang sangat dingin dalam waktu yang lama, terlebih lagi dalam keadaan perut kosong.
Ibu tiri Sheryn berdiri sambil mengibas-ngibaskan tangan pada pakaiannya. "Dia melakukan itu secara suka rela. Ibu tidak pernah memaksanya. Lagi pula, dia adalah seorang pria. Ibu hanya membersihkan kolam saja tidak akan berdampak apapun padanya."
Ibu tiri Sheryn terlihat tidak merasa bersalah sedikitpun. Dia justru menampilkan wajah tak berdosa.
"Sekarang adalah musim dingin. Apa kau tidak tahu apa akibatnya, jika berada diluar ruangan hanya mengenakan baju tipis saat musim dingin? Apa otakmu itu tidak ada isinya?" Sheryn menggemertakkan giginya menahan amarahnya, "bagaimana kalau keadaannya aku balik? Apa kau sanggup berada di luar mengenakan baju tipis tanpa makan dengan cuaca seperti ini?"
Ibu tiri Sheryn menampilkan wajah acuh tak acuhnya. "Kau tidak bisa menyamakan ibu dengannya. Dia orang miskin, tentu saja sudah terbiasa melakukan hal-hal seperti dan mampu beradaptasi dengan suhu ekstrim sekalipun. Mereka terbiasa hidup menderita. Lagi pula, dia tidak bisa tinggal gratis di sini. Dia bukan dari keluarga kita. Dia hanyalah orang asing. Setidaknya dia harus melakukan sesuatu untuk keluarga ini."
Sheryn menarih napas panjang lalu menghembuskannya. Dia berusaha untuk menahan kemarahannya yang sudah berada di puncak tertinggi.
"Sepertinya kau belum tahu di mana posisimu sebenarnya. Apa kau pikir, kau dan Laura berasal dari keluarga ini? Kau tidak bisa menyombong diri hanya karena kau berhasil menikah dengan ayahku. Kau bukanlah siapa-siapa kalau bukan karena nama besar keluargaku. Kau bisa seperti sekarang berkat keluargaku. Keluargakulah yang sudah mengangkat derajadmu. Kedudukan Melvin lebih tinggi darimu, apalagi jika aku menikah dengannya nanti, kau akan berada di bawahnya, jadi jangan pernah menyentuhnya dan menyombongkan diri lagi di depanku."
Ibu tirinya Sheryn bisa dikatakan berasal dari keluarga kaya, tapi tidak cukup kaya jika dibandingkan dengan kelurga Sheryn. Keluarga ibu tiri Sheryn hanya memiliki perusahaan kecil di kota J. Keluarganya juga tidak masuk dalam katergori keluarga konglomerat, meskipun mereka bisa hidup mewah.
Mata ibu tiri Sheryn memerah karena terlampau marah ketika mendengar hinaan Sheryn. "Kali ini, hanya air dingin yang aku siram padamu, lain kali, jangan harap aku akan berbaik hati lagi." Sheryn segera berlalu setelah mengatakan itu.
"Beraninya dia merendahkan aku seperti itu hanya karena pria idiot itu," gumam Ibu Tiri Sheryn.
Sheryn terus berjalan ke arah dapur, meminta bibi Sha untuk mengantarkan makanan ke kamar Melvin. Setelah itu, dia kembali naik ke atas karena takut kalau Melvin mencarinya nanti.
Saat tiba di kamar Melvin, Sheryn melihat pintu kamar mandi baru saja terbuka. Melvin keluar hanya mengenakan handuk saja yang dilikit dipinggang. Sheryn bisa melihat beberapa bagian tubuhnya terlihat memerah.
Sheryn berjalan mendekati Melvin yang sudah berdiri di dekat tempat tidur. "Melvin, cepat ganti bajumu."
Sheryn buru-buru memberikan baju pada Melvin karena takut terkena flu. Meskipun sudah berendam air hangat dan suhu ruangan sudah dihangatkan oleh Sheryn, tubuh Melvin terlihat masih gemetar.
Melvin menampilkan wajah bingung dan bodohnya pada Sheryn, kemudian mendekatinya lalu menangkup wajahnya.
"Kamu sakit?"
Apa saat ini dia sedang mengkhawatirkan dirinya? Yang berada di luar ruangan dalam cuaca dingin adalah dirinya. Bagaimana bisa dia justru mengkhawatirkannya hanya karena melihat wajahnya memerah.
Melvin sepertinya mengira kalau Sheryn sedang demam setelah melihat wajahnya memerah seperti tomat, padahal dia merasa malu setelah melihat tubuh bagian atas Melvin. Terlebih lagi saat dia memikirkan hal lain di kepalanya.
Sheryn langsung menggeleng. "Tidak. Aku hanya sedikit kepanasan," kilah Sheryn.
Melvin tersenyum polos ke arah Sheryn. "Kamu cantik."
"Haaah?" Sheryn terlihat terkejut setelah mendengar pujian dari Melvin. Ini pertama kalinya, dia mendengar Melvin memujinya.
Dia bilang aku cantik?
Sheryn tertegun beberapa saat kemudian dia berbalik dengan cepat, "ganti bajumu di kamar mandi, sebentar lagi makanan akan datang." Wajah Sheryn semakin memerah.
Bagaimana bisa dia tersipu malu hanya karena mendengar pujian dari Melvin. Padahal, selama ini banyak yang sudah mengatakan seperti itu padanya. Entah kenapa, saat mendengar Melvin mengatakan itu, terasa berbeda di telinganya.
Bersambung..