Mysterious Man

Mysterious Man
Perbincangan di Malam Hari



Melvin mengusap sudut bibir Sheryn setelah pagutan mereka terlepas. "Mandilah air hangat. Bajumu basah. Aku tidak mau kau sakit," ujar Melvin seraya menatap Sheryn yang nampak sedang tertunduk malu.


"Kau saja yang mandi lebih dulu. Tubuhmu yang sudah basah semua," ucap Sheryn dengan suara pelan.


Melvin tersenyum lalu berlalu dari hadapan Sheryn. "Jangan berbalik," ujar Melvin.


Tubuh Sheryn menegang seketika mendengar itu. "Kenapa?" tanya Sheryn tanpa menoleh.


"Lihat saja ke depan."


Meskipun penasaran, Sheryn tetap mengikuti perkataan Melvin. Satu menit kemudian, Melvin kembali berdiri di hadapan Sheryn dengan handuk melilit di pinggangnya. "Aku akan menunggu di luar. Kau bisa mandi lebih dulu."


Sheryn seketika mengerti kenapa Melvin melarangnya untuk menoleh. "Tidak perlu. Aku akan mandi di kamarku. Kau bisa mandi di sini."


Ketika Sheryn akan berbalik, Melvin menahan lengan Sheryn. "Mandi di sini saja. Mungkin di luar ada, Stein. Aku tidak mau kalau dia melihat tubuhmu yang basah."


Sheryn mengerutkan kening lalu menunduk menatap bajunya yang basah. Dia langsung menyilangkan kedua tangannya di dada ketika menyadari kalau tubuh bagian depannya terlihat sangat jelas dan membentuk dengan sempurna. "Kenapa kau tidak bilang dari tadi?"


Melvin tersenyum tipis. "Aku tidak akan menyia-nyiakan pemandangan indah yang sangat langka ini." Setelah mengatakan itu, Melvin berlalu dari hadapan Sheryn seraya mengulum senyumnya.


"Melvin, apa kau yakin tidak melakukan apapun dengan Laura tadi?" tanya Sheryn dengan tatapan curiga. Melihat sikap genit Melvin barusan, Sheryn mulai ragu.


Melvin kembali berbalik dan menghampiri Sheryn. "Apa kau ingin memeriksa tubuhku agar kau yakin kalau aku tidak melakukan apapun dengannya?"


"Tidak perlu. Keluarlah, Melvin. Aku ingin mandi." Melvin hanya tersenyum tipis saat Sheryn mendorong tubuhnya dengan pelan sampai di pintu.


"Lebih baik kau mandi di kamarku. Tubuhmu sudah dingin. Kau bisa terkena flu nanti."


Tubuh Melvin sempat terguyur air shower dan tidak langsung dikeringkan sehingga membuat kulitnya menjadi keriput.


"Iyaa, Sayang." Melvin melemparkan senyum genitnya pada Sheryn sebelum dia menutup pintunya.


Melvin berjalan keluar kamarnya menuju kamar Sheryn. Saat dia akan masuk ke kamar, Stein datang dari arah belakang. "Tuan Muda. Ini ponsel nona Laura yang tertinggal di kamar bawah."


Melvin meraih ponsel berwarna hitam yang disodorkan oleh asitennya. Dia menatap sejenak lalu mengusap layar ponsel itu. "Terkunci." Melvin menyerahkan kembali ponselnya tersebut pada Stein, "suruh orang untuk membuka kode pengaman ponsel ini. Setelah itu periksa isinya. Hapus rekaman yang baru saja dia rekam," perintah Melvin dengan wajah tegas.


"Baik, Tuan Muda. Jadi, apa yang harus saya lakukan terhadap nona Laura?"


Melvin berpikir sejenak lalu berkata, "Jauhkan dia dari mansionku dan turunkan dia di pinggir jalan."


"Apa hanya itu saja, Tuan Muda?" Tidak biasanya Melvin melepaskan seseorang begitu saja. Sebab itu, Stein bertanya untuk memastikan kembali.


"Ya, aku akan mengurusnya nanti."


"Baik, Tuan Muda." Ketika Stein akan melangkah, Melvin menghentikannya.


"Stein, tunggu."


Asistennya kembali berbalik. "Ada apa, Tuan Muda?"


"Kenapa Sheryn tiba-tiba ada di sini dan bisa menemukanku di kamar itu?"


"Pengawal di depan menghubungiku setelah Tuan Muda tiba di mansion ini. Dia mengatakan kalau Anda datang bersama dengan seorang wanita tidak dikenal. Aku langsung menjemput Nona Sheryn setelah memeriksa CCTV di mansion ini."


Pengawal di depan tentu saja mengenal Sheryn jadi ketika melihat bosnya datang bersama dengan wanita asing dalam keadaan mabuk, tentu saja mereka semua merasa curiga dan langsung menghubungi Stein.


"Begiru rupanya. Kau memang selalu bisa diandalkan. Kau lebih cocok jadi adikku dari pada Alan." Stein merasa tersanjung dipuji oleh bosnya. "Pulanglah. Kita bicara lagi besok."


Setelah kepergian Stein, Melvin melangkah masuk ke dalam kamar Sheryn dan langsung menuju kamar mandi. Tidak butuh waktu lama, Melvin selesai dan kembali lagi kamarnya untuk memakai baju. Saat dia baru saja membuka pintu, Sheryn pun baru keluar dari kamar mandi.


Mereka bertatapan sejenak dengan perasaan canggung untuk beberapa saat. "Kau mau ke mana?" tanya Melvin ketika melihat Sheryn berjalan ke arahnya.


"Kembali ke kamarku."


Melvin menyingkir dari pintu untuk memberikan jalan untuk Sheryn. "Jangan mengunci pintunya. Aku akan ke sana setelah berpakaian."


Sheryn mengangguk lalu melewati Melvin.


Laura, kali ini, aku mengampunimu karena berkat kau, Sheryn hubungan kami jadi membaik dan akhinya dia menerima cintaku.


"Belum," jawab Sheryn dengan suara rendah.


Melvin menegakkan punggungnya dan kembali bertanya seraya menoleh pada Sheryn. "Kenapa tidak makan?"


Sheryn menoleh pada Melvin seraya tersenyum paksa. "Aku tidak lapar." Shery memutar sedikit tubuhnya ke arah Melvin.


"Melvin, kenapa Laura bisa ada di sini?"


Saat Stein menjemputnya, dia tidak menjelaskan apapun, selain mengatakan kalau Melvin sedang bersama dengan Laura di mansionnya. Hati Sheryn menjadi gelisah saat mendengar itu. Sepanjang perjalanan dia tidak bisa tenang. Bayangan saat Laura menjebak Harry kembali terlintas di pikirannya.


"Aku tidak sengaja bertemu dengannya di bar. Aku mabuk dan dia mengikutiku sampai di sini. Aku berpura-pura mabuk berat untuk membongkar niat busuknya. Aku tahu, dia memiliki niat jahat padaku ketika dia menawarkan diri untuk mengantarku pulang," ungkap Melvin.


Setelah mendengar penjelasan Melvin, Sheryn nampak melamun. "Aku tidak tertarik sedikitpun dengannya, Sheryn. Aku tidak akan pernah mau menyentuhnya."


"Laura memberikan obat pada Harry saat itu hingga Harry akhirnya jatuh dalam jebakanmya. Aku hanya takut kalau kau akan masuk dalam jebakannya juga."


"Sejujurnya, dia juga memberikan obat diminumanku, tapi aku menukar minumannya dengan milikku saat dia lengah. Mungkin saja saat ini dia sudah merasakan efek obat itu."


Sebenarnya, Laura sudah merasakan efek obat itu saat dia naik ke tubuh Melvin.


"Benarkah?" tanya Sheryn dengan wajah terkejut


"Hhhmmmm," gumam Melvin.


"Katakan padaku, apa saja yang sudah dia lakukan padamu?"


"Tidak ada. Dia hanya meraba dadaku saja."


Sheryn nampak belum percaya sepenuhnya dengan ucapan Melvin. Dia memicingkan matanya dengan tatapan curiga. "Benarkah itu saja?"


"Iyaa, Sayaang. Hanya itu saja."


Sheryn berdiri. "Kau tunggu di sini." Sheryn berjalan ke arah meja rias dan kembali dengan membawa sesuatu.


"Angkat bajumu. Aku ingin melihatnya," pinta Sheryn sembari membungkuk di depannya.


"Untuk apa?" Melvin mengangkat kaos putih polos yang dia kenakan seraya bertanya pada Melvin.


"Aku tidak mau ada jejak wanita lain di tubuhmu." Selesai mengatakan itu, Sheryn menyemprotkan parfum miliknya ke tubuh bagian depan Melvin hingga membuat Melvin mengulum senyumnya.


"Sudah." Sheryn meletakkan parfum itu di atas meja dan kembali duduk di samping Melvin.


"Aku suka melihatmu cemburu seperti ini." Melvin meraih pinggang Sheryn lalu mendudukkan Sheryn di pangkuannya.


"Melvin, turunkan aku." Sheryn mencoba melepaskan tangan Melvin yang ada di perutnya.


"Diamlah. Aku hanya ingin memelukmu," jawab Melvin seraya meletakkan dagunya di bahu Sheryn, "aku merindukanmu, Sheryn. Belakang ini kau bersikap sangat dingin padaku. Aku pikir kau akan pergi meninggalkan aku karena sangat membenciku."


Mendengar itu, Sheryn seketika terdiam dan tidak lagi mencoba untuk memberontak. "Maafkan aku, Melvin. Aku hanya butuh waktu untuk berpikir dan menenangkan diri. Aku harus meredakan amarahku dulu. Aku baru menyadari kalau aku tidak bisa membencimu."


"Apa kau sudah tidak marah lagi denganku?" tanya Melvin seraya mengeratkan pelukannya.


"Iyaaa. Sebenarnya aku memang berencana untuk kembali ke sini besok untuk berbicara denganmu, tetapi tiba-tiba ada kejadian seperti ini."


Awalnya dia memang marah, tapi hanya sebentar. Dia justru senang ketika Melvin mendatanginya di rumah sakit, tetapi dia terlalu canggung untuk berbicara dengan Melvin setelah dia melampiaskan kemarahannya waktu itu.


"Memangnya apa yang ingin kau bicarakan denganku?"


"Aku hanya ingin meminta maaf atas kata-kataku waktu itu. Saat itu, aku tidak bisa mengontrol amarahku sehingga bersikap seperti anak kecil."


"Tidak apa-apa, Sayang. Aku mengerti. Mungkin aku juga akan marah sepertimu jika berada di posisimu."


Sheryn tersenyum lalu berkata, "Melvin, sudah larut malam. Kembaliah ke kamarmu. Kita berbicara lagi besok."


"Aku ingin tidur di sini. Aku tidak mau kembali ke kamarku. Hanya malam ini saja, biarkan aku tidur di sini."


Bersambung...