
Setelah semua pekerjaannya selesai, Melvin langsung meminta Stein untuk mengantarnya pulang. Semenjak Melvin sudah bisa berjalan, dia mengambil alih kursi kepemimpinan di perusahaannya. Dia sudah kembali bekerja seperti biasa, tapi bedanya, sekarang dia akan pulang lebih cepat dari jam kantor. Tidak seperti sebelum menikah. Dia selalu lembur di kantornya bersama Stein.
Ketika Melvin turun dari mobil, dia melihat ada mobil yang baru saja berhenti di belakang mobilnya. Melvin berhenti sejenak untuk melihat siapa yang datang. Saat melihat orang tersebut turun dari mobilnya, Melvin tersenyum miring. Dia sebenarnya sudah bisa menebak mobil siapa yang ada di belakang mobilnya.
"Semenjak kapan kau tiba di negara ini?"
Pria itu tersenyum seraya menghampiri Melvin. "Baru saja aku tiba dan langsung ke sini."
"Jangan bilang kau ingin menemui istriku?" tukas Melvin dengan tatapan tajam.
Pria itu tersenyum. "Tentu saja aku ingin melihatnya, sudah hampir satu bulan aku tidak bertemu dengan Sheryn. Aku sangat merindukannya." Setelah menepuk bahu Melvin, pria itu kemudian masuk ke dalam mansion mendahului Melvin.
"Harry, aku akan menghancurkan perusahaanmu kalau kau berani mendekati istriku lagi." Melvin bergegas menyusul Harry dengan wajah kesal.
Setibanya di dalam, Harry bertemu dengan Emily. "Di mana Xena dan Sheryn?" tanya Harry.
"Ada di taman belakang."
"Baiklah, aku ke taman dulu." Saat akan melangkah, Emily menghentikannya.
"Kak, mana oleh-oleh untukku?" tanya Emily seraya menengadahkan tangannya ke hadapan Harry.
Harry memang sudah dekat dengan keluarga Melvin karena dia sudah sering berkunjung ke sana untuk menemui Xena dan Sheryn. Harry sudah seperti kakak bagi Emily.
"Ada di mobil, aku lupa membawanya," jawab Harry seraya menggaruk kepala belakangannya.
"Jangan biarkan dia lewat jika dia tidak memberimu oleh-oleh, Emily." Melvin terlihat tersenyum mengejek ke arah Harry lalu berjalan cepat ke arah taman belakang.
"Berikan aku oleh-oleh dulu."
Harry berdecak kesal melihat Melvin sudah mendahuluinya, padahal dia berniat untuk mengerjai Melvin dengan cara menggoda Sheryn.
"Baiklah, aku ambil dulu."
"Kau memang yang terbaik." Emily tersenyum senang saat melihat Harry berjalan keluar untuk mengambil oleh-oleh untuknya.
Di taman belakang, Melvin melihat istrinya dan Xena sedang berdiri di hadapan tanaman bunga. "Sayang, apa yang sedang kau lalukan?" Melvin menghampiri istrinya lalu memeluknya dari belakang.
Xena dan Sheryn menoleh bersamaan. "Sedang memetik beberapa bunga," jawab Sheryn lembut.
Melvin melepaskan pelukannya kemudian berjongkok di depan Sheryn. "Ayah sudah pulang, Sayang. Kalian pasti rindu dengan ayah, bukan?" Melvin memberikan kecupan beberapa kali di perut istrinya dengan gemas.
"Iyaa, Ayah." Sheryn menjawab ucapan suaminya.
Melvin tersenyum lalu mengusap lembut perut istrinya. "Kalian tidak boleh merepotkan ibu jika ayah sedang bekerja. Harus jadi anak yang baik." Melvin lalu mendogakkan kepalanya, "apa mereka merepotkanmu dan membuatmu lelah?"
"Tidak," jawab Sheryn seraya menggelengkan kepalanya dengan pelan.
Melvin berdiri lalu berjalan ke arah Xena. "Bagaimana kabar keponakanku?"
Xena mengusap lembut perutnya seraya tersenyum. "Baik, belakang ini dia sering kali menendang perutku. Dia sangat lincah."
"Itu bagus. Dia pasti sudah tidak sabar ingin segera melihat dunia. Aku juga tidak sabar menantikan kelahiran anakmu dan anakku."
"Iyaaa, aku juga."
Usia kandungan Xena dan Sheryn sudah memasuki 9 bulan. Menurut Dokter mereka berdua akan melahirkan kurang lebih 2 minggu lagi. Kemungkinan jarak antara Xena dan Sheryn melahirkan hanya beberapa hari, bahkan mungkin bisa di hari yang sama.
"Kalian sedang apa?" Harry datang dengan membawa 2 kotak besar di tangannya.
"Memetik bunga," jawab Xena dengan senyum lembutnya.
"Apa yang kau bawa?" tanya Sheryn ketika Harry berjalan ke arahnya.
"Ini hadiah untuk kedua ponakanku." Harry memberikan kotak dengan bungkus berwarna biru muda kepada Sheryn, kemudian memberikan bungkus berwarna tosca pada Xena, "ini untuk calon anakku."
Harry mengangguk santai. "Sama-sama."
"Lebih baik kita masuk, Sayang. Sebentar lagi akan gelap," ucap Melvin seraya merangkul pinggang istrinya.
"Baiklah."
Mereka berempat akhirnya masuk ke dalam mansion bersama-sama.
*******
Setelah selesai makan malam bersama, Melvin mengajak Xena dan Harry ke ruangan kerjanya. Ada hal penting yang ingin dibicarakan dengan mereka berdua, tepatnya pada Xena. "Kalian duduk saja sebentar. Kita menunggu Sheryn dulu."
Istrinya sedang berganti pakaian di kamar, maka dari itu, dia belum muncul.
Harry dan Xena mengangguk, tidak lama berselang, Sheryn masuk ke dalam ruangan kerja Melvin lalu duduk di hadapan Harry dan Xena. Melvin kemudian berjalan seraya membawa map di tangannya lalu duduk di samping istrinya.
"Xena, ambilah. Ini untukmu."
Xena menatap sejenak ke arah map itu lalu mengulurkan tangan untuk ngambilnya. "Apa ini?"
Melvin duduk bersadar lalu berkata, "Bukalah."
Xena membuka map itu lalu membaca sekilas kemudian menatap Melvin dengan wajah terkejut. "Kenapa kau memberikannya padaku?"
"Itu adalah bagian untuk Alan. Karena Alan sudah meninggal, jadi aku berikan padamu."
Itu adalah beberapa aset milik keluarga Anderson, ada vila, mansion, apartemen, hotel, tabungan di luar negeri, deposito, beberapa properti lainnya dan saham perusahaan yang nilainya sangat besar.
"Tapi, aku tidak berhak menerimanya, Melvin. Ada ibu dan Emily yang berhak menerima bagian Alan," tolak Xena lembut.
"Mereka memiliki bagian sendiri, Xena. Lagi pula, ibu dan Emily juga setuju kalau bagian Alan diberikan padamu. Anakmu dan kau berhak menerimanya, apalagi di tubuh anakmu mengalir darah keluarga Anderson"
Mata Xena nampak berkaca-kaca. Dia merasa sangat tersentuh karena Melvin masih memikirkan dirinya dan anaknya. Sebenarnya dia tidak pernah mengharapkan apapun lagi karena selama ini mereka selalu memperlalukannya dengan sangat baik dan menganggap bagian dari keluarga Anderson.
"Perusahaan yang di negara C, akan aku berikan padamu. Harry akan membantumu mengelola perusahaan tersebut."
Xena kembali terkejut. Bagaimana pun itu adalah perusahaan terbesar di sana. Dia tidak menyangka kalau Melvin akan memberikannya padanya.
"Beberapa properti yang ada di negara C juga akan kuberikan padamu. Kau tinggal tanda tangani semua berkasnya. Pengacaraku akan mengurus semuanya nanti," lanjut Melvin lagi.
"Kenapa kau memberikan banyak sekali untukku, Melvin? Aku merasa tidak layak menerimanya."
Tentu saja dia merasa tidak pantas menerimanya. Dia bukanlah istri sah Alan. Dia hanya kekasih yang kebetulan sedang mengandung anak pria yang dicintainya itu. Dia tidak pernah berpikir akan mendapatkan bagian dari Alan setelah kepergiannya. Diterima dan diperlalukan dengan baik oleh keluarga Anderson saja sudah membuatnya merasa beruntung dan sangat bahagia.
"Xena, aku rasa Alan pasti akan setuju kalau miliknya dia berikan padamu dan anakmu. Kalau kau merasa sungkan, anggap saja itu untuk anakmu. Anak itu juga milik Alan, Xena. Dia berhak atas semua milik ayahnya. Alan pasti sangat senang kalau kau mau menerimanya."
Sebenarnya, Alan tidak berhak menerima warisan sedikitpun dari keluarga Anderson secara hukum karena dia lahir di luar pernikahan. Dalam surat wasiat juga tidak ada namanya. Ketika kakeknya masih hidup juga, dia mengatakan pada ayah Melvin untuk tidak memberikan bagian apapun pada Alan karena dia masih tidak bisa menerima Alan sebagai bagian dari keluarganya.
Saat tahu kalau ayahnya tidak memberikan bagian apapun padanya, Alan merasa marah dan dendam. Alan tidak tahu kalau, Melvin diam-diam memohon pada ayahnya untuk memberikan bagian untuk Alan juga karena bagaiman pun Alan adalah anak ayahnya juga.
Belum sempat ayahnya merubah surat wasiatnya, ayah Melvin sudah meninggal lebih dulu. Jadi semua harga jatuh ke tangan Melvin. Karena kini, semuanya sudah menjadi milik Melvin jadi dia dengan bebas membaginya untuk Alan, Emily, dan ibu Alan.
"Xena, kau adalah wanita yang sangat dicintai Alan, juga kau ibu dari anaknya. Kau sangat pantas menerimanya. Tolong jangan menolak ini, Xena. Aku akan merasa sangat bersalah padamu dan pada Alan kalau kau tidak mau menerimanya," ucap Melvin dengan wajah memohon.
"Xena, terimalah niat baik Melvin dan Sheryn. Kau tidak mengambil sesuatu yang bukan milikmu. Semuanya sudah setuju. Kau memang berhak menerima bagian dari Alan," sahut Harry seraya menoleh pada Xena.
"Aku akan marah jika kau tidak mau menerimanya, Xena," timpal Sheryn dengan wajah serius, "kau bilang kita keluarga. Maka dari itu, terimalah semua bagian Alan."
Mata Xena kembali berkaca-kaca dan dia hampir menitikkan air mata. "Baiklah. Terima kasih untuk semuanya. Terima kasih karena sudah menganggapku bagian dari keluarga kalian."
Sheryn berdiri lalu duduk di samping Xena. "Kau sudah seperti kakakku, Xena. Anakmu juga adalah keponakanku. Semua ini memang pantas kau dapatkan," ucap Sheryn seraya memeluk Xena.
Bersambung...