
"Tuan Aric, aku harap kau tepati janjimu," ucap Sheryn sebelum dia memulainya. Dia hanya takut kalau Aric akan menipunya.
Aric tersenyum lebar. "Kau bisa memegang kata-kataku, Sheryn. Aku akan menepati janjiku."
Setelah berpikir sejenak, Sheryn lalu meraih botol yang sudah terbuka kemudian menuangkannya ke gelas. Setelah melihat Sheryn menenguk gelas pertamanya, Aric mengulurkan tangan ke gelas lalu ikut menuangkan minuman ke gelasnya dan menenguknya.
Waktu sudah berlalu setengah jam lamanya. Sudah 2 botol minuman yang berhasil Sheryn habiskan. Dia merasa perutnya penuh dan kepalanya sangat pusing. Perlahan kesadarannya menurun, sementara Aric terlihat masih duduk santai sambil menyesap minumanya dengan pelan sambil memandangi wajah Sheryn yang sudah mulai memerah.
Ketika merasa perutnya penuh, Sheryn meminta ijin untuk pergi ke toilet pada Aric. "Apa kau perlu bantuanku?" tanya Aric.
Sheryn menggeleng dengan cepat. "Aku bisa sendiri. Aku akan segera kembali." Dengan langkah tidak seimbang, Sheryn keluar dari ruanga VIP yang dipesan oleh Aric menuju toilet. Setibanya di toilet, Sheryn berusaha untuk memuntahkan isi minuman yang dia minum tadi untuk mengurangiabuknya, tapi sayangnya hanya sedikit yang keluar.
Dia kemudian berjalan ke wastafel untuk mencuci wajahnya untuk mengembalikan kesadaranya yang mulai menurun. Beberapa kali Sheryn menepuk wajah dan menggelengkan kepalanya, kemudian menatap dirinya dari pantulan cermin.
Tiba-tiba, dia merasa ada yang aneh dengannya. Tubuhnya dan napas terasa memanas. Sheryn kembali membasuh wajahnya, kemudian kembali berjalan ke ruangan Aric. Dia harus segera menyelesaikan tantangan yang diberikan oleh Aric.
Saat dia akan masuk ke ruangan, tidak sengaja dia mendengar Aric berbicara di telpon dengan seseorang. "Iya, pesankan kamar untukku sekarang juga. Aku akan menjadikan Sheryn milikku malam ini. Tidak akan aku biarkan dia lepas dariku."
Ketika kata-kata itu jatuh di telinga Sheryn, matanya langsung tebelalak dan seketika itu juga dia menutup mulutnya yang terbuka. Dia tidak menyangka kalau Aric memiliki niat jahat padanya. Sebelum Aric menyadari keberadaannya, Sheryn berniat untuk pergi dari sana, tapi saat dia akan berbalik, ponselnya tiba-tiba berbunyi dan itu membuat Aric berjalan ke arah pintu.
"Sheryn kau mau ke mana?"
Tubuh Sheryn langsung menegang. Dengan jantung berdebar kencang, Sheryn menoleh. "Aku ... Aku ingin mengangkat telpon sebentar." Dia harus mencari cara untuk kabur dari Aric dengan berpura-pura ingin menerima di telpon di luar dan setelah itu pergi dari sana.
Aric memicingkan matanya sejenak kemudian tersenyum. "Kau tidak perlu mengangkat di luar. Angkar saja telponmu di dalam. Aku akan keluar sebentar. Kau tunggu di sini."
Sheryn tidak memiliki alasan lain lagi untuk bisa pergi. Lebih baik di menunggu Aric pergi baru kemudian dia kabur. "Baiklah." Sheryn memutuskan untuk mengangkat telponnya yang masih terus berbunyi di dalam sambil menutup pintunya. Dia mengintip sejenak ke arah luar dan melihat Aric masih berdiri di depan pintu.
"Halo, kau di mana Sheryn." Suara pria terdengar sesaat sesudah Sheryn mengangkat telponnya.
"Harry, tolong aku. Aku berada di ...." Sheryn akhirnya memberitahukan di mana dia berada dan menceritakan mengenai bahaya yang sedang dia hadapinya. Untuk saat ini hanya Harry yang bisa menolongnya.
"Tunggu aku. Aku akan segera ke sana. Berusahalah untuk bersembunyi lebih dulu."
Dia sudah merasakan tubuhnya lemas dan berkeringat. Kepalanya terasa pusing dan pandangannya mulai berbayang. Sheryn yakin kalau Aric sudah memasukkan sesuatu ke dalam minumannya.
Kesadaran Sheryn semakin lama semakin tipis. Dengan langkah terhuyung-huyung. Sheryn keluar dari ruangan Aric setelah merasa situasi aman dan tidak ada siapapun di luar ruangan Aric.
Karena tidak bisa berjalan dengan benar Sheryn memutuskan untuk mencari ruangan terdekat darinya untuk bersembunyi. Dan tepat di sampingnya ada ruangan yang bertuliskan "Staf Only" Akhirnya Sheryn mendorong dan menutup pintunya sebelum Aric melihatnya.
Sheryn berusaha untuk berjalan ke dalam mencari tempat persembunyian yang aman. Karena ruangan itu sedikit gelap. Sheryn berjalan dengan hati-hati ke arah sebuah lemari besar. Dengan susah payah dia menghampiri lemari itu dan bersembunyi di dalamnya.
Tidak lama kemudian terdengar suara dari luar yang Sheryn yakini adalah suara Aric. "Cari dia sampai dapat. Kau jaga pintu keluar. Jangan sampai dia lolos."
Sheryn menutup mulutnya dengan kedua tangannya dengan air mata yang sudah mulai menetes. Bagaimana kalau Aric menemukannya sebelum Harry datang. Sheryn nampak sangat ketakutan. Tubuhnya tidak hentinya gemetar.
"Melvin, aku takut," gumam Sheryn dengan air mata yang kembali menetes di pipinya. Dia menyembunyikan wajahnya diantara lutut yang ditekuk. "Tolong aku, Melvin."
Tiba-tiba pintu terbuka, detak jantung Sheryn seolah berhenti saat itu juga ketika mendengar langkah kaki mendekat ke arahnya.
"Sheryn, keluarlah. Sebelum kesabaranku habis." Suara Aric terdengar sangat menakutkan. "Aku tahu kau bersembunyi di sini."
Sheryn mengangkat kepalanya dan berusaha mempertahankan kesadarannya yang hampir hilang. Entah apa saja yang sudah dimasukkan oleh Aric ke dalam minumnya tadi hingga membuat tubuhnya menjadi sangat lemas dan menjadikannya tidak berdaya.
"Sheryn, lebih baik kau keluar sekarang." Langkahnya semakin lama terdengar semakin dekat.
"Sheryn, kau tidak akan bisa lepas dariku." Suara Aric kembali terdengar.
Mata Sheryn sedari sudah menutup beberapa kali, tetapi dipaksakan untuk tetap terbuka. Sheryn tidak mau kehilangan kesadarannya sebelum Harry datang menolongnya. Saat matanya sudah tidak tertahan akan menutup, pintu lemari terbuka dan menampilkan Aric dengan seringai jahatnya.
"Sheryn, kau tidak akan bisa lari dariku. Kau akan menjadi milikku malam ini."
Detik kemudian Sheryn hanya meraskaan tubuhnya seperti melayang di udara. Entah ke mana Aric membawanya yang pasti matanya kembali tertutup. Hanya beberapa suara yang masih bisa masuk ke dalam telinganya.
Entah sudah berapa lama, pada akhirnya, Sheryn merasakan badannya dilemparkan ke sebuah tempat yang empuk hingga tubuhnya telentang. Dengan kesadaran yang tersisa, Sheryn berusaha untuk membuka matanya, beberapa bayangan tubuh pria meninggalkan ruangan itu dan pintunya langsung tertutup.
Sheryn merasakan tubuhnya sangat panas dan tubuhnya mengeluarkan bulir-bulir keringat. Perlahan tangannya terulur hendak membuka pakaiannya karena merasakan panas yang luar biasa, tetapi dia masih bisa menggunakan logikanya hingga dia berusaha mengendalikan dirinya.
Tidak lama kemudian pintu terbuka dan memunculkan sesosok pria yang berdiri di depan pintu. Sheryn berusaha untuk melihat siapa sosok pria itu. Pandangannya sudah buram dan perlahan matanya akan tertutup.
Detik-detik terakhir sebelum kesadarannya benar-benar hilang, Sheryn melihat seseorang pria berjalan ke arahnya dan meraih tubuhnya sambil menyebut namanya. "Sheryn." Dan seketika gelap dan Sheryn pun kehilangan kesadarannya.
Bersambung...