Mysterious Man

Mysterious Man
Berita Kehamilan



Melvin nampak bingung sesaat lalu membelalakkan matanya. "Aku sedang hamil, Melvin. Ada anakmu di dalam perutku."


Sheryn mengetahui dirinya sedang hamil saat dia tiba-tiba pingsan di kantor. Xena dan Stein lalu membawanya ke rumah sakit dan saat itulah mereka semua tahu kalau Sheryn sedang hamil.


Banyaknya pekerjaan, makan tidak tepat waktu, kurangnya istirahat dan selalu lembur di rumah sakit seraya menjaga Melvin, membuat kesehatan Sheryn semakin hari semakin menurun dan puncaknya adalah setelah meeting dengan klien, Sheryn tiba-tiba pingsan di ruangannya.


Semenjak Melvin koma, Sheryn tidak pernah sekalipun memperhatikan dirinya. Bahkan makan saja harus diingatkan oleh Stein. Pikirannya terpecah menjadi beberapa bagian hingga dia tidak menyadari kalau dirinya sedang hamil.


Urusan kantor, keadaan Melvin yang tak mengalami kemajuan, banyaknya anak perusahaan yang harus dia pantau di luar negeri atau pun di dalam negeri, belum lagi bisnis keluarga Anderson yang lainnya, membuat Sheryn tidak sempat memikirkan dirinya sendiri.


"Anakku?" ulang Melvin dengan wajah terkejut dan sedikit linglung.


Sheryn mengangguk dan mengarahkan tangan Melvin ke perutnya. "Iyaa, Melvin, ini anakmu, anak kita." Sheryn tersenyum lebar karena merasa bahagia. Akhirnya dia bisa menyampaikan kabar bahagia tersebut kepada suaminya.


Melvin nampak tertegun selama beberapa saat kemudian telapak tangannya perlahan mengusap perut Sheryn dengan lembut. Dia ingin memeluk istri, tetapi dia kesulitan untuk menggerakkan tubuhnya sehingga dia hanya bisa menggerakkan telapak tangannya saja.


Melvin tersenyum dengan mata yang sedikit berkilau. "Maaf."


Sheryn memeluk kembali suaminya dengan perasaan haru. "Kenapa minta maaf? Kau tidak salah, Melvin." Tentu saja Sheryn mengerti arti dari permintaan maaf suaminya.


"Kau pasti kesulitan... karena aku."


Melvin tentu saja merasa bersalah karena disaat istrinya hamil, dia justru sedang koma. Bahkan sekarang, untuk sekedar memeluknya saja dia tidak bisa.


Sheryn kembali memeluk suaminya dengan mata berkaca-kaca. "Tidak, Melvin, ada Stein, Emily dan Stein yang selalu membantuku. Ibu juga sering memasak untukku semenjak aku hamil," ungkap Sheryn, "aku sangat bahagia Melvin karena kau akhirnya bangun. Aku sangat merindukanmu."


Melvin berusaha untuk menggerakkan tubuhnya untuk membalas pelukan istrinya, tetapi tidak bisa. "Aku juga."


Ketika pertama kali sadar, Melvin nampak linglung dan bingung. Dia membutuhkan beberapa menit untuk mengetahui di mana dirinya berada. Saat dia akan menggerakkan tubuhnya, dia merasa kesulitan. Ketika dia pertama kali membuka matanya, dia tidak merasakan apapun selain tubuh yang kaku. Dia hanya merasa seperti bangun tidur seperti biasanya. Dia tidak tahu kalau dirinya sudah koma dalam waktu yang lama.


Melvin pun berusaha mengingat apa yang terjadi dengan dirinya hingga dia berada di rumah sakit, tetapi dia hanya bisa mengingat ketika di tertembak peluru Alan. Saat dia melihat ke tubuhnya, dia baru tersadar kalau dirinya tertembak, setelah itu, dia melihat Sheryn berlarike arahnya seraya memanggil namanya dengan histeris dan setelah itu pandangannya gelap dan dia tidak bisa mengingat apapun lagi setelah itu.


Sheryn melepaskan pelukannya lalu menoleh ke belakang, ternyata Harry sudah tidak ada di ruangan itu. Sheryn dan Melvin bahkan tidak menyadari saat Harry keluar dari ruangan itu. "Sejak kapan kau sadar?" tanya Sheryn lembut.


"Tadi pagi," jawab Melvin.


Setelah Melvin sadar, beberapa Dokter langsung melakukan pemeriksaan dasar dan setelah memastikan Melvin baik-baik saja, Dokter melepaskan semua alat kesehatan yang ada di tubuhnya yang selama ini menjadi penopang hidupnya lalu Dokter melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap Melvin untuk memastikan tidak ada komplikasi atau kecacatan akibat dari koma.


Setelah dilakukan berbagai pemeriksaan, Melvin kemudian di pindahkan dari ruang ICU ke ruangan perawatan. Melvin lalu meminta pengawal yang selama ini bertugas menjaganya untuk menghubungi Stein dan memberitahukan kalau dirinya sudah sadar. Dia sengaja tidak memberitahukan pada Sheryn untuk memberikannya kejutan.


Karena Stein sedang dalam perjalanan untuk menemani Sheryn dan Xena ke makam Alan, akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi pengawal yang menjaga Melvin saat Sheryn, Xena dan Harry sedang berdiri di malam Alan. Stein menceritakan semuanya pada Melvin melalui telpon mengenai apa yang sudah terjadi setelah kejadian penembakan itu, termasuk kematian Alan, serta Harry yang selama ini membantunya untuk menjaga Sheryn.


Kecuali, kehamilan Sheryn dan Xena, semuanya sudah diceritakan oleh Stein agar tuan mudanya itu tahu semua dan tidak salah paham pada Harry saat melihat kedekatan mereka kembali. Stein tentu saja tahu bagaimana sikap cemburu dan posesif tuan mudanya itu, jadi sebelum Melvin salah paham, ada baiknya dia bercerita lebih dulu.


Selesai menelpon, diam-diam, Stein mengirimkan pesan pada Harry mengenai keadaan Melvin dan merencanakan kejutan untuk Sheryn. "Kenapa tidak bilang dari pagi? Aku bisa langsung ke sini jika tahu kau sudah sadar."


Melvin terlihat tersenyum. "Stein bilang kau sedang ke pemakaman."


Mendengar itu, Sheryn kembali memeluk suaminya. Dia merasa sangat bersyukur karena suaminya masih bisa selamat, tidak seperti Alan.


"Alan sudah meninggal, Melvin. Dia tidak bisa ditolong." Mata Sheryn terlihat berkaca-kaca, "terima kasih karena kau sudah mau berjuang untuk tetap hidup. Aku pikir kau tidak akan melihat bayi kita ketika lahir nanti."


"Tentu saja... a-aku harus bangun. A-aku.. tidak mau kalau sampai anakku mengenali Harry...sebagai ayahnya."


Sheryn mengurai pelukannya lalu memukul lembut tangan suaminya. "Aaww... sakit... Sayang."


Wajah Sheryn langsung panik seketika saat mendengar rintihan suaminya. "Maafkan aku, Melvin. Aku tidak sengaja."


Melvin tersenyum. Dia hanya berpura-pura merasa sakit untuk mengerjai istrinya. "Tidak sakit, aku hanya bercanda."


Sheryn langsung menghela napas lega. Dia pikir dia sudah menyakiti suaminya. "Jangan menakutiku, Melvin. Aku masih trauma."


"Maaf," ucap Melvin dengan tatapan sendu.


"Lebih baik kau istrirahat. Jangan terlalu lelah."


Melvin mengangguk patuh. "Temani aku," ucap Melvin sambil menatap ke tempat tidur kosong di sebelahnya.


"Baiklah."


Sheryn naik ketempat tidur dengan hati-hati dan berbaring di sebelah suaminya. Luka tembak di dada Melvin belum sepenuhnya sembuh. Butuh waktu beberapa minggu lagi untuk sembuh. Maka dari itu, Sheryn masih berhati-hati agar tidak menyentuh lukanya.


"Melvin, Xena sedang hamil," ucap Sheryn dengan suara rendah seraya memeluk suaminya dari samping, "Dia hamil anak, Alan."


Melvin tentu saja tidak terkejut karena dia tahu apa yang sudah terjadi antara Alan dan Xena, sebelum dia mengirim Xena keluar negeri. Dia juga sangat yakin kalau itu anak Alan karena selama ini Xena memang tidak pernah terlibat dengan pria manapun dan dia sangat menjaga diri.


"Aku sempat terkejut saat mengetahui kalau Xena hamil." Sheryn mendongakkan kepalanya, "aku pikir dia hamil anakmu."


Ketika mendengar dari dokter kalau Xena hamil, tentu saja membuat Sheryn sangat terkejut karena dia tahu Xena belum menikah. Pikiran buruk mulai terlintas di benaknya tentang ayah dari bayi yang dikandung Xena.


Selama ini, Xena sangat dekat dengan suaminya, juga Melvin sering kali diam-diam bertemu dengan Xena di apartemen milik suaminya. Siapa yang tidak curiga dengan hal itu, seorang wanita dan pria dewasa bertemu di sebuah apartemen di malam hari berdua saja, terlebih lagi hubungan mereka terlihat lebih dari teman. Tentu saja hal itu menjadi alasan Sheryn mencurigai suaminya sebagai ayah dari anak yang dikandung Xena.


Melvin tersenyum tipis. "Aku tidak pernah menyentuh wanita manapun selain dirimu. Hanya kau yang berhak mengandung anakku."


Sheryn mengeratkah pelukannya. "Maafkan aku karena sempat mencurigaimu, Melvin. Aku hanya takut kalau kau menghianatiku."


"Jangan pernah meragukan aku, Sayang. Aku hanya mencintaimu."


Bersambung ...