Mysterious Man

Mysterious Man
Bertemu Alan



“Kita mau ke mana?” tanya Sheryn saat Melvin mengajaknya keluar setelah mereka selesai berganti pakaian. Setelah berenang di sore hari dan membersihkan tubuhnya, mereka berdua menghabiskan waktu di kamar dengan berbaring di tempat tidur.


“Makan malam di bawah.”


Melvin menuntun istrinya untuk masuk ke dalam lift. Dia takut istrinya akan bosan karena selalu makan di kamar, maka dari itu, malam ini dia mengajak Sheryn untuk makan di restoran hotel tempat mereka menginap. Setelah berada di restoran, mereka langsung memesan menu makanan dan segera menyantapnya setelah pesanan mereka berdua datang.


Mereka berdua tidak menyadari dari kejauhan kalau ada yang mengawasi mereka berdua sedari tadi. Selesai makan, Melvin dan Sheryn berniat untuk kembali ke kamar, tapi ternyata seseorang menghadang mereka sebelum mereka sempat keluar dari restoran.


“Kakak, ternyata kau di sini? Aku sudah mencarimu ke mana-mana beberapa hari ini.” Pria itu tersenyum lebar pada Melvin, setelah itu melirik sekilas pada Sheryn.


“Kakak?” ulang Sheryn dengan alis menyatu.


“Kakakku pasti belum bercerita padamu tentangku. Aku adalah adiknya. Alan Anderson.” Alan mengulurkan tangannya pada Sheryn, “senang bertemu denganmu lagi, Nona Sheryn.” Alan tersenyum, “maaf, maksudku, Nyonya Melvin Anderson.”


Wajah Melvin mengeras, nampak sepercik amarah dalam sorot matanya. Dia menepis tangan Alan yang mengarah pada Sheryn. “Alan, jangan mencari masalah di sini.”


Alan mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya dan melihat beberapa pengawal Melvin ada di restoran itu yang sedang menyamar seperti orang biasa.


“Kakak, jangan memperlakukan aku seperti orang lain.” Alan memasukkan satu tangannya di saku celananya lalu berkata, “aku ke sini hanya untuk bertanya padamu tentang Xena. Di mana kau sembunyikan dia?”


Sheryn yang tidak mengerti maksud dari perkataan Alan, terlihat mengerutkan keningnya. “Kenapa kau bertanya Xena pada suamiku?” Sheryn tentu saja penasaran. Melvin bilang Xena mengundurkan diri dari perusahaannya, itu artinya Melvin tidak memiliki urusan lagi dengan Xena.


“Kakak Ipar kau sungguh polos.” Alan beralih menatap Melvin, “suamimu ini sudah menyembunyikan kekasihku.”


Tidak ingin Sheryn terlibat lebih jauh, Melvin akhirnya berbicara pada Sheryn. “Tunggulah di kamar. Aku akan segera menyusulmu.”


Melihat wajah Melvin terlihat tidak ingin dibantah, Sheryn akhirnya menuruti perkataan suaminya. “Baiklah.”


"Kakak Ipar, sampai bertemu lagi."


Melvin seketika memberikan kode pada pengawalnya untuk mengikuti Sheryn saat dia sudah berjalan keluar restoran.


“Ikut aku.”


Melvin melangkah lebih dulu keluar dari restoran. Dia mengajak Alan menuju bar yang ada di hotel tersebut. Mereka masuk ke dalam ruangan VIP yang ada di bar tersebut.


“Kakak, katakan padaku, di mana kau sembunyikan Xena?” Alan lansgung bertanya pada Melvin setelah mereka berdua duduk di sofa ruangan itu.


Ekspresi wajah Melvin terlihat datar, hanya matanya terlihat lebih tajam dari sebelumnya. “Kenapa kau bertanya padaku, bukankah dia kekasihmu?”


Alan mendesis. “Kakak, aku bukanlah orang yang mudah kau bodohi. Beritahu aku di mana dia berada. Kau tidak memiliki hak untuk menyembunyikan kekasihku.”


Melvin terlihat sangat tenang. Dia duduk bersandar dengan berpangku tangan dengan kaki menyilang seraya menatap Alan dengan wajah datarnya. “Meskipun aku tahu, aku tidak akan memberitahumu. Alan, lebih baik lupakan Xena. Kau tidak pantas untuknya.”


“Alan, jangan kau pikir aku tidak tahu niat busukmu mendekati Sheryn. Aku bisa memaafkanmu saat kau berselingkuh dengan Veronica, tapi tidak dengan masalah Sheryn.”


“Aku tidak pernah berselingkuh dengan Veronica,” sanggah Alan cepat.


“Alan, kau pikir aku tidak tahu kalau kau menjalin hubungan dengan Veronica saat aku masih menjadi idiot? Aku tahu semuanya, Alan. Aku tahu kalau sering tidur dengannya. Aku tahu kau hanya menjadikanya sebagwi pelampiasan nap-su belaka. Kau sengaja merebutnya dariku agar aku terpuruk. Kau sengaja merusaknya lalu memberikannya padaku.”


Mata Alan nampak membesar sesaat, tetapi dia terlihat bisa dengan cepat menguasai diri dan kembali tenang setelah beberapa detik. “Kak, aku tidak pernah merebutnya darimu. Dia yang mendatangiku dan menawarkan tubuhnya. Kau bisa tanya sendiri padanya, apakah aku yang memaksanya atau kemauan dia sendiri.”


Melvin menyandarkan punggung ke sofa dengan wajah dinginnya. “Aku sudah tidak peduli dengan Cheryl. Kau bisa mengambilnya jika kau mau. Aku hanya ingin memperingatkanmu, jangan pernah muncul di hadapanku dan Sheryn lagi. Jangan pernah menguji kesabaranku, Alan.”


Alan tertawa mengejek. “Kak, aku memang adikmu, tapi kau tidak bisa memerintahku seenaknya. Jika kau tidak memberitahu Xena di mana, maka aku juga tidak akan menjauhi Sheryn."


“Akhir-akhir ini, aku perhatikan kau semakin berani denganku.” Suaranya datar, tapi mampu membuat lawan bicaranya tidak berkutik.


"Alan, keluargaku memungutmu hingga menjadikanmu seperti sekarang, tapi ini balasanmu terhadapaku? Jangan karena kau memakai nama keluargaku, jadi kau merasa sudah menjadi bagian dari keluarga Anderson. Aku memperlakukanmu sebagai saudaraku, tapi kau menikamku dari belakang,” ucap Melvin dengan wajah dingin.


“Kau hanyalah anak di luar nikah, Alan. Keluargaku mengangkat derajatmu, memberikan nama belakang keluargaku di namamu, memasukkanmu ke dalam kartu keluarga kami, tapi kau berani berhianat padaku. Kau seharusnya tahu, anak di luar nikah tidak bisa menjadi ahli waris. Kau tidak bisa menuntut apapun, meskipun kau darah daging ayahku. Akulah yang membujuk ayah untuk memberikan bagian untukmu, tapi kau justru berniat menguasai semua milikku,” kata Melvin dengan sorot mata tajam.


“Sewaktu kecil aku selalu membelamu jika kakek menghukummu. Membelamu jika ada yang mengejekmu anak tidak sah. Menghajar orang-orang yang sering menghinamu. Aku memperlakukanmu dengan sangat baik, tapi ini balasanmu padaku? Berkali-kali kau berusaha mencelakaiku dan berniat membunuhku, Alan.”


Alan memang anak yang lahir di ikatan pernikahan. Dia lahir dari hasil perselingkuhan ayah Melvin dengan teman kuliahnya. Karena merasa itu sebagai aib, kakek Melvin tidak mau mengakui Alan dan ibunya sebagai bagian dari keluarga Louris. Kakek Melvin menentang hubungan ayah Melvin dengan ibu Alan.


Tidak ada pernikahan antara ayah Melvin dan ibu Alan hingga akhirnya kakek Melvin meninggal. Selama tinggal di kediaman keluarga Louris, keberadaan Alan dan ibunya disembunyikan dari semua orang. Mereka berdua memang tinggal di sana, tapi sebagai orang luar.


Ibu Alan bahkan tidak diperbolehkan pergi ke mana-mana ataupun keluar rumah karena takut orang lain akan curiga dan aib keluarga mereka akan terbongkar. Ibu Alan terkurung dalam sangkar emas yang dia pikir akan membuatnya bahagia, tetapi justru membuatnya tersisih dan terabaikan.


Alan dan Melvin memang diperlakukan sangat berbeda oleh semua orang di keluarga Louris, termasuk ayah mereka sediri. Sedari kecil, Alan sering dihulim dan disiksa oleh kakek Melvin. Mungkin itu yang membuat Alan memiliki dendam yang sangat besar pada Melvin dan keluarganya, padahal sedari kecil, hanya Melvin dan ibunya yang berlaku baik pada Alan dan ibunya.


“Kak, apa maksudmu? Aku tidak pernah mencelakaimu atau berusaha membunuhmu. Seseorang pasti memfitnahku. Kau tahu sendiri, sedari kita kecil, mereka selalu menyalahkan setiap kesalahan padaku. Tidak ada yang menyukaiku.”


Melvin menyorot tajam mata hitam Alan. Disaat seperti ini pun dia masih berusaha berkilah.


“Alan, kau pikir aku tidak tahu semua kejahatan yang sudah kau lakukan padaku? Hanya karena aku pernah menjadi bodoh dan idiot, kau jadi menganggap aku bodoh dan idiot sungguhan?”


Alan menelan salivanya secara tidak sadar. Dia masih berusaha untuk menampilkan wajah tenangnya. “Kak, aku tidak pernah menganggapmu seperti itu.”


“Alan, kau adalah dalang dari kecelakaan yang menimpaku dan ayah. Aku tahu kau yang menyuruh orang untuk menjemputku di negara C kemudian menyuruh mereka menghabisiku. Beberapa kali kau menyuruh orang mencariku karena tidak berhasil membunuhku. Kau melakukan kecurangan dan penggelapan dana di perusahaan yang ada di negara C. Kau mengambil sepertiga dari kekayaanku dan menyembunyikannya di luar negeri,” ungkap Melvin.


“Kau pikir aku tidak tahu semua yang kau lakukan selama aku tidak ada? Apa perlu aku sebutkan satu persatu agar kau bisa mengingatnya?"


Bersambung...