
"Beraninya kau membu-nuh ayahku setelah apa yang sudah ayahku berikan padamu. Dia mengangkat derajatmu dari orang biasa menjadi terhormat dan ini balasannya, dengan membu-nuh ayahku?"
Ibu Laura nampak sangat terkejut. Dia tidak menyangka kalau Sheryn berani menamparnya. "Sheryn, kau percaya dengan ucapan pria itu? Dia jelas-jelas membohongimu. Orang-orang itu bisa saja adalah orang yang dia sewa untuk memfitnahku." Ibu Laura nampak berkilah dan tidak mau mengakui kejahatannya.
Mendengar itu, Melvin tersenyum sinis. "Sheryn, mereka semua memiliki bukti atas kejahatan yang sudah mereka lakukan beserta bukti saat Nyonya Ruth memerintahkan mereka untuk melakukan kejahatan mereka. Kau bisa melihatnya nanti. Mereka sudah menyerahkan buktinya padaku. Aku sudah melaporkan pada polisi dan mereka siap bersaksi kalau mereka adalah orang suruhan Nyonya Ruth."
Mendengar itu, Ibu Laura seketika terkejut dan seketika amarahnya tidak tertahan lagi. "Penghianat. Beraninya kalian menghianatiku. Aku sudah memberikan kalian banyak uang, tapi kalian justru menusukku dari belakang. Lihat saja, aku akan menghancurkan kalian semua," teriak Ibu Laura dengan suara lantang seraya berjalan dengan langkah cepat.
Melvin memberikan kode pada pengawalnya untuk memegang ibu Laura ketika melihatnya berjalan ke arah orang-orang suruhannya.
"Lepaskan aku! Aku harus memberikan mereka pelajaran. Berani mereka menghianatiku setelah menikmati uang yang aku berikan?" Ibu Laura nampak memberontak dan dan berteriak dengan wajah geram sampai urat di leher serta di dahinya terlihat menonjol.
Tentu saja ibu Laura sangat marah. Orang bayaran itu, sudah dia berikan imbalan yang sangat besar. Dia juga sudah meminta orang-orang itu menghilang dan hidup di luar negeri dengan uang dia berikan. Dia tidak menyangka Melvin bisa menemukan mereka bahkan bisa mendapatkan bukti kejahatannya.
Melvin berdiri dan menarik Sheryn ke arahnya. "Kau seharusnya memastikan mereka benar-benar menghilang serta memastikan mereka tidak akan menghianatimu dengan cara memberikan uang tutup mulut dalam jumlah yang sangat besar, Nyonya Ruth." Ibu Laura menoleh pada Melvin dengan tatapan berapi-api.
"Orang seperti mereka itu tamak dengan uang. Seharusnya kau lebih berhati-hati. Aku juga menghabiskan begitu banyak uang untuk memburu mereka agar bisa menyeretmu ke penjara," ungkap Melvin.
"Jadi, tamatlah riwayatmu sekarang. Akan kupastikan kau membusuk di penjara dan tidak akan pernah bisa keluar dari sana."
Sheryn ikut membuka suaranya. "Bibi Ruth kau sungguh wanita berhati iblis. Dengan teganya kau mencelakai Harry dan membu-nuh ayahku serta memanipulasi kematiannya juga mengambil harta yang bukan milikmu," ujar Sheryn dengan wajah geram.
"Siapa suruh ayahmu jadi orang bodoh. Dengan mudahnya dia jatuh dalam permai...."
"Plaaaak." Sheryn kembali memberikan tamparan pada ibu Laura.
"Sheryn, kau...."
"Bahkan tamparan ini tidak ada apa-apanya dengan yang sudah kau lalukan terhadap keluargaku." Sheryn lalu menoleh pada Melvin, "aku ingin dia dihukum ma-ti. Tolong lalukan apapun agar dia mendapatkan hukuman yang setimpal. Dia sudah membu-nuh ayahku dan berniat mencelakai Harry jadi aku ingin dia dihukum berat."
"Baiklah. Kau tenang saja. Kejahatan yang dia lakukan adalah kejahatan yang besar. Dia tidak akan bisa lolos kali ini. Akan kupastikan dia mendapatkan hukuman yang setimpal."
Sheryn mengangguk lega. Terlihat salah satu pengawal Melvin masuk ke dalam dan berbisik pada Melvin. "Suruh mereka masuk."
Pengawal itu mengangguk kemudian berjalan keluar dan tidak lama kemudian beberapa petugas polisi terlihat memasuki ruang tamu dan langsung menangkap Ibu Laura.
"Lepaskan aku! Kalian tidak bisa menangkapku begitu saja. Aku tidak mau pergi dengan kalian! Lepaskan aku!"
Ibu Laura berteriak histeris dan mencoba untuk memberontak saat petugas kepolisian mencoba untuk memborgolnya.
"Nyonya, aku harap kau bisa bekerja sama dengan kami. Mari ikut kami ke kantor," ujar salah satu petugas polisi bertubuh tegap.
"Aku ingin bertemu dengan pengacaraku. Lepaskan aku!" Ibu Laura nampak masih memberontak seraya berteriak histeris.
"Melvin... Sheryn... beraninya kalian berbuat seperti ini padaku. Aku tidak akan tinggal diam. Aku akan menghancurkan kalian juga!" teriak Ibu Laura ketika dia sudah dibawa oleh polisi.
"Awal kalian, aku akan membalas kalian semua!!" tambah Ibu Laura lagi.
Sheryn dan Melvin ikut berjalan keluar untuk melihat ibu Laura yang sedang diseret paksa oleh petugas polisi, tapi sebelum memasuki mobil polisi, Laura tiba-tiba muncul dengan wajah heran. Dia bergegas menghampiri ibunya.
"Ini perbuatan Melvin dan Sheryn. Kau harus membalas mereka semua, Laura," ujar Ibunya dengan wajah marah.
Laura seketika menoleh pada Melvin dan Sheryn lalu berjalan menghampiri mereka berdua. "Sheryn, beraninya kau berbuat seperti itu pada Ibuku."
Laura terlihat berang dan berjalan cepat ke arah Sheryn dan berniat untuk menyerangnya, tapi sebelum sampai, pengawal Melvin lebih dulu menahan kedua lengannya.
"Lepaskan aku! Aku akan membu-nuhmu, Sheryn!" Laura terlihat tidak lagi bisa mengendalikan amarahnya.
"Bawa dia sekalian. Wanita ini, pernah merencanakan pembunuhan terhadap Sheryn ketika mantan suaminya menceraikannya, tetapi gagal karena dia di tolong oleh Harry. Aku sudah menyerahkan semua bukti pada pengacaraku dan aku juga sudah membuat laporan terhadapnya," ujar Melvin dengan wajah tenangnya
Ketika dia petugas polisi mendekat, Laura berniat untuk melarikan diri, tetapi dia kalah cepat karena dia sudah lebih dulu ditangkap.
"Lepaskan aku!" teriak Laura dengan wajah marah.
"Sheryn, aku tidak akan membiarkan hidup bahagia setelah menghancurkan hidupku!"
Laura terus berteriak histeris ketika dia di arahkan ke mobil polisi bersama dengan ibunya. Melvin dan Sheryn hanya memandang kepergian mereka dengan mobil polisi. Setelah mobil itu menghilang, Sheryn lalu berbalik dan langsung memeluk Melvin.
"Terima kasih, Melvin. Terima kasih karena kau sudah mengungkap semuanya. Aku harap mereka bisa mendapatkan hukuman yang setimpal."
Melvin tersenyum tipis seraya memabalas pelukan Sheryn. "Iyaa, Sayang. Semuanya sudah berakhir. Aku akan memastikan mereka tidak akan lolos kali ini."
Sheryn menangis haru dalam pelukan kekasihnya. "Iyaa. Sekali lagi terima kasih."
"Aku tidak mau ucapan terima kasihmu, Sheryn."
"Lalu apa yang kau mau?" tanya Sheryn seraya mengurai pelukannya.
Melvin mengusap air mata di pipi Sheryn dengan lembut dan berkata, "Dirimu. Ikutlah denganku ke negara H. Pulanglah bersamaku," jawab Melvin seraya menatap lekat mata Sheryn.
"Baiklah, tapi sebelum itu, aku ingin mengunjungi makam ibu dan ayahku. Kau mau menemaniku, kan?"
"Tentu saja. Aku akan sangat senang kalau kau mau mengajakku. Aku juga ingin menyapa mereka, sekaligus memperkenalkan diriku."
Sheryn mengangguk malu. "Baiklah. Besok pagi temani aku ke makam kedua orang tuaku."
"Iyaa, Sayang. Lebih baik kita pulang sekarang."
"Bisakah kita mampir ke rumah sakit dulu sebelum pulang? Aku ingin melihat keadaan Harry sebentar," pinta Sheryn dengan wajah memohon.
"Sheryn, aku tidak suka kalau kau terlalu perhatian padanya. Bagaimana pun kalian pernah memiliki hubungan spesial. Aku adalah pria pecemburu. Aku tidak suka calon istriku memperhatikan pria lain. Sekarang kau adalah milikku. Tidak boleh ada pria lain di pikiran dan hatimu."
Sheryn mengulum senyumnya melihat kecemburuan Melvin. "Iyaa Sayaang. Aku tahu. Aku hanya mencintaimu. Tidak ada pria lain selain kau, Melvin."
Melvin meraih dahu Sheryn lalu memberikan kecupan singkat di bibirnya. "Aku mau selamanya kau hanya mencintaiku seorang."
Bersambung...