Mysterious Man

Mysterious Man
Menyusul



Selesai berpakain dan merias diri, Sheryn langsung turun ke bawah untuk sarapan. Rencananya hari ini mereka akan pergi ke negara B, seperti yang dikatakan oleh Melvin kemarin. Maka dari itu, sedari malam, Sheryn sudah berkemas. Saat memasuki meja makan, tidak ada siapapun di meja makan, kecuali bibi Lin dan beberapa pelayan lainnya.


"Selamat pagi, Nona Sheryn," sapa Bibi Lin dengan ramah.


Sheryn mengangguk. "Pagi, Bibi Lin. Di mana Elvin?" tanya Sheryn seraya memyapu sekitar dengan pandangannya matanya.


"Tuan Muda sudah berangkat ke bandara sejak pukul 4 pagi tadi," jawab Bibi Lin seraya menarik kursi untuk Sheryn.


"Ke bandara?" tanya Sheryn dengan wajah heran.


"Benar Nona, tuan muda akan pergi ke negara B."


Sheryn terlihat sangat terkejut mendemgarnya. Mereka berencana untuk pergi bersama, bahkan Sheryn sudah mengajukan cuti selama beberapa hari lalu, tapi tiba-tiba Melvin meninggalkannya begitu saja ke negara B tanpa bicara apapun padanya.


"Bibi Lin, Erson berangkat dengan siapa?" tanya Sheryn lagi.


"Dengan tuan Stein, Nona."


Sheryn meriah ponselnya dan menghubungi ponsel Melvin, tetapi tidak aktif. Dia kemudian mencoba menghubungi ponsel Stein, terhubung namun tidak diangkat. Setelah mencoba beberapa kali, akhirnya Stein mengangkat telponya. "Stein, aku ingin berbicara dengan Elvin, berikan ponselmu padanya."


Tidak terdengar jawaban apapun dari Stein selama beberapa detik. "Stein, aku perlu bicara dengan Erson sekarang juga," ucap Sheryn lagi.


Di sebarang sana masih hening, hingga 3 detik kemudian, terdengar suara berat dari seorang pria yang dia yakini adalah tuan Anderson. "Ada apa?"


"Kenapa kau meninggalkanku? Kau bilang ingin mengajakku ke negara B? Kau masih marah padaku karena masalah Harry?" cecar Sheryn tidak sabar.


"Kau tunggu di sana saja. Ada perubahan rencana. Aku akan langsung ke negara H setelah dari negara B."


Mendengar nada dingin Melvin, ada perasaan tidak nyaman di hatinya. Sheryn merasa kalau Melvin sedang berusaha menghindarinya karena dia masih marah.


"Aku akan menyusul ke negara B. Kirimkan saja alamat ke mana aku harus pergi. Aku bersiap-siap dulu."


Tanpa menunggu jawaban dari Melvin, Sheryn langsung mematikan panggilan telponnya.


"Bibi Lin, aku tidak sempat sarapan. Aku akan pergi menyusul Erson." Selesai mengatakan itu, Sheryn kembali ke kamarnya dan membawa barang yang sudah dia siapkan semalam.


Dia juga tidak tahu kenapa dia bersikeras ingin menyusul Melvin setelah mendegar suara dinginnya yang terkesan acuh tak acuh padanya. Padahal sebelumnya dia managatakan dengan jelas, kalau dia tidak mempercayai pria itu.


Setelah bersiap, Sheryn berpamitan pada bibi Lin setelah itu menaiki mobil yang ada di depan mansion yang sudah disiapkan khusus untuk mengantar-jemput ke mana pun Sheryn akan pergi. Sheryn tiba di bandara pukul 11 siang.


Dia terpaksa menaiki penerbangan sore hari menuju negara B karena pesawatnya delay selama 3 jam karena cuaca buruk. Dia menonaktifkan ponselnya setelah berada si dalam pesawat. Setelah menempuh perjalan selama 3 jam lebih, Sheryn akhirnya tiba di negara B. Dia langsung menghubungi ponsel Melvin, tetapi masih tidak aktif, kemudian dia menghubungi Stein.


"Halo, Nona," ucap Stein setelah mengangkat telponnya.


"Aku sudah menunggu di pintu kedatangan," ucap Stein lagi.


Sheryn mematikan ponselnya lalu berjalan ke arah pintu keluar dan ternyata Stein memang sudah berada berdiri di dekat pintu. "Selamat datang, Nona," ucap Stein sambil membungkuk sejenak.


"Di mana Erson, kenapa dia tidak ada?" tanya Sheryn setelah mengedarkan pandangannya ke sekitarnya.


"Tuan muda sedang ada urusan penting. Tuan muda memintaku untuk menjemputmu, Nona."


Setelah memasukkan koper Sheryn ke bagasi mobil, Stein mengemudikan mobilnya meningglkan bandara dan berhenti di salah satu hotel terbesar di kota B.


"Mari, Nona." Stein membimbing Sheryn menuju kamar yang sudah dipesan oleh Melvin.


Sheryn mengangguk lalu berjalan masuk ke dalam kamar diikuti Stein di belakangnya. Setelah meletakkan koper kecil milik Sheryn, Stein berkata, "Nona, Anda bisa menunggu di kamar tuan muda untuk sementara waktu."


Mendengar itu, Sheryn menatap Stein dengan wajah heran. "Di mana Erson? Aku ingin bertemu dengannya."


"Aku tidak mau menunggu di sini. Aku ingin ikut denganmu," tolak Sheryn lagi.


"Tapii, Nona...."


"Kau tenang saja, aku tidak akan mengganggunya."


Melihat sikap keras kepala Sheryn, Stein akhirnya memperbolehkannya untuk ikut dengannya. Sheryn nampak senang karena dia diperbolehlan untuk ikut. Mobil Stein kembali melaju meninggalkan hotel ke tempat Melvin berada.


"Apakah, Erson ada di dalam?" tanya Sheryn setelah mobil berhenti di depan sebuah gedung besar.


"Iyaa, Nona."


Sheryn terlihat ragu untuk sesaat, penampilannya sangat sedehana. Dia tidak tahu kalau saat ini Melvin sedang menghadiri suatu pesta. Melihat gedung yang digunakan, nampaknya orang yang mengadakan pesta tersebut berasal dari kalangan atas.


"Mari turun, Nona." Stein membukakan pintu untuk Sheryn.


Sheryn masih belum bergerak. "Apakah aku bisa masuk ke dalam?"


Sheryn bertanya dengan wajah ragu setelah melihat penampilannya sendiri. Saat ini dia mengenakan dress selutut berwarna putih tanpa lengan. Rambut panjangnya pun hanya diurai dengan bebas.


Stein tersenyum tipis mendengar pertanyaan Sheryn. "Tentu saja boleh, Nona. Tidak ada yang berani mencegahmu untuk masuk ke dalam jika tahu kau adalah kekasih tuan muda."


Wajah Sheryn memerah. "Baiklah."


Sheryn turun dengan hati-hati lalu berjalan mengikuti langkah Stein masuk ke dalam gedung. Suasana pesta sangat ramai dan meriah. Sheryn terus mengikuti langkah Stein hingga akhirnya mereka berhenti di kerumunan orang banyak di tengah pesta.


Sheryn melihat Melvin sedang bercengkrama dengan seorang wanita cantik. Mereka terlihat sangat dekat dan akrab. Beberapa detik kemudian wanita itu mendekatkan mulutnya ke telinga Melvin dan terlihat seperti sedang mencium pipi Melvin, padahal dia hanya berbisik.


"Jadi, ini urusan pentingmu sehingga kau tidak mau diganggu oleh siapapun," ucap Sheryn seraya menghampiri Melvin. Melihat dia bersama dengan wanita lain, entah kenapa dia merasa tidak suka. Dadanya memanas seketika.


Melvin mengalihkan pandangannya pada Sheryn, begitu pun dengan wanita di sebelahnya. "Siapa dia?" Wanita itu menoleh pada Melvin dengan wajah terkejut setelah menoleh sebentar pada Sheryn.


"Dia... Sheryn," jawab Melvin dengan tenang.


Wanita terdiam selama dua detik lalu berkata, "Kalau begitu aku pergi dulu."


Melvin mengangguk. Wanita itu berhenti sejenak ke dekat Sheryn, meliriknya sekilas, kemudian pergi begitu saja.


"Kenapa kau membawanya ke sini? Bukankah sudah aku bilang padamu untuk membawanya ke hotel?" tanya Melvin seraya menatap Stein dengan wajah tegasnya.


"Kenapa aku tidak boleh ke sini? Kau takut aku mengganggumu?" sela Sheryn seraya memberikan tatapan tidak sikap pada Melvin.


Melvin menoleh sejenak pada Sheryn lalu kembali menatap asistennya. "Stein, pergilah," perintah Melvin.


"Baik, Tuan Muda."


Melvin menghampiri Sheryn setelah kepergian asistennya. "Ikut aku." Melvin meraih pergelangan tangan Sheryn lalu membawanya ke sudut ruangan yang agak sepi.


"Kenapa kau menyusul ke sini? Bukankah sudah aku bilang kalau aku akan membawa pria bodoh itu setelah dari negara ini?" tanya Melvin seraya menatap Sheryn yang terlihat sedikit kesal.


"Aku kira kau marah padaku karena masalah Harry, maka dari itu, aku menyusul ke sini. Ternyata kau sedang bersenang-senang di sini," jawab Sheryn.


Melvin tersenyum. Senyuman yang sangat tipis sampai Sheryn tidak menyadari kalau Melvin sempat tersenyum. "Kau cemburu dengan Xena?" Melvin mengurung Sheryn dengan kedua tangannya yang bertumpu pada tembok.


Bersambung...