Mysterious Man

Mysterious Man
Parler



Mandy terlihat masih belum tertidur malam ini. Pikirannya masih terus terngiang tentang sikap Miranda yang telah mempermalukan keluarganya, terutama Alice. Ia juga masih mengingat ucapan Tuan Switzer yang menyinggung masa lalu pada istrinya.


Sudah Mandy kira sejak awal, ia merasa tidak asing dengan nama ibu Jack. Dan.. setelah ia berhasil mengingatnya, ternyata nama ibu Jack begitu mirip dengan mantan kekasih suaminya yang pernah di ceritakan dulu.


CKLEK!


Pintu kamar pun tiba-tiba terbuka. Patrick baru masuk ke dalam kamar dan menatap sang istri yang masih belum tertidur. Wanita itu terlihat tengah memikirkan sesuatu. Ia pun perlahan menghampiri sang istri dan duduk di sampingnya,


"Ada apa?? Kau tidak bisa tidur??" tanya Patrick lembut.


Mandy menatap sang suami sejenak dan bangkit dari tidurnya untuk duduk berhadapan dengan Patrick,


"Katakan padaku.. Apa.. kau mengenal ibu Jack tadi??" tanyanya hati-hati yang membuat Patrick sedikit terkejut.


Pria itu terdiam sejenak dan menunduk pelan,


"Apa.. Miranda Claria Switzer, sama dengan Miranda Claria yang pernah kau ceritakan itu?? Mantan kekasihmu.." tanyanya lagi.


Patrick pun menghela nafasnya pelan dan menatap sang istri sambil mengangguk pelan,


"Iya.. Dia, adalah orang yang sama" jawab Patrick yang membuat Mandy terdiam.


"Jadi.. Dia mantan kekasihmu itu??" tanyanya lagi pelan.


Patrick memang pernah menceritakan tentang masa lalunya pada sang istri sebelum mereka menikah. Ia adalah tipikal orang yang terbuka dan tidak ingin menyimpan rahasia pada istrinya.


Walaupun butuh waktu yang cukup lama untuknya melupakan Miranda, tetapi.. sejak ia mengenal Mandy, perlahan ia mulai mencoba melupakan wanita itu dan membuka hatinya untuk Mandy.


Mandy adalah orang yang bisa membuatnya merasa nyaman dan menjadi dirinya sendiri. Ia juga menceritakan tentang Miranda pada Mandy karena ia tidak ingin ada kesalahpahaman saat itu.


Saat mereka mulai dekat dulu, Mandy tidak sengaja menemukan foto-foto dirinya dan Miranda saat mereka masih menjalin hubungan. Ia tidak ingin Mandy salah paham dan mulai menjelaskan tentang hubungan dirinya dan Miranda.


Patrick memang sangat sulit melupakan Miranda saat itu. Ia masih merasa patah hati dan belum bisa move on. Patrick yang saat itu mengetahui Miranda telah menikah merasakan patah hati yang teramat dalam. Ia bahkan menjadi pria yang dingin dan tidak ingin mengenal kembali yang namanya cinta.


Namun, setelah dirinya bertemu dengan Mandy, perlahan hatinya yang patah mulai kembali utuh dan ia pun mulai kembali merasakan yang namanya cinta..


Patrick menatap istrinya dan mengangguk pelan..


Mandy pun terdiam kembali untuk beberapa saat. Patrick yang melihat sang istri terdiam pun perlahan menyentuh tangannya dengan lembut,


"Ada apa?? Apa itu mengganggu pikiranmu??" tanyanya lembut.


Mandy menghela nafasnya pelan dan menatap Patrick,


"Aku hanya.. Aku hanya berpikir, mengapa dia bisa melakukan tindakan seperti itu pada keluarga kita, terutama pada Alice" jawabnya pelan.


"Miranda.. terlihat begitu emosi dan benci pada Alice. Mungkin, karena dia tau bahwa Alice adalah putrimu" lanjutnya lagi.


Mandy pun terdiam kembali dan menatap sang suami dengan ragu,


"Mengapa dia bisa bersikap seperti itu?? Apa.. menurutmu, dia masih memiliki perasaan padamu??" tanya Mandy yang membuat Patrick sedikit terkejut.


Pria paruh baya itu pun tersenyum pelan sambil menggelengkan kepalanya,


"Tentu saja itu tidak mungkin.. Dia telah menikah dengan Tuan Switzer, tentu saja itu menjelaskan bahwa dia sudah mencintai suaminya" ucap Patrick.


"Aku.. juga tidak mengerti mengapa dia bisa bersikap seperti itu" lanjutnya.


Patrick benar-benar tidak mengerti dengan sikap Miranda. Mengapa wanita itu menatapnya dengan penuh kebencian. Bukankah seharusnya dirinya yang marah karena wanita itu dulu menggantung hubungan mereka dan menikah secara tiba-tiba dengan pria lain tanpa mengakhiri hubungan mereka terlebih dahulu??


Apa, Miranda marah karena dirinya yang lebih memilih menjadi seorang tentara dan jarang bertemu dengannya??


Patrick tau dirinya memang saat itu jarang menemui Miranda, tetapi.. setidaknya dia selalu menyempatkan mengirim surat untuk wanita itu walaupun Miranda tidak pernah membalasnya.


"Sepertinya, Miranda menyimpan sakit hati pada dirimu. Dan, dia melampiaskannya sekarang.." ucap Mandy.


"Seharusnya.. Dia tidak boleh melibatkan Alice dan Jack dalam masalah ini" lanjutnya lagi.


Mandy pun menatap sang suami yang hanya terdiam,


"Kurasa, sepertinya ada kesalahpahaman diantara kalian berdua.." ucapnya lagi yang membuat Patrick langsung menatapnya.


"Bukankah, lebih baik kalian selesaikan masa lalu yang belum selesai itu??" tanyanya pelan.


"Bukan apa-apa.. Aku hanya ingin, tidak ada kesalahpahaman diantara kalian. Dan, itu juga baik untuk hubungan Jack dan Alice ke depannya, bukan begitu??" lanjutnya lagi.


Patrick terdiam sejenak dan menghela nafasnya pelan, ia menatap sang istri dan menyentuh pipinya dengan lembut,


"Kurasa begitu.." jawabnya.


"Sudah, jangan dipikirkan lagi. Sebaiknya kita tidur" lanjut Patrick sambil membawa sang istri untuk kembali tidur di atas tempat tidur sambil memeluknya.


Sepertinya.. Ia memang harus berbicara dengan Miranda dan menyelesaikan masa lalu mereka yang belum selesai itu, pikirnya.




Pagi ini Alice terlihat berada di ruangannya untuk mengerjakan beberapa laporan. Hari ini kebetulan Jack tidak ada di kantor karena sedang pergi ke luar kota untuk melakukan pertemuan bisnis.



Pria itu telah menghubunginya sejak semalam dan mengatakan bahwa dirinya akan pergi ke luar kota. Awalnya Jack ingin mengajak Alice, tetapi Alice menolak karena tentu saja dia tidak akan di izinkan orang tuanya untuk pergi berdua saja bersama Jack.



Setelah kejadian makan malam dua hari yang lalu, Alice belum bertemu kembali dengan orang tua Jack. Walaupun kejadian itu terkadang masing terngiang di kepalanya, tetapi Alice mencoba untuk melupakannya dan bersikap biasa.




Alice menghela nafasnya pelan dan mencoba memfokuskan kembali pikirannya dan pekerjaan di depannya. Namun, tiba-tiba terdengar suara panggilan telepon di mejanya.



Kring..



Kring..



Alice pun dengan segera mengangkat panggilan itu,



"Halo selamat pagi" ucap Alice pelan.



("Halo, Alice. Bisakah kau ke ruangan Tuan Tom sekarang?? Dia memintaku untuk memanggilmu kesana") ucap Lia di seberang sana.



Alice terdiam sejenak dengan perasaan gugup dan jantung berdebar. Tidak biasanya ayah Jack memanggilnya untuk datang ke ruangannya. Apakah pria paruh baya itu ke kantor hari ini?? pikirnya.



"Baik, aku akan segera kesana" jawab Alice.



Ia pun mematikan panggilannya dan mulai melangkah ke ruangan Tom.



Ruangan Tom berada di lantai bawah sebelum ruangan Jack. Ruangan Tom memang terkadang terlihat sepi karena pria paruh baya itu sudah jarang ke kantor dan mengandalkan semuanya pada Jack.



Alice berdiri di depan pintu ruangan itu dan mengetuknya pelan,



Tok..



Tok..



Pintu pun terbuka dan memperlihatkan seorang pria paruh baya yang merupakan asisten pribadi Tom. Pria paruh baya itu menatap Alice dan menundukkan tubuhnya pelan,



"Silahkan masuk Nona" ucapnya mempersilahkan Alice untuk masuk.



Alice pun dengan ragu melangkah masuk dan melihat seseorang yang tengah terduduk dengan posisi kursi yang membelakanginya.



Lalu, tiba-tiba kursi itu pun berbalik kearahnya dan membuat Alice cukup terkejut saat melihat siapa yang tengah terduduk disana dan menatapnya dengan tajam,



"Nyo.. Nyonya Miranda.." ucapnya pelan.



Bersambung..



Halo, jangan lupa dukung cerita ini dengan kasih like, komen, vote dan hadiahnya ya 😊



Dukungan kalian sangat berarti bagi author 🥺



Dan, boleh juga di ramein ya kolom komentarnya..



Author suka banget baca komen dari pembaca tentang cerita ini 🙏😁



Oh iya, kalai baca novel jangan lupa waktu ya, apalagi sholat 5 waktunya 😁👍