
Miranda tengah duduk di meja kerjanya sambil termenung. Wanita paruh baya itu masih memikirkan perkataan Patrick semalam tentang surat-surat yang ia kirim.
Walaupun, Miranda menolak untuk percaya dengan ucapan pria itu, tetapi entah mengapa hatinya berkata lain. Ia terlihat berpikir keras dan kembali mengingat bahwa dulu ia memang tidak pernah mendapatkan satu pun surat dari Patrick. Tetapi, mengapa pria itu berkata sebaliknya??
Wanita paruh baya itu menghela nafasnya dalam sambil memijat pelan keningnya. Sebenarnya mana yang harus ia percaya?? Jika Patrick benar selalu mengirimnya surat, lalu kemana surat itu pergi?? pikirnya.
Tiba-tiba handphone wanita paruh baya itu bergetar di atas meja. Miranda menatap handphonenya dan mengangkat panggilan itu,
"Halo" ucapnya tidak bersemangat.
("Halo, Nyonya.. Aku hanya ingin mengabarkan bahwa pesawat Nona Alice dan keluarganya sudah berangkat beberapa menit yang lalu") lapornya.
Miranda terdiam sejenak dan hanya mengangguk pelan,
"Baguslah" balasnya singkat.
("Nyonya.. Sebelum pesawat Nona Alice berangkat, aku melihat Tuan Jack berada di Bandara. Ia terlihat berlari ke dalam untuk masuk dan di kejar oleh beberapa para penjaga.. Tuan Jack, terlihat menangis disana") lanjut bawahannya pelan.
Miranda seketika terdiam dan tidak dapat berbicara apa-apa. Wanita paruh baya itu menghela nafasnya dalam,
"Biarkan saja.. Yang jelas, gadis itu telah pergi. Jangan biarkan informasi keberangkatan gadis itu di ketahui oleh Jack. Dia pasti akan mencari tau kemana gadis itu pergi, jadi.. tutup mulut orang-orang itu dan jangan biarkan Jack mendapatkan informasi apapun" perintahnya.
("Baik Nyonya") balas pria di balik sana.
Miranda pun menutup panggilannya dan kembali menghela nafasnya dalam. Setidaknya, gadis itu telah menepati janjinya untuk pergi. Dan, semoga saja seiring berjalannya waktu, Jack akan melupakan gadis itu..
Tanpa Miranda sadari, Tom terlihat baru saja masuk ke dalam ruangan dan sempat mendengarkan percakapan Miranda dengan seseorang di balik telepon tadi.
Pria paruh baya itu terdiam sejenak dan perlahan berjalan menghampiri istrinya itu,
"Jadi.. kau yang menyuruh Alice untuk pergi??" tanyanya tiba-tiba yang mengejutkan Miranda.
Miranda terlihat cukup terkejut dan menatap sang suami. Ia menghela nafasnya dan mengangguk pelan,
"Iya, aku yang memintanya untuk pergi" jawab Miranda dengan tatapan datarnya.
Tom terdiam sambil menghela nafasnya dalam. Ia berjalan kearah sang istri dan menatapnya,
"Lebih baik kau jangan menasehati ku tentang hal ini karena kau telah setuju untuk memisahkan Alice dan Jack sebelumnya" sambar Miranda cepat sebelum Tom berkata apapun padanya.
Tom pun berdiri di samping sang istri dan menggeleng pelan,
"Aku tidak akan menasehati mu tentang apapun.. Aku menyerahkan semuanya padamu" balas Tom tenang.
"Tapi.. Jika hal ini sampai melukai Jack terlalu dalam.. apa yang akan kau lakukan??" tanyanya penuh arti pada istrinya itu.
Miranda seketika terdiam dan memalingkan wajahnya dari Tom,
"Dia hanya akan terluka untuk beberapa hari saja.. Mungkin, beberapa bulan atau tahun yang akan datang, Jack akan melupakan gadis itu. Dan aku juga akan mencarikan wanita lain yang lebih baik dari gadis itu untuknya" ucap Miranda tegas.
Tom pun terdiam dan tidak berkata apa-apa lagi. Ia pun hendak membalikkan tubuhnya untuk meninggalkan ruangan itu. Namun langkah Tom terhenti sejenak, dan dia pun perlahan kembali menatap sang istri,
"Alasanmu memisahkan Jack dan Alice, karena gadis itu adalah putri dari mantan kekasihmu.. Bolehkah aku bertanya satu hal padamu??" tanyanya tiba-tiba.
Miranda menatap sang suami dan menunggu pria paruh baya itu untuk melanjutkan ucapannya,
"Jika.. kau dan Patrick tidak memiliki masalah di masa lalu.. apa kau akan tetap melakukan hal ini?? Walaupun pria itu telah menikah dengan wanita lain?? Apa kau bisa menerima putrinya bersama dengan Jack??" tanyanya dengan sorot mata yang serius.
Miranda terlihat mengernyitkan keningnya dan menatap Tom dengan tidak mengerti,
"Apa maksudmu??" tanyanya tidak mengerti.
Tom terdiam sejenak dan kembali menatap Miranda,
"Aku akan bertanya pada intinya.." ucapnya terputus sejenak.
Tom menegakkan tubuhnya dan menatap Miranda dengan serius,
"Sebenarnya.. apa kau masih mencintai pria itu??" tanyanya tiba-tiba yang membuat Miranda terkejut.
DEG!!
Wanita paruh baya itu seketika terdiam dengan jantung yang berdebar. Ia mencoba menenangkan dirinya dan memalingkan wajahnya dari sang suami,
"Pertanyaan macam apa itu!! Kau tau kan aku sangat membenci orang itu??" sanggah Miranda.
Tom menatap sang istri dan tersenyum pelan,
"Kau membencinya karena dia tidak pernah membalas suratmu. Jika.. seandainya pria itu membalas surat-suratmu, apa kau akan menerima lamaranku saat itu??" tanyanya lagi yang membuat Miranda terdiam dengan gugup.
"Dan.. apakah kau benar-benar mencintaiku selama ini??" tanya Tom lagi dengan tatapan sendunya.
DEG!!
Miranda terlihat membeku di tempatnya dan tidak langsung menjawab pertanyaan sang suami. Ia terlihat gugup dan memalingkan wajahnya,
"Berhenti bertanya tentang pertanyaan konyol seperti itu! Sudahlah.. aku ingin istirahat" ucap Miranda mengalihkan pembicaraan dan melangkah keluar dari ruangan itu.
Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Miranda terlihat gelisah di ruang tamu sambil mencoba menghubungi Jack.
Orang bawahannya tadi mengabari bahwa mereka tidak menemukan Jack di apartemen barunya, bahkan Morgan pun tidak tau dimana keberadaan pria itu saat ini. Dan, hal itu membuat Miranda semakin khawatir.
Berbagai pikiran buruk terlintas di pikirannya. Apakah Jack akan melakukan hal ekstrim karena kepergian Alice?? pikirnya takut.
Wanita paruh baya itu mencoba kembali menghubungi Jack, namun sayangnya nomor pria itu tidak aktif. Ia pun semakin khawatir dan terus berjalan mondar-mandir dengan resah.
Tom yang kebetulan berjalan ke ruang tamu langsung menatap sang istri yang terlihat resah. Ia terdiam sejenak dan perlahan menghampiri Miranda,
"Ada apa?? Kau terlihat begitu resah??" tanyanya pelan.
Miranda pun seketika membalikkan tubuhnya dan menatap Tom,
"Jack.. Jack tidak ada di apartemennya. Dia juga sulit di temukan oleh orang suruhanku. Aku takut.. terjadi sesuatu yang buruk padanya.." ucapnya cemas.
Tom terdiam sejenak dan menghela nafasnya sambil duduk di atas sofa,
"Dia pasti sedang menenangkan diri karena baru saja di tinggal pergi oleh orang yang dicintainya" balas Tom sedikit menyindir pada Miranda.
Miranda menatap sang suami dan mendelik pelan sambil mencoba kembali menghubungi Jack. Namun.. tiba-tiba terdengar suara seorang pengawal yang berlari menghampiri Miranda dan Tom,
"Nyonya, Tuan!" ucapnya.
Miranda dan Tom pun seketika membalikkan tubuhnya dan menatap pengawal yang terlihat cemas itu.
Lalu, tak lama, terlihat dua pengawal yang menyusul masuk sambil membopong tubuh Jack yang terlihat berantakan dan mabuk berat. Seketika Miranda pun terbelalak dan menghampiri Jack yang juga terlihat memiliki beberapa luka memar di wajahnya,
"JACK!!" teriaknya khawatir.
Bersambung..
Halo, jangan lupa dukung cerita ini dengan kasih like, komen, vote dan hadiahnya ya 😊
Dukungan kalian sangat berarti bagi author 🥺
Dan, boleh juga di ramein ya kolom komentarnya..
Author suka banget baca komen dari pembaca tentang cerita ini 🙏😁
Oh iya, kalai baca novel jangan lupa waktu ya, apalagi sholat 5 waktunya 😁👍