Mysterious Man

Mysterious Man
Menghilang



“Kau pikir aku tidak tahu semua yang kau lakukan selama aku tidak ada? Apa perlu aku sebutkan satu persatu agar kau bisa mengingatnya?"


Melvin menatap Alan dengan wajah arogan. “Aku memiliki bukti semua kejahatanmu, Alan. maka dari itu, aku peringatkanmu untuk terakhir kalinya, jangan sekali-kali kau macam-macam denganku. Jangan berani memancing ke marahanku karena aku bisa dengan mudah mengakhiri hidupmu.”


Wajah Alan langsung menjadi pucat pasi. Dia tidak bisa lagi mengelak ataupun menyanggah perkataan Melvin. Dia tidak menyangka kalau semua kejahatannya sudah diketahui oleh Melvin.


“Uang yang kau sembunyikan di luar negeri sudah aku bekukan. Kau tidak bisa lagi menggunakannya. Itu adalah uangku. Jabatanmu sebagai CEO akan aku cabut. Pemecatanmu sudah disetujui oleh semua pemegang saham. Mulai besok kau tidak bisa lagi bekerja di perusahaan itu lagi. Kalau kau masih berani menentangku, akan aku ambil semuanya darimu hingga kau tidak memiliki apapun, termasuk Xena. Aku pastikan kau tidak akan pernah bertemu lagi dengannya. Jangan memaksaku untuk bertindak lebih jauh lagi, Alan."


Wajah Alan berubah mengeras dan terlihat api kemarahan berkobar di matanya. Tangannya juga mengepal perlahan.


“Kak, kalau kau sampai lakukan itu, aku akan berusaha menghancurkanmu dan merebut semua yang menjadi milikmu, termasuk Sheryn. Aku akan menjadikannya mainanku seperti Veronica. Kau sudah tahu bagaimana diriku, seharusnya kau juga tahu, apa yang bisa aku lakukan terhadap Sheryn.” Alan terlihat mennyeringai lalu kemudian tertawa jahat.


Tubuh Melvin seketika memancarkan aura menakutkan. Matanya nampak berkilat sesaat lalu terlihat kobaran api dalam sorot matanya.


“Alan, sebenarnya, aku berencana untuk memberikan pengampunan padamu atas semua kesalahanmu jika kau bersungguh-sungguh mengakui kesalahanmu dan meminta maaf dengan tulus padaku, tapi alih-alih meminta maaf padaku, kau justru berani menentangku," ungkap Mevin dengan wajah mengeras.


"Kau memang tidak tahu balas budi. Aku memperlakukamu dan ibumu dengan sangat baik, tapi kau justru berniat merenggut nyawaku berkali-kali. Aku menyesal bersikap mau padamu selama ini. Kalau aku tahu sifat aslimu begini, aku tidak akan menahan kakek saat akan mengusirmu dan ibumu dulu."


Alan tersenyum sinis. “Kak, seharusnya kau jangan menyalahkanku. Aku begini karena keluarga Anderson sialan kalian! Dari aku kecil ayah dan kakek tidak pernah memperlakukan aku dan ibuku dengan baik. Padahal, aku juga memiliki darah yang sama denganmu. Hanya karena aku terlahir di luar ikatan pernikahan, mereka memperlakukanku seenaknya." Dari nada bicara Alan terlihat dia sedang menahan amarahnya.


"Kau seharusnya menyalahkan kakek dan ayah, bukan aku. Kakek sering menyiksaku bahkan ibuku, tapi dia justru memperlakukanmu seperti anak emas. Seharusnya kakek tidak melimpahkan kesalahan padaku dan ibuku saja. Seharusnya ayah juga bertanggung jawab. Dia yang bermain api, tetapi kenapa hanya ibuku yang dihukum." Sorot mata Alan terlihat kecewa sekaligus penuh dendam.


Setelah mendengar perkataan Alan, sorot mata Melvin seketika berubah melembut. “Aku dan ibuku selalu memperlakukanmu dengan baik. Bahkan ibuku tidak pernah melontarkan kata-kata hinaan pada ibumu meskipun ibumu sudah berselingkuh dengan suaminya. Dia menerimamu dan ibumu dengan baik, meskipun hatinya sakit.”


“Kau dan ibumu tidak pernah menyayangi kami layaknya keluarga. Kau dan ibumu hanya mengasihani kami seperti pengemis. Aku tidak butuh rasa kasihan dari kalian berdua,” ujar Alan dengan lantang dan mata memerah.


Dari dulu Alan dan ibunya memang tidak pernah menunjukkan perlawanan sedikit pun. Mereka selalu bersikap baik. Bahkan ketika ibu Melvin meninggal karena penyakit, ibu Alan masih bersikap baik padanya. Melvin tidak pernah tahu kalau ternyata Alan dan ibunya menyimpan dendam begitu besar pada dirinya dan keluarganya selama ini.


“Aku tidak pernah mengasihanimu, Alan. Aku menyayangimu sebagai saudara. Kau sendiri yang selalu berpikir buruk tentangku. Aku membelamu karena aku menganggap kau adikku.”


“Kau pikir aku percaya? Kau pasti senang melihat penderitaanku dan ibuku selama ini. Jangan berpura-pura baik di depanku, Kak. Aku bukanlah Alan yang penakut dan mudah ditindas seperti dulu. Aku akan menghancurkanmu dan merebut semua yang menjadi milikmu, termasuk Sheryn. Aku akan menjadikannya mainanku seperti Veronica.” Alan terlihat mennyeringai lalu kemudian tertawa jahat.


Rahang Melvin mengetat. Matanya nampak berkilat sesaat lalu terlihat kobaran api dalam sorot matanya. "Jangan pernah berani kau menyentuhnya sedikitpun. Aku sungguh akan menghabisimu kalau sampai kau berani berbuat macam-macam istriku.”


"Aku sudah kehilangan Xena, tidak ada lagi yang perlu aku takutkan, sementara kau memiliki Sheryn, wanita yang sangat kau cintai. Cukup aku hancurkan Sheryn, maka hidupmu juga otomatis akan hancur."


Aura di sekitar Melvin mulai menggelap dan wajahnya terlihat mengerikan. "Kalau begitu, jangan harap kau bisa pergi dari sini, Alan."


Setelah mengatakan itu, pintu ruangan itu terbukan dan terlihat puluhan pengawal Melvin masuk dan mengepung Alan.


"Kurung dia di tempat di ruang bawah tanah," perintah Melvin.


Alan tidak melawan karena kalah jumlah. Dia tidak panik justru dia terlihat tertawa ketika pengawal Melvin memegang kedua lengannya. "Kau tidak akan bisa menahanku, Melvin. Percuma kau mengurungku. Lebih baik kau periksa istrimu. Mungkin saja saat ini, dia sudah hilang." Alan tertawa keras. Dia terlihat seperti orang gila.


"Bawa dia segera! Jangan sampai aku menghabisinya di sini!"


Akhirnya semua pengawal Melvin membawa Alan pergi setelah membuatnya pingsan terlebih dahulu. Melvin bergegas menyusul istrinya ke kamar mereka seraya menghubungi ponselnya. Panggilan telponnya tersambung, tetapi tidak diangkat. Melvin berjalan cepat menuju lift seraya menelpon asistennya.


Tiba di depan kamarnya, Melvin bergegas masuk dan ternyata benar, kamarnya kosong. Sheryn tidak ada di sana. Ponsel Sheryn pun tertinggal di kamar. Melihat istrinya menghilang, seketika itu juga amarah yang besar mengalir di tubuhnya. Sorot mata Melvin memancarkan kabut hitam yang pekat dan tubuhnya mengeluarkan aura mengerikan disekitar tubuhnya.


"Aaarrrggghhh. Aku bersumpah akan menghabisimu Alan kalau sampai kau berani menyentuh istriku."


Tidak lama setelah Melvin selesai menelpon, sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Melvin. [Bawa Xena secepatnya atau dia akan mati. Tempatnya aku yang akan atur. Jangan coba-coba hubungi polisi jika kau masih ingin melihatnya hidup.]


Setelah membaca pesan itu, Melvin segera menghubungi nomor tersebut, tapi ternyata nomor itu sudah tidak aktif. Melvin lalu mengepalkan tangannya dan langsung menghantam tembok karena sudah tidak bisa menahan amarahnya. Melvin bahkan tidak menghiraukan tangannya yang terluka.


Dia kemudian menghubungi seseorang. "Bawa Xena kembali ke sini," ucap Melvin setelah panggilanya terhubung.


"Bawa sekarang juga. Perketat keamanan dalam perjalan ke sini."


Selesai bicara, Melvin keluar dari apartemennya dengan langkah cepat. Dia berencana untuk pulang ke mansion orang tuanya.


Bersambung....