Mysterious Man

Mysterious Man
Jangan Kembali



Sheryn hanya bisa berdiri sambil menangis di depan ruang ICU. Asisten ayahnya kemudian menoleh pada Sheryn dengan wajah penasaran. "Nona, apakah ayahmu kenal dengan dia?" tanyanya sambil menoleh pada Melvin.


Sheryn berpikir sejenak. "Sepertinya tidak. Aku tidak pernah mendengar ayahku menyebut namanya." Sheryn lalu menoleh pada Melvin yang sedang berdiri di samping kirinya. "Melvin, apa kau kenal dengan ayahku atau kau pernah bertemu dengannya?"


Melvin menggeleng dengan wajah bodohnya. "Aku hanya heran, kenapa ayahmu langsung bereaksi ketika melihatnya. Aku pikir ayahmu mengenalnya," ucap Asisten Ayah Sheryn.


Sheryn termenung beberapa detik memikirkan hal itu. Dia juga merasa heran akan hal itu. Kemungkinan ayahnya mengenal Melvin sangat kecil. Ayahnya tidak pernah ke negara H. Atau mungkin ayahnya merasa tidak suka dengan Melvin, makanya tadi ayahnya berusaha menyampaikan ketidaksukaannya?


Melihat Sheryn termenung, Hendry berkata lagi. "Sheryn, aku dengar rapat umum pemegang saham dimajukan 3 hari lagi. Salah satu agendanya, bukan hanya mengenai pengangkatan Laura sebagai CEO menggantikan ayahmu, tetapi ada agenda lain yaitu masalah pemberhentianmu dari perusahaan ayamu."


Sheryn langsung menoleh. "Benarkah? Kenapa aku tidak diberitahu?"


"Mungkin pemberitahuan resminya akan diberitahu besok. Sepertinya dia akan menyingkirkanmu dari perusahaan. Aku dengar dia sudah mendapatkan banyak dukungan dari pemegang saham lainnya. Aku rasa, dia akan menggunakan segala macam cara untuk mengeluarkanmu dari perusahaan."


Sheryn memejamkan matanya sejenak sambil menghembuskan napasnya. Saat ini pikiran sedang terbagi, satu sisi mengenai kondisi ayahnya, satu sisi lagi mengenai perusahaannya. Saat dia masih termenung, dokter dan seorang perawat keluar dari ruang ICU dan Sheryn langsung menghampirinya.


"Bagaimana kondisi ayahku, Dokter?" tanya Sheryn dengan wajah cemas.


"Kondisinya menurun. Ayahmu tidak bisa dijenguk untuk sementara waktu sampai kondisinya membaik." Air mata Sheryn kembali jatuh.


"Nona, pulanglah. Aku akan menjaga ayahmu di sini."


Sheryn masih berdiri di depan ruang ICU sambil menatap ke arah tempat tidur ayahnya. Dia seperti masih enggan meningalkan ayahnya karena takut terjadi apa-apa dengannya. Sementara Melvin, sedari tadi hanya berdiri di samping Sheryn sambil memandangnya dengan wajah bingung.


"Baiklah." Sheryn memutar tubuhnya menghadap Henry, "Paman, aku titip ayahku. Tolong kabari aku mengenai kondisi ayahku."


Henry mengangguk. "Iyaa."


Sesampainya di rumah, Sheryn sudah ditunggu oleh Laura di ruang keluarga bersama dengan ibunya.


"Sheryn, besok malam, aku akan mengadakan perayaan pernikahanku yang pertama. Aku mengundang semua orang. Aku harap kau datang ke pesta pernikahan kami, jika tidak, aku akan berpikir kalau kau masih menyimpan perasaan terhadap suamiku," ucap Laura dengan senyum palsu di wajahnya.


Sheryn nampak acuh tak acuh. Baginya, Harry adalah masalalu, terlalu berlebihan jika Laura menuduhnya memiliki masih perasaan terhadap Harry.


"Benar Sheryn. Datanglah besok malam. Jangan sampai ketidakhadiranmu menimbulkan rumor buruk di luar sana," timpal Ibu Tiri Sheryn.


Semua orang tentu saja tahu mengenai hubungan Sheryn dan Harry di masa lalu sebelum menikah dengan Laura.


Sheryn tersenyum sinis ke arah Laura. "Disaat ayahku terbaring tidak berdaya, kau malah menghabiskan uang ayahku dengan mengadakan pesta mewah untuk memperingati hari pernikahanmu. Ternyata selain tidak punya hati, otakpun kau tidak punya."


Laura berdiri seraya mengepalkan tangan. "Jaga bicaramu Sheryn! Kau jangan lupa kalau suamiku salah satu konglomerat di negara ini. Hartanya lebih banyak dari ayahmu. Jadi jangan pernah kau bilang aku menggunakan uang ayahmu untuk mengadakan pesta itu," ucap Laura dengan wajah geram.


Ibu tiri Sheryn ikut berdiri. "Sheryn, selama ini Harry selalu memanjakan Laura. Apapun keinginannya selalu dipenuhi oleh Harry. Uang, bukan lagi masalah untuknya, jadi jangan berpikir yanh tidak-tidak."


Sheryn mencibir. Mana mungkin dia percaya dengan mereka berdua. Meskipun Laura mendapatkan begitu banyak uang dari Harry, tetapi orang seperti Laura, tidak mungkin merasa puas, apalagi mengenai uang. Sheryn tahu kalau selama ini, diam-diam, mereka sudah menguras harta ayahnya.


"Benarkah? Kau pasti sangat beruntung kalau begitu," cibir Sheryn dengan wajah mengejek.


Laura merasa tidak sedang mendengar perkataan Sheryn. "Sheryn, aku tahu kau masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa Harry sudah menjadi milikku. Bagaimanapun dia sudah menjadi suamiku. Tidak baik menyimpan perasaan terhadap suami orang, meskipun kau pernah menjalin hubungan dengannya, tapi semua itu sudah menjadi masa lalu, bukan?"


"Kau beraninya...." Laura langsung melayangkan tangan ke arah Sheryn, tetapi ditangkap oleh Melvin dari arah belakang.


Sheryn seketika menoleh belakang. Sorot mata Melvin menggelap. "Lepaskan aku bodoh!" teriak Laura dengan marah.


Melvin tidak mendengarkan perkataan Laura. Ibu tiri Sheryn melangkah mendekati mereka bertiga. "Sheryn, minta dia melepaskan tangan Laura," pinta Ibu Tiri Sheryn cepat. Dia hanya takut Melvin hilang akal.


"Melvin, lepaskan dia," ucap Sheryn cepat.


Saat tangan Laura terlepas, dia menatap marah pada Melvin. Sheryn kemudian menatap Laura. "Laura, lain kali, kendalikan tanganmu, jika tidak, Melvin akan mematahkannya suatu hari nanti." Kemudian dia memegang lengan Melvin. "Ayo Melvin kita pergi."


Tatapan Laura dipenuhi dengan kebencian saat melihat kepergian Sheryn dan Melvin.


Setibanya di depan kamarnya, Melvin langsung masuk ke dalam kamarnya dengan menutup pintu kamarnya dengan keras. Sheryn bahkan sangat terkejut melihat hal itu. Baru saja Sheryn akan masuk, Melvin sudah mengunci kamarnya.


"Melvin, ada apa?"


Suara gaduh terdengar dari dalam. Apa dia sedang marah denganku? Tapi kenapa?


"Melvin, buka pintunya."


Sheryn mengetuk pintu kamar Melvin beberapa kali, tetapi tidak digubris olehnya. Sheryn kemudian berjalan masuk ke dalam kamar dan berniat untuk masuk ke kamar Melvin melalui pintu penghubung, tapi ketika dia meraih handle pintu, ternyata pintu penghubung itu juga dikunci dari dalam kamar Melvin.


Sheryn termenung beberapa saat, memikirkan apa yang membuat Melvin marah. Dari rumah sakit sampai tiba di rumah, mereka masih baik-baik saja. Tidak ada masalah yang terjadi diantara mereka berdua.


"Melvin, buka pintunya. Ayo bicara baik-baik."


Suara gaduh kembali terdengar dari dalam kamar Melvin. Bahkan suara pecahan kaca terdengar nyaring di kamar Sheryn.


"Aku aku melakukan kesalahan padamu?"


Tidak ada jawaban apapun dari dalam. "Dia benar-benar seperti anak kecil," gumam Sheryn sambil menghela napas.


"Melvin, kalau kau tidak bicara, bagaimana bisa aku tahu di mana salahku."


Sangat sulit membujuk Melvin jika dia sedang marah. Seketika Sheryn memiliki ide. Dia sengaja mendiamkan Melvin beberapa saat sampai dia tenang. Ketika suasana sudah sunyi, Sheryn berteriak, "Awww, Melvin tolong aku. Aku terpeleset."


Pintu langsung terbuka dan keluarlah Melvin dari kamarnya dengan wajah panik. "Apa yang sakit?" Melvin menghampiri Sheryn yang sedang duduk di lantai sambil memegang pergelangan kakinya.


Sheryn tersenyum. "Kau menipuku," ucap Melvin dengan wajah datar dan sorot mata dingin.


"Maafkan aku Melvin. Hanya ini caranya agar kau mau keluar. Jangan abaikan aku, Melvin. Saat ini, hanya kau yang aku punya." Wajah Sheryn berubah menjadi mendung, "kalau kau marah padaku. Katakan apa kesalahanku. Jangan begini."


Melvin terdiam beberapa saat setelah itu meraih tubuh Sheryn ke dalam pelukannya. "Jangan kembali padanya. Kamu milikku."


Bersambung...