
"Apa kau sudah siap?" Harry berjalan ke arah Sheryn yang sedang duduk di sofa ruangannya.
"Sudah," jawab Sheryn singkat.
Hari ini, dia akan memperkenalkan Sheryn kepada semua para petinggi perusahaan sebagai pengganti ayahnya sementara sampai rapat umum pemegang saham diadakan. Sebenarnya, para petinggi di perusahaan ayahnya sudah mengenal Sheryn karena sebelumnya dia menjabat sebagai Direktur di perusahaan ayahnya sebelum dia diasingkan keluar negeri.
Semua yang memiliki jabatan penting dalam perusahaan tersebut akan menghadiri rapat, termasuk Laura. Laura yang saat ini menjabat sebagai Executive Vice President, sedang dicalonkan sebagai CEO di perusahaan ayah Sheryn.
Harry kemudian duduk di depan Sheryn dengan wajah serius. "Sheryn, aku dengar Laura sedang menemui beberapa pemegang saham untuk mencari dukungan pada rapat pemegang saham nanti. Apa kau sudah mempertimbangkan tawaranku kemarin?"
Informasi itu juga sudah dia dapat dari asisten ayahnya. Laura memang berniat untuk menyingkirkannya dari perusahaan agar dia bisa menjadi CEO di perusahaan ayahnya. "Harry, aku tidak bisa kembali padamu. Aku akan mencari cara untuk menggagalkan pengangkatan Laura dan mengambil posisi tersebut."
Harryn nampak kecewa mendengar jawaban darinya. "Sheryn, tanpa bantuanku, kau tidak akan bisa mengalahkan Laura. Dia sudah mempersiapkan semuanya dengan matang. Jauh sebelum ayahmu jatuh sakit."
"Harry, aku akan merebut semua yang menjadi milikku dari Laura. Aku akan membalas apa yang sudah dia lakukan padaku dulu. Jika kau ingin membantu Laura silahkan saja. Maka, aku tidak punya pilihan selain melawanmu juga." Sheryn kemudian berdiri.
"Lebih baik kita pergi sekarang. Aku tidak mau membuat orang lain menunggu." Sheryn berjalan lebih dulu ke arah pintu.
Sepulang bekerja, Sheryn langsung menemui Melvin di kamarnya. Hari ini, Melvin lebih banyak berdiam diri di lantai 2 sambil menonton televisi di ruangan bersantai. Sepertinya, ibu tirinya tidak berani mengganggu Melvin lagi setelah Sheryn memperingatkannya kemarin.
"Melvin, kau sedang apa?"
Melvin yang sedang duduk di samping jendela sambil menatap ke arah luar, seketika menoleh ke samping kiri setelah mendengar suara Sheryn. Melvin, terlihat segar, sepertinya dia baru saha selesai mandi.
"Apa hari ini ada yang mengganggumu?" tanya Sheryn setelah berdiri di depan Melvin.
Melvin menggeleng pelan dengan wajah bodohnya. "Tidak."
Sheryn menunduk menatap Melvin sambil tersenyum. "Malam ini, kita akan pindah kamar." Wajah Melvin nampak bingung dan bodoh seperti biasanya.
Kamarnya dan kamar Melvin sudah selesai direnovasi. Dengan adanya pintu penghubung akan memudahkan Sheryn untuk mengawasi Melvin saat malam hari.
Sheryn kemudian mengajak Melvin untuk ke kamar mereka. Barang-barang Sheryn dan Melvin sudah dipindahkan ke kamar mereka masing-masing sehingga mereka bisa langsung menempati kamar mereka.
"Melvin, kalau ada apa-apa atau kalau kau ingin menemuiku, kau bisa lewat pintu ini."
Sheryn menunjukkan pintu yang langsung terhubung ke kamar Melvin. Seperti biasa, Melvin menampilkan wajah bodohnya, meskipun begitu dia masih mengangguk.
Pada malam hari, saat Sheryn akan turun ke lantai bawah, tangannya ditarik oleh seseorang menuju salah satu kamar kosong yang berada di kamar atas.
"Harry, apa yang kau lakukan? Kenapa kau membawaku ke sini? Cepat buka pintunya sebelum ada yang melihat," ucap Sheryn dengan nada tinggi.
Bukannya membuka Harry justru mendekati Sheryn perlahan dengan wajah memerah. "Sheryn, ibu bilang, pria idiot itu adalah calon suamimu, apa itu benar? Apa kau sungguh akan menikah dengannya?" Bau alkohol yang menyengat tercium dari mulut dan tubuh Harry.
"Itu adalah urusanku. Tidak ada hubungannya denganmu," jawab Sheryn dengan wajah dingin.
Harry tertawa dalam keadaan setengah sadar. "Sheryn, kau hanya boleh menjadi milikku. Kau tidak boleh menikah dengannya." Sheryn terus melangkah mundur ketika Harry terus saja maju mendekatinya.
"Harry, kau mabuk." Sheryn mulai terlihat takut saat melihat tatapan buas dari Harry yang seolah akan menerkam dirinya hidup-hidup.
Melihat Harry yang nampak mulai meracau tidak jelas, Sheryn menjadi panik. Dia tidak bisa berteriak. Dia takut kalau Laura dan ibu tirinya tahu mereka berada di dalam kamar yang sama, akan membuat masalah semakin besar.
"Harry... jangan macam-macam. Laura akan marah jika dia tahu kau membawaku ke sini."
Harry kemudian memeluk Sheryn secara tiba-tiba. "Aku tidak peduli dengannya. Aku akan menceraikannya. Kembalilah padaku, Sheryn. Menikahlah denganku."
Sheryn memberontak, berusaha melepaskan diri dari Harry, tetapi tidak bisa. "Harry, cepat lepaskan aku."
"Sheryn, malam ini kau tidak bisa keluar dari sini sebelum kau berjanji kembali padaku."
Sheryn terus memberontak dan itu semakin membuat Harry marah. "Harrry, kau jangan gila! Cepat lepaskan aku."
Harry tidak memperdulikan pukul Sheryn yang mengenai punggungnya. "Kau yang sudah membuatku gila. Sheryn ayo menikah. Kita akan hidup bahagia bersama anak-anak kita nanti. Aku akan...."
Ucapan Harry terpotong ketika pintu kamar tiba-tiba terbuka. Mereka berdua menoleh dan melihat Melvin berdiri dengan ekspresi mengeras dan tatapan mengerikan. Detik kemudian Melvin berjalan mendekat, menarik baju Harry lalu memukulnya hingga jatuh tersungkur.
"Melvin, cukup!" Sheryn menghadang Melvin ketika melihatnya akan mendekati Harry lagi. Dia takut kejadian seperti dulu terulang lagi.
Melvin mengalihkan pandangannya ke arah Harry. Kobaran api di matanya terlihat sangat jelas, membuat aura yang terpancar dari sekujur tubuhnya terasa mengerikan.
"Melvin, ayo kita pergi dari sini. Jangan memukulnya lagi."
Harry berusaha berdiri dengan tubuh tak seimbang lalu menyeringai. "Pria tidak berguna sepertimu, tidak pantas untuk Sheryn. Lebih baik dia bersamaku.
Mendengar hal itu, Melvin berniat melangkah, tetapi dihentikan oleh Sheryn. Dia harus segera membawa Melvin keluar dari sana, jika tidak, salah satu dari mereka pasti akan terluka dan Melvin tidak akan berhenti sampai lawannya tidak berdaya. Dia bisa merasakan kemarahan Melvin sama seperti malam itu. Matanya kelamnya nampak begitu menakutkan.
"Melvin, jangan dengarkan dia. Ayo kita pergi." Sheryn menarik tangan Melvin, tapi dia mengeraskan tubuhnya. Nampaknya dia enggan pergi dari sana sebelum membuat Harry terkapar.
"Melvin, aku tidak akan mau denganmu lagi, jika kau tidak mau mendengarkan aku."
Perlahan tangan Melvin melemah, dia kemudian menoleh pada Sheryn. "Menurutlah. Ayo pergi."
Kali ini Melvin tidak menolak lagi. Dia mengikuti langkah Sheryn ketika membawa dirinya ke kamarnya. Meskipun dia menurut, tapi aura dingin dan menakutkan masih terpancar dari tubuhnya. Sesampainya di kamar, Sheryn langsung mengunci pintunya lalu berbalik ke menatap Melvin yang sedang berdiri di belakangnya.
"Melvin, kau tidak boleh memu ...."
Sebelum menyelesaikan ucapannya, Melvin lebih dulu membungkam mulut Sheryn dengan bibirnya. Sheryn bahkan membelalakkan matanya ketika Melvin melu*mat bibirnya sedikit kasar. Nampaknya semua amarahnya ditumpahkan dalam ciuman itu.
Entah apa yang merasuki dirinya hingga membuat Melvin hilang kendali. Sheryn nampak hanya diam seperti patung dan tidak bergerak sama sekali sampai Melvin melepaskan ciumannya.
Dia kemudian menatap iris hitam Sheryn dengan tatapan dalam. "Jangan dekat dengannya lagi. Kamu milikku." Setelah mengatakan itu, dia berjalan ke arah pintu penghubung kemudian menutup pintu itu dengan keras.
Wajah Sheryn bersemu merah. Dengan tatapan yang tertuju pada pintu penghubung, dia bergumam dalam hati.
Ada apa dengannya? Kenapa dia tiba-tiba berubah seperti itu? Apa jangan-jangan itu kepribadian aslinya?
Bersambung...