Mysterious Man

Mysterious Man
Menyelamatkan Sheryn



Saat dalam perjalanan, Melvin mencoba menghubungi Alan untuk memberitahukan kalau dirinya sedang menuju ke lokasi di mana mereka berada. Melvin hanya pergi berdua saja dengan Xena dengan mengendarai mobilnya. Alan melarang Melvin untuk membawa orang lain selain Xena ke sana.


Tentu saja Alan mengancam akan menyakiti Sheryn jika dirinya berani membawa polisi, pengawal atau orang lain. Semua orang Melvin juga sudah ditarik dari sana atas permintaan Alan. Setibanya di sana, tubuh Melvin diperiksa oleh seorang pria bertubuh tegap untuk memastikan Melvin tidak membawa senjata. Ternyata gudang tersebut sudah dikelilingi oleh orang Alan.


"Jangan takut, aku ada di sini," ucap Melvin ketika melihat wajah Xena yang nampak tegang.


Xena mengangguk lalu mengikuti langkah Melvin dan anak buah Alan yang sedang menuntun mereka untuk masuk ke dalam gedung tersebut. Ketika tiba di dalam sebuah ruangan besar yang kosong, Melvin dan Xena langsung disambut oleh Alan yang sedang duduk sebuah kursi dengan kaki yang menyilang.


"Selamat datang, Kakakku tersayang," sambut Alan dengan senyum jahatnya.


"Di mana istriku?" tanya Melvin ketika tidak melihat keberadaan Sheryn di ruangan itu.


Alan mengabaikan pertanyaan Melvin dan justru menatap pada wanita yang hampir membuatnya gila yang sedang berdiri di belakang Melvin. "Xena, kemarilah." Alan menggerakkan telapak tangan ke arahnya meminta Xena untuk mendekat.


Tangan Xena nampak gemetar saat melihat Alan memegang sebuah pistol di tangan kanannya. Saat dia akan bergerak, Melvin langsung merentangkan tangan kirinya, menghalangi Xena untuk melangkah.


"Perlihatkan dulu di mana istriku," ucap Melvin dengan wajah tegas.


Alan beralih menatap ke arah anak buahnya yang sedang berdiri di dekatnya lalu berkata, "Bawa dia ke sini."


Tidak lama berselang, pria itu kembali datang bersama dengan wanita yang matanya ditutup oleh kain hitam. Pria itu mendudukkan Sheryn di kursi yang ada di samping Alan lalu membuka penutup matanya setelah diperintahkan oleh bosnya.


"Sheryn," panggil Melvin. Perasaan bersalah, marah, iba sekaligus rindu bercampur jadi satu saat melihat kondisi istrinya. Mata Sheryn terlihat membengkak, wajah serta hidungnya memerah karena terlalu banyak menangis.


Sheryn terlihat mengerjap beberapa kali dan saat dia bisa melihat dengan jelas wajah suaminya, matanya mulai berkaca-kaca. "Melvin."


Melvin mengepalkan tangannya saat melihat istrinya begitu ketakutan. "Sheryn, tenanglah. Aku di sini. Aku akan menyelamatkanmu," ucap Melvin menenangkan.


Buliran bening menetes begitu saja di pipi Sheryn. "Melvin, aku ingin pulang," ucap Sheryn pelan dengan tangisan yang sudah pecah.


"Iyaa. Setelah ini kita akan pulang."


Ala tertawa mengejek mendengar itu. "Kau sudah melihat istrimu, sekarang serahkan Xena padaku," sela Alan.


Melvin beralih menatap pada Alan lalu berkata, "Tidak bisa. Kita harus melakukan pertukaran bersama-sama. Aku tidak akan menyerahkan Xena, jika kau tidak melepaskan istriku."


Alan nampak mulai marah. "Jangan mencoba memancing amarahku, Kak. Kau tidak berhak bernegoisasi denganku." Alan mengarahkan senjata api ke kepala Sheryn lalu berkata, "apa kau ingin aku meledakkan kepala istrimu sekarang juga?"


Sheryn terlihat terkejut, tubuh serta bibirnya bergetar hebat karena takut, meskipun begitu, Sheryn nampak hanya diam dan tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Hanya air matanya saja yang kembali menetes di pipinya.


"Alan...! Kau tidak akan bisa lolos dari sini kalau kau berani melukai istriku. Aku tidak akan melepaskanmu," ancam Melvin sambil menggertakkan giginya.


Xena terlihat maju selangkah lalu mencoba membujuk Alan. "Alan, tolong lepaskan Sheryn. Jangan menyakitinya," mohon Xena dengan lembut, "bukankah kau menginginkanku?" tanya Xena, "aku akan ikut denganmu. Sheryn tidak tahu apa-apa. Aku yang bersalah padamu."


Alan menarik tangan yang memegang senjata api dari kelapa Sheryn lalu menatap ke arah Xena. Tatapannya menyiratkan luka dan kerinduan yang dalam.


"Xena, kenapa kau tega menghianatiku? Padahal, kau tahu kalau aku sangat mencintaimu. Aku rela melakukan apapun untukmu, tapi ternyata kau menghianatiku demi kakakku."


"Alan, maafkan aku." Hanya kata itu saja yang mampu diucapkan oleh Xena. Dia tidak mau membela diri karena dia memang salah.


Wajah Alan terlihat kecewa dan sedih. "Xena, kenapa kau tega menghianatiku? Kata cinta yang pernah kau ucapkan padaku, jadi hanya kebohongan belaka untuk menipuku?"


Xena nampak bungkam. "Jawab aku Xena, apa kau masih mencintainya?" tunjuk Alan seraya mengarahkan senjata api kepada Melvin, "itukah alasannya kau berpura-pura menjadi kekasihku karena kau ingin membantu cinta pertamamu? Kau sengaja menipuku demi dia? Jadi kau masih mencintainya?" cecar Alan dengan wajah marah.


Xena menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Aku sudah tidak mencintainya, Alan."


"Bohong!!" teriak Alan dengan wajah marah.


Wajar saja kalau Alan tidak percaya dengannya lagi, karena dia memang sudah menghancurkan kepercayaan Alan.


"Awalnya, aku memang membantu Melvin karena aku mencintainya, tapi tanpa kusadari benih cintaku padamu mulai tumbuh karena seringnya kita menghabiskan waktu bersama. Aku sungguh mencintaimu, Alan," ungkap Xena dengan tatapan berkaca-kaca.


Sheryn nampak terkejut mendengar penuturan Xena yang mengatakan kalau dulu dia mencintai suaminya.


"Jangan berani menipuku lagi, Xena. Kau tidak akan bisa menanggung akibatnya," ancam Alan dengan sorot mata tajam.


"Aku berkata yang sebenarnya, percaya atau tidak, itu terserah padamu." Percuma saja menjelaskan pada Alan kalau dia tidak mau mendengarkannya jadi Xena memilih untuk berbicara lebih banyak.


"Kalau kau mencintaiku, kenapa kau menghianatiku dan justru membantu Melvin disaat kau sudah menyadari perasaanmu? Kau bahkan menghilang setelah apa yang sudah terjadi dengan kita."


Xena menunduk ke perasaan bersalah. "Aku minta maaf karena sudah pergi begitu saja, Alan. Aku hanya merasa bersalah padamu."


"Alan, aku yang sudah memin...."


"Doooooorrrrr."


Ucapan Melvin terpotong ketika mendengar sebuah tembakan lepas dari pistol yang dipegang oleh Alan.


"Aaaaaaaa." Sheryn berteriak seraya menutup kedua telinganya ketika mendengar suara tembakan di udara.


"Diam...!!" teriak Alan dengan wajah marah. Dia terlihat masih mengarahkan pistol ke arah Melvin, "aku sedang berbicara dengan Xena, jangan ikut campur dalam pembicaraan kami, jika tidak, peluru selanjutnya akan menembus kepalamu," ancam Alan sambil mengarahkan pistolnya ke arah kepala Melvin.


"Jangan, aku mohon. Lepaskan Melvin, Alan. Aku yang salah. Aku sendiri yang menawarkan diri pada Melvin untuk membantunya. Dia tidak pernah memaksaku," ujar Xena dengan wajah panik.


Alan terlihat mulai kehilangan akal sehatnya ketika melihat Xena justru melindungi kakaknya. "Diam, Xena... diam!!" teriak Alan sambil mengarahkan pistolnya pada Xena. "jangan memancing amarahku dengan membelanya, Xena. Aku memang mencintaimu, tapi kalau kau begini, lebih baik kau tidak ada."


"Alan, kenapa kau tidak membunuhku saja?" ujar Melvin dengan wajah serius, "ini masalah kita berdua, jangan libatkan istriku dan Xena. Bukankah dari awal kau mengincar nyawaku? Kau bisa membunuhku asalkan kau melepaskan mereka berdua," lanjut Melvin lagi.


Xena menoleh pada Melvin dengan wajah terkejut, sementara Sheryn menggelengkan kepalanya seraya menatap ke arah suaminya dengan air mata yang kembali menetes di pipinya.


Mendengar perkataan Melvin, Alan mengeluarkan seringai iblisnya. "Kakak, kau pikir aku tidak berani membunuhmu di depan Xena dan istrimu?" Alan berdiri kemudian mengarahkan pistol pada Melvin, "kalau memang itu permintaanmu, dengan senang hati aku akan mengabulkannya."


Bersambung.....