Mysterious Man

Mysterious Man
Permintaan Sheryn pada Zahn



Kata-kata terakhir Sheryn membuat ekspresi wajah Melvin menjadi suram. "Aku akan membawamu kembali ke panti. Karena aku tidak bisa membawa pergi bersamaku. Mungkin saja keluargamu sedang mencarimu saat ini."


"Jangan pergi," ucap Melvin setelah lama terdiam.


Sheryn menggengam tangan Melvin untuk membujuknya. "Tidak bisa Melvin, rumahku bukan di sini. Ayahku sedang sakit dan aku harus pulang. Aku akan membelikanmu ponsel agar kita tetap bisa berkomunikasi."


"Tidak mau." Melvin memalingkan wajahnya ke samping. Terlihat jelas kalau dia sedang marah dan kecewa.


"Melvin, dengarkan aku. Ada orang jahat di sekeliling ayahku. Jika aku tidak pulang, tidak akan ada yang melindungi ayahku. Setelah sekian lama, akhirnya aku memiliki alasan untuk pulang."


Meskipun Sheryn membenci ayahnya karena sudah membuangnya ke luar negeri, tetapi dia tetap ayahnya. Dia juga harus melindungi perusahaan dan ayahnya dari niat jahat ibu tiri dan saudara tirinya.


"Ikut. Aku tidak mau di sini."


"Melvin, aku juga sebenarnya ingin mengajakmu, tetapi tidak bisa. Ini negaramu, keluargamu ada di sini, meskipun aku tidak tahu entah di mana saat ini mereka berada. Mereka tidak akan bisa menemukanmu jika kau ikut denganku karena aku tidak akan kembali ke sini lagi. Aku mohon mengertilah Melvin."


Melvin melepaskan tangan Sheryn dengan wajah marah dan sorot mata dingin. "Pembohong! Kau membuangku lagi." Melvin pergi ke kamarnya dan membanting pintu dengan keras.


Melihat Melvin nampak marah, Sheryn kemudian menyusul ke kamarnya. Saat dia akan masuk, ternyata pintu terkunci. "Melvin, buka pintunya."


Terdengar suara gaduh dari dalam kamar Melvin. Seperti barang-barang yang sengaja dijatuhkan ke lantai. "Melvin, buka dulu pintunya. Ayo kita bicara baik-baik."


Terdengar suara hantam benda padat dari dalam kamar Melvin. Sepertinya dia sedang mengamuk dan membanting barang-barang di dalam kamarnya.


"Melvin, maafkan aku. Aku tidak berniat membuangmu. Aku hanya takut keluargamu mencarimu jika kau ikut denganku." Sheryn terus mengetuk sambil membujuk Melvin agar mau membuka pintunya.


Suasana seketika hening, tiga detik kemudian, terdengar suara benda pecah belah terjatuh ke lantai. "Melvin, buka pintunya agar kita bisa bicara. Kalau kau ingin ikut denganku, kau harus membuka pintu dulu."


Suasana kembali hening. Tidak ada suara apapun dari kamar Melvin. "Melvin, tolong buka pintunya," mohon Sheryn, "kalau kau tidak mau membuka pintunya, aku sungguh akan pergi sekarang." Bukannya membuka pintu, suara dari dalam semakin gaduh.


Sheryn menghela napas panjang. Dia pikir kalau dia mengatakan hal itu, Melvin akan membuka pintunya, tetapi dia justru semakin marah. "Baiklah, aku akan mengajakmu. Kita akan pulang bersama ke negaraku," ucap Sheryn dengan wajah pasrah, "keluarlah agar kita bisa bicara."


Setelah menunggu beberapa detik, pintu kamar Melvin akhirnya terbuka. Sheryn segera masuk ke dalam kamar Melvin dan dia sangat terkejut ketika melihat kamar Melvin sudah berantakan. Semua barang sudah berada di lantai dalam keadaan hancur, tempat tidurnya pun sudah acak-acakkan. Pecahan kaca yang dia yakini sebagai gelas yang dibanting ke lantai juga bertebaran di mana-mana.


"Melvin, ayo keluar." Dia harus menjauhkan Melvin dulu dari kamarnya agar tidak terkena pecahan kaca.


Melvin menurut dan berjalan mengikuti Sheryn menuju ruang makan. Setelah mereka duduk, Sheryn melihat punggung tangan Melvin memerah. "Melvin maafkan aku." Sheryn meraih tangan Melvin lalu meniupnya dengan lembut selama beberapa menit.


Sheryn menatap serius wajah Melvin. Karena Melvin memalingkan wajahnya, sulit bagi Sheryn untuk menebak ekspresinya dari samping.


"Melvin, apa kau yakin ingin ikut denganku?"


Melvin segera mengangguk, tetapi dia belum juga menatap ke arah Sheryn. "Kau tidak akan bisa bertemu dengan keluargamu lagi jika kau ikut denganku. Apa itu tidak jadi masalah bagimu?" tanya Sheryn dengan lembut.


Kali ini Melvin beralih menatap Sheryn. "Iyaa." Tatapan matanya sudah melembut, tapi ekpresi wajahnya sulit ditebak.


"Baiklah. Aku akan mengajakmu pulang bersamaku, tetapi karena kau akan ikut denganku, kita harus membuat identitas baru untukmu."


Melvin tidak memiliki identitas diri sebelumnya, jadi Sheryn akan mencari orang untuk bisa membantunya membuatkan indentitas baru dan paspor untuk dirinya dan Melvin. Mereka juga harus mengurus visa.


Sheryn mukai berpikir, untuk pulang ke negaranya, dia membutuhkan uang yang cukup besar. Uang yang dia miliki saat ini hanya sedikit, bahkan tidak cukup untuk membuat indentitas baru untuk Melvin, apalagi tiket untuk pulang.


Seketika Sheryn memiliki ide. Dia mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang. Selesai menelpon dia masuk ke kamar Melvin untuk merapihkan dan membersihkan kamarnya. Sementara itu, dia menyuruh untuk Melvin duduk di ruang televisi. Satu jam kemudian, ada suara ketukan pintu di rumah Sheryn. Dia baru saja selesai mandi setelah membersihkan kamar Melvin.


"Maaf Zahn sudah menelponmu malam-malam. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu." Orang yang datang adalah atasan Sheryn. Dia satu-satunya orang yang bisa membantunya saat ini.


"Tidak apa-apa." Sebenarnya waktu masih menunjukkan pukul 8 malam ketika Zahn tiba di rumah Sheryn. Hanya saja dia merasa tidak enak hati karena mungkin dia sudah mengganggu waktu istirahatnya.


Sheryn kemudian mempersilahkan atasannya masuk lalu membawakan minum untuknya, sementara Melvin masih setia duduk di ruang televisi.


"Memangnya ada apa?" tanya Zahn ketika melihat Sheryn nampak diam setelah mereka duduk di ruang tamu.


Sheryn terlihat ragu. "Kau pasti sudah tahu kalau aku bukan warga negara asli di sini. Aku warga negara asing," ucap Sheryn hati-hati.


"Iyaaa, aku tahu. Lalu?"


"Begini... ayahku sedang sakit. Aku berencana untuk pulang ke negaraku bersama kakakku, tetapi masalahnya, pasporku ditahan oleh ayahku karena masalah keluargaku. Bisakah kau membantuku untuk membuatkan indentitas baru untuk kakakku dan untuk diriku?"


Kalau dia pulang dengan identitas aslinya. Dia takut kalau ibu tiri dan saudara tirinya mengetahuinya sehingga dia tidak akan bisa pulang ke negaranya, bahkan tidak akan bisa bertemu dengan ayahnya. Dia harus menggunakan identitas baru agar mereka mengira kalau Sheryn masih di luar negeri.


Ayahnya sedang sakit, Sheryn juga tidak tahu siapa yang mengirimkan pesan padanya yang memberitahukan mengenai kondisi ayahnya. Nomor itu sudah tidak aktif. Sheryn merasa heran, bagaimana bisa orang itu nahu momor ponselmlnya. Nomor Sheryn saat ini adalah nomor baru. Ponselnya sempat hilang ketika dia baru saja tiba di negara J, jadi bisa dipakstikan tidak ada yang tahu nomor ponsel barunya.


Dahi Zahn mengerut sesaat. Permintaan Sheryn sedikit aneh baginya, tetapi mekskipun begitu, Zahn tidak bertanya lebih lanjut mengenai alasannya pembuatan indetitas baru untuknya dan Melvin karena dia yakin kalau Sheryn pasti memiliki alasan kuat dibalik itu.


"Tapi sebelum itu, aku akan memberitahumu sesuatu." Sheryn menjeda ucapannya sejenak kemudian berkata, "aku tidak memiliki uang. Aku berencana meminjam uangmu untuk tiket pulang ke negaraku dan untuk pembuatan identitas baru, paspor dan lainnya. Aku janji akan langsung menggantinya setelah aku tiba di negaraku."


Zahn tidak butuh waktu lama untuk berpikir. Dia langsung menjawab dengan cepat. "Baiklah, aku akan mengurus semuanya. Aku juga akan memberikanmu uang, tidak perlu kau kembalikan, tapi aku punya syarat," ucap Zahn dengan wajah serius.


"Apa?" tanya Sheryn dengan cepat.


Bersambung....