
"Melvin, ayo bersiap. Aku akan mengajakmu jalan-jalan hari ini." Sheryn mengajak Melvin untuk masuk ke kamarnya dengan wajah bahagia. Ini kesempatannya untuk mengajak Melvin untuk bersenang-senang selagi dia libur.
Sheryn lalu berjalan ke arah koper milik Melvin yang dibawa oleh Stein kemarin. Sheryn mulai membongkar pakaian Melvin dan dia sedikit terkejut ketika melihat merk pakaian yang ada koper tersebut. Semua pakaian itu berasal dari brand terkenal.
Sheryn kemudian menoleh pada Melvin yang sedang duduk di atas tempat tidurnya. "Melvin, apa ini sungguh pakaianmu?" Dia hanya takut kalau Stein salah membawa koper milik bosnya.
Melvin mengangguk dengan bodoh. "Tapi dari mana dia mendapatkan uang untuk membeli pakaian ini?" gumam Sheryn dalam hati.
Tidak mau banyak berpikir, Sheryn akhirnya meraih satu stel pakaian bergaya kasual kemudian memberikam pada Melvin. "Ini gantilah pakaianmu. Setelah ini kita baru pergi."
Melvin meraih pakaian itu lalu berdiri membuka bajunya. "Melvin, kenapa kau mengganti pakaianmu di sini?" Sheryn langsung membalik tubuhnya ketika melihat Melvin melepaskan bajunya di depannya.
Melvin tersenyum tipis melihat Sheryn yang nampak malu. "Ganti pakaianmu di kamar mandi Melvin, jangan di sini," lanjut Sheryn lagi saat tidak mendengar jawaban apapun darinya.
Ketika mendengar suara pintu kamar mandinya ditutup, Sheryn baru menoleh ke belakang dan setelah itu, dia baru menghela napas saat melihat Melvin sudah tidak ada di sana.
Mereka berdua sama saja. Selalu seenaknya berganti pakaian di depanku.
Sheryn memegang wajahnya yang mulai memanas sebentar setelah itu dia keluar dari kamarnya. Dia hanya takut melihat hal yang tidak seharusnya dia lihat. Setelah menunggu selama beberapa saat, Melvin terlihat membuka pintu kamarnya.
"Kau sudah selesai ganti baju?"
Melvin mengangguk kemudian Sheryn kembali masuk ke dalam kamarnya. Dia menyuruh Melvin untuk duduk di atas tempat tidur setelah itu, Sheryn menyisir dan merapihkan rambut Melvin. Sebelum pulang ke negara C, Melvin lebih dulu memotong rambutnya agar ada sedikit ada perbedaan dengan dirinya yang asli.
Selesai bersiap, Melvin dan Sheryn diantar oleh Stein ke salah satu mall terbesar di kota K. "Nona, jika kau ingin pulang, telpon saja aku. Aku akan datang menjemputmu," ucap Stein setelah tiba di depan loby mall yang dia tuju.
"Baiklah. Terima kasih, Stein."
Setelah melihat anggukan Stein, Sheryn lalu menoleh pada Melvin. "Ayo Melvin, kita turun."
Melvin mengikuti Sheryn turun dari mobil dan berjalan bersama masuk ke dalam mall itu. Mereka berkeliling mall setelah makan siang. "Melvin, apa kau mau es krim?"
Sheryn masih memperlakukan Melvin seperti anak-anak. Sama seperti saat dulu mereka masih tinggal di negara J. Dia tidak tahu kalau Melvin yang sekarang, bukanlah Melvin manja yang memiliki IG anak-anak dan idiot.
"Mau," jawab Melvin dengan wajah yang dibuat sebodoh mungkin.
"Kalau begitu, ayo kita cari es krim." Sheryn tersenyum lalu menarik tangan Melvin menuju gerai es krim yang terkenal di mall tersebut.
"Kau mau yang mana?" tanya Sheryn seraya menoleh pada Mevin setelah mereka tiba di tempat yang menjual es krim.
Melvin mengangkat kepalanya menatap ke arah papan menu yang tergantung di atas. Setelah melihat semua menu, Melvin akhirnya menujuk salah satu es krim yang diinginkannya. "Aku mau itu."
Sheryn mengikuti arah jari telunjuk Melvin. "Baiklah." Sheryn memesan 2 es krim dengan rasa berbeda yaitu rasa coklat dam matcha.
Setelah selesai membeli es krim, Sheryn mengajak Melvin untuk duduk tidak jauh dari tempat mereka membeli es krim. "Ini makanlah," ucap Sheryn seraya memberikan es krim milik Melvin, "setelah ini aku akan mengajakmu ke tempat yang kau suka."
Melvin mengambilnya es krim, tetapi tidak langsung memakannya. Dia justru memandang Sheryn yang terlihat sangat menikmati es krimnya.
"Kenapa kau tidak makan?" tanya Sheryn dengan wajah heran. Melihat Melvin memandang ke arah es krimnya, Sheryn lalu berkata, "kau mau es krimku?" tanya Sheryn seraya mengarahkan es krimnya ke hadapan Melvin.
"Mau," jawab Melvin sambil mengangguk dengan bodoh.
"Bagaimana, apa enak?" tanya Sheryn ketika melihat Melvin memakan es krimnya hingga tersisa setengah.
"Enak."
Mendengar itu, Sheryn tersenyum senang. "Kau ingin aku mencobanya?" tanya Sheryn ketika melihat Melvin menyodorkan es krim miliknya padanya.
Melvin mengangguk. Awalnya Sheryn sedikit ragu, tapi akhirnya dia memajukan wajahnya ke arah es krim Melvin. Saat Sheryn akan memakan ujung es krimnya, secara tiba-tiba Melvin mendekatkan wajahnya ke arah es krim miliknya dengan kepala miring dan bibir mereka pun tidak sengaja bersentuhan saat mereka sama-sama memakan ujung es krim milik Melvin.
Dengan gerakan cepat, Melvin memakan es krim miliknya seraya menyapu bibir Sheryn yang terkena es krim. "Manis." Melvin menarik diri lalu mengusap sudut bibirnya yang terkena es krim seraya tersenyum penuh arti.
Sementara Sheryn terlihat tertegun selama beberapa detik dan baru menarik diri setelah kesadarannya kembali. "Seharusnya kita bergantian memakannya tadi. Kau bisa memakannya lebih dulu, setelah itu, baru aku mencobanya," ucap Sheryn dengan wajah yang memerah.
Melvin hanya diam dengan senyum tipisnya. Justru aku tidak mau memakannya sendirian, Sheryn. Yang aku inginkan adalah dirimu, bukan es krimnya.
Setelah menghabiskan es krim miliknya, Sheryn kembali mengajaknya Melvin untuk berkeliling. Saat sedang berjalan, Sheryn tidak sengaja melihat arena bermain ice skating di mall tersebut. "Melvin, apa kau ingin mencoba bermain itu?"
Melvin menoleh dan nampak berpikir. "Kau tenang saja, aku akan mengajarimu jika kau tidak bisa bermain ice skating. Bagaimana? Apa kau mau?"
Melvin tidak lagi berpikir lalu menjawab dengan cepat. "Mau."
"Baik, kau tunggu di sini. Jangan ke mana-mana. Aku akan membeli tiketnya dulu."
"Ya."
Setelah kepergian Sheryn, senyum misterius terbit di wajah tampan Melvin. Entah apa yang sedang dia pikirkan, tapi tentu saja itu hal yang membuatnya senang. Setelah menunggu selama lima menit, Sheryn kembali dan mengajaknya ke arena ice skating untuk memakai sarung tangan dan sepatunya.
"Ayo, pegang tanganku." Sheryn membimbing Melvin dengan pelan memasuki arena ice skating.
"Jangan takut, aku akan memegangmu. Aku tidak akan membiarkanmu jatuh," lanjut Sheryn lagi ketika melihat wajah ragu Melvin.
"Ayo, melangkahlah."
Melvin mulai melangkahkan kakinya, namun dia tidak bisa menjaga keseimbang tubuhnya hingga dia hampir saja terjatuh jika saja Sheryn tidak meraih pinggangnya.
"Jangan takut. Aku sudah menangkapmu." Sheryn mencoba menenangkan Melvin agar dia tidak panik.
Diam-diam Melvin tersenyum ketika Sheryn memeluknya secara tiba-tiba karena takut dia akan jatuh. "Kita coba lagi ya."
Sheryn mencoba menjauhkan tubuhnya dari Melvin lalu memegang kedua tangannya dan mulai mengajarinya. Beberapa kali Melvin terlihat akan terjatuh, tetapi selalu berhasil ditangkap oleh Sheryn. Sheryn dengan sabar mengajari Melvin hingga 2 jam lamanya.
Sheryn tidak tahu saja kalau sebenarnya Melvin sangat ahli bermin ice skating. Dia hanya berpura-pura agar bisa lebih dekat dengan Sheryn. Tentu saja Melvin menggunakan kesempatan itu dengan baik agar bisa terus menempel dengan Sheryn.
Karena merasa lelah, Melvin terlihat berdiri di pinggir seraya berpegangan pada dinding pembatas. Tiba-tiba dari arah belakang seorang pria melaju dengan cepat dan tidak sengaja menyenggol Sheryn hingga dia hilang keseimbang.
Sebelum Sheryn terjatuh, Melvin langsung melesat ke arahnya dengan cepat dan melingkarkan tangannya di pinggang Sheryn. "Hati-hati, Sayang," ucap Melvin dengan lembut.
Sheryn secara tidak sadar langsung berpegangan di lengan Melvin dengan wajah terkejut ketika Melvin berhasil menangkap tubuhnya. Entah karena ucapan Melvin atau karena hampir saja terjatuh, Sheryn terlihat tertegun dengan pupil mata yang membesar.
Bersambung...