
"Baiklah. Kau tunggu di sini. Aku akan membelikanmu." Sheryn berdiri, "jangan ke mana-mana," lanjut Sheryn memperingatkan.
Dengan wajah bodohnya Melvin mengangguk, setelah itu Sheryn berjalan menuju kedai ice cream. Saat tiba di kedia ice cream, ternyata kedia itu sangat ramai, Sheryn terpaksa harus mengantri untuk membeli ice cream.
Sheryn beberapa kali menoleh ke arah taman karena merasa cemas meninggalkan Melvin sendirian. Bagaimana pun Melvin bukan pria normal biasanya. Dia khawatir meninggalkannya lama-lama.
Setelah mendapatkan ice creamnya, Sheryn berjalan dengan langkah cepat menuju taman. Dari kejauhan dia melihat beberapa anak-anak mengelilingi Melvin dan menertawakannya. Anak-anak itu sekitar berumur 8 tahun.
Semakin dekat, Sheryn melihat ada 3 anak laki-laki yang sedang menembakkan pistol air ke arah Melvin dan membuat wajah serta tubuhnya menjadi basah. Karena panik, Sheryn seketika menjatuhkan ice creamnya yang ada di tangannya dan belari menuju Melvin sambil berlari.
Ketika Sheryn menegur anak-anak itu untuk tidak mengganggu Melvin, salah satu dari orang tua anak yang ditegur Sheryn tidak terima dan berbalik marah pada Sheryn.
Padahal sebelumnya, dia hanya diam dan melihat anaknya menembakkan pistol air pada Melvin bahkan dia nampak acuh tak acuh saat anaknya melontarkan kata-kata hinaan pada Melvin.
Beberapa orang tua dari anak-anak lain yang mengganggu Melvin juga mendekat. Mereka menarik anak mereka agar mendekat ke mereka. Padahal sebelumnya, mereka terlihat sibuk dengan ponsel dan membiarkan anak mereka membuly Melvin.
"Nyonya, seharusnya kau memberitahu anakmu untuk tidak mengganggu kakakku. Aku hanya menegur anakmu dengan sopan, kenapa kau jadi marah? Dia menindas kakakku dan kau hanya diam dan membiarkannya saja tanpa menegurnya."
Ibu dari anak itu tidak mau kalah. "Namanya juga anak-anak. Kau harus memakluminya karena dia belum mengerti. Kau tidak bisa menyalahkan anakku karena dia masih kecil," ucap Ibu anak itu dengan wajah acuh tak acuh.
Mendengar itu membuat Sheryn semakin geram, bagaimana bisa wanita berpikiran sempit seperti itu.
"Justru karena anakmu masih kecil sehingga kau harus mengajarinya dengan benar. Bagaimana dia bisa tahu kesalahannya jika kau saja hanya diam dan membenarkan kelakuan anakmu yang salah. Anakmu memang tidak mengerti, tapi kau mengerti, kan? Kau bisa memberitahunya dengan caramu agar dia mengerti. Anak harus didik sedari kecil agar kedepannya dia tumbuh dengan pribadi yang baik," ucap Sheryn dengan wajah kesal.
Wanita itu mencibir dan nampak masih tidak terima dengan ucapan Sheryn. "Nona, kau tidak perlu mengajariku bagaimana caranya mendidik anakku. Kau bahkan belum menikah bukan? Kau saja belum memiliki anak, bagaimana bisa kau mengerti cara membesarkan dan mendidik anak-anak?"
Wanita itu melemparkan tatapan mencemooh pada Melvin. "Lagi pula, salahmu sendiri, kenapa kau mengajak kakakmu yang idiot itu pergi kemari. Ini bukanlah tempat yang cocok untuk orang idiot seperti kakakmu."
Sheryn mengepalkan tangannya, wajahnya memerah karena marah mendengar wanita itu menghina Melvin. "Dengar Nyonya, perhatikan kata-katamu. Kakakku tidak idiot. Aku akan merobek mulutmu kalau sampai kau berani mengatakan kakakku seperti itu lagi."
Sorot mata Sheryn memancarkan api kemarahan yang besar yang membuat wanita itu merasa takut.
"Ayo kita pergi. Jangan dekat-dekat dengan mereka lagi."
Wanita itu menarik tangan anaknya dengan cepat pergi dari sana dan anak lain pun mengikuti bersama dengan orang tua mereka. Setelah kepergian mereka, Sheryn berbalik menghadap Melvin.
"Apa kau tidak apa-apa?" Sheryn memegang wajah Melvin yang nampak basah.
Melvin hanya mengangguk. Sheryn menatap sebentar wajah Melvin, dia merasa bersalah sekaligus iba melihat penampilan Melvin yang menyedihkan. Bahkan Melvin hanya diam ketika anak-anak kecil membulynya. Bagaimana dia bisa melindungi dirinya sendiri kedepannya jika dia tidak ada?
Sheryn menghela napas, mengambil tisu dari tasnya, menyeka wajah Melvin, kemudian beralih pada bajunya yang basah. Setelah selesai, Sheryn baru teringat dengan ice cream yang di pesan oleh Melvin. Dia seketika berdiri sambil mengulurkan tangannya pada Melvin.
"Ayo kita pergi. Aku akan membelikanmu ice cream lagi. Lebih baik kita makan di sana saja."
Melvin menatap sejenak ke arah tangan Sheryn dengan sorot mata kebingungan. Dua detik kemudian Melvin menerima uluran tangan Sheryn. Mereka berjalan menuju kedai ice cream yang ada di sebrang taman.
Ketika mereka akan menyebarang, dari arah belakang ada sebuah motor yang melaju dengan kecepatan tinggi dan itu tidak disadari oleh Sheryn. Dengan gerakan cepat, Melvin menarik tangan Sheryn hingga berada pelukannya.
"Sheryn, apa kau baik-baik saja?" Melvin menunduk menatap wajah Sheryn dengan wajah serius dan panik.
Dia mengerutkan kening ketika menyadari sesuatu yang aneh. "Apa kau tadi yang bertanya padaku?"
Saat Melvin berhasil menyelamatkannya tadi, Sheryn seperti mendengar kalau Melvin bertanya mengenai keadaannya, tetapi dari suaranya, terdengar seperti bukan Melvin yang biasanya.
Melvin melepaskan pelukannya lalu menatap bingung pada Sheryn. Wajah yang terlihat cemas tadi sudah tidak ada lagi. Dalam sekejap dia kembali terlihat bodoh seperti biasanya.
"Sepertinya aku berhalusinasi," ucap Sheryn sambil tersenyum.
Dia menarik tangan Melvin, kali ini dia memastikan dulu tidak ada kendaraan yang akan lewat saat dia mau menyebrang jalan. Setiba di kedai ice cream, Sheryn menyuruh Melvin untuk duduk sementara dirinya yang memesan ice cream.
"Karena kau sudah menolongku, aku membelikanmu ice cream ukuran jumbo." Melvin menatap ice cream yang ada di depannya, seketika dia tersenyum bodoh.
Sheryn meletakkan kedua tangannya yang ditekuk di atas meja kemudian menatap pada Melvin. "Melvin, apa kau tahu kalau wajahmu sangat tampan saat tersenyum?"
Melvin hanya diam dan menampilkan sorot mata bingung.
*******
"Melvin, aku pergi kerja dulu. Makanan sudah aku siapkan di meja makan. Ingat, jangan pergi ke mana-mana. Kau harus tetap di rumah. Jangan membuka pintu untuk orang lain," ucap Sheryn ketika dia sudah mau berangkat bekerja.
Bulu mata Melvin terangkat lalu dia menatap sejenak ke arah Sheryn dengan wajah polosnya.
"Apa kau mengerti yang aku katakan?" tanya Sheryn memastikan.
Melvin mengangguk. "Iyaa."
Saat malam hari, Melvin terus melihat ke arah pintu seperti sedang menunggu seseorang. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, tetapi Sheryn belum juga pulang. Biasanya pukul 6 malam dia sudah sampai di rumah. Sewaktu pagi tadi, Sheryn tidak mengatakan kalau dia akan pulang terlambat.
Sejam sudah berlalu, Sheryn belum juga pulang dan sejak jam 8 tadi Melvin menunggu Sheryn di ruang tamu. Ketika mendengar suara mobil di depan rumahnya, Melvin langsung melihat keluar melalui jendela ruang tamu.
Dia melihat Sheyn turun dari sebuah mobil mewah dari satu sisi dan di sisi lain seorang pria juga turun. Mereka terlihat sedang berdiri berhadapan sambil berbicara. Melihat pemandangan itu seketika ekspresi wajahnya berubah dan sorot matanya menjadi dingin.
Dia melangkah masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintu kamarnya dengan kuat. Sheryn yang baru saja akan masuk ke rumah, tentu saja mendengar suara keras tersebut. Dia buru-buru masuk untuk melihat bunyi apa yang dia dengar tadi.
Karena tidak menemukan apapun, Sheryn mulai menerka-nerka. Dia berjalan ke arah kamar Melvin dan hendak membukanya setelah dia mengetuk pintu, tetapi tidak bisa. Pintu kamar terkunci dari dalam.
"Melvin, buka pintunya, aku ingin masuk." Sheryn berteriak sambil mengetuk pintu kamar Melvin berkali-kali.
"Melvin, kau sedang apa? Buka pintunya sebentar." Tidak ada jawaban dari dalam.
"Apa kau marah karena aku terlambat pulang?" Belum ada jawaban juga dari Melvin, "maafkan aku Melvin. Ada kerjaan yang harus aku selesaikan hari ini juga, maka dari itu, aku tidak bisa pulang tepat waktu. Tolong buka Melvin. Aku membawakanmu makanan kesukaanmu."
Setelah menunggu beberapa saat, pintu belum juga terbuka. "Baiklah, aku akan pergi jika kau tidak mau membuka pintunya."
Bersambung....