Mysterious Man

Mysterious Man
Rencana Pindah



"Tidak, Sayaang. Kau tidak akan tinggal sendiri di sana, tapi denganku. Berdua saja."


"Kenapa tiba-tiba pindah?"


Melvin termenung sebentar lalu menjawab. "Kita hanya tinggal di sana sebentar. Kita akan kembali lagi ke sini nanti, tapi untuk sementara, kita tinggal di apartemenku dulu."


"Apa karena Veronica?" tebak Sheryn. Dia berpikir mungkin Melvin tidak mau dirinya bertemu dengan mantan tunangannya itu.


"Bukan." Melvin menoleh sedikit pada kekasihnya, "Sheryn, kalau Harry sudah sadar dan pulih, apa kau akan kembali ke negaramu bersamanya?"


Sheryn mengerutkan keningnya. Pertanyaan Melvin, terasa aneh baginya. "Kenapa bertanya seperti itu?" tanya Sheryn dengan tatapan menyelidik.


"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu." Kemudian dia mengalihkan pandangannya ke samping kanan karena terus ditatap oleh Sheryn, "bersiaplah. Aku akan mengantarmu untuk bertemu dengannya." Melvin berdiri lalu berbalik.


"Bertemu dengan Harry?" tanya Sheryn dengan dahi berkerut. Dia semakin heran dengan perkataan Melvin.


"Iyaa. Dia sudah sadar," jawab Melvin seraya menoleh pada Sheryn.


Wajah Sheryn berubah menjadi cerah dan senyum lebar langsung tercetak wajah cantiknya. "Benarkah?"


Melihat reaksi Sheryn yang nampak senang, wajah Melvin berubah menjadi dingin. "Yaa, dia baru saja sadar, tapi...." Melvin sengaja tidak melanjutkan ucapannya untuk melihat reaksi Sheryn.


"Tapi kenapa?" tanya Sheryn.


"Dia mengalami kesulitan untuk berbicara dan beberapa bagian tubuhnya juga sulit di gerakkan," terang Melvin.


"Kenapa bisa begitu? Apa karena dia terlalu lama koma?"


"Aku juga tidak tahu. Dokter akan melakukan pemeriksaan kembali. Mungkin ada gangguan pada sistem saraf pusat, terutama di bagian otaknya."


Wajah Sheryn berubah sedih dan itu membuat Melvin merasakan sakit di hatinya. "Aku akan menunggu di bawah. Kau bersiaplah." Melvin keluar tanpa menunggu jawaban dari Sheryn.


Setibanya di bawah, Melvin terlihat menghubungi seseorang. Melihat kakaknya sedang berjalan sendirian, Emily bergegas menyusul kakaknya. "Kakak, Kak Alan bilang akan pulang besok sore. Dia akan tinggal di sini lagi."


Melvin terus berjalan dan langsung duduk di sofa setibanya di ruang keluarga. "Apa kau memberitahu Alan kalau aku sudah ada di sini?"


"Iyaa, aku juga bilang kalau kau membawa calon kakak ipar ke sini."


Mata Melvin berubah menjadi dingin. Emily memang sangatlah polos. Dia bahkan tidak menyadari kalau kakak keduanya itu adalah orang yang jahat.


"Emily, kedepannya, hal yang berkaitan denganku dan Sheryn, jangan kau beritahukan pada Alan. Apapun itu."


"Kenapa?" tanya Emily heran.


"Cukup ikuti saja perkataanku."


"Baiklah."


Selama ini, hubungan Melvin dan Alan sangat baik. Mereka tidak pernah berselisih. Bahkan Alan selalu menuruti perintah Melvin dan dia terlihat sangat menghormatinya. Emily hanya merasa kalau sikap Melvin sedikit berubah semenjak pulih dan ingatannya kembali.


Dia terlihat lebih dingin dan sedikit menakutkan, meskipun sifat asli memang dingin dan jarang sekali bicara, tapi dulu dengannya dan Alan, Melvin masih bisa bersikap normal dan sedikit hangat dibandingan dengan yang lainnya.


*******


Setibanya di depan ruangan Harry, Melvin menoleh pada Sheryn. "Kau masuklah lebih dulu. Aku akan berbicara dengan Stein sebentar."


Sheryn menoleh kemudian mengangguk. "Ya."


Melvin berdiri di depan pintu dan terus memandangi Sheryn sampai dia duduk di sebelah Harry.


"Tuan Muda, tuan muda Alan baru saja tiba di mansion. Dia mencarimu," ucap Stein setelah mengakhiri telpon yang masuk ke dalam ponselnya.


Melvin berpikir sejenak lalu menatap ke arah Sheryn. "Katakan padanya, aku akan menemuinya nanti."


"Baik, Tuan Muda."


Melvin membuka pintu lalu melangkah masuk. "Sheryn, aku ada urusan sebentar. Kau di sini saja. Jangan ke mana-mana."


Sheryn menoleh dengan wajah heran. "Kau mau ke mana?"


"Aku harus ke kantor. Tidak akan lama. Aku akan menjemputmu lagi nanti."


Melvin menoleh sejenak pada Harry yang masih tertidur. "Aku mau ikut denganmu," ucap Sheryn seraya berdiri.


"Tapi...."


"Kenapa? Apa ada yang kau sembuyikan dariku?" tanya Sheryn dengan tatapan menyelidik.


"Tidak ada. Kalau mau ikut, tidak masalah, tapi bagaimana dengan Harry?"


"Kita bisa kembali lagi nanti."


"Baiklah. Kau tunggu sebentar, aku akan berbicara dengan Stein dulu."


Melvin lalu keluar dan berbicara dengan asistennya. "Stein, ubah rencananya. Aku tidak bisa menemui Alan hari ini. Sheryn ingin ikut denganku. Aku tidak mau Alan bertemu dengan Sheryn. Kita akan langsung ke kantor."


"Baik, Tuan Muda."


Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, mobil Melvin terlihat berhenti di loby utama perusahaan Sangri Group. Perusahan terbesar yang ada di negara H. Terlihat seorang pria maju dan membuka untuk Melvin.


"Selamat datang, Tuan Anderson."


Melvin mengangguk, membenahi jasnya lalu berbalik ke belakang. "Ayoo, Sayang."


Wajah Sheryn merona. Bisa-bisanya Melvin memanggilnya seperti itu di depan banyak orang, meskipun Sheryn tidak mengenal mereka semua, tapi kesemuanya adalah karyawan Melvin. Tentu saja itu membuatnya malu.


Ini pertama kalinya, Melvin kembali ke perusahaan, setelah kembali ke negara H bersama dengan Sheryn. Sebab itu, banyak yang menyambut kedatangannya. Melvin langsung mengajak Sheryn menuju ruangannya di lantai paling atas diikuti oleh Stein.


Lift terbuka di lantai 45, Melvin dan Sheryn berjalan berdampingan menuju ruangannya, sementara Stein menunggu di ruangan khusus untuknya. Tidak jauh dari lift, ada meja untuk sekretarisnya. Di sana terlihat ada seorang wanita yang sedang sibuk di meja kerjanya. Ketika Melvin semakin dekat, wanita itu seketika berdiri dan menyapanya.


"Selamat datang, Tuan Anderson," sapa wanita itu penuh hormat.


Melvin mengangguk lalu berhenti. "Bawakan aku semua berkas yang harus aku periksa dan tanda tangani."


"Baik."


Sedari tadi, Sheryn terus menatap ke arah wanita itu dengan tatapan tidak terbaca. Dia tidak menyangka kalau dia akan bertemu dengan wanita itu lagi di sana.


"Kenapa kau melamun, Sayang?"


Sheryn mengalihkan pandangannya pada Melvin seraya tersenyum. "Tidak apa-apa."


Mereka berdua kemudian berjalan menuju ruangan Melvin. Ruangannya sangat besar, ada sofa singgle dan panjang serta meja tidak jauh dari pintu. Ada meja serta kursi kerja yang biasa Melvin pakai di sana, juga segala fasiltas yang ada untuk menunjang pekerjaannya. Di dekat meja kerjanya, ada dinding kaca yang langsung bisa melihat pemandangan kota dari dalam ruangan itu.


"Duduklah." Melvin mengajak Sheryn untuk duduk di sofa bersebelahan dengannya.


Baru saja Sheryn akan bersuara, pintu ruangan Melvin terbuka setelah terdengar suara ketukan pintu. Melvin dan Sheryn menoleh bersamaan dan melihat wanita tadi berjalan masuk.


"Kau tunggu di sini sebentar," ucap Melvin seraya berdiri.


"Iyaa."


Melvin melangkah menuju meja kerjanya dan diikuti oleh wanita itu. Dari kejauhan, Sheryn terus memperhatikan gerak-gerik mereka berdua. Sesekali Xena terlihat memajukan tubuhnya pada Melvin dan berbicara dengan serius. Sesekali juga dia berbisik pada Melvin.


Sheryn berusaha untuk menangkap pembicaraan mereka, tapi tidak bisa karena suara mereka terdengar sangat pelan. Setelah berbicara selama 15 menit, wanita cantik itu keluar bersamaan dengan Melvin berjalan ke arahnya. Baru saja Melvin duduk, dia sudah mendapatkan pertanyaan dari Sheryn.


"Jadi, dia sekretarismu?"


Melvin menyandarkan punggungnya di sofa seraya menatap Sheryn dengan santai. "Iyaa. Maaf, aku lupa mengenalkannya padamu secara langsung."


"Semenjak kapan dia menjadi sekretarismu?"


Melvin memainkan rambut Sheryn yang sengaja digerai olehnya. "Aku lupa. Sepertinya sudah 6 tahun Xena bekerja denganku, tapi kami sudah saling mengenal sejak kami masih kecil."


"Pantas saja kau tidak menginjinkan aku untuk ikut tadi. Ternyata, ada dia di sini. Padahal kau sudah berjanji akan mengajakku jika kau ingin bertemu dengannya lagi," ucap Sheryn dengan suara pelan, tetapi masih bisa di dengar oleh Melvin.


"Aku ke sini untuk bekerja, Sayang. Dia sekretarisku. Pasti aku akan bertemu dengannya untuk urusan pekerjaan. Yang aku maksud waktu itu adalah jika aku bertemu berdua saja dengannya tanpa melibatkan urusan pekerjaan."


"Tapi kenapa kau tidak bilang padaku kalau dia menjadi sekretarismu?"


"Menurutku itu tidak penting." Melvin nampak tidak berminat sama sekali membahas sekretarisnya itu. Dia justru sibuk memainkan ujung rambut Sheryn yang hitam.


"Tentu saja itu penting, kau terlihat sangat dekatnya. Sepertinya hubungan kalian tidak sekedar hanya atasan dan bawahan."


"Yaa, kami memang dekat, tapi untuk saat ini, aku tidak bisa menjelaskannya padamu mengenai hubungan kami."


"Jadi, kau sungguh memiliki hubungan khusus dengannya?"


Saat pertama kali bertemu dengan Xena di pesta, Sheryn sudah menduga kalau Melvin memiliki hubungan tidak biasa dengan wanita itu.


"Tidak. Hubungan kami tidak seperti yang kau pikirkan."


"Tidak memiliki hubungan khusus, tapi bertemu diam-diam dengannya di apartemen dan itu hanya berdua saja," ucap Sheryn dengan suara sangat pelan.


"Kau masih cemburu dengan Xena?" Melvin menjauhkan tangannya dari rambut Sheryn lalu menatap serius padanya.


Bersambung...