
Miranda melempar handphone di tangannya ke atas tempat tidur dengan emosi. Ia menyentuh keningnya dan berjalan mondar-mandir dengan perasaan gusar.
Setelah pengawal tadi memberitahunya bahwa Jack tengah liburan bersama keluarga Alice, perasaannya semakin kacau dan tidak tenang. Pengawal tadi juga mengirimkannya beberapa foto kedekatan Jack dan keluarga Alice. Bahkan, ada foto dimana Patrick merangkul Jack dengan akrab yang membuat Miranda semakin emosi.
Sekarang Jack mempunyai banyak kesempatan setelah keluar dari perusahaan untuk bersama Alice dan keluarganya. Ini tidak bisa di biarkan! Jack pasti benar-benar akan melakukan hal sesuka hatinya tanpa melibatkan orang tuanya lagi!
Tidak!
Ini tidak boleh dibiarkan! pikirnya cemas.
Miranda mencoba berpikir dengan perasaan kalutnya. Ia juga tidak habis pikir dengan Patrick yang terlihat akrab dengan putranya. Bukankah Patrick tau bahwa dirinya tidak menyetujui hubungan Jack dan putrinya?? Tapi mengapa pria paruh baya itu malah bersikap demikian pada Jack?? Apa sebenarnya yang di pikirkan pria itu?? Apa pria itu mencoba memancing amarahnya?? pikir Miranda emosi.
Seharusnya Patrick menjauhkan putrinya dari Jack karena jelas-jelas dirinya tidak akan pernah memberikan restu. Pria paruh baya itu juga seperti tidak pernah merasa bersalah dengan apa yang telah di lakukannya di masa lalu, dan itu membuat Miranda semakin membenci Patrick.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang??" bisik Miranda gusar.
Ia telah mengancam Jack dan itu sama sekali tidak berpengaruh. Jika ia meminta Jack untuk meninggalkan gadis itu pasti Jack tidak akan pernah menurutinya.
Lalu, apa yang harus ia lakukan sekarang?? pikirnya risau.
Jack, Alice dan keluarganya tengah berjalan-jalan sore hari ini untuk menikmati sunset. Mereka juga telah makan bersama-sama di pinggir pantai.
Pandangan Patrick tidak sengaja melihat kearah resort milik Jack yang hampir selesai.
"Kurasa disana ada yang membangun resort baru" ujarnya tiba-tiba yang membuat pandangan Alice, Lola dan Mandy terarah kesana.
"Iya, wah.. itu terlihat megah. Seharusnya kita kemari saat resort itu telah selesai dan di buka" timpal Lola.
"Iya benar" ucap Mandy menyetujui.
Jack tersenyum pelan mendengar ucapan keluarga Alice. Ia menjadi bersemangat dan ingin segera menyelesaikan proyeknya. Setelah itu ia ingin membawa Alice dan keluarganya untuk menjadi orang-orang pertama yang menginap di resort miliknya.
Jack menyentuh tangan Alice dan tersenyum padanya. Alice pun menggenggam tangan pria itu dan membalas senyumannya.
Matahari hampir terbenam, Patrick membawa Mandy menuju pinggir pantai untuk melihat matahari terbenam dengan jelas. Sedangkan Lola memilih untuk duduk di salah satu kursi yang berada di pinggir pantai.
Jack membawa Alice dan menggenggam tangannya,
"Nenek, bolehkah aku membawa Alice berjalan-jalan?" tanya pria itu pada Lola.
Lola menatap sepasang kekasih itu dan tersenyum penuh arti,
"Pergilah.. Kalian butuh waktu berdua untuk menikmati pemandangan indah ini" jawabnya sambil mengedipkan sebelah matanya pada Jack.
Jack pun tersenyum dan membawa Alice ke suatu tempat sebelum matahari benar-benar tenggelam.

Jack dan Alice saat ini tengah berada di sudut jembatan di pinggir pantai. Pria itu menuntun Alice menuju ujung jembatan agar melihat matahari terbenam dengan jelas.
Alice mengarahkan pandangannya ke sekitar dan terlihat begitu terpukau dengan langit yang berwarna jingga,
"Indah sekali" ucap Alice dengan senyumannya saat melihat pemandangan di depannya.
Jack tersenyum melihat senyuman Alice yang terlihat begitu indah di matanya. Bahkan pemandangan di sekitarnya terlihat kalah lebih indah dari senyuman gadis itu.
"Indah sekali.." ucap Jack sambil menatap wajah Alice dalam.
Alice yang merasa di tatap oleh Jack pun seketika mengarahkan pandangannya pada pria itu.
Jack mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Alice dengan lembut. Ia juga memangkas jarak diantara mereka berdua.
Mata Jack menatap dalam pada mata Alice,
"Kau tau, menurutku.. kau lebih indah dari pemandangan di sekitar sini" ucap Jack dalam.
Alice menatap mata Jack dan tersenyum pelan mendengar ucapan kekasihnya itu,
"Apa kau sedang merayuku??" tanyanya menggoda.
Jack terkekeh pelan dan kembali menatap gadis itu dengan tatapan dalam dan seriusnya,
"Aku bukanlah pria yang bisa merayu.." ujarnya pelan.
"Aku mengatakan yang sesungguhnya.. Aku mengatakan apa yang aku lihat dan rasakan. Aku.. Aku berkata yang sejujurnya tanpa dibuat-buat" lanjutnya dalam.
"Alice.. Bolehkah aku mengutarakan sesuatu padamu??" tanyanya lembut.
Alice menatap pria itu dan mengangguk pelan. Jack menghela nafasnya pelan,
"Aku.. Aku sangat ingin hubungan kita bisa segera berlanjut kearah yang lebih serius. Aku.. ingin kita bisa segera menikah" lanjut pria itu yang membuat Alice terdiam.
"Aku tau.. Saat ini hal itu belum bisa terlaksana karena restu dari kedua orang tuaku.. Tapi, aku sangat ingin menikah denganmu" ucap Jack dalam.
"Kita telah melakukan 'hal' itu sekali karena terpaksa dengan keadaan dan juga karena alasan yang mendesak. Dan.." ucap Jack terhenti sejenak.
"Dan aku ingin selanjutnya kita bisa melakukan 'hal' itu dengan status yang telah resmi dan sah" lanjutnya dengan suara beratnya.
Sejujurnya, setelah dia melakukan 'hubungan' dengan Alice saat malam dimana dirinya meminum obat perangsang. Jack selalu membayangkan hal itu dan merasa menginginkannya lagi dan lagi..
Ia ingin melakukannya bersama Alice saat mereka telah resmi menikah. Jack sangat menghargai Alice.. Dia terkadang selalu merasa bersalah ketika mengingat kejadian malam itu.. Ia merasa telah menodai Alice dengan ikatan yang belum sah. Walaupun, saat itu keadaan sedang mendesak dan Alice tidak menolak, tetap saja.. Jack merasa telah menjadi pria yang tidak tau malu.
Pipi Alice seketika memerah saat mendengar perkataan jujur Jack. Pria itu terlihat menatapnya dengan tatapan yang dalam dan jujur.
Jack membelai lembut pipi Alice dan menempelkan kening mereka,
"Maaf jika aku berbicara hal yang memalukan" ucapnya pelan.
Alice terdiam sejenak dan menatap Jack,
"Itu sama sekali tidak memalukan Jack.." balasnya lembut.
Jack tersenyum lembut dan menyentuh dagu Alice,
"Aku akan terus berjuang untuk bisa mendapatkan restu dari ibuku. Apapun yang terjadi.. aku tidak akan menyerah dan tetap akan menikahi mu apapun yang terjadi" ucapnya serius.
Jack menghela nafasnya dan menatap Alice dengan tatapan penuh permohonan,
"Tetaplah disisiku.. Kumohon, apapun yang terjadi tetaplah berada di sampingku.." pinta Jack.
"Aku tidak tau bagaimana hidupku tanpa dirimu.." lanjutnya dalam.
Alice dapat merasakan kesungguhan Jack. Pria itu pun perlahan semakin mengikis jarak diantara mereka,
"Aku mencintaimu Alice.. Sangat mencintaimu.." bisiknya dalam.
Setelah itu ia pun memotong habis jarak diantara mereka dan menempelkan bibirnya pada bibir Alice dengan lembut dan hati-hati.
Jack menutup matanya dan menyalurkan perasaannya pada Alice dengan ciuman lembut dan dalamnya.
Mereka berdua pun menutup hari ini dengan sebuah ciuman yang mengisyaratkan cinta mereka. Matahari pun mulai terbenam dengan indahnya diantara dua insan yang saling mencintai.
Alice memeluk tubuh Jack dan menikmati ciuman lembut pria itu. Hati gadis itu menghangat dan dapat merasakan segala perasaan Jack yang diungkapkan padanya tadi dari ciuman itu.
Namun, entah mengapa dari dalam lubuk hatinya, Alice tiba-tiba merasakan sebuah kekhawatiran yang entah datang darimana..
'Sebenarnya.. perasaan apa ini??' pikirnya.
Bersambung..
Halo, jangan lupa dukung cerita ini dengan kasih like, komen, vote dan hadiahnya ya 😊
Dukungan kalian sangat berarti bagi author 🥺
Dan, boleh juga di ramein ya kolom komentarnya..
Author suka banget baca komen dari pembaca tentang cerita ini 🙏😁
Oh iya, kalai baca novel jangan lupa waktu ya, apalagi sholat 5 waktunya 😁👍