Mysterious Man

Mysterious Man
Kembali



Saat Sheryn tiba di rumahnya, semua barang-barangnya sudah berada di luar rumah. Dia bahkan di cegah oleh pengawal untuk masuk ke dalam rumah.


"Maaf, Nona. Kau tidak bisa masuk ke dalam. Nyonya melarangmu untuk masuk. Kau sudah tidak boleh tinggal di sini lagi," ucap salah satu pengawal yang berjaga di depan pintu utama.


"Apa kalian lupa siapa aku? Aku adalah pemilik asli rumah ini. Kalian tidak bisa mengusirku dari sini. Ini rumahku. Rumah peninggalan ibuku," ucap Sheryn dengan marah.


Pengawal itu juga sebenarnya tidak tega untuk mengusir Sheryn. Bagaimana pun dia sudah lama bekerja dengan ayah Sheryn, tapi mendapatkan perintah dari ibu tiri Sheryn, dia tidak bisa menolaknya karena saat ini yang berkuasa adalah ibu tiri Sheryn.


"Maaf Nona, saya hanya menjalankan perintah nyonya saja. Mohon mengertilah."


Sheryn menghembuskan napas kasar mencoba mendinginkan kepala dan amarahnya. Yang dikatakan oleh pengawal itu memang benar. "Baiklah. Aku tidak akan melibatkamu, panggil saja bibi Ruth keluar, aku ingin berbicara dengannya."


Dengan wajah bersalah, pengawal itu berkata, "Maaf, Nona. Nyonya tidak ingin bertemu denganmu. Silahkan pergi dari sini." Pengawal itu menunjuk ke arah gerbang. Ibu tiri Sheryn memang sudah meninggalkan pesan pada pengawalnya sebelum Sheryn datang.


Karena sudah tidak bisa menahan amarahnya, Sheryn berteriak memaggil nama ibu tirinya berkali-kali hingga pintu utama terbuka dan menampilkan wajah angkuh Laura dan ibu tirinya. "Kenapa kau berisik sekali? Ini bukanlah rumahmu lagi. Ayahmu sudah menyerahkannya pada kami. Pergilah dari sini. Kau tidak diterima lagi di rumah ini."


Laura memandang Sheryn dengan senyum sinisnya. "Itu adalah hukuman untukmu karena sudah berani membuatku marah. Ayahmu sudah pergi, begitu juga dengan calon suami idiotmu itu. Sekarang kau sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Sementara aku, memiliki semua, termasuk Harry."


Dengan mata tajamnya, Sheryn menatap penuh kebencian pada ibu tirinya. "Aku tidak akan diam saja melihat kalian mengambil semua milikku. Takkan kubiarkan kalian hidup dengan nyaman," ucap Sheryn dengan wajah geram.


Ibu tiri Sheryn tertawa mengejek. "Bahkan saat kau sudah jauh miskin, keangkuhanmu belum juga hilang. Ingat Sheryn, kau bukan lagi Nona Muda dari keluarga Giffin. Kau hanyalah gadis biasa yang miskin."


Laura tertawa kecil, setelah itu berkata, "Menyedihkan sekali hidupmu sekarang, tapi aku tidak peduli dengan itu. Lebih baik kau pergi sebelum aku menyuruh pengawal untuk menyeretmu dari sini."


Sheryn menggertakan giginya. "Aku bersumpah akan membuat hidup kalian menderita suatu hari ini," ucap Seryn dengan marah.


Ibu tiri Sheryn menampilkan wajah acuh tak acuhnya pada Sheryn kemudian beralih menatap pengawal yang berdiri di dekat Sheryn.


"Jika dia tidak mau keluar dengan suka rela, seret saja dia keluar dari sini dan buang barang-barangnya di luar gerbang." Setelah mengatakan itu Ibu tiri Sheryn masuk bersama dengan Laura.


Dengan tatapan berapi-api Sheryn mentap pintu yang sudah tertutup. "Suatu hari nanti, aku akan menyeret kalian turun dan melemparkan kalian ke dasar sampai kalian tidak bisa lagi bangkit dan hanya bisa memohon belas kasihku."


Sheryn kemudian menyeret koper dan membawa tasnya keluar dari rumah itu. Sebelum pergi, Sheryn menoleh untuk terakhir kalinya ke rumah yang dia selama ini dia tempati.


Ayah, ibu, tolong berikan aku kekuatan untuk menghancurkan mereka semua.


Belum juga hilang dukanya, kenyataan pahit kembali menghampirinya. Kenapa nasib buruk selalu saja mengejar hidupnya? Sebenarnya, kesalahan apa yang sudah dia perbuat sehingga dia harus mendapatkan hukuman sebesar ini? Rumah itu satu-satu tempatnya berlindung saat ini, tetapi ibu tirinya mengusirnya.


Perusahaan sudah dikuasai Laura dan ibunya, begitu juga harta sudah mereka dapatkan semuanya. Tidak ada satu hal baik yang dia dapatkan, padahal dia tidak pernah berbuat jahat pada orang lain. Lalu untuk apa dia selama ini berbuat baik selama ini, jika menjadi orang jahat saja hidup begitu bahagian dan nyaman.


Dengan langkah pelan, Sheryn berjalan melewati gerbang rumahnya dan berjalan tak tentu arah. Dia tidak memiliki apapun saat ini dan dia juga tidak tahu dia harus ke mana. Saat dia sedang berjalan, sebuah mobil berhenti tetapi di sisi kanannya.


"Sheryn, kau mau ke mana?" Harry keluar dari mobil dan menghampirinya.


Sheryn mengabaikan Harry dan tetap berjalan ke depan. "Sheryn, aku tanya kau mau ke mana?" Harry menahan lengan tangan Sheryn agar dia berhenti.


Sheryn menoleh dan menghempaskan tangan Harry dengan kasar. "Lepaskan aku!"


Melihat Kemarah Sheryn, Harry menjadi heran. "Ada apa denganmu?"


Dengan tatapan menyala, Sheryn berkata, "Kalian semua sudah menghancurkan hidupku. Kenapa kau masih berlagak tidak tahu."


Harry mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu? Aku tidak mnegerti."


Sheryn tersenyum miring. "Harry, kematian ayahku dan surat wasiat ayahnya, kau pasti ada hubungannya dengan itu, kan?"


Harry menunduk sambil memegang bahu Sheryn. "Sheryn aku bersumpah kalau aku tidak ada hubungannya dengan itu semua. Percayalah padaku."


Sheryn menatap Harry dengan nyalang. "Kau pikir aku percaya padamu?"


"Akan aku buktikan kalau aku tidak ada hubungannya dengan itu. Aku akan menyelidikinya diam-diam nanti."


Sheryn terdiam. "Tinggallah sementara di vilaku. Aku akan membantumu untuk menyelidiki semuanya," ucap Harry lagi.


"Aku tidak butuh bantuamu," tolak Sheryn sambil memalingkan wajahnya ke samping.


"Sheryn, sampai saat ini aku masih mencintaimu. Aku memang pernah melakukan satu kesalahan, tapi bukan berarti aku orang yang jahat. Satu-satunya kesalahanku adalah jatuh dalam jebakan Laura dan aku sangat menyesalinya."


Harry menatap Sheryn dengan wajah serius, "kembalilah padaku, Sheryn. Akan kuceraikan Laura dan membantumu membalaskan dendam padanya. Akan rebut semua milikmu dan membantumu menyelidiki kematian ayahmu. Bagaimana?"


Sheryn terdiam beberapa saat. "Aku akan kembali padaku, tapi setelah kau berhasil mengambil semua milikku dan setelah kau berhasil mengungkap kematian ayahmu. Sebelum itu terjadi, aku akan tidak akan kembali padamu."


Harry berpikir sejenak. "Baiklah, tapi sementara ini kau tinggal di vilaku dulu."


********


Satu tahun kemudian.


Di negara C tepatnya di kota K, sebuah helikopter baru saja mendarat di semua mansion terbesar di kota itu. Seorang pria berkaca mata hitam turun dari helikopter. Setelah turun dari helikopter, pria berkaca mata hitam itu disambut oleh puluhan orang.


"Selamat datang, tuan muda Anderson."


Pria berkaca mata itu mengangguk. "Stein, di mana dia berada?" Pria berkaca mata hitam itu bertanya pada orang yang berdiri tepat di sampingnya.


"Dia masih bekerja, Tuan Muda."


"Antarkan aku ke sana. Aku ingin melihatnya."


"Apa tidak sebaiknya Anda istirahat dulu. Anda baru saja tiba di kota ini. Anda pasti lelah," ucap Stein.


Pria itu mengangkat tangannya lalu melihat ke arah jam tangannya yang menunjukkan pukul 5 sore. "Aku hanya ingin melihatnya sebentar."


Pria bernama Stein mengangguk. "Baiklah. Mari, Tuan Muda."


Pria itu berjalan menuju halaman depan dengan diikuti oleh 12 pengawal di belakangnya yang mengenakan setelan jas hitam lengkap dengan earpiece yag menempel ditelinga mereka. Dengan langkah penuh wibawa dan berkharisma pria itu itu berjalan menuju mobil yang terparkir di halaman depan mansion tersebut.


Sebelum memasuki mobil, pria berkaca mata hitam itu menoleh pada asistennya. "Stein, jangan membawa terlalu banyak orang. Aku tidak ingin menarik perhatian orang lain. Suruh mereka menjaga jarak denganku."


Pria bernama Stein mengangguk. "Baik, Tuan Muda."


Lima mobil mobil mewah keluar dari mansion tersebut menuju sebuah tempat yang terletak di pinggiran kota K. Kelima mobil tersebut berhenti tepat di depan sebuah cafe.


"Apa ini tempatnya?" Pria berkaca mata hitam itu bertanya pada asistenya yang ada di depan.


"Iyaa, Tuan Muda."


Pria berkaca mata hitam itu menoleh ke arah cafe itu dan menangkap bayangan seorang wanita berambut panjang.


"Apa Tuan Muda ingin turun sebentar?" tanya Stein sambil menoleh ke belakang.


Pria itu melepaskan kaca matanya saat melihat seorang wanita cantik yang mengenakan seragam pegawai cafe sedang berdiri di salah satu meja yang berada luar cafe tersebut.


"Tidak. Aku akan melihatnya dari sini saja."


Pria berkaca mata itu terus menatap wanita yang sedang mencatat sesuatu di kertas kecil yang ada di tangannya dengan tatapan penuh kerinduan. Meskipun dia berpenampilan sangat sederhana, tetap saja tidak bisa menyembunyikan parah cantiknya.


Sheryn, aku kembali. Kali ini, aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi.


Bersambung.....