
Seorang wanita paruh baya yang terlihat masih cantik dan anggun tengah duduk di kursinya sambil menatap beberapa foto album lama.
Senyuman lembut terpancar di wajahnya saat ia melihat sebuah foto pernikahannya dengan sang suami. Ia pun membalikkan kembali lembar demi lembar foto album itu yang entah mengapa ia tiba-tiba ingin melihatnya kembali.
Sampai lembaran foto itu menunjukkan foto seorang anak perempuan berusia 1 tahun yang tengah tersenyum lucu kearah kamera.
Perlahan tangannya mengusap lembut foto itu dan tiba-tiba ia merasakan perasaan rindu yang dalam serta rasa bersalah. Tanpa terasa setetes air mata pun mengalir di pipinya..
Sudah hampir 2 tahun ia tidak menemui putrinya. Ia merasa sangat bersalah dan sangat rindu pada putrinya itu. Ia dan suaminya terlalu fokus pada pekerjaan mereka sampai-sampai tidak ada waktu untuk menemui sang putri.
Ia tau putrinya pasti membenci dirinya karena tidak pernah meluangkan sedikit waktu untuknya. Bahkan saat kelulusan sekolah menengah atasnya pun ia dan sang suami tidak menyempatkan waktu untuk melihatnya.
CKLEK!!
Tiba-tiba pintu rumah terbuka, memperlihatkan seorang pria paruh baya yang terlihat masih gagah dan tampan tengah berjalan dan tersenyum lembut kearah sang istri.
Dengan cepat sang istri menghapus air matanya dan tersenyum pada sang suami. Sang suami yang melihat istrinya menangis seketika menghampirinya dengan perasaan khawatir. Ia duduk di samping sang istri dan membelai pipinya dengan lembut,
"Sayang, ada apa?? Apa kau menangis??" tanyanya lembut.
Sang istri tersenyum dan menggeleng pelan,
"Tidak..." jawabnya pelan.
Sang suami tau istrinya tengah menyembunyikan sesuatu dan ia pun menakup wajah istrinya dengan lembut,
"Jangan berbohong.. Aku tau kau habis menangis" ujarnya.
Lalu tatapannya pun mengarah pada foto album yang berada di pangkuan istrinya. Ia pun melihat lembaran foto yang menunjukan seorang anak perempuan yang lucu.
Pria paruh baya itu pun menghela nafasnya dan menatap sang istri dalam,
"Ada apa?? Apa kau merindukan Alice??" tanyanya.
Sang istri pun terdiam sejenak dan menunduk dengan sedih,
"Kita sudah lama tidak bertemu dengannya.. Kita terlalu sibuk dengan pekerjaan kita.." ujarnya bergetar.
"Alice.. pasti membenci kita. Ia selalu bersikap dingin pada kita sejak dulu. Dan aku tau, itu semua karena kita tidak pernah memberikan waktu untuknya. Ia pasti sangat kesepian.." lanjutnya sedih.
Patrick menghela nafasnya pelan dan menunduk sejenak. Ia tidak menampik apa yang di katakan istrinya. Dirinya dan Mandy memang selalu sibuk dengan pekerjaan mereka dan selalu tidak punya waktu untuk Alice.
Tetapi, bagaimanapun juga.. Mereka telah bekerja keras juga untuk kebutuhan Alice, walaupun sebenarnya yang gadis itu inginkan hanya waktu sedikit dari kedua orang tuanya.
"Aku merasa telah menjadi ibu yang gagal Patrick.. Aku.. Aku telah membuat putriku membenci ibunya sendiri" rintihnya lagi.
Patrick menghela nafasnya dalam dan kembali terdiam. Ia juga merasa telah menjadi ayah yang gagal untuk sang putri..
Alice menjadi pribadi yang tertutup dan dingin karena dirinya..
Patrick menatap sang istri dan membelai pipinya,
"Sayang.. Bagaimana.. kalau kita menemui Alice besok?? Aku akan meminta cuti untuk beberapa hari. Kita akan ke rumah ibu dan bertemu Alice" tanyanya dengan senyuman lembut.
Mandy dengan cepat menatap Patrick dengan tidak percaya,
"Benarkah?? Bukankah kau ada acara besok??" tanyanya sedikit ragu.
Patrick pun seketika teringat bahwa ia besok memiliki acara dan sebagai panglima ia harus hadir. Patrick menghela nafasnya kasar dan kembali terdiam. Ia tidak bisa mengambil cuti besok, pikirnya kesal.
Mandy yang melihat keterdiaman Patrick pun hanya dapat menghela nafasnya,
"Kita cari waktu lain saja.." ujarnya pelan dengan perasaan kecewa.
Patrick menggenggam tangan sang istri dengan perasaan bersalah,
"Maaf sayang.. Aku akan mencari waktu lain" ujarnya merasa bersalah.
Mandy hanya dapat menghela nafasnya dengan sedih dan mengangguk pelan. Sepertinya dalam waktu dekat ia belum bisa bertemu dengan sang putri, pikirnya sedih..
Siang ini Miranda dan Jessica tengah makan bersama di salah satu restoran ternama. Mereka terlihat makan sambil mengobrol ringan.
"Jadi.. Apa yang ingin Bibi bicarakan??" tanya Jessica pelan.
Miranda memang sebelumnya mengajak Jessica untuk makan siang bersama sekaligus ingin membicarakan sesuatu yang penting dengannya.
Wanita paruh baya itu menghela nafasnya dan berdehem pelan sambil menatap Jessica,
"Ekhem... Bibi hanya ingin membicarakan tentang hubunganmu dan Jack" ucapnya terputus sejenak.
"Bibi sangat ingin kau dan Jack bisa segera kembali bersama.. Apa, kau punya rencana untuk merebut kembali Jack dari gadis bernama Alice itu??" tanyanya.
Jessica terdiam sejenak dan menggeleng pelan,
"Belum Bibi.. Aku sendiri tidak tau apa yang harus aku lakukan agar Jack bisa kembali bersama denganku" jawab Jessica sedikit putus asa.
"Bagaimanapun juga.. Bibi sangat ingin kau dan Jack kembali bersama secepatnya. Bibi tidak suka melihat Jack dengan gadis itu" ujar Miranda tegas
Ia pun terdiam sejenak dan kembali menatap Jessica,
"Bibi ingin.. cara yang kita ambil untuk merebut Jack kembali itu adalah cara yang tidak mungkin bisa di tolak oleh Jack" lanjut Miranda lagi.
Jessica seketika mengernyitkan keningnya dan terlihat berpikir,
"Cara yang tidak bisa di tolak?? Cara seperti apa itu Bibi??" tanyanya penasaran.
Miranda pun menghela nafasnya dan menatap Jessica dengan tatapan seriusnya. Ia pun mengambil sesuatu dari dalam tas nya dan memberikannya pada Jessica,
"Ini.. Cara seperti ini.." ucapnya.
Jessica pun mengambil sesuatu itu dari Miranda. Ia memperhatikan benda di tangannya dan seketika terbelalak saat ia sudah mengetahui benda apa itu,
"I.. Ini.. Apa Bibi yakin??" tanyanya sedikit takut dan ragu.
Miranda menatap Jessica dan mengangguk tanpa ragu,
"Tentu saja.. Tidak ada cara lain bukan??" tanyanya balik.
Jessica kembali menatap benda itu yang tidak lain adalah obat perangsang dengan sedikit ragu,
"Ta.. Tapi.. Bagaimana caranya??" tanya Jessica.
Miranda menatap Jessica dan mengambil obat perangsang itu,
"Malam ini.. Bibi akan mengajak Jack untuk makan malam bersama.. Hanya Jack, dan.. tentu saja kau.." jelasnya terputus sejenak.
"Bibi akan memasukan obat ini.. Lalu, setelah itu kau membawanya ke salah satu kamar di hotel yang sudah kita pesan.. Jika sampai berhasil dan kau hamil, maka.. Jack tentu saja harus bertanggung jawab dan tidak bisa menolakmu lagi!" ucapnya lagi.
Jessica menatap wanita paruh baya itu dengan sedikit rasa ragu dan takut. Ia tidak menyangka, Miranda mempunyai cara yang sedikit ekstrim untuk membuat dirinya dan Jack bisa kembali bersama.
Tetapi.. Bukankah itu ide yang bagus?? pikirnya.
Setelah ia berhasil membuat Jack melakukan hal itu, maka.. ia sepenuhnya akan menjadi milik pria itu, dan.. tentu saja Jack harus bertanggung jawab setelahnya..
Miranda terlihat menatap obat di tangannya itu dengan penuh tekad. Tidak ada cara lain untuk membuat Jack dan putri Patrick itu berpisah selain cara ini..
Ia akan melakukan apa saja asalkan Jack berpisah dengan putri Patrick itu..
Jika caranya berhasil, maka Jack dan Jessica bisa menikah.. Dan, putri Patrick itu pasti akan merasa di bohongi dan di campakkan seperti dirinya dulu..
Bersambung..
Halo, jangan lupa dukung cerita ini dengan kasih like, komen, vote dan hadiahnya ya 😊
Dukungan kalian sangat berarti bagi author 🥺
Dan, boleh juga di ramein ya kolom komentarnya..
Author suka banget baca komen dari pembaca tentang cerita ini 🙏😁
Oh iya, kalai baca novel jangan lupa waktu ya, apalagi sholat 5 waktunya 😁👍