
Melvin, sebelum pulang, bolehkan aku menjenguk Harry sebentar?” Sheryn menoleh pada Melvin ketika baru saja masuk ke dalam mobilnya.
Melvin terdiam selama beberapa detik kemudian mengangguk. “Stein, kita ke rumah sakit dulu.”
“Baik, Tuan Muda.”
Setiap hari, Melvin memang mendapatkan laporan mengenai perkembangan Harry dari Dokter yang dia tugaskan untuk menangani Harry dan Melvin akan memberitahukan pada Sheryn setelah mendapatkan laporan tersebut.
Setibanya tiba rumah sakit, Melvin langsung menuju ruangan Harry. Ternyata, Harry baru saja selesai makan. Untuk makan, Harry memang masih dibantu oleh perawat khusus yang ditugaskan untuk membantu Harry.
“Kak, bagaimana kabarmu?” Sheryn menghampiri tempat tidur Harry sambil tersenyum lembut padanya.
Perawat yang semula duduk di kursi samping Harry, seketika berdiri dan pergi keluar dari ruangan Harry saat melihat kedatangan Melvin dan Sheryn.
“Aku.. baik-baik.. saja.”
Harry memang masih kesulitan untuk berbicara dan bergerak. Untuk itu, dia perlu bantuan perawat untuk mengurusnya. Sheryn lalu duduk kursi tepat di samping Harry, sementara Melvin berdiri di samping Sheryn. Harry terlihat melirik sekilas pada Melvin dan matanya sedikit melebar saat melihatnya. Ini pertama kalinya, Harry melihat Melvin setelah dia bangun dari koma.
“Dia Melvin, Kak. Dia Melvin Anderson.”
Sheryn lalu menceritakan semuanya pada Harry. Mulai dari dia mengalami kecelakaan hingga akhirnya Melvin menawarkan diri untuk membawa serta Harry ke negara H bersama mereka berdua. Meskipun Harry tidak bicara apapun, tapi dari ekspresi wajahnya terlihat sangat terkejut setelah mengetahui semuanya.
“Terima kasih karena kau melindungi calon istriku di saat aku tidak ada,” ucap Melvin setelah Sheryn selesai menceritakan semuanya.
Harry terlihat masih diam. Meskipun wajahnya terlihat tenang, tapi Melvin bisa menangkap kekecewaan dalam sorot matanya. Setelah menatap Melvin selama beberapa detik, Harry menoleh ke arah Sheryn.
“Maafkan aku, Kak. Maafkan aku karena tidak bisa menepati janjiku padamu.”
Harry mengangkat tangannya dan berusaha untuk menggapai wajah Sheryn saat melihat matanya berkaca-kaca. “Ja-jangan mena... ngis,” ucap Harry terbata-bata.
Melihat Harry menyentuh wajah Sheryn, wajah Melvin berubah menjadi masam.
“Maaf, Kak. Aku tidak bisa bersamamu. Aku mencintai Melvin. Aku tidak bisa kehilangannya lagi."
Melvin langsung menoleh pada Sheryn setelah mendengar perkataannya. Senyum tipis tersungging di bibirnya. “Ak-aku juga... masih... mencintaimu.”
Wajah Melvin berubah menjadi dingin. Dia merasa kalau Harry sepertinya belum menyerah untuk mendapatkan Sheryn.
“Kak, aku sungguh tidak bisa kembali padamu. Maafkan aku,” ucap Sheryn seraya meraih tangan Harry yang ada di wajahnya kemudian menggenggamnya.
“Aku tunggu di luar. Kalian bicaralah berdua.”
Melvin bergegas keluar dari sana dengan wajah dinginnya. Dia tidak bisa lebih lama lagi berada di dalam ruangan itu, terlebih saat melihat sikap lembut Sheryn pada Harry.
Setengah jam kemudian, Sheryn keluar dengan mata memerah. Melvin tidak bertanya apapun dan memilih untuk mengajak Sheryn segera pulang karena mereka harus bersiap untuk menghadiri pesta malam nanti.
Setibanya di apartemen, mereka berdua langsung mandi di kamar masing-masing. Saat bel pintu berbunyi, Melvin bergegas membuka pintunya karena Sheryn masih berada di kamar.
“Masuklah.”
Yang datang adalah Stein beserta 4 wanita muda serta seorang pria yang lemah gemulai. Mereka terlihat membawa barang di masing-masing tangan mereka dan meletakkannya di atas meja.
“Kalian tunggu di sini. Aku akan memanggil calon istriku dulu.”
Semuanya nampak mengangguk dan menunggu di ruang tamu. Melvin lalu berjalan menuju kamar Sheryn dan mengajaknya keluar setelah Sheryn berganti pakaian.
“Baiklah.”
Sheryn tidak bertanya apa alasan Melvin memanggil orang untuk membantunya berhias. Dia juga sering melakukan hal itu, yaitu memnaggil seorang enata rias untuk membantunya jika ingin menghadiri sebuah pesta penting.
Setelah Sheryn masuk ke kamarnya, Melvin juga masuk ke dalam kamar bersama Stein dan pria gemulai itu untuk bersiap juga.
Satu jam lebih berlalu, Sheryn akhirnya keluar dari dalam kamar. Melvin yang sudah lebih dulu selesai, menatap dengan takjub ke arah Sheryn yang sedang berdiri di depannya. Dia terkesima dengan penampilan Sheryn malam ini. Sheryn terlihat sangat cantik dan anggun dengan gaun yang dia pakai.
“Kau cantik sekali, Sayang,” ucap Melvin seraya menghampiri Sheryn.
“Kau juga sangat tampan malam ini,” balas Sheryn, “tapi apa penampilanku tidak terlalu mencolok? Aku takut orang lain makan menatap aneh padaku.”
Dia hanya takut mencuri perhatian banyak orang saat di pesta nanti dengan penampilannya. Sheryn tentu saja tahu kisaran gaun yang sedang dia pakai. Gaun berwarna white gold itu adalah rancangan khusus dari desainer ternama.
Gaun yang dia pakai berkisar 5,8 juta dolar atau kisaran 120 Miliar. Yang membuat baju itu mahal adalah karena gaun itu bertabur berlian, mutiara serta 300 kristal swaroski. Itulah yang membuat harga gaun itu sangat indah dan mewah.
“Tidak, Sayang. Ini bukan sekedar pesta biasa. Kita akan menghadiri pesta besar yang sangat spesial. Kau harus berpenampilan sangat cantik malam ini.”
“Baiklah.”
Setelah selesai bersiap, Melvin dan Sheryn menuju ke tempat acara pesta dan diikuti oleh banyak sekali pengawal di belakang mereka. Sheryn bahkan merasa heran, kenapa mereka sampai di kawal oleh 20 mobil. Padahal, biasanya hanya 3 atau 5 mobil yang selalu mengikuti mereka.
Mobil mereka terlihat memasuki sebuah gedung besar dan megah. Beberapa mobil di belakang mereka juga terlihat berhenti di belakang. Melvin membuka pintu dan membantu Sheryn dengan hati-hati untuk turun dari mobil.
Saat memasuki gedung acara, semua tamu yang berada di dalam terlihat menoleh ke arah pintu di mana Sheryn dan Melvin berada. Sheryn terlihat mengapit lengan Melvin seraya menunduk karena dia merasa malu saat semua orang terus menatap ke arahnya dan Melvin.
Sheryn bahkan tidak sadar di mana sedang menginjakkan kakinya saat ini. Dia hanya mengikuti ke mana Melvin membawanya. Sheryn baru mengangkat kepalanya saat Melvin memanggil namanya. “Sheryn, tegakkan kepalamu.”
Sheryn mengangkat kepalanya secara perlahan dan matanya membulat sempurna saat melihat dia sudah berada di sebuah altar yang dia yakini adalah sebuah altar pernikahan. “Melvin, apa maksud semua ini?” tanya Sheryn dengan wajah heran sekaligus terkejut.
Melvin memutar tubuh Sheryn hingga menghadap ke arahnya. “Sheryn ini adalah acara pernikahan kita.”
Mata Sheryn kembali membelalak setelah mendengar ucapan Melvin. Bagaimana bisa dia tidak tahu kalau hari ini adalah hari pernikahannya dengan Melvin. Selama ini, Melvin terlihat tidak pernah membahas mengenai pernikahan setelah dia menerima lamaran pribadi Melvin saat itu.
Melvin memang sengaja merahasiakan dari Sheryn sebagai kejutannya untuknya. Tadinya, dia memang ingin menikahi Sheryn setelah semua maslaahnya selesai, tapi dia merasa tidak tenang sebelum mengikat Sheryn menjadi istrinya. Terlebih lagi Alan sedang mengincar Sheryn.
“Kenapa kau tidak bilang padaku terlebi dahulu?” Sheryn terlihat masih belum bisa menghilangkan keterkejutannya.
“Aku ingin membuat kejutan untukmu, Sayang.” Melvin kemudian maju selangkah.
“Sheryn Venessa Giffin, maukah menikah denganku malam ini?”
Mata Sheryn nampak berkaca-kaca karena merasa bahagia sekaligus terharu. Dia terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Melvin. “Iyaa, aku mau.”
Di depan semua orang, pasangan saling mencintai itu mengucapkan janji suci pernikahan. Suasana nampak riuh setelah mereka resmi menjadi suami istri.
“Nyonya Melvin Anderson, selamanya, kau tidak akan pernah bisa lagi lepas dariku. Kini, kau sudah resmi menjadi milikku, milik Melvin Anderson. Mulai sekarang kau hanya boleh mencintaiku seorang.”
Selesai mengatakan itu, Melvin mencium bibir Sheryn di depan semua orang dan itu langsung membuat seisi ruangan langsung heboh dan bertepuk tangan dengan riuh.
Bersambung....