Mysterious Man

Mysterious Man
Mengingatkan Pada Seseorang



"Tuan Muda, kenapa tidak menemuinya sebentar?" saran Stein saat melihat pria berkaca mata itu terus menatap ke arah cafe, tepatnya pada wanita berambut panjang yang sedang melayani salah satu pelanggan cafe tersebut.


"Aku belum siap menemuinya," jawab Pria berkaca mata hitam itu.


Stein menghela napas panjang. "Tuan Muda, sampai kapan kau akan begini? Apa kau tidak kasihan padanya? Dia sudah menderita selama ini. Kau tidak bisa menghindar terus atau dia akan benar-benar melupakanmu."


Pria itu melepaskan kaca mata hitamnya lalu menatap ke arah depan. "Belum waktunya kami bertemu. Kembali ke mansion."


Stein kembali menghela napas lalu menjalankan mobil meninggalkan cafe tersebut.


Sementara di dalam cafe, Sheryn berusaha meregangkan tubuhnya karena merasa tubuhnya pegal. "Manager Julian, aku pulang dulu. Aku akan kembali lagi bekerja besok."


Sheryn berpamitan pada manager cafe tempatnya bekerja. Bekerja di cafe adalah pekerjaan sampingan Sheryn. Pada hari biasa, dia akan bekerja dikantor dan sepulang dari sana, dia akan bekerja paruh waktu di cafe dari sore hingga pertengahan malam.


Dan pada akhir pekan, saat kantornya liburnya dia akan bekerja dari pagi hingga sore hari di cafe. Seperti hari ini, akhir pekan ini, dia bekerja dari pagi hingga sore hari. Dia terpaksa harus bekerja di 2 tempat sekaligus karena membutuhkan uang yang sangat banyak.


Julian mengangguk. "Hati-hati. Kau langsung pulang atau mampir ke rumah sakit dulu?"


"Ke rumah sakit dulu," jawab Sheryn sambil meraih tasnya.


"Bagaimana kalau aku antar?" tawar Julian.


"Tidak perlu Manager. Kalau begitu aku permisi."


Sheryn berjalan ke arah halte bis dan duduk sambil memandang ke arah ponselnya. Saat bisnya datang, Sheryn memasukkan ponselnya ke dalam tasnya lalu naik ke bis. Setelah melakukan perjalanan selama satu jam, Sheryn tiba di sebuah rumah sakit.


Dengan langkah pelan, dia memasuki rumah sakit dan berhenti tepat di ruang ICU. Sebelum masuk, Sheryn menghela napas lalu berjalan masuk ke dalam. Dia berjalan menuju salah satu ranjang pasien dan duduk di kursi samping ranjang itu.


Sheryn memandangi wajah pria yang sedang terbaring di ranjang itu dengan wajah sedih. Di tubuhnya terpasang beberapa alat medis seperti alat bantu pernapasan, selang nagosgastrik, monitor denyut jantung, dan selang kateter urine. Kepalanya diperban dan terdapat beberapa goresan luka di wajahnya.


Dengan mata berkaca-kaca, Sheryn memegang tangan pria dan menggenggamnya. "Kak, aku di sini. Segeralah bangun. Aku menunggumu."


Pria itu tidak merespon. "Bangun Kak. Tolong segera bangun. Aku tidak mau kau lindungi lagi. Cukup bangun. Aku tidak mau melihatmu seperti ini. Aku tidak akan meminta apa-apa lagi padamu. Bangun Kak." Sheryn mengguncang tangan pria itu dengan pelan.


"Kau tidak boleh tidur terlalu lama. Aku akan memenuhi janjiku jika kau bangun. Maka dari itu, segera buka matamu sebelum aku berubah pikiran."


Sheryn mulai terisak dan terus berbicara, meskipun dia tahu kalau pria di depannya itu mungkin saja tidak bisa mendengar apa saja yang dia katakan.


Selesai menjenguk, Sheryn pulang ke rumahnya menggunakan angkutan umum dan berjalan menuju rumahnya ke daerah padat penduduk di salah satu pinggiran kota dan berhenti di sebuah rumah berukuran kecil. Di rumah kecil itulah Sheryn tinggal sekarang.


Sheryn membuka pintu lalu masuk ke dalam. Dia langsung masuk ke dalam kamarnya karena merasa tubuhnya sangat lelah. Tidak lama setelah dia berbaring, dia langsung tertidur.


******


"Apa hari ini dia bekerja?"


Pria tampan, bertubuh tinggi yang sedang mengenakan kemeja berwarna hitam dan celana panjang, bertanya pada pria yang sedang berdiri di belakangnya. Pria tampan itu adalah Melvin Anderson. Seorang miliader sekaligus orang terkaya di negara H. Pria bertangan dingin dan paling disegani di negara H.


Namanya tidak hanya dikenal di negaranya, tapi juga dikenal di beberapa negara, tapi tidak banyak yang tahu bagaimana wajahnya karena dia tidak pernah memperbolehkan wajahnya ditampilkan di media penyiaran, baik itu cetak, internet, maupun televisi. Setelah sempat menghilang, dia kemudian kembali lagi secara tiba-tiba.


"Iyaa, Tuan Muda," jawab Stein, "apa Tuan Muda ingin ke sana?"


Pria itu menoleh pada asisten pribadinya. "Iyaaa. Aku merindukannya, tapi sebelum aku ke sana, persiapkan penyamaran untukku."


Stein mengerutkan keningnya lalu bertanya, "Tuan Muda ingin menemuinya dengan identitas lain?"


"Baik, Tuan Muda."


Stein pergi dari ruangan itu lalu kembali setengah jam kemudian dengan membawa apa yang diminta oleh bosnya. Melvin memasang kumis tipis palsu kemudian mengenakan kacamata hitam besar yang hampir menutupi separuh wajahnya. Tatanan rambutnya pun dia ubah agar tidak mudah dikenali.


"Jangan membawa pengawal terlalu banyak. Cukup 2 saja."


"Tapi Tuan Muda ....."


Melvin membalik tubuhnya lalu memegang bahu asistennya. "Aku tidak ingin membuat dia curiga. Jika tidak suruh mereka mengawasiku dari luar."


"Baik, Tuan Muda."


Sesampainya di cafe kemarin, dia melihat penampilannya sejenak kemudian masuk ke dalam cafe itu bersama dengan asistennya. Melvin mengambil tempat duduk di dekat jendela bersama dengan asistennya.


"Selamat siang, Tuan. Ini buku menunya." Seorang pegawai cafe memberikan buku menu pada Melvin dan asistennya.


"Aku ingin dilayani oleh wanita itu," tunjuk Stein pada Sheryn yang sedang membawa pesanan orang lain.


Dia menemani bosnya ke sana agar bisa bertemu dengan Sheryn, tetapi jika dia harus dilayani oleh orang lain, maka akan sia-sia saja mereka ke sana.


Pegawai wanita itu menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Stein kemudian kembali menatapnya. "Baiklah, Tuan. Tunggu sebentar."


Wanita tadi menghampiri Sheryn lalu berbicara dengannya sambil menunjuk ke arah Stein dan Melvin. Sheryn menoleh sejenak, mengangguk kemudian berjalan ke arah Melvin dan Stein. "Anda mau pesan apa, Tuan?"


Dari balik kaca matanya, Melvin tidak pernah melepaskan pandangannya dari wajah Sheryn barang sedetikpun ketika Sheryn berdiri di depannya.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Melvin tanpa sadar.


Sheryn yang sudah siap mencatat pesanan, seketika mengangkat kepalanya menatap ke arah Melvin dengan dahi mengerut dan wajah terkejut.


"Maksudnya, kami mau pesan menu terfavorite di sini," ralat Stein cepat.


Sheryn mengabaikan ucapan Stein dan justru fokus pada pria berkaca mata hitam di depannya. Saat mendengarnya berbicara tadi, suaranya mengingatkannya pada seseorang yang pernah hadir dalam hidupnya.


"Ada apa, Nona? Kenapa kau memandangiku seperti itu?" Melvin berpura-pura tidak tahu dan bersikap santai agar Sheryn tidak curiga padanya. Dia dengan sengaja merubah sedikit suaranya menjadi lebih berat.


"Tidak apa-apa. Suara Anda mengingatkanku pada seseorang," aku Sheryn dengan jujur.


Melvin meyandarkan punggungnya ke kursi sambil menatap ke arah Sheryn. "Siapa? Apa kekasihmu?" tanya Melvin santai.


"Bukan, tapi seseorang yang aku benci."


Jawaban dari Sheryn membuat tubuh Melvin menjadi kaku dan jantungnya seolah ditusuk oleh benda tajam. Dia bisa melihat tatapan kebencian dan terluka saat Sheryn menjawab pertanyaannya.


Stein yang sedari tadi berada di sana, ikut terkejut mendengar ucapan Sheryn. "Kenapa kau membencinya?" Melvin kembali bertanya setelah terdiam beberapa saat dengan suara dinginnya.


Sheryn meremas ujung bajunya lalu berkata, "Tuan Maaf, aku tidak bisa melayanimu. Aku akan meminta temanku untuk melayanimu."


Selesai bicara, Sheryn langsung pergi dari sana. Stein menghela napas setelah melihat kepergian Sheryn. Dia sudah menduga hal ini akan terjadi. Saat tatapan Stein beralih pada Melvin, dia bisa melihat pancaran aura gelap dan dingin di sekitar tubuh bosnya.


Bersambung....