
Sheryn memandang pria di depannya dengan wajah kesal. Sudah seminggu ini, pria di depannya ini membuatnya datang ke mansion mewahnya. Setelah meletakkan beberapa kotak makanan di depannya, Sheryn berkata, "Tuan Anderson. Apa tidak bisa kau menyuruh orangmu saja datang ke cafe untuk membelikanmu semua makanan ini?"
Melvin tersenyum. "Tidak bisa," jawab Melvin enteng.
Setiap malam, managernya selalu menyuruh Sheryn untuk mengantarkan semua pesanan milik Melvin dan setelah itu dia sudah boleh pulang dan setiap datang di sore hari untuk bekerja, Sheryn hanya di suruh untuk mengawasi pegawai lain. Managernya tidak memperbolehkan lagi Sheryn untuk melayani pelanggan lain. Dia juga dilarang melakukan apapun di cafe, selain itu.
Terkadang dia berpikir ada sesuatu aneh yang terjadi akhir-akhir ini. Pekerjaannya jadi sedikit, tetapi managernya justru menaikkan gajinya 5 kali lipat di bulan ini. Saat Sheryn menanyakannya alasan kenaikan gajinya, managernya hanya bilang kalau kinerja selama bekerja di cafe tersebut sangat bagus. Padahal, dia baru saja bekerja di cafe tersebut selama 6 bulan dan saat dia menanyakan pergawai lain, tidak ada yang mendapatkan kenaikan gaji selain dirinya.
"Kenapa?" Sheryn berusaha untuk menahan kekesalannya.
"Karena aku tidak bisa melihatmu."
Sheryn berusaha tersenyum, meskipun dirinya merasa kesal. "Kalau begitu kau bisa datang langsung cafe seperti waktu itu," usul Sheryn. Lokasi mansion Melvin sangat jauh dan itu terkadang membuatnya lelah untuk datang ke sana.
"Aku tidak suka dengan keramaian."
Sheryn menghela napasnya. "Terserah padamu. Kalau begitu aku pulang dulu."
"Apa kau lupa apa tugasmu selain mengantarkan makanan ini untukku?"
Sheryn langsung menghentikan langkahnya dan berbalik. "Maaf, Tuan Anderson. Malam ini aku ada urusan. Aku tidak bisa menemanimu makan."
"Kau mau ke mana? Dengan siapa?" cecar Melvin cepat.
"Aku harus ke rumah sakit."
Melvin langsung menoleh pada Stein. "Siapkan mobil sekarang juga."
Stein membungkuk sejenak. "Baik, Tuan Muda."
Setelah kepergian Stein, Melvin berjalan menuju Sheryn. "Ayoo pergi. Aku akan mengantarmu."
"Tidak perlu. Aku bisa pergi sendiri," tolak Sheryn dengan cepat.
Melvin nampak tidak peduli dengan penolakan Sheryn. Dia meraih tangan Sheryn dan menariknya dengan lembut. Ingatan Sheryn kembali pada Melvin. Perasaan akrab itu selalu saja dia rasakan setiap bersentuhan dengan pria di depannya itu.
Sheryn bahkan hanya menurut ketika Melvin mengarahkannya untuk masuk ke dalam mobilnya. "Hati-hati." Melvin meletakkan telapak tangannya di atas kepala Sheryn ketika dia akan menaiki mobil sedan miliknya.
Perhatian Melvin membuat perasaaan Sheryn menghangat. Sepanjang perjalanan, Sheryn terlihat beberapa kali melirik ke arah Melvin. Melihatnya dari samping, bayangan Melvin kembali muncul di kepalanya.
Sudah setahun lebih setelah kepergian Melvin. Tidak ada satu pun kabar darinya. Beberapa kali Sheryn meminta orang untuk menyelidiki di mana keberadaan Melvin, tetapi tidak ditemukan jejak apaapun.
Saat dalam perjalanan, ponselnya berbunyi. Sheryn langsung mengangkatnya setelah tahu siapa yang menelponnya. "Apa? Bagaimana bisa?"
Wajahnya seketika menjadi panik. "Aku akan segera ke sana."
"Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Melvin ketika melihat mata Sheryn nampak berkaca-kaca setelah dia mematikan telponnya.
Sheryn tidak mau menjelaskannya. Dia justru bertanya hal lain pada Melvin. "Tuan, bisakah kita lebih cepat lagi? Aku ingin segera sampai di rumah sakit." Air mata Sheryn sudah mulai menggenang di pelupuk matanya.
Melvin tahu kalau Sheryn tidak ingin bercerita padanya, maka dari itu, dia tidak bertanya lagi, "Stein, percepat laju mobilnya," perintah Melvin.
"Baik, Tuan Muda." Lima mobil yang mengikuti mobil Melvin dari belakang juga mempercepat laju mobil mereka.
Melvin sudah bisa menebak kalau kepanikan Sheryn ada hubungannya dengan Harry. Melihat Sheryn mengkhawatirkan orang lain, rasa nyeri menyebar di seluruh dadanya. Sementara Sheryn tidak henti-hentinya bergumam selama perjalan menuju rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, terjadi antrian masuk di loby rumah sakit. Melvin akhirnya meminta Stein untuk memarkirkan mobilnya di parkiran depan rumah sakit. "Tuan, terima kasih karena sudah mengantarku." Tanpa menunggu jawaban dari Melvin, Sheryn langsung turun dan berlari kecil ke arah loby.
Sheryn tidak lagi memperhatikan sekitarnya saat dia berlari hingga suara klakson datang dari belakang. "Sheryn, apa kau ingin bunuh diri?"
Sheryn nampak linglung. Dia menatap ke arah Melvin dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya. "Haryy... Dia... Harry...."
Mendengar nama Harry disebut, dada Melvin terasa terbakar dan amarahnya seketika terpancing, tapi dia berusaha untuk meredamnya sebisa mungkin. "Sheryn, kau harus tenang. Aku akan menemanimu ke dalam."
Meskipun marah, tapi Melvin berusaha untuk menahannya. "Iyaa."
Sheryn dan Melvin berjalan dengan cepat ke dalam rumah sakit. Saat tiba di depan ruang ICU, Sheryn melihat pengawalnya sudah ada di sana. "Bagaimana keadaannya?" Sheryn bertanya dengan panik sambil menghampiri pengawal yang bertugas untuk menjaga Sheryn.
"Dokter sedang menangani tuan Harry, Nona."
Sheryn kemudian berjalan mendekati jendela untuk melihat keadaan Harry. "Apa pelakunya sudah ditangkap?" Sheryn kembali bertanya pada pengawalnya.
"Belum," jawabnya.
"Aku sudah tahu pelakunya. Aku akan menyeretnya ke kantor polisi." Dengan wajah marah Sheryn berbalik berniat untuk pergi dari sana.
"Kau mau ke mana?" Melvin menahan tangan Sheryn ketika dia akan melangkah.
"Menangkap pelakunya. Lepaskan aku!" ucap Sheryn dengan wajah marah.
"Kau tidak bisa pergi, kau harus tetap di sini." Melvin bersikeras tidak mau melepaskan tangan Sheryn.
"Aku tidak bisa diam saja di sini. Seseorang mencoba untuk membunuh Harry!" Nada bicara Sheryn mulai meninggi.
"Sheryn dengarkan aku...."
"Aku tahu siapa pelakunya," potong Sheryn dengan cepat, "ayahku juga dibunuh di rumah sakit dan kali ini Harry juga hampir saja dibunuh! Aku tahu kalau Laura dan ibunya bersekongkol dengan Aric untuk menghabisi Harry!" ucap Sheryn dengan suara tinggi.
Melvin menoleh ke kanan dan ke kiri lalu berkata, "Sheryn kecilkan suaramu."
"Laura, ibunya, dan Aric yang sudah membunuh ayahku! Harry sudah mendapatkan buktinya, maka dari itu, mereka juga berniat untuk menghabisi Harry." Sheryn kembali berucap dengan suara tinggi.
Melihat sikap keras kepalanya Sheryn, amarah Melvin ikut terpancing. "Apa kau punya bukti??" tanya Melvin dengan suara tinggi juga
Sheryn terdiam. "Kau tidak bisa menuduh orang tanpa adanya bukti, Sheryn. Bagaimana jika bukan mereka pelakunya? Apa yang akan kau lakukan?"
"Aku sangat yakin kalau mereka pelakunya," jawab Sheryn dengan yakin.
"Meskipun begitu, kau tidak bisa menyeret mereka ke penjara tanpa adanya bukti pasti. Jika kau tidak memiliki bukti kuat, maka lebih baik kau diam saja. Aku yang akan membantumu untuk menyelidiki semuanya. Jangan lakukan apapun yang akan membayakanmu."
Sheryn terdiam, tiba-tiba seorang perawat keluar dari ruangan ICU. Sheryn langsung menghampirinya. "Bagaimana keadaan kakakku?"
"Pasien kritis. Dokter sedang berusaha untuk menyelamatkannya." Perawat itu langsung pergi dengan langkah terburu-buru.
"Harry... Harryy... Tidak boleh." Sheryn menggelenf dengan tatapan kosong lalu mendekat ke jendela untuk melihat keadaan Harry, "bangun kak. Kau tidak boleh meninggalkanku sendiri. Tolong bangun, Kak! Kau tidak boleh begini." Sheryn berucap setengah berteriak sambil menatap ke dalam dari jendela.
Melvin mendekati Sheryn, memegang kedua bahu lalu membalik tubuhnya. "Sheryn, tenangkan dirimu. Tidak akan terjadi apa-apa dengannya." Melvin berusaha untuk menekan kemarahannya melihat kepedulian Sheryn yang begitu besar terhadap Harry.
Sheryn menatap Melvin dengan wajah panik dan air mata yang terus mengalir. "Harry bagaimana kalau dia...." Sheryn menjeda sejenak ucapanya lalu melanjutkannya lagi. "Tidak... tidak boleh." Sheryn menggelengkan kepalanya beberapa kali, "Harry tidak boleh pergi. Aku harus melakukan sesuatu." Sheryn memegang lengan Melvin dengan wajah panik.
"Melvin... tolong lakukan sesuatu untuk menyelamatkannya. Aku tidak bisa kehilangan orang terdekatku lagi. Tolong bantu aku, Melvin." Sheryn tidak sadar saat dia menyebutkan nama Melvin. Kepalanya sudah dipenuhi oleh hal buruk yang akan menimpa Harry sehingga tidak bisa fokus.
Melihat Sheryn sangat mencemaskan Harry, Melvin menarik napas dalam sambil memejamkan matanya sejenak, berusaha menekan kecemburuannya dan menahan amarahnya. Dia kemudian memegang erat bahu Sheryn, menunduk menatapnya dari dekat.
"Sheryn, tenangkan dirimu. Aku tahu kau sangat khawatir dengannya, tapi aku mohon tahan dirimu, karena saat ini, aku juga sedang menahan diriku. Aku bisa saja hilang kendali, jika kau terus bersikap seperti ini," ucap Melvin dengan suara berat dan rahang yang mengeras.
Bersambung....