Mysterious Man

Mysterious Man
Ditolong Seseorang



"Kau masih cemburu dengan Xena?" Melvin menjauhkan tangannya dari rambut Sheryn lalu menatap serius padanya.


"Tentu saja. Aku tidak suka kau terlalu dekat dengannya, apalagi bertemu dengannya diam-diam tanpa sepengetahuanku, terlebih lagi bertemu dengannya hanya berdua saja dan di tempat yang sangat private," ucap Sheryn dengan tegas.


"Kami bertemu berdua saja karena ada yang ingin dibahas, Sayaang."


"Perselingkuhan dimulai dari menghubungi rekan kerja di luar jam kerja. Itu adalah penyebab perselingkuhan yang paling banyak terjadi, apalagi jika yang dibahas hal pribadi, bukan masalah pekerjaan. Hubungan seperti itu bisa membangun kenyamanan yang berbahaya. Aku hanya tidak mau itu sampai terjadi pada hubungan kita," ucap Sheryn dengan tegas.


Dulu, ayahnya juga begitu. Dia berselingkuh dengan sekretarisnya sendiri yaitu dengan ibunya Laura dan itu yang menyebabkan keluarganya hancur berantakan hingga akhirnya ibunya meninggal karena depresi dan sakit-sakitan.


"Kau takut aku tegoda dengan Xena? Kau tidak percaya dengan kesetiaanku?"


"Aku percaya denganmu, tapi tidak percaya dengan wanita. Pria sangat mudah luluh dengan wanita jika dia diberikan apa yang dia inginkan."


Melvin duduk tegak lalu memegang bahu Sheryn. "Kalau kau begitu takut aku tergoda oleh Xena, kenapa kau menolak menikah denganku?"


"Aku tidak pernah menolak menikah denganmu," sanggah Sheryn cepat.


"Waktu itu, saat aku bertanya padamu kau menggeleng dan kau bilang...."


"Saat itu aku belum selesai bicara. Aku ingin mengatakan kalau aku tidak akan menolak menikah denganmu, tapi kau sudah memotong ucapanku lebih dulu," terang Sheryn.


Melvin terkesiap mendengar penjelasan Melvin. "Jadi kau mau menikah denganku?" Mata Melvin nampak berbinar penuh harap.


Sheryn memalingkan wajahnya ke samping lalu berkata, "Entahlah, aku jadi ragu. Terlalu banyak wanita di sekelilingmu."


"Apa maksudmu?"


"Emily bilang, banyak wanita yang mendekatimu sebelum kau bertunangan dengan Veronica. Ketika berita mengenai pertunangan kalian batal tersebar, wanita yang dulu menyukaimu, kembali mengejarmu dan mereka semua berasal dari keluarga konglomerat dan anak pejabat tinggi di negara ini. Sainganku terlalu berat.


Aku tidak bisa bersaingan dengan mereka karena aku hanya orang biasa. Aku merasa tidak pantas untukmu."


Melvin menangkup wajah Sheryn lalu menatapnya dengan lekat. "Kau tidak perlu bersaingan dengan siapapun karena aku sudah memilihmu secara langsung. Melvin Anderson hanya mencintai Sheryn Venessa Giffin. Akan kubuktikan keseriusanku padamu nanti."


Setelah mengatakan itu, Melvin menempel bibir mereka berdua dan melu-mat bibir kekasihnya dengan lembut dan langsung di balas oleh Sheryn. Permainan bibir itu baru berhenti ketika terdengar suara ketukan dari luar. Melvin seketika menyudahi pagutan mereka yang sudah mulai memanas dan menjauh tubuhnya dari Sheryn.


"Masuk," ucap Melvin.


Pintu terbuka dan menampilkan pria tampan berparas campuran. "Apa aku mengganggumu?" tanya pria itu ketika melihat Melvin sedang bersama dengan wanita di dalam ruangannya, terlebih lagi saat melihat bibir Melvin memerah.


"Kenapa kau tidak menghuhungi lebih dulu kalau kau ingin kemari?"


Pria itu berjalan ke arah sofa dan duduk di sebrang Melvin dengan santai. "Aku sudah menelponmu beberapa kali, tapi tidak kau angkat." Pria itu melirik sekilas pada Sheryn lalu memberikan kode pada Melvin.


"Ini calon istriku, namanya Sheryn."


Melvin kemudian memperkenalkan pria itu pada Sheryn. "Ini adalah temanku sekaligus rekan bisnisku. Namanya, Smith."


"Jadi, ini pengganti dari Cheryl Wu?" Pria itu terlihat tersenyum ke arah Sheryn seraya menatapnya dengan seksama.


"Jangan membahasnya lagi. Aku tidak mau calon istriku salah paham," ucap Melvin dengan wajah dinginnya.


"Maaf, Nona Sheryn. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu salah paham."


Sheryn menarik senyum kaku di bibirnya lalu berkata, "Tidak masalah. Kau tidak perlu meminta maaf."


Smith menoleh pada Melvin. "Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu. Temui aku setelah urusanmu selesai."


"Baiklah. Aku akan menemuimu nanti malam."


Smith mengangguk lalu berdiri. "Kalau begitu, aku pergi dulu."


Setelah kepergian Smith, Melvin mulai bekerja, sementara Sheryn nampak duduk seraya memainkan ponselnya. Dia merasa bosan karena berdiam diri saja. Sebenarnya, dia ingin berjalan-jalan ke bawah untuk melihat-lihat, tetapi tidak diijinkan oleh Melvin. Dia tidak mau Sheryn berkeliaran sendiri, meskipum sebenarnya dia tidak benar-benar sendiri karena dia selalu diawasi oleh orang suruhan Melvin.


Sore harinya, Melvin dan Sheryn menuju apartemen Melvin yang akan mereka tempati. Karena Alan sudah pulang ke mansionnya, Melvin berencana untuk langsung pindah sore itu juga. Dia sudah menyuruh pelayan di rumahnya untuk mengemas pakaiannya dan Sheryn lalu memberikannya pada pengawal yang sudah ditunjuk oleh Melvin.


"Apakah ini apartemen yang kau gunakan untuk bertemu dengan Xena?" tanya Sheryn setelah berada di dalam apartemen milik Melvin.


Sheryn berhenti di dekat sofa ruang keluarga. "Jadi, kau sering bertemu dengannya berdua saja di luar jam kerja?"


"Tidak terlalu sering. Hanya di waktu tertentu saja."


Sheryn terdiam selama beberapa saat lalu melangkah ke arah balkon yang tidak jauh dari ruangan keluarga kemudian membuka pintunya dan disusul oleh Melvin. Sheryn terlihat berdiri di depan pagar pembatas balkon seraya menatap ke depan.


"Apa yang sedang kau pikirkan, Sayang?" Melvin memeluk Sheryn dari belakang dan bertanya dengan suara lembut.


"Tidak ada."


"Aku sungguh tidak memiliki hubungan khusus dengan Xena. Aku dan dia memiliki keterikatan yang tidak bisa aku beritahu saat ini, tapi yang pasti, aku tidak pernah menghianatimu."


Mungkin Sheryn trauma dikarenakan hubungannya dengan Harry pernah kandas karena orang ketiga jadi Sheryn lebih waspada dari sebelumnya. Hal itu, sebenarnya membuat Melvin senang saat melihat Sheryn cemburu, karena dia merasa kalau Sheryn semakin mencintainya.


Melihat Sheryn masih diam, Melvin mengurai pelukannya lalu membalik tubuh Sheryn ke hadapannya. "Aku akan segera menikahimu agar kau tidak berpikir macam-macam lagi terhadapku."


"Jangan terburu-buru. Selesaikan dulu masalahmu. Kau bilang ingin membalas orang yang sudah mencelakaimu lebih dulu sebelum memikirkan yang lain. Aku bisa menunggu."


"Baiklah kalau begitu. Aku akan menyelesaikan urusanku lebih dulu."


Setelah selesai menunjukkan isi apartemen dan kamar yang akan di tempati Sheryn, Melvin berpamitan padanya untuk menemui Smith. Karena merasa bosan, Sheryn akhirnya turun ke lantai dasar dan pergi ke supermarket tidak jauh dari loby utama apartemen Melvin.


Dia berencana untuk memasak makan malam untuknya dan Melvin. Sheryn terlihat memilih beberapa sayuran dan daging, buah serta bahan makanan lainnya. Selesai berbelanja, Sheryn berjalan keluar menuju loby. Baru saja beberapa langkah, salah satu tas belanjanya putus dan isinya terlihat keluar semua.


Sheryn berjongkok memunguti satu persatu isi tasnya yang terjatuh. Tanpa di duga, ada pria yang membantunya memungutinya dan memberikannya pada Sheryn. "Ini, Nona."


Sheryn mengangkat sedikit kepalanya lalu menatap pria itu dengan canggung. "Terima kasih."


"Sepertinya kantong belanjamu sudah tidak bisa dipakai lagi," ucap pria itu setelah melirik kantong belanjaan milik Sheryn.


"Iyaaa."


"Kau tunggu di sini. Aku akan segera kembali." Pria itu pergi meninggalkan Sheryn dan berjalan ke arah supermarket dan kembali lagi dengan membawa tas belanja baru, "gunakan ini untuk belanjaanmu."


Sheryn nampak ragu sesaat seraya menatap tas belanja yang ada di tangan pria itu. "Kau tidak akan bisa membawa semuanya kalau tidak kau ambil ini."


"Baiklah. Terima kasih."


Pria itu mengangguk lalu membantu Sheryn untuk memasukkan belanjaanya. "Apa kau tinggal di apartemen ini?" tanya Pria itu.


"Iyaa," jawab Sheryn seraya memasukkan belanjaan miliknya.


"Kau tinggal bersama keluargamu di sini?" Pria itu sesekali menoleh pada Sheryn seraya membantunya.


"Tidak."


Selesai memasukkan semua barang belanjaannya, Sheryn berdiri seraya memegang semua belanjaannya. "Terima kasih atas bantuannya, Tuan."


"Tidak masalah. Kalau boleh tahu, siapa namamu, Nona?"


Sheryn mengerutkan kening sejenak. "Mungkin saja kita akn bertemu lagi nanti. Akan lebih sopan kalau aku mengetahui namamu."


Karena sudah ditolong, tidak ada salahnya Sheryn memberitahu namanya. Hanya sekedar nama. Tidak begitu penting baginya.


"Namaku Sheryn, Tuan."


Pria itu tersenyum. "Panggil saja Alan, itu namaku."


Sheryn tersenyum canggung lalu mengangguk. "Kalau begitu, aku permisi dulu."


Pria itu terlihat terus menatap kepergian Sheryn hingga tubuhnya menghilang ketika dia memasuki loby utama apartemen itu. "She-ryn... Sheryn. Akan kuingat nama itu," ucap Pria itu seraya tersenyum.


Bersambung...