
"Sudah selesai, Nona." Seorang penata rias baru saja selasai merias wajah dan merapihkan tatanan rambut Sheryn.
"Terima kasih."
Malam ini, dia akan menghandiri pesta perayaan ulang tahun pernikahan Laura dan Harry. Sebenarnya dia tidak ingin datang, hanya saja di pesta tersebut akan dihadiri oleh beberapa pemegang saham di perusahaannya.
Dia ingin mencari kesempatan untuk berbicara dengan mereka untuk mendapatkan dukungan pada rapat pemegang saham nanti. Laura sudah lebih dulu mendapatkan banyak dukungan dari pemegang saham lainnya jadi dia tidak ingin kalah dengan Laura. Dia tidak mau tersingkir oleh Laura. Jika sampai itu terjadi perlahan Laura akan menguasai semuanya.
Sheryn sedang berdiri di depan cermin yang ada di kamarnya dan melihat penampilannya sebelum pergi ke kamar Melvin. Setelah merasa tidak ada yang kurang dari penampilannya. Sheryn pergi ke kamar Melvin untuk memilihkan pakaian yang cocok untuknya.
Saat Sheryn memasuki kamar Melvin, dia melihat Melvin sedang duduk di tempat tidur dengan wajah bodohnya. "Melvin, bagaimana penampilanku?" Sheryn bertanya dengan senyum manis di wajahnya.
Melvin mendongakkan kepala menatap Sheryn yang sedang berdiri di dekat pintu penghubung kamar mereka. Melvin nampak terkesiap melihat penampilan Sheryn. Dia terdiam selama beberapa detik kemudian berkata, "Cantik."
Satu kata dari mulut Melvin mampu memunculkan semburat merah di pipi Sheryn. Dia bukannya tidak pernah dipuji oleh pria lain. Entah mengapa dia selalu merasa berbeda jika dipuji oleh Melvin. Terkadang hanya ditatap olehnya dari jarak dekat mampu membuat dadanya berdebar tidak terkendali.
"Mulutmu manis sekali." Sheryn berusaha mengembalikan ketenagan dirinya sebelum melangkah mendekati Melvin. "Ayo berdiri. Sudah waktunya kau bersiap."
Sheryn menggiring Melvin menuju lemari pakaian dan mengambilkannya setelah jas berwarna Navy. Karena Melvin tidak pernah mengenakan pakaian formal, Sheryn mencoba untuk membantu memakaikan kemejanya.
Setelah Melvin melepas baju atasnya dan Sheryn membantu memakaikan kemeja padanya, pipi Sheryn kembali memerah. "Kamu sakit?" Melvin menunduk menatap Sheryn yang sedang mengancingkan baju untuknya dengan wajah bersemu merah.
"Tidak," jawab Sheryn cepat sambil mempercepat mengancingkan baju Melvin.
"Wajahmu memerah." Melvin menangkup wajah Sheryn dan menatap dalam matanya.
Sheryn terdiam selama beberapa detik, seolah tersihir dengn tatapan mata hitam Melvin. "Aku tidak apa-apa, Melvin." Sheryn menjahuhkan diri darinya karena jatungnya sudah berdebar tak menentu hanya dengan bertatapan denganya selama beberapa detik.
"Cepat pakai celanamu. Aku akan menunggu di sini." Sheryn memberikan celana panjang pada Melvin setelah baju kemejanya sudah terkancing sempurna.
Dengan tatapan bodoh dan lingung, Melvin meraih celana itu dan pergi ke kamar mandi. Beberapa saat kemudian, dia keluar dengan pakaian yang tidak rapi. Sheryn langsung menghela napasnya. Mevin memang tidak bisa memakai pakaian formal dengan rapi karena selama ini dia hanya memakai pakaian kasual saja.
Mau tidak mau, Sheryn harus membenahinya, tapi dia terlihat ragu untuk beberapa saat. Bagaimana caranya dia memasukkan kemeja putihnya ke dalam celananya. Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya Sheryn maju mendekati Melvin dan berdiri di depannya.
"Melvin, kau tungu di sini. Aku akan meminta orang untuk merapihkan bajumu." Itu adalah satu-satunya cara baginya untuk merapihkan pakaian Melvin karena tidak mungkin kalau dia yang melakukannya.
Beberapa meit kemudian, dia membawa salah sau pengwal yang ada di rumahnya dan memintanya untuk merapihkan pakaian Melvin.
"Terima kasih."
"Sama-sama, Nona."
Setelah kepergian pengawalnya, Sheryn memanggil penata rias yang ada di kamarnya tadi untuk merapihkan rambut Melvin. "Kau tampan sekali, Melvin," puji Sheryn setelah rambutnya selesai ditata. Seperti biasa, Melvin hanya menampilkan wajah bingung dan bodohnya.
Setibanya di acara pesta, Sheryn mengaitkan tangannya pada Melvin dan berjalan ke dalam. Suasana di pesta nampak meriah. Sheryn menyapu seluruh ruangan pesta yang bisa dijangkau oleh matanya. Dia bisa melihat Laura dan Harry sedang mengobrol dengan salah satu rekan bisnis Harry yang juga dikenal oleh Sheryn.
Sheryn memutuskan untuk berkeliling untuk mencari seseorang. Sheryn sedang mencari seseorang yang ingin dia temui yaitu teman ayahnya dan juga salah satu pemegang saham di perusahaannya. Setelah menemukannya, Sheryn mengajak Melvin untuk menemuinya saat orang tersebut sedang sendiri.
Tidak mau berbasa-basi, Sheryn langsung pada intinya yaitu meminta dukungan padanya saat rapat pemegang saham nanti dan menjelaskan niat busuk Laura. Karena memiliki hubungan baik dengan ayahnya. Tentu saja orang tersebut mau mendukung Sheryn. Terlebih orang tersebut tahu mengenai kinerja Sheryn dalam mengurus perusahaan.
Selesai berbicara, Sheryn kembali mencari pemegang saham selanjutnya yang menghandiri pesta tersebut. Dia adalah pria yang pernah menyukai Sheryn. Sebenarnya dia tidak suka dengan orang tersebut hanya saja, ayahnya memiliki saham 10% di perusahaanya dan sekarang sudah dialihkan pada anaknya. Sheryn terpaksa menemuinya.
Sheryn berdiri di depan Aric dan menyapanya dengan sopan ketika dia sedang berbicara dengan orang lain. Aric adalah salah satu pria yang pernah mengangumi kecantikan Sheryn.
Aric menoleh dan terkejut ketika melihat siapa orang yang sedang menyapanya. "Bukanlah ini Nona muda dari keluarga Giffin." Senyum merekah di wajah tampan Aric, "Sheryn Venessa Giffin. Bagaimana kabarmu?" Aric mengulurkan tangan pada Sheryn dan langsung disambut olehnya.
"Kabarku baik, Tuan Aric." Sheryn memaksakan senyumnya pada Aric.
Senyum aneh terbit di wajah Aric. "Kapan kau kembali? Aku dengar kau berada di luar setahun belakangan ini."
Sheryn segera menarik tangannya setelah berjabat tangan dengan Aric. "Aku baru saja kembali," jawab Sheryn sopan, "begini Tuan Aric. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. Bisakah kita berbicara sebentar?"
Aric melirik sekilas pada rekannya lalu beralih pada Sheryn. "Hal apa?" tanya Arick dengan alis terangkat satu.
"Hal penting. Aku tidak bisa membicarakan padamu di sini."
"Baiklah."
Setelah Aric berpamitan dengan rekan kerjanya. Sheryn mengajaknya untuk pergi ke sudut ruangan yang jauh dari keramaian.
"Begini Tuan Aric. Aku tahu kau pasti sudah mendapatkan pemberitahuan mengenai rapat pemegang saham yang akan diadakan 2 hari lagi. Agenda tentang pengangkatan Laura dan berhentianku dari perusahaan. Aku ingin meminta dukungan darimu."
Aric nampak duduk dengan santai sambil meminum wine ketika mendengarkan perkataan Sheryn. "Sheryn, apa kau tahu, Laura sudah mendatangiku lebih dulu dan memintaku memihaknya."
Sheryn juga sudah tahu hal itu. Laura memang berusaha untuk menarik semua pemegang saham akan berpihak padanya.
"Apa kau sudah setuju membantunya?"
Dengan santai Aric menjawab, "belum." Sambil menggeleng.
Sheryn bisa bernapas lega sedikit. Setidaknya dia masih memiliki sedikit peluang. "Apa yang akan kau tawarkan jika aku mau memihakmu?"
Perasaan tidak enak langsung mendera Sheryn. Dia tidak begitu mengenal Aric, hanya dia terkenal sebagai pemain wanita.
"Apa yang kau mau dariku?"
Aric menggoyangkan gelas yang berisi wine merah sebelum meminumnya dan tersenyum penuh arti pada Sheryn. Sudah lama dia menyukai Sheryn dan selama ini sangat sulit baginya untuk mendekatinya karena ada Harry di dekatnya. Sekarang Harry sudah menikah. Tidak ada lagi penghalang baginya.
Aric berpikr sejenak. Tatapannya seketika tertuju pada Melvin yang sedari tadi ada di dekat Sheryn. "Siapa pria ini? Kenapa dari tadi dia mengikutimu?"
Sheryn menoleh sejenak pada Melvin kemudian berkata, "Dia adalah calon suamiku." Satu-satunya cara melindungi diri dari pemain wanita seperti Aric adalah dengan mengatakan itu.
Aric meneliti wajah Melvin sejenak. "Ternyata yang dikatakan Laura benar kalau kau sudah memiliki calon suami."
Senyuman mengejek tertuju pada Melvin. Laura memang sudah menceritakan mengenai kekurangan Melvin padanya. Saat mendengarnya, Aric sedikit kecewa, tetapi ketika melihatnya secara langsung, kepercayaan dirinya meningkat.
"Begini saja." Aric memajukan tubuhnya lalu menatap Sheryn dengan wajah serius, "aku akan memberikan suaraku untukmu pada rapat pemegang saham nanti. Asalkan kau mau menemaniku minum malam ini, berdua saja. Bagaimana?"
Melvin yang sedari tadi hanya duduk diam tiba-tiba memunculkan aura dingin dari tubuhnya saat mendengar persyaratan dari Aric.
Bersambung...