Mysterious Man

Mysterious Man
Membongkar Kejahatan Ibu Laura



Mobil Melvin berhenti tepat di depan sebuah rumah besar yang berada di salah satu kawasan elit di kota itu. Rumah itu adalah rumah keluarga Sheryn yang sudah dimiliki oleh Laura dan ibunya. Rumah itu, banyak menyimpan memori masa kecilnya dan memori indah bersama dengan ayah dan ibunya sebelum, ibu Laura masuk ke dalam kehidupan mereka.


"Jadi ini tempat yang ingin kau datangi?" tanya Sheryn seraya menatap Melvin dengan wajah heran setelah dia sempat menatap rumah yang ada di depannya itu.


"Iyaa. Turunlah."


"Tunggu dulu." Sheryn menahan lengan Melvin ketika melihatnya akan membuka pintu mobilnya.


"Ada apa?" tanya Melvin seraya menoleh pada Sheryn.


"Apa yang ingin kau lakukan di sini?" tanya Sheryn dengan wajah penasaran.


Melvin memutar tubuhnya ke arah Sheryn lalu berkata, "Ingin menyelesaikan urusanmu." Kemudian menggengam jemari tangan Sheryn, "aku ingin segera kembali ke negaraku, maka dari itu, aku ingin menyelesaikan semua urusanmu di sini dengan cepat."


Setelah mengatakan itu, Melvin menarik tangan Sheryn dengan lembut keluar dari mobil dan berjalan masuk ke arah pintu utama. Baru saja mereka akan memencet bel rumah itu, pintunya sudah terbuka.


"Sheryn, kenapa kau kembali ke sini lagi?" Ibu Laura terlihat sedikit terkejut ketika melihat keberadaanya Sheryn di sana, "dan, dia... bagaimana bisa dia kembali lagi ke sini?" tunjuk ibu Laura pada Melvin.


"Nyonya Ruth, aku Melvin Anderson. Orang yang menghubungimu kemarin," ucap Melvin untuk menjawab pertanyaan ibu Laura.


"Melvin Anderson?" Mata ibu Laura semakin membesar, "tapi bukankah kau adalah Melvin idiot yang pernah Sheryn bawa kemari? Bagaimana bisa kau berubah menjadi...."


"Kami memang orang yang sama, tapi identitasku yang asli adalah Melvin Anderson. Aku rasa kau pasti sudah tahu siapa keluarga Anderson."


Aura yang ditampilkan Melvin sangat tenang dan penuh wibawa dan itu membuat ibu Laura sedikit sungkan ketika mengetahui identitas Melvin yang asli.


Setelah tertegun selama beberapa saat, ibu Laura akhirnya berkata, "Maafkan akun karena tidak mengenalimu sejak awal. Aku sungguh-sungguh minta maaf." Ibu Laura kemudian menoleh pada Sheryn, "kenapa kau tidak bilang kalau kau mengenal, Tuan Anderson?"


Sheryn mencibir dalam hati. Ibu Laura sama saja dengan anaknya. Setelah tahu dari mana Melvin berasal, semuanya berlomba-lomba untuk mencari muka di depan Melvin.


"Apa kau akan membiarkan kami terus berdiri di sini, Nyonya Ruth?" sindir Melvin tanpa segan.


"Maafkan aku. Aku sampai lupa." Ibu Laura membuka pintu dengan lebar lalu mempersilahkan mereka untuk duduk ruang tamu dan segera memintan pelayan untuk menyuguhkan makanan terbaik untuk Melvin dan Sheryn.


"Sheryn, kau pasti rindu dengan rumah ini, bukan?" tanya Laura setelah melihatnya mengedarkan pandangannya ke sekitarnya.


Sudah banyak yang berubah di rumah itu. Sepertinya Laura dan ibunya sengaja merubah seisi rumah itu untuk menghilangkan jejak Sheryn dan keluarganya.


"Menginaplah di sini bersama dengan Tuan Anderson kalau kau mau." Sheryn tersenyum sinis. Sikap ibu Laura langsung berubah seketika dan tentu saja Sheryn tahu apa penyebabnya.


Melvin duduk seraya menyandarkan punggungnya di sofa. "Nyonya Ruth, sepertinya itu tidak perlu. Aku kemari bukan untuk berbasi-basi denganmu. Sekarang katakan padaku, di mana kau menyimpan surat wasiat mendiang ayah Sheryn yang asli," ucap Melvin dengan wajah tegas dan sorot mata dingin.


Pupil mata Sheryn nampak membesar setelah mendengar ucapan Melvin. Mereka berdua sama-sama menoleh padanya dengan wajah terkejut.


"Apa maksudmu, Tuan Anderson? Aku tidak mengerti surat wasiat yang apa kau maksud," ujar Ibu Laura dengan wajah tenangnya.


Melvin menoleh pada Sheryn kemudian berkata dengan lembut. "Nyonya Ruth membuat surat wasiat baru yang isinya sudah dia rubah, sesaat sebelum membu-nuh ayahmu. Dia menyuruh ayahmu untuk menandatangi surat wasiat yang baru itu dan menyembunyikan wasiat asli. Dia mengancam akan mencelakaimu kalau sampai ayahmu tidak mau menandatangani wasiat itu. Setelah mendapatkan tanda tangan ayahmu, dia meminta seorang Dokter palsu untuk menyuntikkan racun pada ayahmu. Racun yang tidak bisa dideteksi, meskipun dicek dengan peralatan medis sekalipun."


Mata Sheryn membulat sempurna setelah mendengar penuturan Melvin. Jantungnya berdebar kencang bahkan tubuhnya gemetar tidak terkendali karena terlampau marah.


"Jangan memfitnahku, Tuan Anderson!" hardik Ibu Laura, "aku tidak pernah melalukan itu," sanggahnya lagi dengan wajah marah.


Melvin nampak terlihat tenang, meskipun ibu Laura nampak berapi-api. "Melvin, apa yang kau katakan itu tidak bohong, kan? Benarkah Bibi Ruth yang sudah membunuh ayahku? Jadi benar ayahku meninggal bukan karena serangan jantung?"


"Iyaa Sayaang. Aku tidak mungkin berbohong padamu, terlebih ini masalah mendiang ayahmu," jawab Melvin lembut, "bahkan Nyonya Ruth mencampurkan bubuk racun pada makanan dan minuman ayahmu sehingga menyebabkan ayahmu mengalami kerusakan sistem syaraf dan kerusakan pada organ vitalnya. Itulah sebabnya, ayahmu masuk rumah sakit dalam keadaan kritis."


Ibu Laura memang mencampurkan bubuk racun dosis kecil ke dalam makan dan minuman yang dikonsumsi oleh ayah Sheryn untuk membu-nuhnya secara perlahan.


Amarah ibu Laura mulai terpancing. "Apa kau punya bukti? Jangan berbicara omong kosong di sini, Tuan Anderson! Meskipun kau orang berpengaruh, tapi jika kau menunduhku tanpa bukti seperti ini, aku bisa melaporkanmu."


Melvin mendesis dengan wajah mengejek. "Bukti? Kau pikir, aku Melvin Anderson akan berbicara tanpa adanya bukti?" ujar Melvin dengan wajah sinisnya. Melvin lalu meraih ponsel di sakunya lalu menghubungi seseorang. "Stein, bawa ke mari," ucap Melvin pada orang yang dia telpon.


Tidak lama setelah menelpon asistennya, beberapa orang terlihat memasukin ruang tamu. Ketika melihat siapa yang memasuki ruangan tamunya, mata ibu Laura langsung membelalak.


"Kalian, kenapa bisa di sini?"


Orang yang dimaksud oleh ibu Laura nampak menunduk dengan wajah takut dan cemas. Sementara Sheryn terlihat mengerutkan karena tidak mengenal orang-orang yang dibawa oleh pengawal Melvin.


"Sheryn, ini adalah orang-orang yang bekerja sama dengan Nyonya Ruth," jelas Melvin ketika melihat wajah bingung Sheryn.


"Wanita ini bekerja sebagai pelayan di rumah ini setelah kau diasingkan keluar negeri. Dia yang bertugas untuk mencampurkan racun ke dalam makanan dan minuman ayahmu," tunjuk Melvin pada wanita berusia sekitar 30 tahun.


"Pria ini adalah Dokter samaran yang bertugas menyuntikkan racun sebelum ayahmu meninggal," tunjuk Melvin pada pria berkacamata bening.


"Pria ini yang bertugas untuk merusak mobil yang dikendarai Harry sebelum terjadi kecalakaan," tunjuk Melvin pada pria berkepala botak.


"Pria ini yang menabrak Harry," tunjuk Melvin pada pria bertubuh tegap.


"Dia, dia, dia, dia, dia dan dia juga," tunjuk Melvin pada 5 orang lainnya yang belum di sebutkan olehnya, "semua orang yang ada di sini berkontribusi dengan kematian ayahmu dan kecelakaan Harry," terang Melvin seraya menatap seluruh orang yang sedang dipegang oleh pengawalnya, "keenam orang itu juga yang sudah menghilangkan bukti saat mereka berusaha mencelakai Harry."


Sheryn terlihat terdiam dan tidak bisa berkata-kata selama beberapa detik. Matanya dan wajah memerah, tangannya terkepal dan sorot matanya nampak berapi-api. Tiba-tiba, Sheryn melangkah ke arah ibu Laura dan melayang tamparan keras padanya.


"Plaaaakkk."


"Beraninya kau membu-nuh ayahku setelah apa yang sudah ayahku berikan padamu. Dia mengangkat derajatmu dari orang biasa menjadi terhormat dan ini balasannya, dengan membu-nuh ayahku?"


Bersambung...