Mysterious Man

Mysterious Man
Jebakan



Jessica keluar dari apartemen Jack dengan jantung yang berdebar. Wanita itu menatap pintu di depannya dengan wajah yang cemas.


Jack sepertinya tidak terpengaruh dengan obat perangsang yang di berikan Miranda tadi. Padahal Miranda telah menambahkan dosisnya. Seharusnya Jack tidak bisa melawan seperti tadi. Dan, seharusnya gairah pria itu sekarang sudah tinggi dan berada di puncaknya.


Tapi..


Tapi mengapa Jack masih bisa menahannya?? Bukankah itu sama saja dia tengah menyiksa dirinya sendiri, pikir Jessica.


Wanita itu pun menghela nafasnya pelan dan mencoba menenangkan diri. Setidaknya dia telah mengatakan pada Jack bahwa ini semua salah paham dan dirinya juga sedikit mabuk.


Walaupun Jack hampir mengetahui rencananya dan Miranda, tetapi setidaknya ia telah menyangkal dan memiliki alasan yang logis untuk mengelak. Semoga saja Jack tidak mencurigainya lagi, pikirnya penuh harap.


Jessica pun menutup matanya pelan dan membalikkan badannya untuk meninggalkan apartemen Jack.


Namun..


Saat wanita itu berbalik, ia terlihat tersentak dan terkejut saat melihat seseorang yang berada di belakangnya,


"Kau!!!" ucapnya terkejut.


Morgan menatap Jessica dan membungkuk pelan padanya,


"Selamat malam Nona" ujarnya menyapa.


Jessica terlihat sedikit gugup dan mencoba untuk tersenyum,


"Ah, malam.. Kau membuatku terkejut" ujar wanita itu.


Morgan tersenyum pelan dan menatap pintu apartemen Jack yang tertutup di belakang tubuh Jessica,


"Apa.. Tuan Jack ada di dalam?? Tadi dia meneleponku beberapa kali dan aku tidak mengangkatnya" ujarnya merasa bersalah dan takut.


Jessica terdiam sejenak dan berdehem pelan,


"Jack ada di dalam.. Dia.. Dia sepertinya mabuk. Tadi, kami makan malam bersama ibu dan ayah Jack juga. Jadi.. Jadi aku yang mengantarnya pulang" ucapnya mencoba meyakinkan.


Morgan pun terlihat mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Jessica. Setahunya, Jack adalah tipikal orang yang tidak terlalu suka alkohol, dan pria itu juga bukan orang yang gampang mabuk walaupun meminum alkohol cukup banyak.


Morgan hanya mengangguk pelan mendengar ucapan Jessica,


"Ah.. jadi begitu.. Terimakasih Nona sudah mengantar Tuan Jack. Aku akan masuk ke dalam untuk memastikan dan meminta maaf karena tidak mengangkat panggilannya tadi" ujar Morgan.


Jessica terlihat gugup dan mencoba untuk menghalangi Morgan masuk,


"Tidak perlu Morgan! Jack sepertinya kelelahan. Kau lebih baik pulang saja, biarkan dia beristirahat" ujarnya sedikit gugup.


Morgan terdiam sejenak dan menghela nafasnya,


"Tidak apa-apa.. Aku hanya ingin memastikan saja jika Tuan baik-baik saja" ujarnya lagi sambil mendekat kearah pintu apartemen Jack.


Jessica pun menutup matanya dengan gugup dan tidak bisa mencegah Morgan lagi. Jika ia melakukannya maka Morgan akan curiga,


"Ba.. Baiklah kalau begitu.. Aku pulang dulu" ujarnya pamit.


Morgan pun tersenyum pelan dan mengangguk. Jessica dengan langkah lebarnya langsung berlalu pergi meninggalkan apartemen Jack.


Tok..


Tok..


Morgan mengetuk pintu apartemen Jack,


"Tuan.. Apa Tuan sudah tidur??" tanyanya.


Tak ada jawaban dari dalam. Morgan pun mencoba untuk membuka pintu dan sedikit terkejut saat pintu apartemen Jack tidak terkunci.


Pria itu pun masuk dan mengarahkan pandangannya ke sekitar. Pandangannya pun mengarah pada pintu kamar Jack yang terbuka.


"Tuan.. Ini aku Morgan. Bolehkan aku masuk?? Maaf tadi aku tidak mengangkat telfon Tuan" ucapnya sedikit takut dan tidak enak.


Morgan tidak mendengar sahutan dari Jack. Ia terdiam sejenak di tempatnya dan memutuskan untuk melangkah ke kamar Jack.


Namun, sebelum pria itu melangkah..


Terlihat Jack yang keluar dari kamar dengan bertelanjang dada dan tubuh yang berkeringat. Pria itu menyentuh kepalanya dan menatap Morgan dengan merintih.


"Tuan! Ada apa?? Apa Tuan baik-baik saja??" tanyanya cemas.


Jack duduk di atas sofa dan menggeleng pelan,


"Panas.. Mengapa disini terasa panas Morgan??" rintihnya pelan.


Morgan pun mendekati Jack dan memeriksa suhu tubuh pria itu. Ia pun sedikit mengernyit saat tidak merasakan panas di tubuh Jack. Suhu ruangan di apartemen pria itu juga bisa di bilang sejuk saat ini. Tapi.. Mengapa Jack malah berkeringat dan kepanasan??


Seketika pria itu pun terlihat waspada dan menatap Jack dengan teliti,


"Apa Tuan tengah memakan obat??" tanyanya pelan.


Jack menatap pria itu sekilas dan menggeleng,


"Tidak.. Aku hanya makan dan meminum sedikit anggur dari restoran" balasnya sambil merintih.


Morgan pun kembali mengamati kondisi Jack dan sangat tau apa penyebab Jack seperti ini,


"Apa Tuan meminum obat perangsang??" tanyanya hati-hati.


Bagaimanapun juga Morgan sudah berpengalaman dan mengetahui ciri-ciri jika seseorang meminum obat perangsang..


Jack seketika terdiam dan menatap Morgan dengan tajam,


"Obat.. Perangsang??" tanyanya memastikan.


Morgan pun mengangguk pelan,


"Iya Tuan.. Aku sangat mengetahui ciri-ciri orang yang telah meminum obat perangsang, karena.. aku punya pengalaman saat bersama istriku hehe" ucapnya sambil mengangguk lehernya pelan.


"Ibu mertuaku sengaja memberikan obat perangsang di minumanku saat malam pertamaku bersama istriku.. Aku tidak tau mengapa ia melakukannya. Padahal tanpa obat perangsang pun aku sudah sangat bergairah pada istriku saat itu" lanjutnya sambil terkekeh kembali sambil menatap Jack yang menatapnya tajam.


Seketika senyuman Morgan pun hilang saat melihat ekspresi menakutkan pria itu.


Ingatan Jack pun seketika teringat saat ibunya memaksanya untuk meminum anggur di restoran tadi. Apa jangan-jangan.. Ibunya sengaja melakukan itu agar dirinya bisa tidur bersama Jessica?? pikirnya marah.


Tangan Jack terkepal kuat, ia tidak habis pikir dengan tindakan sang ibu yang sudah melewati batas.


Ini benar-benar keterlaluan!! pikirnya marah.


Jack kembali merintih pelan dan tidak bisa mengontrol tubuhnya yang terasa aneh. Ia membutuhkan sesuatu agar rasa aneh ini bisa segera menghilang..


"Apa.. yang harus aku lakukan agar efek dari obat ini menghilang??" tanyanya pelan pada Morgan.


Morgan terdiam sejenak dan menatap Jack dengan tidak enak,


"Ya.. Ya.. Itu.. biasanya.. harus di salurkan" ucapnya hati-hati.


"Tapi.. Mungkin dengan mandi air dingin juga bisa meredakannya. Walaupun memang tidak terlalu ampuh, tetapi kurasa efeknya bisa berkurang sedikit" lanjutnya.


Jack menutup matanya dan hendak beranjak kembali ke kamarnya untuk ke kamar mandi. Namun, tiba-tiba bel apartemennya berbunyi.


Morgan menatap kearah pintu dan menatap Jack yang telah masuk ke kamarnya dengan kesusahan. Pria itu pun berjalan kearah pintu dan membukanya.


CKLEK!!


Pintu pun terbuka dan Morgan terlihat terkejut saat melihat seseorang yang berada di balik pintu,


"Nona Alice"


Bersambung..


Halo, jangan lupa dukung cerita ini dengan kasih like, komen, vote dan hadiahnya ya 😊


Dukungan kalian sangat berarti bagi author 🥺


Dan, boleh juga di ramein ya kolom komentarnya..


Author suka banget baca komen dari pembaca tentang cerita ini 🙏😁


Oh iya, kalai baca novel jangan lupa waktu ya, apalagi sholat 5 waktunya 😁👍