Mysterious Man

Mysterious Man
Pembicaraan Harry dan Melvin



Sheryn dan Xena berjalan ke arah kamar Melvin setelah mereka keluar dari lift. Saat ini adalah jam makan siang, Xena menyempatkan diri untuk mengunjungi Melvin yang baru saja sadar kemarin. Sebenarnya, dia ingin mengunjungi Melvin kemarin malam bersama dengan Emily dan ibu Alan, hanya saja dilarang oleh Sheryn karena takut Xena kurang istirahat dan akan kelelahan nantinya.


Maka dari itu, Xena baru bisa mengunjungi Melvin hari ini setelah diantar oleh Stein. Selama dua minggu ke depan, Sheryn berencana untuk menjaga Melvin di rumah sakit dan menemaninya terapi. Itu sebabnya dia meminta Stein untuk setiap hari membawakan pekerjaannya ke rumah sakit agar dia bisa menjaga sekaligus bekerja dari sana.


"Xena, Melvin masih belum belum sepenuhnya pulih dan menggerakkan tubuhnya. Aku harap kau bisa memakluminya jika nanti dia tidak meresponmu dengan baik," ucap Sheryn sebelum masuk ke dalam ruangan Melvin.


"Iyaaa, aku mengerti," ucap Xena seraya tersenyum lembut.


Mereka berdua akhirnya masuk ke dalam ruangan Melvin setelah Sheryn membuka pintunya Melvin terlihat sedang berbaring dengan posisi kepala sedikit tinggi.


"Melvin, senang melihatmu sudah bangun," ucap Xena setelah duduk di samping ranjang Melvin bersebelahan dengan Sheryn.


Melvin tersenyum tipis. "Bagaimana kabarmu?" tanya Melvin.


"Baik, Melvin. Aku dan bayiku juga semuanya baik." Xena tersenyum seraya mengelus perutnya yang masih rata.


"Maaf, soal Alan," ucap Melvin dengan tatapan bersalah.


"Ini bukan kesalahanmu, Melvin. Itu adalah salahnya. Seharusnya aku yang meminta maaf padamu, karena ulahnya, kau jadi begini. Aku mewakili Alan, meminta maaf padamu dan Sheryn."


"Dia adikku. Aku sudah memaafkannya."


Mata Xena nampak berkaca-kaca setelah mendengar ucapan Melvin. Setiap membahas Alan, dia masih saja merasa sedih. "Terima kasih, Melvin. Kau memang sangat baik. Aku sangat beruntung bisa mengenalmu."


Selesai jam makan siang, Xena berniat untuk kembali ke kantor. Dia harus kembali bekerja. Saat dia akan kembali ke kantor, ada Harry yang baru saja memasuki ruangan Melvin.


"Kau mau ke mana?" tanya Harry saat berpapasan dengan Xena di pintu.


"Aku akan kembali ke kantor."


"Aku akan mengantarmu kalau begitu."


Sheryn dan Melvin nampak hanya diam seraya memperhatikan mereka berdua yang sedang berbicara.


"Tidak perlu, Stein sudah menungguku di bawah."


"Baiklah, hati-hati. Jika kau butuh bantuanku, hubungi aku kapan saja."


Harry tentu saja merasa kasihan pada Xena. Dia sudah tidak memiliki siapapun dia dunia ini. Apalagi, dia sedang mengandung. Tentu saja berat baginya karena harus melanjutkan hidup sendiri tanpa ayah dari bayi dalam kandungannya.


"Baiklah. Aku permisi."


Xena merasa beruntung mengenal Harry, meskipun dia baru mengenalnya selama 3 bulan, tapi dia sangat baik padanya. Dia menjaganya sama seperti menjaga Sheryn. Sikap baik Harry membuat Xena merasa nyaman di dekatnya.


"Harry, kau dari mana?" tanya Sheryn setelah Harry berdiri di sampingnya, "aku menghubungimu sejak pagi, tapi tidak kau angkat."


Melvin melirik pada Harry saat mendengar perkataan istrinya.


"Maaf, Sheryn, ponselku tertinggal di apartemenku. Aku baru saja pulang mengambilnya dan langsung ke sini saat melihat panggilan banyak darimu." Harry duduk di samping Sheryn, "kalau tidak percaya, kau bisa mengecek ponselku. Banyak pesan yang belum aku baca dari orang lain juga," lanjut Harry lagi saat melihat wajah cemberut Sheryn.


Melvin terus memperhatikan interaksi istrinya dengan Harry. Dia cemburu melihat kedekatan istrinya dengan Harry.


"Baiklah, aku percaya."


"Ada apa kau menghubungiku?"


"Ada yang ingin aku bicarakan tentang pekerjaan, tapi nanti saja, tunggu kau tidak sibuk."


Selama ini, Sheryn sudah menyita banyak waktu Harry, jadi dia merasa tidak enak jika terus merepotkan Harry. Dia jiga tidak bisa merepotkan Stein karena dia sudah sibuk karena sudah mengambil separuh dari pekerjaanya.


"Nanti sore aku akan ke sini lagi. Aku masih ada urusan setelah ini," ujar Harry seraya tersenyum pada Sheryn.


"Baiklah."


Sheryn terlihat berdiri. "Harry, tolong jaga Melvin sebentar, aku ingin menemui dokter dulu."


"Iyaaa, aku tahu. Aku pergi dulu."


Harry pun beralih menatap Melvin setelah pintu ruangannya tertutup.


"Apa kau masih mengharapkan istriku?" tanya Melvin dengan tatapan menyelidik.


Masalalu Sheryn dan Harry tentu saja membuat Melvin menaruh curiga padanya. Melvin sangat tahu kalau Harry sangat mencintai Sheryn dulu, bahkan sampai mempertaruhkan nyawa demi istrinya. Apalagi, selama dia koma, Harry selalu mendampinginya dan menjaga Sheryn. Hal itu membuat Melvin merasa cemburu sekaligus iri.


Harry tersenyum tipis saat melihat kecemburuan Melvin yang terlihat sangat jelas di mata Harry. "Sejujurnya, aku masih mencintainya." Tatapan Melvin menjadi tajam, "tapi, aku sadar kalau dia hanya mencintaimu jadi aku memutuskan untuk menyerah."


Ada perasaan lega di hati Melvin setelah mendengar itu.


"Berusahalah untuk pulih lebih cepat. Kau pasti tidak tahu bagaimana menderitanya dia saat kau koma," sambung Harrry lagi, "jika tidak mengingat kebaikanmu padaku, aku pasti sudah membawanya pergi saat kau koma."


Sempat terlintas di benaknya kalau lebih baik Melvin tidak bangun lagi. Dengan begitu, Sheryn bisa menjadi miliknya, tapi setelah mengingat kebaikan Melvin padanya ketika dia koma, Harry membuang jauh-jauh pikiran itu dan memutuskan untuk menjaga Sheryn dan Xena sebagai balas budinya pada Melvin.


"Aku akan memburumu kalau sampai kau melakukan itu."


Harry tersenyum lebar. "Aku tahu kau pasti akan mengatakan itu padaku." Harry terlihat santai, meskipun Melvin sedang menatap tajam dirinya, "aku tidak mungkin melakukan itu pada orang yang sudah menolongku. Lagi pula, Sheryn pasti akan membenciku jika sampai aku melakukan itu. Aku hanya ingin melihatnya bahagia, maka dari itu, aku memutuskan untuk melepaskannya. Aku tidak ingin melihatnya sedih lagi."


"Terima kasih karena sudah menjaganya selama aku koma," ucap Melvin tulus.


"Itu adalah kewajibanku sebagai kakaknya. Setidaknya, dia menganggapku bagian dari keluarganya sehingga aku tetap bisa dekat dengannya, meskipun aku tidak bisa memilikinya."


"Harry, Sheryn...."


"Aku tahu, dia tidak mencintaiku lagi," potong Harry cepat, "aku tidak akan melewati batasanku, Melvin. Aku hanya berharap masih bisa menjalin komunikasi yang baik dengannya."


"Baiklah, asalkan kau tidak mengharapkan istriku lagi."


Harry mengangguk. "Aku juga ingin berterima kasih karena kau sudah menolongku saat aku koma. Aku harap kedepannya kau tidak memusuhiku hanya karena aku pernah menjadi kekasih Sheryn."


Melvin terlihat mengangguk pelan. "Terima kasih juga karena sudah menjaga Xena."


Setelah kematian Alan, tentu saja Xena menjadi tanggung jawab Melvin juga. Harry menjaganya dengan baik, maka dari itu, Melvin harus berterima kasih padanya.


"Dia wanita yang baik. Sayang sekali nasibnya sangat malang. Adikmu justru membebaninya dengan benih yang dia tinggalkan di rahim Xena."


"Anak itu tidak salah."


"Aku tidak menyalahkan anak dalam perut Xena, tapi kelakukan adikmu. Seharusnya dia memikirkan masa depan Xena dengan tidak menabur benihnya begitu saja tanpa pertimbangan apapun."


Melvin nampak menghembuskan napas pelan mendengar itu. "Iyaa, itu memang salah adikku."


"Semua sudah terjadi. Aku hanya merasa kasihan padanya. Dia hamil tanpa didampingi ayah dari bayi dalam kandungannya. Pasti sangat berat baginya melalui hari-harinya."


Melvin termenung selama beberapa detik lalu berkata, "Aku akan berusaha untuk menjaganya seumur hidupku."


Bagaimana pun Xena sudah menjadi bagian dari keluarganya sendiri. Ada anak Alan di perutnya jadi dia akan menjaganya selamanya.


"Jangan sampai Sheryn salah mengartikan perhatianmu pada Xena. Dia sempat mengira kalau kalian memiliki hubungan khusus di belakangnya, bahkan Sheryn pikir anak dalam perut Xena adalah anakmu."


"Iyaa, aku tahu." Melvin memang berencana untuk menjelaskan semuanya pada Sheryn nanti agar dia tidak salah paham.


"Sebelum kau sembuh total, aku akan sering mengunjungi Sheryn dan akan lebih memperhatikannya. Aku hanya tidak mau dia kelelahan hingga membahayakan bayi dalam kandungannya. Aku harap kau mengerti."


Setelah Melvin sadar, Sheryn pasti akan lebih sibuk dari sebelumnya. Dia harus membagi waktu antara pekerjaan dan mengurus Melvin, meksipun sebenarnya ada perawat khusus yang bertugas untuk merawat Melvin, tetapi tetap saja, Sheryn ingin melakukannya semuanya sendiri. Dia tidak mau orang lain menyiapkan kebutuhan Melvin dan menggantikan tugasnya sebagai seorang istri.


"Ya. Aku akan pulih dengan cepat."


Bersambung....