
Sheryn memasuki rumah ambil memapah Melvin yang terlihat masih menahan sakit di kepalanya. Tiba di tangga, dia tidak sengaja bertemu dengan ibu tirinya. "Ada apa dengan pria bodoh ini?" Ibu Tiri Sheryn menghampiri Sheryn lalu berdiri di depannya sambil melipat kedua tangan di bawah dada dengan wajah angkuhnya.
Sheryn berhenti sejenak lalu melayangkan tatapan marah pada ibu tirinya. "Bibi Ruth, apa mulutmu itu tercipta hanya untuk mengeluarkan kata-kata yang buruk? Sebaiknya jaga bicaramu sebelum mulutmu itu mendatangkan musibah bagimu." Setelah mengatakan itu, Sheryn melangkah menaiki tangga bersama dengan Melvin.
Ibu tiri Sheryn hanya bisa melayangkan tatapan kesal pada Sheryn setelah itu berlalu dari sana. "Anak ini, semakin hari semakin kurang ajar saja padaku."
Setibanya di kamar Melvin, Sheryn membaringkannya dengan hati-hati di tempat tidur, kemudian ia menghubungi Dokter keluarganya. Dia masih cemas dengan kondisi Melvin sebelum Dokter memeriksanya. Setengah jam kemudian, Dokter keluarga Sheryn tiba di kediamannya. Sebelum memeriksanya, Sheryn menceritakan mengenai kondisi Melvin yang sebenarnya.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Sheryn dengan cepat.
Dokter Faris berdiri setelah menyuntikkan obat pada Melvin. "Untuk saat ini dia tidak apa-apa. Aku sudah memberinya obat. Jika dia besok masih merasakan sakit, bawa ke rumah sakit."
Sheryn menjawab dengan cepat. "Baiklah."
Sebelum berpamitan, Dokter Faris memandang wajah Melvin dengan seksama. "Sheryn, pria ini, apa hubunganmu dengannya?"
Shery mengerutkan keningnya ketika mendegar pertanyaan Dokter Faris. Meskipun dia dengan keluarga sudah dekat, tetapi dia jarang sekali bertanya hal pribadi dengan Sheryn. Apa mungkin karena dia tinggal di rumahnya, maka Dokter Faris sedikit heran mengenai keberadaan Melvin.
"Dia adalah calon suamiku." Satu-satunya cara untuk membiarkan Melvin ada di sisinya adalah dengan mengakuinya sebagai calon suaminya, "ada apa, Faris?"
Dokter Faris yang sedari tadi meneliti wajah Melvin seketika menoleh padanya. "Di mana kau bertemu dengannya?" Dokter Faris nampak masih penasaran dengan Melvin.
"Di Negara C. Kami bertemu di sana."
"Lalu bagaimana dengan keluarganya?"
Pertanyaan Dokter Faris semakin membuat Sheryn bingung. "Dia tidak memiliki siapapun. Dia hidup sebatang kara di sana." Sheryn melemparkan tatapan menyelidik pada Dokter Faris, "ada apa?"
Dokter Faris menggeleng dengan senyuman cangungnya. "Tidak apa-apa. Wajahnya terlihat familiar. Dia mirp sekali dengan seseorang, tapi aku rasa bukan dia karena pria yang aku maksud adalah penerus dari keluarga paling berpengaruh di negera H. Perusahaannya berada di puncak tertinggi di dunia bisnis. Aku dengar dia juga memiliki perusahaan di sini yang dipegang oleh adik tirinya. Di negara kita perusahaannya juga menduduki peringkat pertama. Menurut informasi yang aku dengar, pria itu tidak diketahui keberadaannya. Dia tiba-tiba menghilang. Setelah pria itu menghilang, keadaan di negara H jadi memanas karena perebutan kekuasaan antara keluarga dari pihak pria itu dengan keluarga ibu tirinya."
"Apa kau memiliki fotonya?" tanya Sheryn dengan wajah penasaran.
"Tidak. Dia tidak pernah menampilkan diri di publik. Dia termasuk pribadi yang tertutup. Tidak suka dirinya terekspos media. Aku hanya pernah melihatnya sekali dari kejauhan saat aku menghadiri acara pesta."
"Apa mereka terihat sangat mirip?"
"Iyaaa."
"Mungkin hanya mirip. Dia bukan berasal dari negara H."
"Iyaa, sepertinya begitu. Kalau begitu aku permisi."
*******
"Laura, aku ingin bicara denganmu." Harry yang baru saja pulang bekerja langsung menghampiri Laura yang sedang berada di kamar mereka.
Laura memutar tubuhnya menghadap suaminya yang sedang duduk di tepi ranjang. "Ada apa?"
"Aku ingin bercerai."
Bak disambar petir di siang bolong, tubuh Laura langsung membeku. Dia nampak terkejut ketika mendengar ucapan suaminya. Hal yang paling dia takuti akhirnya terjadi. Dengan susah payah dia mendapatkan suaminya, kini belum genap satu tahun pernikahan, Harry sudah minta cerai padanya.
"Apa ini karena si ja-lang itu? Kau ingin kembali padanya lagi?" Mata Laura memerah karena marah.
"Laura, jaga bicaramu!" Amarah Harry mulai terpancing mendengar Laura menghina Sheryn.
Harry memejamkan matanya sejenak mendengar nada bicara Laura yang mulai meninggi. "Laura, aku menikahimu karena kau menjebakku. Kau bilang sedang hamil anakku, nyatanya tidak."
"Peduli apa aku hamil atau tidak. Kau sudah meniduriku, jadi kau harus bertanggung jawab padaku. Harry, jangan harap bisa berpisah denganku."
"Itu karena kau yang sudah menjebakku dan menaiki ranjangku."
Laura tersenyum sinis. "Harry, apapun yang aku lakukan, jika memang kau mencintai Sheryn, tidak mungkin kau tergoda denganku." Laura kemudian berjalan ke sisi lain tempat tidur dan duduk memunggungi suaminya, "hari perayaan pernikahan kita sebentar lagi akan digelar. Jangan pernah bericara tentang perceraian lagi denganku."
Harry menoleh pada Laura dengan wajah acuh tak acuh. "Aku tidak meminta persetujuanmu untuk bercerai. Aku hanya ingin kau tahu. Setuju atau tidak, aku akan tetap menceraikanmu." Harry lalu berdiri dan berjalan ke arah pintu.
"Harry kau mau ke mana? Harry... Harry!!"
Laura berteriak dengan suara keras. Karena tidak menghiraukannya, Laura membuang semua barang yang ada di atas nakas hingga semua terjadi ke lantai dan meninggalkan suara gaduh.
*******
Sepulang bekerja, Sheryn mengajak Melvin untuk ke rumah sakit menjenguk ayahnya. Dia tiba-tiba mendapatkan telpon dari asisten ayahnya kalau ayahnya sudah sadar. Sheryn buru-buru ke rumah sakit setelah mendapatkan telpon tersebut. Setibanya di rumah sakit, asisten ayahnya sudah berasa di dalam ruang ICU.
"Paman, bagaimana keadaan ayahku?" Sheryn menghampiri asisten ayahnya yang sedang bediri di samping ranjang ayahnya.
"Ayahmu baru saja tertidur. Dia belum bisa bicara apapun. Keadaanya masih lemah."
Mata Sheryn berkaca-kaca melihat keadaan ayahnya yang tidak berdaya. Asisten ayahnya bergeser ke belakng agar Sheryn bisa duduk di samping ayahnya.
"Ayah, aku datang." Sheryn menggengam tangan ayahnya sambil menitikkan air matanya.
Tiba-tiba jari tangan ayahnya bergerak dan kedua matanya terbuka. "Ayah."
Mulut ayahnya terbuka seperti ingin berkata sesuatu. "Ayah jangan memaksakan diri." Sheryn hanya takut kalau kondisi kembali memburuk.
Mata ayahnya nampak berkaca-kaca. Dia berusaha untuk menggenggam erat tangan anaknya. Rasa bersalah nampak begitu jelas dalam sorot matanya.
"Jangan memikirkan apapun. Pikirkan saja kesehatanmu."
Air mata ayahnya tanpa sadar menetes di sudut matanya "Ssshh... eee." Ayah Sheryn kembali ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak ada kata yang keluar dari mulutnya.
Sheryn kembali menggenggam tangan ayahnya semakin erat karena merasa kasihan pada ayahnya. "Ayah. Simpan tenangamu. Tidak perlu bicara lagi." Sheryn kemudian menoleh pada Melvin yang berada di belakangnya lalu menariknya mendekat. "Ayah, kenalkan ini Melvin."
Pandangan ayahnya seketika beralih menatap kepada Melvin. Seketika matanya membesar ketika melihat wajahnya. Tangannya terangkat dan tertuju pada Melvin. "Eee... Tu-uu... muud...." Ayah Sheryn terlihat ingin mengatakan sesuatu.
"Tu-uuu... Me... Melv ...." Tiba-tiba monitor di samping ranjang ayah Sheryn dan seketika ayah Sheryn merasakan sesak napas. Dengan cepat asisten ayahnya berlari keluar untuk memanggil Dokter.
"Ayah kenapa?" Sheryn langsung panik melihat kondisi ayahnya dan memanggil namanya berkali-kali sambil berlinang air mata, "Ayah. Ada apa denganmu?"
Melvin terlihat hanya berdiri dengan wajah linglung dan bingung Ketika Dokter dan perawat masuk, mereka bertiga diminta keluar.
Sheryn hanya bisa berdiri sambil menangis di depan ruang ICU. Asisten ayahnya kemudian menoleh pada Sheryn dengan wajah penasaran.
"Apakah ayahmu kenal dengan dia?" tanyanya sambil menoleh pada Melvin.
Bersambung....