Mysterious Man

Mysterious Man
Rencan kepergian Xena



Baru saja Sheryn keluar dari pintu utama, sebuah mobil sedang berwarna hitam berhenti tepat di depan Sheryn. Mobil itu, Sheryn sangat mengenalnya. Mobil yang sering dikendarai oleh kekasihnya. Kaca mobil bagian belakang terlihat turun dan terdengar suara pria dari dalam.


“Masuk.”


Sheryn meneoleh ke kanan dan ke kiri sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil Melvin. “Cepat Sayang. Jangan membuatku menunggu.” Suara dingin Melvin mempercepat langkah Sheryn untuk masuk ke dalam mobil.


“Melvin, bukanka....”


“Stein, jalan.” Ucapan Sheryn langsung dipotong oleh Melvin.


Saat melihat wajah dingin Melvin, dia tahu kalau kekasihnya itu sedang marah. Itu sebabnya Sheryn tidak berani protes lagi. Sebenarnya dia ingin mengatakan pada Melvin untuk tidak menjemputnya tepat di depan kantor, tetapi melihat wajah dingin kekasihnya, dia memilih untuk tidak membahasnya lagi.


“Kita mau ke mana?” Akhirnya Sheryn membuka suara setelah terdiam selama setengah jam lamanya. Setelah dia masuk ke dalam mobil Melvin, tidak sekalipun kekasihnya itu mengajaknya bicara.


“Restoran,” jawab Melvin seraya menatap layar ponselnya.


“Melvin, apa kau membuat kesalahan padamu?”


“Tidak.” Jawaban dingin Melvin membuat Sheryn semakin yakin kalau kekasihnya itu memang sedang marah.


Karena Melvin terlihat mengabaikannya, Sheryn akhirnya mengambil ponsel kekasihnya itu dan seketika membuat Melvin menoleh padanya. “Berikan ponselku, Sheryn.” Melvin menengadahkan tangan ke hadapan Sheryn dengan wajah datarnya.


“Maafkan aku. Aku tidak tahu kau marah karena apa, tapi aku minta maaf.”


Melvin menatap wajah Sheryn dengan seksama. “Sheryn, jangan menghindariku selama di kantor. Aku tidak suka kalau kau menjaga jarak denganku dan mengabaikan aku."


Setelah meeting di luar, sudah 3 kali Melvin turun ke lantai 40 hanya untuk melihat Sheryn bekerja. Hal itu, justru membuat Sheryn merasa tidak nyaman, terlebih lagi Melvin berdiri di depan ruangannya seraya menatapnya. Sheryn hanya berpura-pura tidak melihatnya dan lebih memilih mengabaikannya.


Manager Riani dan yang lainnya juga terlihat tertekan karena merasa diawasi oleh Melvin, padahal, Melvin ke sana hanya untuk melihat Sheryn. Bahkan Direktur Pemasaran yang mengetahui kalau Melvin berada di lantai 40, langsung menghampirinya dan menemaninya di depan ruangan Sheryn.


Divisi pemasaran hari ini menjadi pusat perhatian divisi lain. Semuanya nampak penasaran dengan kehadiran tiba-tiba Melvin di departemen pemasaran.


“Aku tidak mengabaikanmu, Melvin. Aku hanya berusaha bersikap profesional. Aku hanya ingin memberikan batasan yang wajar antara atasan dan bawahan. Saat jam kerja, aku hanyalah karyawanmu, Melvin. Sama seperti yang lain. Aku rasa kau pasti lebih paham dari pada aku mengenai batasan itu.”


Wajah Melvin semakin dingin. “Aku tidak pernah menganggapmu sebagai karyawanku. Kau adalah kekasihku, Sheryn.”


Sheryn hanya menghela napas panjangnya melihat sikap keras kepala Melvin. “Baiklah. Terserah kau saja.” Tidak ada gunanya dia berdebat dengan Melvin di saat dia sedang kesal. Lebih baik dia mengalah agar dia tidak semakin marah dan bisa saja nanti Melvin melarangnya untuk bekerja.


Setelah selesai makan di restoran, Melvin mengantarkan Sheryn ke apartemen setelah itu dia pergi lagi. Tentunya setelah meninggalkan banyak pengawal di apartemennya termasuk 2 pengawal wanita yang berjaga di dalam. Melvin pergi ke suatu tempat untuk bertemu dengan seseorang.


“Xena, ini adalah identitas baru untukmu.” Melvin memberikan amplop coklat pada Xena.


“Di dalamnya ada kartu baru yang bisa kau gunakan di sana nanti. Aku juga sudah menaruh uang di akun bank yang ada di luar negeri dengan nama orang lain. Kau bisa menggunakannya tanpa takut terlacak oleh Alan. Tempat tinggal dan semua keperluanmu sudah aku siapkan juga. Di sana akan ada yang jemputmu. Kau tenang saja, aku sudah menyewa orang untuk melindungimu,” terang Melvin seraya menatap Xena yang sedang melihat isi dari amplop coklat tersebut.


“Baiklah.”


“Kau akan berangkat besok pagi. Aku sudah mempersiapkan semuannya. Kau tidak perlu membawa apapun.”


Xena mengangguk. “Aku sudah memberikan semua bukti-bukti yang kudapat pada Stein.”


“Terima kasih, Xena. Berkat dirimu, aku memiliki bukti kuat sekarang. Aku berhutang budi padamu.”


Dulunya, Xena berasal dari keluarga kaya. Orang tuanya dan orang tua Melvin berteman baik. Xena cukup populer saat masih remaja sama seperti Cheryl Wu. Saat menginjak remaja, keluarganya bangkrut dan dua tahun berselang orang tuanya meninggal. Keluarga Melvinlah yang membantu kehidupan Xena sampai dia selesai kuliah. Dari kecil Xena memang sudah dekat dengan Melvin dan Alan.


“Ini tidak akan lama. Kau bisa kembali lagi setelah keadaan tenang. Aku hanya takut tidak bisa melindungimu dengan baik jika kau masih di sini. Ada Sheryn juga yang harus aku lindungi. Alan sedang mengincar Sheryn, kalau dia tahu kau menghianatinya, dia pasti akan mengincarmu juga dan tidak akan melepaskamu.”


Sebenarnya, Melvin juga tidak tega karena harus mengirim Xena ke tempat yang jauh. Hanya saja dia tidak punya pilihan lain. Dia bisa saja lengah dan tidak bisa melindungi salah satu dari mereka berdua jika dua-duanya ada di sekitarnya, terlebih lagi Alan sangat licik.


“Iyaa. Aku mengerti. Kau tidak perlu merasa bersalah. Aku sendiri yang sudah memutuskan untuk membantumu.”


Meskipun Xena sudah mengatakan hal itu, tapi Melvin nampak masih merasa bersalah. “Xena, aku berterima kasih karena sudah berada di pihakku.” Melvin menatap serius pada Xena. “Aku ingin bertanya satu hal padamu.”


”Apa?”


“Apa kau mencintai Alan?”


Xena tidak langsung menjawab, melainkan menatap Melvin sejenak kemudian tersenyum kaku. “Kenapa kau bertanya seperti itu? Bukankah kau tahu kalau dari dulu aku sudah menyukaimu?”


“Kau tidak bisa menipuku, Xena. Aku bisa melihat dari sorot matamu kalau kau mulai mencintai Alan. Kita sudah saling mengenal sejak dulu. Aku mengenalmu dengan baik.”


Mendengar itu, Xena tersenyum getir. “Ternyata kau menyadarinya. Bahkan Alan sendiri ragu dengan perasaan cintaku padanya. Aku tidak menyangka kalau aku akan jatuh cinta dengannya. Rasa cinta ini tumbuh begitu saja tanpa aku sadari dan semakin bertambah seiring berjalannya waktu.”


Perasaan bersalah Melvin semakin bertambah pada Xena. Dia sudah melibatkan Xena terlalu jauh dengan permasalahannya degan Alan hingga membuat wanita itu jatuh hati pada adiknya. Awalnya, Xena memang mencintai Melvin karena alasan itu juga dia mau membantu Melvin, tapi nyatanya Alan memperlakukannya dengan sangat baik. Bahkan Alan selalu menahan diri untuk tidak menyentuhnya, meskipun dia sangat menginginkannya.


“Lalu kenapa kau masih membantuku? Bukankah seharusnya kau membantu Alan karena dialah orang yang kau cintai saat ini?”


“Justru karena aku mencintainya, maka dari itu, aku harus menghentikannya. Aku tidak mau dia berbuat jahat lagi. Aku ingin dia mempertanggung jawabkan perbuatannya dan menyesalinya. Aku ingin dia berubah jadi lebih baik.”


Melvin menghela napas dengan pelan. “Aku akan mengampuninya, selama dia mau berubah dan menyesali perbuatannya. Bagaimana pun dia adalah adikku. Akan aku beri dia kesempatan untuk berubah. Selama dia tidak menggangguku dan Sheryn, aku akan melepaskannya.”


“Kau tidak perlu melakukan itu. Bagaimana pun dia sudah mencelakaimu berkali-kali. Dia harus diberi pelajaran agar dia jera. Lagi pula, kalau dia tahu aku menghianatinya, dia pasti akan membenciku. Aku tidak berharap dia masih mencintaiku setelah tahu kalau aku sudah menghianatinya. Jalankan saja sesuai rencana kita. Perasaan ini perlahan akan hilang seiring berjalannya waktu. Sama seperti perasaanku padamu dulu.”


“Baiklah. Aku pulang dulu.” Melvin berdiri lalu menghampiri Xena yang juga sudah berdiri. “Maaf aku tidak bisa mengantarmu besok. Aku takut Alan akan tahu.”


“Iyaa, tidak apa-apa," jawan Xena seraya tersenyum.


Melvin lalu memeluk Xena. “Terima kasih, Xena. Jaga dirimu baik-baik selama di sana.”


Xena mengangguk. “Iyaa.”


Setelah bertemu dengan Melvin, Xena pergi ke apartemen Alan. Sebelum dia pergi, dia ingin menemuinya untuk terakhir kalinya. Tidak bisa dipungkiri kalau dia sebenarnya berat untuk meninggalkannya. Terlebih lagi dia merasa sangat bersalah pada Alan karena sudah menghianati kepercayaannya.


“Kenapa kau tidak mengabariku kalau kau mau ke sini, Sayang?” tanya Alan ketika dia baru saja membukakan pintu untuk Xena.


“Aku tiba-tiba merindukanmu.” Xena berjalan masuk ke dalam apartemen Alan lalu duduk di sofa.


“Tidak biasanya kau datang malam-malam begini?” Alan duduk tepat di samping Xena.


“Aku ingin menginap di sini. Apa boleh?” tanya Xena seraya menatap Alan dengan wajah serius.


Bersambung...