
"Aku.. akan mencari jalan hidupku sendiri!!" lanjut Jack yang membuat kedua orang tuanya terkejut seketika.
Jack dengan cepat membalikkan tubuhnya dan hendak meninggalkan ruangan ayahnya. Dengan cepat Miranda pun berdiri dari kursinya dan menatap Jack dengan tajam,
"Berhenti disana Jack!!" ucapnya keras memperingati.
Jack seketika berhenti namun tidak membalikkan tubuhnya kembali kearah orang tuanya. Miranda mencoba mengatur nafasnya dan menatap punggung Jack dengan tajam,
"Apa hanya karena gadis itu, kau sampai melakukan hal seperti ini??" tanyanya tidak habis pikir.
"Kau tidak boleh keluar dari sini sekarang!! Jika kau berani keluar.. Maka, kau tidak boleh menginjakkan kakimu kembali disini maupun di rumah kita!!" ancam Miranda.
Jack tersenyum sinis dan membalikkan tubuhnya menghadap Miranda,
"Ibu tenang saja.. Aku tidak akan pernah kembali lagi ke tempat ini. Dan.. aku juga tidak akan kembali ke rumah! Aku akan memberikan semua fasilitas yang kalian berikan padaku, apapun itu!" tegas Jack.
Pria itu pun kembali membalikkan tubuhnya dan hendak pergi. Miranda yang panik langsung menatap sang suami dengan cemas,
"Cepat katakan sesuatu sayang!! Jangan biarkan Jack pergi!!" ucap Miranda memohon pada sang suami.
Tom terdiam sejenak dan menghela nafasnya pelan,
"Biarkan dia pergi" ucap Tom yang membuat Miranda terbelalak seketika.
Jack pun tanpa berbalik kembali langsung melangkah keluar dari ruangan sang ayah. Miranda seketika berjalan panik kearah pintu dan menatap sang suami dengan tidak percaya,
"Apa yang kau lakukan?? Bagaimana jika Jack benar-benar pergi dan tidak kembali lagi!!" ujarnya panik.
Tom berdiri dari duduknya dan menghela nafasnya pelan,
"Jack sudah dewasa.. Biarkan dia melakukan apapun yang dia inginkan" ucap Tom.
Miranda menatap tidak percaya pada sang suami dan menghampirinya,
"Apa?? Membiarkannya?? Itu sama saja kita membiarkan Jack bertindak sesuka hati!!" protes Miranda.
"Bagaimana jika Jack akhirnya menikahi gadis itu tanpa restu dari kita?? Bagaimana jika Jack pergi dari negara ini untuk hidup bersama gadis itu?? Aku tidak mau hal itu terjadi Tom!! Bukankah rencana kita adalah untuk menjauhkan Jack dari putri Patrick itu??" ucapnya gelisah.
Tom menghela nafasnya dan menatap sang istri,
"Sudahlah.. Biarkan dia pergi untuk sementara ini. Jika kita tetap bersikeras menahannya, Jack bisa saja melakukan hal yang lebih nekat" ucap Tom.
"Biarkan dia untuk saat ini.. Setelah itu, kita bisa kembali bertindak dan membawanya kembali" lanjut Tom.
Miranda pun hanya dapat menghela nafasnya dan mencoba menenangkan dirinya sambil memijat keningnya pelan. Ternyata Jack benar-benar rela bertindak seperti ini demi gadis itu.
Sekarang..
Bagaimana lagi caranya untuk membuat Jack dan gadis itu berpisah?? pikirnya.
Sebuah taksi berhenti tepat di depan rumah Lola. Kebetulan Mandy yang tengah berada di halaman langsung mengarahkan pandangannya pada taksi itu.
Wanita paruh baya itu sedikit mengernyitkan keningnya dan melangkah ke depan gerbang untuk melihat siapa yang baru saja turun dari dalam taksi itu.
Seketika Mandy pun terkejut melihat Jack yang baru saja turun dari dalam taksi. Ia pun dengan segera membuka gerbang dan menghampiri Jack,
"Jack??" ucap Mandy yang membuat Jack yang baru saja turun langsung membalikkan tubuhnya menatap wanita paruh baya itu.
"Bibi" sapa Jack sambil sedikit membungkukkan badannya.
Mandy tersenyum pelan pada pria itu,
"Kau sudah kembali dari luar kota??" tanyanya pada Jack ramah.
Jack tersenyum pelan dan mengangguk,
"Iya Bibi, aku baru saja tiba" jawab Jack.
Pandangan pria itu pun langsung tertuju kearah rumah Lola dengan tidak sabaran. Mandy yang mengetahui Jack tengah mencari Alice seketika tersenyum pelan,
"Bibi.. Apa Alice-" ucap Jack terpotong saat Mandy langsung menjawab pertanyaan pria itu.
"Alice sedang keluar untuk membeli beberapa bahan makanan. Tadi dia keluar dengan sepedanya, mungkin sebentar lagi dia akan kembali" ujar Mandy.
Jack seketika terdiam dan menghela nafasnya,
"Bibi.. Aku benar-benar minta maaf soal-" ucap pria itu kembali terpotong oleh ucapan Mandy.
"Tidak usah meminta maaf.. Bibi mengerti" jawab Mandy cepat dengan senyuman lembutnya.
"Alice juga terlihat tidak terlalu mempermasalahkan pemberhentiannya kemarin" lanjutnya.
Jack menunduk pelan sambil menghela nafasnya,
"Terimakasih Bibi, aku benar-benar minta maaf atas sikap ibuku" balasnya merasa bersalah.
Mandy pun hanya tersenyum dan mengangguk pelan pada Jack. Wanita paruh baya itu seketika mengernyitkan keningnya,
"Oh iya.. Mengapa kau naik taksi kemari??" tanya Mandy tiba-tiba yang membuat Jack sedikit gugup.
"Ah.. Aku tadi terburu-buru dan malas untuk menyetir dengan suasana hati seperti ini.. Jadi, aku memesan taksi" jawabnya berbohong.
Pria itu tentu saja tidak akan mengatakan pada Mandy bahwa dirinya telah diusir dari Perusahaan orang tuanya. Ia juga tidak mau memberitahu Mandy bahwa ia memutuskan untuk hidup mandiri mulai saat ini.
Mungkin dia akan memberitahunya nanti..
Jack terdiam sejenak dan kembali menegakkan tubuhnya sambil menatap Mandy,
"Kalau begitu.. aku akan menyusul Alice dan menunggunya di dekat taman. Aku khawatir jika dia pergi seorang diri" ujarnya.
Mandy tersenyum pelan dan mengangguk,
Jack pun lalu berjalan menuju taman untuk menunggu pujaan hatinya..
Disisi lain,
Alice terlihat tengah mengayuh sepedanya setelah berbelanja sedikit. Gadis itu saat ini telah berbelok dan berada di dekat taman.
Namun, tiba-tiba pandangan Alice pun terarah pada seorang anak lelaki yang tengah menangis sambil menatap kearah sebuah pohon.
Gadis itu pun menepikan sepedanya dan menghampiri anak yang tengah menangis itu,
"Huhuhu.." rintih anak itu sambil mengusap air matanya.
Alice mendekati anak itu dan menyentuh pundaknya pelan,
"Adik kecil.. Kenapa kau menangis?? Apa kau terluka??" tanya Alice lembut sambil memperhatikan tubuh anak itu.
Anak lelaki itu menatap Alice dan seketika memeluknya,
GREP!
"Kaka.. hiks.. balonku.. hiks.. balonku tersangkut di atas sana" ucapnya terbata sambil menangis.
Alice seketika menatap kearah pohon dan melihat sebuah balon berbentuk doraemon yang menyangkut di dahan pohon.
Sepertinya balon itu menyangkut tidak terlalu tinggi, dan sepertinya dia bisa menaiki pohon itu sedikit untuk mengambil tali balon yang tersangkut.
Alice tersenyum lembut dan mengusap kepala anak kecil itu,
"Sudah jangan menangis.. Biar aku ambilkan balonnya untukmu" ucap Alice menenangkan.
Anak lelaki itu seketika menatap Alice dengan wajah sumringahnya,
"Benarkah??" tanyanya.
Alice mengangguk pelan dan kembali tersenyum,
"Kalau begitu, kau tunggu sebentar disini, aku akan mengambilnya" ucap Alice.
Gadis itu pun melangkah mendekati pohon dan menatap balonnya kembali. Ia mencoba memperhatikan dahan-dahan pohon itu untuk pijakannya.
Setelah yakin, Alice pun mulai memanjat pohon itu dengan hati-hati.
Gadis itu menarik ujung pakaiannya ke siku dan mengikat rambutnya. Setelah itu, Alice kembali menaikan kakinya pada dahan pohon yang lebih tinggi.
Gadis itu hampir sampai mendekati tali balon itu. Tangan Alice perlahan menggapai tali balon dengan hati-hati, sedangkan tangan satunya lagi memeluk batang pohon untuk menjaga dirinya agar tidak terjatuh,
"Hati-hati kak!" teriak anak lelaki itu dari bawah.
Alice kembali menegakkan tubuhnya dan mencoba meraih kembali tali balon itu. Tangannya hampir sampai menyentuh tali balon..
Namun, tiba-tiba kaki sebelahnya terpeleset dan membuat tubuh Alice tidak seimbang. Gadis itu terpekik tertahan saat menyadari bahwa dirinya akan terjatuh,
SRET!!
"KAKAK!!!" teriak anak lelaki itu terkejut.
"Akhh!!" pekik Alice refleks.
Ia menutup matanya dan bersiap merasakan sakit saat tubuhnya mendarat ke bawah.
Namun.. tiba-tiba seseorang datang dan menahan tubuh Alice agar tidak mendarat ke tanah,
BRUK!!
"Argh!!"
Bersambung..
Halo, jangan lupa dukung cerita ini dengan kasih like, komen, vote dan hadiahnya ya 😊
Dukungan kalian sangat berarti bagi author 🥺
Dan, boleh juga di ramein ya kolom komentarnya..
Author suka banget baca komen dari pembaca tentang cerita ini 🙏😁
Oh iya, kalai baca novel jangan lupa waktu ya, apalagi sholat 5 waktunya 😁👍