Mysterious Man

Mysterious Man
Membujuk Melvin



Melvin terbangun lebih dulu di pagi hari. Saat melihat Sheryn masih tidur di sampingnya, dia melebarkan senyum tipisnya. Dia memandang wajah Sheryn sejenak, setelah itu, dia turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar Sheryn setelah menyelimuti tubuhnya dengan selimut.


Melvin pergi ke kamarnya dan membersihkan tubuhnya yang lengket karena semalam dia belum sempat mandi setelah tiba di mansionnya. Selesai mandi, Melvin pergi ke ruang kerjanya untuk menemui Stein.


"Apa kau sudah meliburkan semua pelayan di sini?" tanya Melvin ketika dia baru saja memasuki ruang kerjanya.


Stein yang sedari tadi sudah berada di dalam ruang kerja bosnya, seketika membalik tubuhnya ketika mendengar suara bosnya. "Sudah, Tuan Muda."


Melvin berjalan ke arah meja kerjanya lalu menghidupkan laptop di depannya. "Stein, surat perjanjian yang kuminta, apakah sudah kau buat?"


"Sudah, Tuan Muda." Stein berbalik menuju sofa yang ada di ruang itu lalu meraih map berwarna merah. "Ini surat perjanjiannya." Stein meletakkan di atas meja Melvin setelah itu mundur beberapa langkah.


Melvin membuka map itu dan mulai membaca kertas putih yang ada di dalamnya dengan teliti. "Bagus. Minta Sheryn untuk menandatangi ini nanti." Melvin kembali memberikan map itu pada asistennya.


"Baik." Setelah menerima map itu, Stein berkata lagi. "Tuan Muda, semua rencana kita sudah siap, kapan kita akan menjalankannya?"


Melvin berpikir sejenak kemudian berkata, "Tunggu sampai aku mengungkapkan identitasku pada Sheryn."


Stein mengangguk tanda mengerti. "Nona Laura sudah menelpon saya beberapa kali. Dia bilang ingin bertemu dengan Anda. Ada yang ingin dia bicarakan dengan Anda, Tuan Muda."


"Tolak saja. Aku tidak ingin bertemu dengannya," jawab Melvin dengan wajah acuh tak acuh.


"Baik, Tuan Muda. Kalau begitu saya permisi dulu." Setelah membungkuk, Stein keluar dari ruangan itu.


Selesai dengan urusannya, Melvin berjalan ke arah dinding kaca yang berada di dekat mejanya kemudian menghubungi seseorang. "Aku masih di negara C. Aku akan kembali ke sana setelah urusanku di sini selesai."


"Hhmmm." Melvin memutuskan telponnya.


Tidak lama setelah itu, terdengar suara Sheryn memanggilnya berkali-kali. Melvin berjalan menuju meja kerjanya lalu memasukkan ponselnya di laci setelah itu menguncinya.


Saat Melvin akan melangkah, pintu ruangan kerjanya terbuka. "Melvin, kenapa kau di sini?" Sheryn bergegas menghampiri Melvin lalu menariknya ke luar dari situ dan mengajaknya untuk duduk di ruang keluarga yang ada di lantai 2.


Sheryn berjongkok di depan Melvin yang sedang duduk di sofa. "Melvin, kau tidak boleh masuk ke ruangan itu lagi. Tidak sopan. Itu adalah ruangan kerja, banyak dokumen penting dan rahasia di sana. Jika pemilik dari mansion ini tahu kau masuk ke sana, dia akan marah dan mungkin akan mengusir kita dari sini," jelas Sheryn dengan nada lembut.


Melvin tidak merespon. Hanya menampilkan wajah bingung dan bodohnya seperti yang dulu sering dia tunjukkan pada Sheryn. "Mulai sekarang, jangan masuk ke ruangan manapun sesuka hatimu. Ini bukanlah rumahku, ini rumah orang lain. Kita harus berhati-hati jika di rumah orang lain, apa kau mengerti?" lanjut Sheryn lagi.


Melvin terlihat hanya mengangguk dengan wajah bodohnya. "Kalau begitu akan aku tunjukkan di mana kamarmu." Sheryn berdiri lalu mengajak Melvin menuju kamar tamu.


"Ini adalah kamarmu." Sheryn menunjukkan kamar yang letaknya sangat jauh dari kamarnya


"Tidak mau," tolak Melvin, kemudian dia melangkah pergi dan diikuti oleh Sheryn dari belakang.


"Kau mau ke mana?" Sheryn terus mengukuti langkah Melvin dari belakang.


Melvin tidak menggubrisnya dan terus berjalan hingga berhenti akhirnya berhenti di kamar yang berada tepat sebelah kamar Sheryn. "Melvin, kau ingin tidur di kamar ini?" tanya Sheryn ketika melihat Melvin berdiri di depan kamarnya sendiri.


"Iya," jawab Melvin dengan wajah bodohya.


"Kau tidak bisa tidur di kamar ini, Melvin. Ini adalah kamar dari pemilik mansion ini. Tidur saja di kamar tadi, ya?" bujuk Sheryn.


"Tidak mau," tolak Melvin kembali.


Sheryn menghela napasnya dengan wajah tidak berdaya. "Melvin, tolong mengertilah. Aku bukan nona muda dari keluarga kaya lagi. Aku hanya menumpang di sini."


Bagaimana bisa dia membiarkan Melvin tidur di kamar utama di mansion itu, sementara dia hanya menumpang di sana.


Melvin tidak menjawab dan hanya diam dengan wajah kesal. "Atau kau mau tidur di kamarku?" Sheryn kembali membujuk Melvin lagi saat melihat dia nampak marah.


Mata Melvin berbinar dan wajahnya terlihat sangat senang. "Mau," jawab Melvin cepat.


Melihat Melvin tidak marah lagi, Sheryn akhirnya merasa lega. "Baiklah. Kau tidur di kamarku dan aku akan tidur di kamar tamu yang tadi."


Wajah senang Melvin seketika lenyap, berubah menjadi kesal kembali. "Tidak mau." Dia pikir mereka akan tidur kamar yang sama, maka dari itu, Melvin langsung menyetujuinya tadi.


"Kenapa tidak mau? Kau bilang mau tadi?" tanya Sheryn dengan wajah heran.


Dia merasa kalau Melvin yang saat ini sangat berbeda dengan yang dulu. Meskipun yang dulu tidak banyak bicara, tetapi dia lebih mudah diatur, berbeda dengan sekarang.


"Melvin, kau ingin tidur di kamar ini bersamaku?" Sheryn kembali bertanya setelah terdiam selama beberapa detik.


Melvin langsung mengangguk dengan wajah bodohnya dan seketika itu juga Sheryn menghela napas panjang. "Melvin, bukankah aku sudah pernah bilang kalau kita tidak boleh tidur di kamar yang sama? Pria dan wanita tidak boleh tidur bersama tanpa adanya ikatan pernikahan, Melvin."


"Ayo menikah." Kata-kata itu sudah pernah juga diucapkan oleh Melvin ketika Sheryn menolak untuk tidur di kamar yang sama.


"Aku juga sudah pernah bilang kalau kau sudah tahu arti dari kata menikah, maka kau boleh mendatangiku lagi dan mengatakan itu padaku." Sheryn kembali mengulangi kata-katanya yang dulu pernah dia ucapkan pada Melvin.


Baiklah. Kau harus Ingat janjimu ini, Sheryn. Kau sudah mengatakan ini dua kali padaku. Tiba saatnya ketika aku mengungkapkan jati diriku, aku akan mengatakan ini lagi padamu dan kau harus menerimaku.


Melihat Melvin terdiam, Sheryn kembali berkata, "Kita bicarakan ini lagi nanti. Lebih baik kita sarapan. Kau pasti lapar, bukan?"


Melvin mengangguk dengan wajah bodohnya. "Kalau begitu, ayo kita ke bawah." Sheryn meraih tangan Melvin lalu menggenggamnya dan mengajaknya ke ruangan makan.


Saat berada di lantai bawah, Sheryn merasa heran karena dia tidak menemukan satu pun pelayaran di bawah. Sheryn lalu memanggil bibi Lin berkali-kali, tetapi tidak ada satupun panggilannya yang dijawab oleh bibi Lin.


"Pergi ke mana semua orang?" ujar Sheryn seraya mengedarkan seluruh pandangannya ke seluruh ruangan.


"Bibi Lin!"


Sheryn kembali berteriak dan Melvin terlihat hanya diam seraya berdiri di samping Sheryn dengan wajah bodohnya. Dia sudah menyuruh semua pelayan untuk libur hari ini karena dia ingin berdua saja dengan Sheryn. Dia ingin mengingat masa-masa di mana dia hanya tinggal berdua dengan Sheryn.


"Ada apa, Nona?" Stein datang dari arah ruang keluarga ketika mendengar suara Sheryn yang menggema di seluruh ruangan.


"Stein, ke mana bibi Lin dan semua orang yang ada di sini?" tanya Sheryn dengan wajah heran.


Stein berjalan beberapa langkah ke arah Sheryn lalu berkata, "Mereka semua diliburkan oleh tuan muda, Nona."


"Kenapa?" tanya Sheryn dengan dahi berkerut.


"Saya juga tidak tahu, Nona," jawab Stein, "Tuan muda hanya bilang, Nona bisa memanfaatkan waktu Nona dengan tuan Melvin dengan bebas. Lakukan apapun yang ingin Nona lalukan. Tuan Muda membebaskan Nona untuk pergi ke manapun hari ini."


Mata Sheryn seketika berbinar. "Benarkah?"


Stein mengangguk. "Iyaa, Nona."


Sheryn lansung tersenyum senang. "Ohh yaa, Stein. Bisakah kau menanyakan sesuatu pada Erson?"


"Apa, Nona?"


"Tolong tanyakan padanya, bolehkah aku menggunakan kamar tamu yang ada di dekat lift?"


Stein mengerutkan keningnya sejenak. "Begini, kau tahu sendiri kan bagaimana kondisi Melvin saat ini. Aku tidak bisa mengawasinya jika kamarnya jauh dari kamarku," lanjut Sheryn lagi.


Setelah mendengar penjelasan Sheryn, Stein tersenyum tipis. "Nona, biarkan tuan Melvin menempati kamarnya."


Melihat Sheryn nampak bingung, Stein kembali berkata, "maksud saya biarkan tuan Melvin menempati kamar tuan muda, Nona," ralat Stein cepat.


"Tidak, Stein. Erson bisa marah kalau Melvin menempati kamarnya," tolak Sheryn.


"Nona tenang saja, tuan muda tidak akan marah. Jika tidak, Nona saja yang menempati kamar tuan muda. Dengan begitu, tuan muda tidak akan marah," ucap Stein lagi.


"Aku?" Sheryn semakin bingung mendengar usulan Stein.


"Benar Nona. Tuan muda tidak akan keberatan jika Nona yang menempati kamarnya karena Nona adalah calon istrinya."


Sheryn langsung menoleh pada Melvin. Dia takut kalau Melvin akan salah paham padanya setelah mendengar ucapan Stein, tapi saat dia menoleh, Melvin tidak memberikan reakasi apapun. Wajahnya terlihat datar sebentar dan bodoh setelahnya.


Sheryn tidak tahu kalau tadi Melvin diam-diam tersenyum mendengar ucapan asistennya. Dalam hatinya, dia menyutujui usulan asistennya itu. "Baiklah, kalau begitu."


Bersambung...